�Mon ami, menurutmu, apakah ibadah haji dimulai di Mekah?
Tidak, tidak. Ibadah haji dimulai sewaktu engkau memutuskan
untuk pergi menunaikannya� (Michael Wolfe, The Hadj: A
Pilgrimage to Mecca, seperti dikutip Lang, 1997)
Benar sungguh benar, bahwa ibadah haji dimulai sejak kita memutuskan
untuk pergi menunaikannya, dan bahkan ibadah yang sangat luar biasa ini,
merupakan proses seumur hidup, karena ibadah haji tidak hanya merupakan
perjalanan fisik, tetapi lebih-lebih perjalanan rohani. Ketersediaan
dana untuk bekal biaya perjalanan jelas sangat perlu---dan bagi sebagian
orang ini masalah �kecil�. Demikian pula kesehatan badan, yang tentu
sama sekali tidak dapat diabaikan. Namun sebagai perjalanan rohani.
siapapun Anda, Islam �mainstream�, Islam �literal�, Islam �liberal,
Islam �jemaah�, Syiah, Ahmadiah, dan---bahkan koruptor atau mantan
koruptor, penindas atau mantan penindas, penipu rakyat atau mantan
penipu rakyat---bekal yang terpenting dalam menunaikan rukun Islam ke
lima yang sangat spetakuler ini adalah taqwa, keinginan untuk memperoleh
mardatillah.
(�.Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa, Dan
bertaqwalah kepadaKu hai orang yang berakal; Al Qur�an 2:197)
Dimensi rohani dari Ibadah haji ini dikemukakan dengan indah dan subtil
oleh inteklual Iran Dr. Ali Shariati dalam bukunya �Hajj�[1]:
�Di Miqat (tempat dimulainya pelaksanaan Ibadah Haji dan di
mana para jemaah mengganti pakaian yang dikenakannya dari
rumah dengan pakaian Ihram) apapun ras dan sukumu,
lepaskankanlah semua pakaian yang engkau kenakan sehari-hari
sebagai serigala (yang melambangkan kekejaman dan penindasan),
tikus (yang melambangkan kelicikan), anjing (yang melambangkan
tipu daya), atau domba (yang melambangkan penghambaan�
Dan di bagian lain dikemukakannya
�Di Miqat ia mengalami kematian dan kebangkitannya kembali�
(Dan betapa mudahnya kita menyaksikan, betapa banyak orang-orang yang
telah menunaikan ibadah haji, namun tetap menggunakan pakaian-pakaian
serigala, tikus, anjing dan domba tersebut, dan betapa banyak pula yang
tidak pernah mengalami kebangkitan kembali, nau�zubillahi mindzaliq)
Herankah kita---seperti disabdakan Nabi SAW---bahwa ganjaran bagi haji
yang mabrur---atau seseorang, siapapun dia, yang sesudah berhaji
berhasil mengalami kebangkitan kembali---adalah syurga?
Dan presentasi Ustadz Hatta yang PhD tersebut sangat memikat dan
sistematis, sehingga waktu tiga jam, termasuk tanya jawab terasa sangat
singkat. Sangat menarik dan dalam makna dari salah satu uraian Ustadz
Hatta, bahwa �Berhaji Seperti Rasulullah SAW� ialah mengikuti dengan
sungguh-sungguh amalan-amalan yang Nabi sunnahkan, artinya wajib untuk
diikuti kaum muslimin. Di sini tentu misalnya tidak termasuk bahwa kaum
muslimin untuk naik haji harus naik onta seperti yang Nabi lakukan empat
belas abad yang lalu, atau menyembelih hewan kurban dengan tangan
sendiri. Seperti yang diriwayatkan, saat menjalankan salah satu Ibadah
Haji, Junjungan miliaran kaum muslimin tersebut pernah menyembelih
sendiri 63 ekor hewan ternak dengan tangan Beliau yang mulia itu.
Dan ketika Ustadz Hatta melafadzkan bacaan yang akan banyak dilafadzkan
oleh para jemaah nanti selama di Tanah Suci: �Allahummalabaik,
lasyarikalakalabaik, innal hamda wa nni�mata laka walmulku la
syarikalak� yang saya ikuti di dalam hati, dengan tidak terasa air mata
mengambang di pelupuk mata saya.
Wassalam, Darwin
[1] Diterbitkan oleh Free Islamic Literatures Incorporated, Bedford,
Ohio, 1978, terjemahan dalam Bahasa Indonesia diterbitkan oleh Penerbit
PUSTAKA Bandung.
RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di:
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================