----- Original Message -----
From: rarachm
=======sori, bakuduang banyak ko...
saya teringat kisah sakralisasi UUD '45 yang sangat heboh pada masa
silam.  sekarang, sebagian besar orang (yang ngomong) setuju bahwa
UUD bukanlah suatu hal yang sakral; tapi layak untuk di'utak-atik'
agar bisa lebih berguna bagi kehidupan bernegara.========
 
Sewaktu UUD 45 masih merupakan kitab suci, saya juga ingat bagaimana buku2 karya Marx di tabukan di Indonesia. Rach, Ketika itu saya sedang menanjak remaja, belum kenal internet, rasa ingin tahu sedang gede-gedenya jadi kebayang dong bagaimana adrenalin saya terpompa jika dengar bisik2 orang tentang Marxist dan Komunis? Kata mereka Marx itu anti Tuhan, anti agama, anti kemapanan, pokoknya masih banyak anti-anti lainnya. Saya tambah geregetan, tambah pengen tahu, kalau memang dia anti Tuhan, seperti apa sih ngomongnya? Singkat cerita, aku dapat kopian beberapa lembar dari buku Das Kapital. Dari sana aku tidak mendapat pencerahan apapun bahwa Marx anti Tuhan. Saya hibur diri, ah itu kan baru beberapa lembar sedang karya-karya dia kan banyak sekali. Mungkin pikirannya itu berada di buku lain. Terus begitu Suharto lenyap dari panggung kekuasaan dan buku-buku "kiri" bebas cetak, saya puaskan "mimpi2 terpendam". Setelah menghabiskan energi dan duit cukup banyak, belakangan saya cuma bisa ngomong, "kampret!!". Selain ngomong "agama adalah candu untuk masyarakat" saya tidak bertemu dengan prosisi bahwa Marxt  anti Tuhan. Dia cuma menyerukan agar kaum proletar bangkit dari ketertindasan, membekali diri dengan alat-alat produksi guna membebaskan rantai   penjajahan dari kaum Borjuis. Apanya yang anti Tuhan di sini? Memang sih filsafat Marx bicara tentang materialisme mulu, tapi itu kan sudah dinetralisir oleh filsuf2 lain yang banyak bicara tentang humanisme seperti Weber atau filsafat ketuhanan oleh filsuf islam seperti Ibnu Sina dan lain-lain.
 
Terus saya pernah penasaran juga mengapa Tan Malaka sepertinya pernah sengaja "dihilangkan" dari daftar orang Minang. Saya baca bukunya, saya bilang "kampret!!" lagi. Untuk ini maaf sengaja tidak saya ulas lagi, takut di marahin Ronald lagi. Hehehe....
 
Singkatnya  Rach, saya memang sering terkagum-kagum dengan kemampuan manusia menciptakan sebuah "makna" untuk dirinya sendiri maupun untuk kepentingan kelompoknya.Jika secara rasional, politik, ekonomi tidak bisa, maka dibuatkan lah kelambu sakralisme atau tabuisme.
 
=======oh ya uni, tolong diusulkan agar ada addendum 'mufakait berajo ka
demokrasi'; soalnya 'mufakait ka nan bana' susah memvoting-nya.:)===
 
Sebetulnya mufakat adalah sebentuk voting juga tapi tidak terang2an diakui sebab voting terdengarnya amat "barat" dan tidak sesuai dengan prinsip keteraturan masyarat beradab dan berpancasila.

====satu lagi, nanya nih, sebelum islam masuk; adat bersendi kemana?====
 
Hehehe.. Rach, patut dicatat bahwa ADSSBK adalah postulat moderen dan kalau tahu bagaimana lahirnya, dikau akan sampai pada pemahaman bahwa tidak ada yang sakral dalam postulat tersebut. 
 
 Islam masuk ke Minangkabau sudah sejak abad ke 7 kemudian putus dan mati total (setidak-tidaknya tidak ada bukti yang mendukung setelah itu Islam berkelanjutan di wilyah Minangkabau). Terus sekitar tahun 1200- san mahzab Syafei mulai menampakan tanda-tanda kehidupan kembali dan Islam syiah ini berkembang seiring- sejalan dengan adat kebudayaan setempat. Terus lagi, sekitar pertengahan abad ke-18, berkembang mahzab Hambali di tanah Arab dengan keyakinan membersihkan praktek-praktek agama dari pengaruh bidaah yang tentu saja sesuai dengan cara-cara mahzab Hambali. Dan terus pengikut syiah yang sudah bercokol duluan dan pengikut Hambali yang datang belakangan pada berantem deh. Seru banget, sesama saudara saling bunuh, saling menumpahkan darah karena masing-masing merasa bahwa Islam merekalah yang paling benar. Mungkin karena lama-lama 'nek juga mereka "badunsanak bacakak gadang" dari tahun 1821-1838 mereka berunding dan melahirkan postulat "ADSSBK" yang terkenal itu diatas Bukit Marapalam . Jadi ingat yah Rach, jangan ikut serta pula dikau mensakralkan hasil politisasi agama ini agar tidak terjadi pula Perang Paderi versi II di Minangkabau.
 
Wassalam,
 
Evi
 
~rarach



Kirim email ke