Sumbar Menghadapi AFTA 2003Padang, mimbarminang.com — Dalam menghadapi AFTA 2003 yang tinggal menghitung bulan, Sumbar yang terbilang memiliki akses yang cukup besar dari pengaruh AFTA tersebut harus mampu mempersiapkan diri bersaing bersama daerah dan bangsa lain di dunia. Dalam hal ini, dua hal terpenting yang mesti ditingkatkan adalah kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan peningkatan mutu dan komoditi pertanian dengan pola agribisnis. Pendapat ini dikemukan oleh Kepala Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda) Sumbar Prof. DR. Ir. H. Muchlis Muchtar, saat berbincang-bincang dengan Mimbar Minangdi ruangan kerjanya, Jumat (24/5/2002) pekan lalu. Untuk kualitas SDM, kata Muchlis, saat ini Sumbar berada pada peringkat ke-11 dari 31 provinsi di Indonesia. Namun angka itu sudah meningkat dari tahun sebelumnya, yang mana daerah yang pernah dijuluki sebagai gudangnya ilmuwan dan ulama ini berada pada peringkat ke-14 (itupun provinsi masih berjumlah 27). Perbaikan peringkat itu tak terlepas dari semangat dan kerja keras segenap pihak di Sumbar. Menjelang datangnya era AFTA, Sumbar terus berusaha meningkatkan mutu dan kualitas SDM yang ditunjukkan melalui peningkatan mutu pendidikan, mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Pemerintah terus melengkapi sarana prasarana (perangkat lunak software dan perangkat keras hardware), baik yang diambilkan melalui APBN dan APBD maupun dari dana non-pemerintah. Keseriusan Pemda Sumbar untuk mening-katkan mutu pendidikan itu tergambar dari pengalokasian dana bagi dunia pendidikan. Jika pada APBD 2001 untuk pendidikan hanya 34 persen, maka dalam APBD 2002 meningkat menjadi 37 persen. Bahkan pemerintah pusat melalui APBN 2002 juga menganggarkan untuk membangun dunia pendidikan Sumbar yang besarnya sama dengan yang dianggarkan melalui APBD. Selain melengkapi sarana dan prasarana, pemerintah telah membentuk sebuah tim yang berisikan para pakar untuk mencarikan berbagai terobosan untuk memperbaiki mutu pendidikan di Sumbar. “Kita sangat sadar bahwa SDM sangat menentukan siapa yang bakal memenangkan persaingan di era AFTA nantinya. Dan kita harus akui, bahwa mutu pendidikan kita masih tertinggal dibanding dengan negara tetangga” ujar Muchlis yang selalu konsens terhadap dunia pendidikan Sumbar. Kemudian menyangkut peningkatan mutu dan komoditi pertanian, memang suatu keharusan bagi Sumbar. Sebab, sebagai daerah yang berbasis pertanian, tanpa mutu yang berdaya saing tinggi mustahil Sumbar akan kuat dalam menghadapi AFTA. “Kalau dalam bidang pertanian saja kita sudah kalah, bagaimana mungkin kita akan memenangkan bidang tekhnologi ataupun pertambangan,” ujarnya mempertanyakan. Membaiknya mutu SDM ataupun mutu pertanian, belumlah menjadi jaminan Sumbar akan sukses dalam era AFTA. Dalam hal ini sarana fisik seperti bandara, pelabuhan dan jalan juga harus diperbaiki. Untuk hal ini, kesiapan Sumbar tak perlu terlalu diragukan lagi karena Bandara Internasio nal Ketaping sudah mulai dibangun dan Pelabuhan Teluk Bayur juga akan dioptimalkan. Selain itu, jalan lintas barat dan timur yang akan memperlancar hubungan darat dengan daerah lain juga telah diperbaiki. “Bagaima-napun juga, kita tak boleh terlindas oleh kehebatan negara lain, hanya lantaran kita tak memperbaiki diri,” tuturnya. (jas) |

