Dari berbagai tulisan mengenai bung Hatta pada kompas , 9 Agustus 2002, ada
artikel yg menarik dari sejarawan Taufik Abdullah.
Beliau menyatakan bahwa bung Hatta dan tokoh tokoh minang lainnya yg lahir
di awal abad ke-20 , setidaknya adalah hasil dari politik etis pemerintah
Belanda, dan tingkat kemakmuran Minangkabau saat itu yg lumayan makmur
dibanding daerah lain di Indonesia.

Tapi sebenarnya generasi tersebut dan generasi sebelumnya , mereka adalah
juga orang Minang yg membawa beban sejarah , "ketak berdaya an" melawan
Belanda melalui simbolik perjanjian "Pelakat Panjang" yg dipaksakan oleh
Belanda. Tapi menariknya mereka bisa membalikkan keadaan ( berkelit dari
sejarah) , sehingga dari ranah minang bisa lahir pula tokoh tokoh yg
berjiwa besar  ( bukan berjiwa looser atau berjiwa kerdil ) , sampai sampai
Tan Malaka yg tubuh kecil dan pendek berani melawan Stalin yg gagah perkasa
waktu itu ( Komintern ) ,  sungguh suatu sejarah menarik.

Ketika Belanda mengeluarkan peraturan tanam paksa , kopi yg harus dijual ke
gudang Belanda ( Pakhuis ) dg harga yg tak sehat , sebagian urang awak yg
cerdik membawa kopi ke pantai timur Sumatera ( Riau ) dan menjual nya ke
Singapura dg harga yg lumayan. Hal ini menyebabkan Belanda marah besar
sehingga timbul lah istilah "Melayu Kopi Daun" .

Kalau kita tarik sejarah ke belakang lagi , peperangan Paderi menimbulkan
pula luka mendalam pada orang Minang pertentangan kaum adat dan kaum Paderi
, kemudian masuknya Belanda ke konflik tersebut dengan membela salah satu
pihak. Setelah perang Paderi usai ,menariknya orang Minang nampaknya bisa
melakukan suatu tindakan "penyembuhan diri sendiri" , semacam ada mekanisme
internal , sehingga mereka bisa bangkit kembali .

Bisa dikata Belanda tak bisa menjajah ranah Minang sebagaimana halnya
mereka menjajah di tanah Jawa.

Belanda tak begitu mudahnya menodai gadis minang sebagaimana halnya
menjadikan nyai nyai di tanah priangan sebagai gundiknya ( di ranah minang
kita agak sulit menemukan indo turunan belanda, beda halnya dg tanah
priangan khususnya di perkebunan , dulu tahun 60-70 an banyak indo
peranakan Belanda , dan dari sana lah salah satu sumber artis artis
sinetron kota Bandung , he.. he .. )

Belanda coba menanamkan simbolik angku Laras diatas wali nagari ,
sebagaimana mereka menanamkan bupati di tanah jawa. Tapi tetap saja urang
Minang secara sosial lebih menguat pada institusi nagari , dan Laras
seperti agak terabaikan ( bagaikan simbolik ).

Bila kita mundur lagi , kita menemui sejarah orang Minang terlibat
peperangan dg raja Jawa ( ? atau Sriwijaya ? )
sejarah menulis raja minang kalah , tapi dalam tambo sejarah yg terkenal dg
pertarungan banteng ketaton melawan sapi kecil yg cerdik , banteng tersebut
bisa dikalahkan. ( saya bingung fakta sejarah mana yg benar ? )

tapi setidaknya ini menggambarkan lagi bahwa ada suatu mekanisme internal
(yg cerdik) orang minang untuk berkelit dari "kekalahan" sejarah.

Ketika ada raja di Pagaruyung yg rada bergaya Sriwijaya/Jawa , nagari
nagari tetap bisa berdiri bagaikan republik kecil yg merdeka , dan raja tsb
akhirnya hanya jadi bagaikan simbol.

Kalau kita maju ke masa sekarang, bisa dikata kita yg hidup saat ini adalah
orang Minang yg membawa beban sejarah "kekalahan di perang PRRI" , namun
tampak lagi ada suatu mekanisme kecerdikan untuk mengembangkan mental
menang, walaupun agak relatif lama.

Kemudian ada lagi kasus PT Semen Padang yg terlihat aroma pertentangan
orang minang di Sumbar dengan pemerintah pusat ( jawa ), kondisi sementara
urang awak berada pada posisi yg agak berat  ( potential loose ) , nah mari
kita lihat apakah memang orang minang bisa berkelit lagi atau bisa
memenangkan pertandingan tsb.

Di provinsi Riau urang Minang mulai coba digeser pula , marilah kita lihat
seperti apa pula strategi kecerdikan , dunsanak awak nan ado tanah Riau ko.

Jadi nampaknya ada suatu pertanyaan teoritis membaca sejarah historis
perjalanan etnis minangkabau , apakah memang mereka memiliki mekanisme
internal untuk membalik keadaan dari kekalahan menjadi suatu kemenangan?
Cadiak pandai berkelit , sehingga timbul adagium yg terkenal  "  takuruang
ndak di lua, tahimpiak ndak di ateh "

Ataukah berlipur dara dalam kubangan kekalahan sebagaimana bisa terdengar
dari suara Saluang yg melankolis meliuk liuk sedih, bagaikan musik Jazz /
blues bagi kaum negro amerika yg tertindas.

Ada satu pertanyaan bodoh saya yg menggantung lama apakah memang ada relasi
linguistik antara kata Minang dg kata menang ?

wassalam

Hendra Messa
Banduang



RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke