|
Senin, 30/9/2002 Jalan Solok-Muara Labuh Terancam Putus Solok, Mimbar Minang � Hubungan darat Solok-Muara Labuh, terancam putus menyusul pendangkalan Sungai Batang Laweh, Mudiek Laweh, Kecamatan Sungai Pagu, akibat galodo yang terjadi gara-gara hujan deras tanggal 20 September 2002 lalu. Ribuan kubik material (batu, kerikil dan pasir) menimbulkan pendangkalan sungai menyebabkan sejumlah ruas jalan tergenang air dan di beberapa tempat terlihat badan jalan rusak. Sekretaris Daerah Kabupaten (Sekdakab) Solok Drs. H. Sjafril Chatib, kepada Mimbar Minang, Sabtu (28/9/2002) mengatakan, berdasarkan perhitungan pihak Dinas Pekerjaan umum diperkirakan rehabilitasi aliran sungai Batang Laweh membutuhkan biaya sebesar Rp30,5 miliar. Biaya sebesar itu antara lain diperlukan untuk pengerukan sedimen, pembangunan dan di hulu sungai dan normalisasi aliran sungai sepanjang 3 Km dan perbaikan jalan sepanjang 1 km. "Saat ini yang baru dapat kita lakukan adalah penanggulangan darurat dalam bentuk pengerukan sedimen di tempat-tempat yang penimbunannya mencapai bibir sungai dan pembangunan tanggul darurat. Pekerjaan itu dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat dibantu dengan alat berat dan teknisi," katanya. Dikatakan, penimbunan sungai Batang Laweh yang berakibat meluapnya air sungai hingga menimbulkan banjir tersebut menyebabkan kerugian masyarakat mencapai Rp4,36 miliar. Antara lain sebanyak 68 rumah, 1 mesjid, 1 mushalla, 1 MDA, 1 SD rusak berat. Kerusakan juga terjadi pada lima buah jembatan nagari, sawah penduduk yang tertimbun sekitar 10 ha, dan kerusakan jalan nagari sepanjang 1 km. Ditambahkan curah hujan sejak awal September 2002 memang cukup tinggi. Dan mencapai puncaknya pada tanggal 20 September 2002, dengan curah hujan mencapai sekitar 24 mm selama 12 jam tanpa henti. "Karena di bagian hulu sungai sudah sedikit pemohonan yang dapat menahan laju air, maka terjadilah air bah dan banjir tersebut," katanya. Sjafril Chatib memperkirakan, jika curah hujan terus meningkat, bukan tidak mungkin bencana air bah dan banjir akan datang lagi. Karenanya, saat melakukan kunjungan ke Sungai Pagu, Rabu (23/9/2002) lalu ia sudah mengingatkan masyarakat agar tetap siaga mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi. Banjir dan air bah lantaran pendangkalan sungai di wilayah Sungai Pagu ini memang sudah kerap terjadi. Tercatat pada tahun 1987 hubungan Solok-Muara Labuh pernah putus total selama dua pekan. Lalu pada tahun 2002 lalu, bencana banjir dan galodo kembali merusak sejumlah badan jalan dan sebuah jembatan di Wilayah Surian. Kecamatan Pantai Cermin dan dibeberapa badan jalan 15 km menjelang Muara Labuh. (tef) |
Title: Maize

