Halo uda Edi apa kabar ?
maaf saya ada sedikit pembicaraan di luar kisah perjalanan uda Edi.

uda Edi , ambo danga para penduduk sekitar PLTA Kotopanjang di perbatasan
Sumbar Riau , pada pergi ke Jepang menyampaikan tuntutan di pengadilan
terhadap ODA ( Badan bantuan luar negeri Jepang ) yg membiayai proyek
tersebut .
kok aneh juga yah , ada apa sih sebenar nya ?
siapa pula yg membiayai perjalanan ke jepang ?

tapi pada sisi lain , saya melihat ada segi positifnya bahwa rakyat atau
penduduk di tempat di mana suatu bantuan luar negeri dilaksanakan punya hak
pula untuk mempertanyakan mengenai proyek tersebut.
Hal yg sama terjadi pula pada rakyat di daerah Asahan dan Danau Toba.

mungkin uda Edi bisa sedikit cerita mengenai efek bantuan luar negeri dan
side effect nya , khususnya bantuan dari Jepang , karena di Indonesia dan
juga di Sumbar banyak proyek yg didanai oleh dana bantuan dari Jepang
antara lain bandara Ketaping.

sekian dulu uda Edi

wassalam

Hendra -san
Pulau Gaduang Jakarta



                                                                                       
                       
                      e <[EMAIL PROTECTED]>                                               
                       
                      Sent by:                    To:      "rantaunet" 
<[EMAIL PROTECTED]>             
                      rantau-net-owner@ra         cc:                                  
                       
                      ntaunet.com                 Subject: [RantauNet] Menuju Utara 
(1)                       
                                                                                       
                       
                                                                                       
                       
                      09/06/02 04:28 AM                                                
                       
                      Please respond to                                                
                       
                      rantau-net                                                       
                       
                                                                                       
                       
                                                                                       
                       




Menuju Utara (1)

Tanggal 17 Agustus aku beranjak dari Nihonmatsu yang masih digerahi
matahari musim panas membawa 7 hari liburan dalam tas yang penuh. Hari
itu melahirkan perasaan yang beragam dalam jiwa yang beroleh penghidupan
di negara yang pernah menjajah negeriku. Negara yang pernah mengangkat
harga diri, melukai harga diri, dan lantas memperkuat keyakinan diri
bangsa Indonesia.

Lupakan perasaan patriotik semu itu, biarkan para sejarawan meneliti
ulang apa sebenarnya yang dipersembahkan Jepang sebelum, semasa, dan
sesudah Perang Dunia Kedua. Naiki taksi yang sudah menunggu di depan flat
menuju stasiun kereta yang berjarak lima menit perjalanan. Sudah 15 tahun
mangakeh aku di negeri sakura ini menaiki taksi, bis, dan kereta, namun
tidak sekalipun pernah menaiki mobil sendiri.

Teriknya mentari membasahi sekujur tubuh Nihonmatsu yang segera akan
kutinggalkan dalam hitungan menit di stasiun yang agak sepi. Manakala
kereta mendekat, begitu saja secara otomatis komputer menangkap
keberadaannya dan memutar kaset yang berisi suara merdu seorang gadis
(janda?) mengabarkan akan kereta yang sudah berada di puncak hidung calon
penumpang.

Pintu kereta tidak berkehendak menguakkan diri secara otomatis kalau saja
tombol yang tertempel di sampingnya tidak ditekan waktu mau keluar masuk.
Dengan begitu, udara AC yang mengambang dalam kereta tidak berhamburan ke
luar dan terbang ke angkasa. Suatu strategi penghematan biaya operasi
kereta sekaligus penyelamatan bumi yang sudah kepayahan bersebab
pemanasan global. Calon penumpang dengan tertib mengenyampingkan badan
memberi jalan kepada penumpang yang mau turun dan baru melangkahkan
kakinya masuk manakala tidak ada penumpang yang mau turun lagi. Suatu
pemandangan yang entah kapan dapat disaksikan di Ranah Minang.

Penumpang sibuk dengan kesibukannya sendiri. Anak-anak SMU bergerombolan
dan berbicara bagai berada di tempat konstruksi jalan, sekelompok orang
tua berbicara perlahan memancarkan kematangan jiwa, sepasang remaja
berpandangan dalam asmara diam saling melemparkan senyuman manis, dan
sepasang orang dewasa (mulai gaek?) saling merapatkan diri di tempat
duduk yang lapang sambil sekali-sekali bicara sakarek ula sakarek baluik
dalam bahasa Jepang dan Indonesia.

(bersambung)

e

RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di:
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================




RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke