Halo Iraf, terima kasih, cerita yg penuh makna

namun masalahnya susah mencari orang yg mau menjadi seperti "tempayan
retak" tsb  ,
dan juga jarang orang yg mau menghargai jasa orang tsb.

saya jadi teringat ada pula pepatah minang yg kira kira bunyi nya ialah sbb
;

Indak ado nan indak paguno ( nothing has no means )

nan cadiak kawan barundiang
nan pandai tampek batanyo
nan kayo tampek maminta

Nan buto pahambuih baro
nan pakak palapeh badia
nan lumpuah panghuni rumah
nan bodoh ka disuruah suruah

wassalam

Hendra M
Pulogadung



                                                                                       
                       
                      rafaini@bogasariflo                                              
                       
                      ur.com                      To:      [EMAIL PROTECTED]    
                       
                      Sent by:                    cc:                                  
                       
                      rantau-net-owner@ra         Subject: [RantauNet] kita semua 
TEMPAYAN RETAK              
                      ntaunet.com                                                      
                       
                                                                                       
                       
                                                                                       
                       
                      07/26/02 10:11 AM                                                
                       
                      Please respond to                                                
                       
                      rantau-net                                                       
                       
                                                                                       
                       
                                                                                       
                       







Kita semua TEMPAYAN RETAK....

Seorang tukang air di India memiliki dua tempayan besar;

masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan, yang dibawanya
menyilang pada  bahunya. Satu dari tempayan itu retak, sedangkan tempayan
yang
satunya  lagi tidak. Jika tempayan yang tidak retak itu selalu dapat
membawa air
penuh setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya,
tempayan
retak itu hanya dapat membawa air setengah penuh.

Selama dua tahun, hal ini terjadi setiap hari. Si tukang air hanya dapat
membawa
satu setengah tempayan air ke rumah majikannya.

Tentu saja si tempayan yang tidak retak merasa bangga akan prestasinya,
karena
dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna. Namun sitempayan retak yang
malang
itu merasa malu sekali akan ketidaksempurnaannya dan merasa sedih sebab ia
hanya
dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya dapat diberikannya.

Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini,  tempayan retak itu
berkata
kepada si tukang air, "Saya  sungguh malu pada diri saya sendiri, dan saya
ingin
mohon maaf kepadamu."

"Kenapa?" tanya si tukang air. "Kenapa kamu merasa malu?"

"Saya hanya mampu, selama dua tahun ini, membawa setengah porsi air dari
yang
seharusnya dapat saya bawa karena adanya retakan pada sisi saya telah
membuat
air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena
cacadku itu, saya telah membuatmu rugi," kata tempayan itu.

Si tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak, dan dalam belas
kasihannya,
ia berkata, "Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin kamu
memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan."

Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dan
baru
menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan, dan itu
membuatnya sedikit terhibur. Namun pada akhir perjalanan, ia kembali sedih
karena separuh air yang dibawanya telah bocor, dan kembali tempayan retak
itu
meminta maaf pada si tukang air atas kegagalannya.

Si tukang air berkata kepada tempayan itu, "Apakah kamu memperhatikan
adanya
bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu tapi tidak ada bunga di sepanjang
jalan
di sisi tempayan yang lain yang tidak retak itu?  Itu karena aku selalu
menyadari akan cacadmu dan aku memanfaatkannya.  Aku telah menanam
benih-benih
bunga di sepanjang jalan di sisimu, dan setiap hari jika kita berjalan
pulang
dari mata air, kamu mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun ini aku
telah
dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita. Tanpa
kamu
sebagaimana kamu ada, majikan kita tak akan dapat menghias rumahnya seindah
sekarang."

----

Setiap dari kita memiliki cacad dan kekurangan kita sendiri. Kita semua
adalah
tempayan retak.  Di mata Tuhan yang bijaksana, tak ada yang terbuang
percuma.
Jangan takut akan kekuranganmu.

Kenalilah kelemahanmu Ketahuilah, di dalam kelemahan kita, kita menemukan
kekuatan kita.


Pengarang : TAk Dikenal



RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di:
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================




RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke