|
Tulisan ini diambil dari Republika Online yang
diforward melalui sebuah milis ke saya, sangat menarik. Silahkan
membaca.
Wassalam,
Ridwan
Rabu, 22 Mei
2002
Sukses Berbisnis Prinsip Islam kerjasama dan keselarasan, berjuang dan perbaikan.'' Kata-kata ini adalah sebagian dari tujuh prinsip usaha Matsushita. 'Sumpah' yang diucapkan setiap hari itu merupakan cara Matsushita melakukan character building karyawannya. Yang dilakukan Matsushita itu merupakan repetitive magic power atau pengulangan yang menimbulkan energi. ''Ini sama dengan kata-kata 'Kami juara, kami juara, kami juara'. Kalau diulang-ulang, itu akan menimbulkan energi bagi yang mengucapkannya,'' kata Ary Ginanjar Agustian, penulis buku best seller berjudul Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual (ESQ) Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam. Menurut Ary, efek doktrin Matsushita itu begitu dahsyat. Pengaruh doktrin itu kemudian membawa Matsushita menjadi salah satu perusahaan raksasa yang disegani di dalam dan luar Jepang. Tapi kalau ditelaah, lanjut Ary, pembangunan karakter lewat shalat jauh lebih dahsyat. Sebab sifat-sifat mulia chief executive officer (CEO) -- seperti komitmen, kejujuran, kesabaran, konsistensi, kemuliaan, keagungan, motivasi, kepercayaan, integritas, loyalitas, kebijaksanaan, pengasih, penyayang, mental juara, evaluasi, dan penyempurnaan -- ada sejak takbiratul ihram hingga salam. Ary berpendapat, mengucapkan sifat-sifat itu dengan penuh pengertian dan kesadaran merupakan cara untuk membangun otot komitmen, otot kejujuran, otot konsistensi, otot loyalitas, otot kesabaran, dan seterusnya. Pengulangan dalam shalat itu, lanjutnya, merupakan sebuah proses internalisasi yang luar biasa dalam membentuk karakter dasar manusia. ''Doktrin Matsushita yang bersifat antroposentris dan hanya merangkum sebagian sifat mulia CEO yang dibacakan satu kali satu hari saja berdampak demikian. Bagaimana kalau shalat yang berdimensi horisontal dan vertikal serta merangkum seluruh sifat mulia CEO itu dibacakan lima kali sehari,'' kata Ary menegaskan. Pada takbiratul ihram, misalnya, orang yang shalat mengucapkan Allahu Akbar. Ini merupakan pengakuan bahwa Allah adalah yang Maha Besar. ''Dengan takbir yang diucapkan setiap kali pergantian gerakan dalam shalat itu, seseorang dapat mengisi jiwanya untuk selalu meraih kebesaran dan kemenangan, dan dapat menghasilkan pribadi bermental juara.'' Contoh tersebut hanya sebagian dari kiat menjadi sukses dengan prinsip-prinsip Islam yang dikemukakan Ary Ginanjar. Ary mendasarkan konsepnya pada enam Rukun Iman, lima Rukun Islam, dan Asma'ul Husna yang bila dijalankan dengan sadar akan melahirkan blessing in disguise dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk bisnis. Tentang nilai-nilai ketuhanan yang ada dalam Asma'ul Husna, Ary menjelaskannya sebagai berikut. Nilai (value) ini sendiri sebenarnya belum terjawab oleh teori psikologi. Bapak teori psikologi modern, Sigmund Freud, hanya berpendapat bahwa nilai itu merupakan hasil ajaran orang tua dan produk budaya. Pendapat ini tidak universal. Ary berpendapat, nilai-nilai yang dianut oleh semua manusia di atas bumi ini sama. Baik orang Irian, Aborigin, Asia, maupun Eropa, semua setuju dengan nilai-nilai tentang kemuliaan, keagungan, cinta, keadilan, kejujuran, kebersamaan, dan sebagainya. ''Itu artinya, ada nilai-nilai yang berlaku universal yang menjadi fitrah manusia,'' ungkap Ary. Semua nilai universal itu tercakup dalam Asma'ul Husna. Tapi, agar sifat-sifat mulia yang diilhamkan Tuhan ke dalam hati manusia itu dapat memancar, Ary menawarkan proses penjernihan emosi atau zero mind process. Lewat proses ini seseorang diajak untuk mengenali tujuh faktor yang membelenggu God Spot(fitrah). Tujuh belenggu itu adalah prasangka negatif, pengaruh prinsip hidup, pengaruh pengalaman, pengaruh kepentingan dan prioritas, pengaruh sudut pandang, pengaruh pembanding, dan pengaruh literatur. Setelah pengenalan itu orang tadi lalu diajak untuk membangun enam prinsip yang didasarkan pada enam Rukun Iman. Pertama, percaya kepada Allah dilakukan dengan menuruti suara hati positif yang ilhamnya berasal dari Asma'ul Husna. Ini akan memunculkan rasa aman, percaya diri, integritas, kebijaksanaan, dan motivasi. Kedua, percaya kepada malaikat-malaikatNya (angel principle -- prinsip malaikat) diamalkan dengan meneladani kerja malaikat yang melakukan semua pekerjaan dengan sepenuh hati karena Allah. ''Islam mengajarkan agar loyal seperti malaikat. Bekerja ikhlas, tak perduli tepuk tangan dan cacian,'' kata Ary. Berdasarkan penelitian Ethnic Officer Association Survey USA, perusahaan-perusahaan di Amerika mengalami krisis loyalitas. Penelitian itu menunjukkan loyalitas kerja di sana hanya 13 persen. Di Indonesia loyalitas itu lebih parah karena disandarkan pada uang dan jabatan. ''Akibatnya Indonesia menjadi negara korup,'' tegasnya. Ketiga, percaya kepada utusan-utusanNya (leadership principle -- prinsip kepemimpinan) dengan meniru cara Nabi Muhammad SAW memimpin. Dalam teori kepemimpinan Maxwell, nabi mencapai lima tangga, yakni dicintai, dipercaya, pembimbing, berkepribadian, dan pemimpin yang abadi. ''Sesuai teori ini, hanya Nabi Muhammad SAW yang mencapai kelima tangga ini, dan menjadi pemimpin yang efektif,'' kata Ary. Keempat, percaya kepada kitab-kitabNya (learning principle -- prinsip pembelajaran) merupakan konsep Iqra (membaca). ''Kita disuruh membaca alam semesta, buku-buku, dan kita punya bimbingan puncak Al Qur'an,'' katanya. Sebagian prinsip Iqra ini diterapkan bangsa Jepang lewat Kaizen Principle -- mempelajari hal yang baik dan membuang yang buruk. Hasilnya, mereka merajai pasar otomotif dunia. Kelima, percaya kepada hari akhir (vision principle -- prinsip masa depan) yang merupakan tahap pembangunan visi. Ini akan memunculkan sikap berorientasi tujuan, optimalisasi upaya, pengendalian diri dan sosial, jaminan masa depan, dan ketenangan batiniah. ''Penerapan prinsip masa depan ini akan memunculkan ultimate spiritual job satisfaction.'' Selanjutnya, keenam, adalah percaya kepada takdir baik dan buruk (well organized principle -- prinsip keteraturan). Bila enam prinsip itu terbangun, cahaya dari sifat-sifat fitrah manusia akan menggerakkan dimensi fisik yang berlandaskan Rukun Islam. Rukun Islam yang terdiri atas syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji ini, disebut Ary sebagai tahapan aksi. Yaitu, mission statement (penetapan misi) yang ditempa dengan Syahadat. Menurut Ary, dalam setiap pergerakan bangsa-bangsa atau di belakang kemajuan perusahaan-perusahaan raksasa dunia, pasti ada penetapan misi. Perusahaan Coca Cola dengan misinya ''Kapan saja, di mana saja, minum Coca Cola,'' mendorong jajaran direksi, manajemen, hingga karyawan tingkat bawah untuk merambah dunia. Produk yang berasal dari kacang Cola itu pun akhirnya berhasil menembus pasar-pasar dunia secara luas. Penetapan misi yang didasarkan pada logika manusia saja melahirkan dorongan yang begitu besar. Apalagi syahadat yang mengikat perjanjian yang lebih hakiki dengan penciptaNya tentu mempunyai daya dorong lebih besar dari itu. Karena, ada tekad yang bulat dan komitmen total. Dahsyatnya penetapan misi itu, menurut Ary, telah dibuktikan oleh generasi awal Islam yang sanggup membangun sebuah peradaan besar dan sukses. ''Syahadat akan membangun keyakinan dalam berusaha,'' tegasnya. Character building dibangun dengan shalat, seperti yang dijelaskan di atas. Self control (pengendalian diri) dilatih dengan puasa. Ini akan menghasilkan ketenangan saat menghadapi provokasi dan tekanan. Berdasarkan studi kasus sebuah perusahaan konsultan terhadap 4.265 orang pejabat tinggi sampai rendahan, didapati bahwa mereka mempunyai kekurangan dalam pengendalian impuls. Studi terhadap para manajer di jenjang menengah dan atas pun ditemukan bahwa para komunikator terbaik adalah orang-orang yang memilik kemampuan menahan diri, tenang, terkendali, dan sabar. Strategic collaboration (sinergi) dilakukan dengan zakat. The Wall Street Journal pernah menurunkan laporan hasil penelitian Teleometric International. Dari 1.600 eksekutif yang diteliti, 13 persen diidentifikasi sebagai 'peraih prestasi tinggi'. Itu karena mereka menggunakan prinsip memberi, dengan kecenderungan mempedulikan anak buahnya. Sedangkan para eksekutif peraih prestasi rendah ternyata memperlihatkan ketidakpercayaan mendasar kepada anak buahnya. Prinsip memberi ini telah diajarkan dalam zakat. Prinsip memberi -- baik dalam hal empati, kepercayaan, sikap kooperatif, keterbukaan, dan kredibilitas -- akan menghasilkan sinergi dan kerjasama. Total action (aplikasi total) dengan meniru ibadah haji. Pada fase-fase berurutan dalam ibadah haji ada pelajaran tentang transformasi prinsip dan langkah secara total (thawaf), konsistensi dan persistensi perjuangan (sa'i), evaluasi prinsip dan langkah (wukuf), dan persiapan fisik dan mental untuk menghadapi tantangan (lontar jumrah). Tentang persistensi (sa'i) atau ketetapan hati, misalnya, seseorang akan mencontoh bagaimana Siti Hajar berlari dari Shafa ke Marwah, tanpa mengenal lelah. Dan akhirnya, dia menerima hasilnya berupa air zam-zam. Ini, menurut Ary, sesuai dengan temuan Paul G Stoltz tentang Advertise Quotient atau kecerdasan dalam mengatasi kesulitan dan kesanggupan bertahan hidup. Sekaligus ini merupakan prasyarat penting bagi sebuah bisnis yang ingin lolos dari krisis. run Sukses Kecerdasan Spiritual Sebagai pebisnis sukses, Ary Ginanjar Agustian banyak mempelajari rahasia yang ada di balik setiap orang sukses. Setelah melihat dan menelaah pengalaman orang-orang dan perusahaan sukses di dalam dan luar negeri, Ary berkesimpulan bahwa dalam setiap sukses besar didorong oleh penerapan aplikasi kecerdasan spiritual. Bisnis yang dilandasi kecerdasan spiritual itu tercermin pada Shafira, usaha penjualan busana muslim saat busana itu belum populer. Busana-busana muslim itu sempat ditawarkan ke banyak tempat, tapi tidak laku. ''Karena niatnya bukan keuntungan ekonomi semata, melainkan mensosialisikan busana muslim, Shafira bertahan dan terus melakukan terobosan,'' kata Ary. Sekarang, Shafira mempunyai 54 gerai busana muslim. Ary juga mencontohkan sebuah perusahaan obat di Jepang yang hampir bangkrut. Kemudian muncul pimpinan yang memberi motivasi dengan mengatakan bahwa perusahaan itu tak semata-mata menjual obat, tapi untuk menolong orang yang sakit. Ajaib, orang-orang yang pernah tak digaji selama berbulan-bulan itu bangkit, lalu mengesampingkan orientasi uang dan jabatan dalam bekerja. Enam bulan kemudian, perusahaan itu menjadi salah satu perusahaan raksasa. Contoh lainnya adalah perusahaan sukses Matsushita yang mendoktrin karyawannya agar tak 'hidup untuk roti', tapi bagaimana mengeluarkan keringat untuk memberi manfaat kepada orang lain. Staf Paramadina, Sukidi, juga mengakui pentingnya konsep ESQ Ary Ginanjar sebagai sebuah guidance roda bisnis besar (Republika, 9 September 2001. Sukidi melihat, konsep Ary sejalan dengan prediksi konsultan bisnis dan ahli psikologi Prof Gay Hendricks dan Dr Kate Ludeman. Keduanya mengatakan,''Succesful corporate leader of the twenty first century will be spiritual leaders.'' run |

