> --- In [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] wrote: (Maaf, karena kesibukan pekerjaan baru sekarang dapat saya tanggapi).
Anda persis sperti seeokor beruk tua nyinyir yang sudah tidak sigap lagi memanjat dan memetik buah kelapa. Diikat dipagar menunggu mati lalu menjebi, menyeringai, melotot, menyodor-menyodorkan pantatnya kepada orang lewat, walaupun orang itu tidak mengganggunya. Sebagai seorang yang mempunyai gen Minang yang standar: telinga tebal, lidah tajam, saya siap membalas cercaan Anda kepada saya yang mengatakan bahwa saya �pandir kayak keledai debil� lebih dari pada sekedar mengatakan Anda �seekor beruk tua yang nyinyir�. Anda pasti tahu itu. Tetapi saya berfikir positif saja. Lagi pula bagi saya kemampuan untuk bercarut marut bukan sesuatu yang perlu dipamer-pamerkan apalagi menjadi kebanggaan atau menjadi �trade mark�. Saya mencoba menangkap moral pesan Anda yaitu agar saya tidak membuang-buang untuk �memenuhi panggilan Nabi Ibrahim� yang menurut keyakinan Anda---berdasarkan peneletian arkeologis yang dilakukan Finkelstein dan Silberman menyimpulkan bahwa kitab Pantateuk yang bercerita tentang Ibrahim itu �hanya� bikinan manusia---sedangkan al-Mushaf yang menyampaikan kisah-kisah Ibrahin tidak berbukti berisi wahyu Allah, karena sejarawan revisionis (Wansbrough, Crone, Cook dll.) bilang bahwa al-Mushaf itu disusun di Arabia Utara oleh beberapa orang. Sementara kata-kata kotornya Anda kenakan buat Anda saja. You deserve! Sejujurya, saya seorang seorang awam di bidang arkeologi dan bukan pula ahli sejarah, dan tidak akan mecoba berpura-pura ahli dalam kedua bidang ilmu pengetahuan tersebut hanya sekedar �ngeyel� mempertahankan keyakinan saya. Tetapi sebagai orang yang �makan sekolahan� dan dalam mencari nafkah dari padanya, saya juga paham tentang teori-teori mengenai ilmu pengetahuan, paham bagaimana ilmu pengetahuan bekerja, paham apa itu ontologi ilmu, apa itu epistemologi ilmu dan aksiologi ilmu. Dan seperti kebanyakan orang yang paham bagaimana ilmu pengetahuan bekerja, dan paham akan kegunaan dan ---sekaligus keterbatasan---ilmu pengetahuan, saya berpendapat bahwa kesimpulan ilmu pengetahuan bukan sesuatu yang final! Kesimpulan ilmu pengetahuan selalu bersifat terbuka, termasuk penelitian di bidang ilmu-ilmu eksakta. (Karena itu saya sangat setuju dengan ungkapan Prof Dr Jujun Suria Sumantri: �Adalah ketinggihatian yang tidak mempunyai dasar sama sekali bila kita beranggapan bahwa ilmulah alfa dan omega dari kebenaran�[1]) Dan arkeologi bukan ilmu eksakta! Ilmu sejarah---revisionis atau bukan--- bukan ilmu eksakta! Tetapi saya di sini bukan untuk membantah Finkelstein, Silberman, Wansbrough, Crone dan Cook. Dan juga bukan untuk membantah kesimpulan para pakar-pakar tersebut semata-mata hanya karena arkeologi dan ilmu sejarah bukan ilmu eksakta, karena inti persoalan bukanlah masalah Ibrahim sebuah realitas atau bukan, yang ingin saya kemukan bahwa yang punya kepala tidak hanya Finkelstein, Silberman, Wansbrough, Crone, Cook dan Jusfiq Hadjar (!) Yang ingin saya garis bawahi adalah terlepas dari apakah kisah-kisah dalam kitab Pantateuk terbukti secara arkelogis atau tidak, tidak mengurangi kenyataan bahwa Ibrahim---seperti yang didskripsikan dalam cover story TIME 30/09/02---merupakan Bapak Monotheisme, Bapak Spritual dari tiga agama besar: Yahudi, Kristen dan Islam. Dan tidak disangsikan bahwa David Van Biema yang menulis Laporan itu untuk TIME juga punya kepala dan juga sudah membaca sekian banyak buku, tetapi paham bagaimana ilmu pengetahuan bekerja, dan paham akan kegunaan dan ---sekaligus keterbatasan---ilmu pengetahuan. (Kalaulah Pantateuk semata-mata karangan manusia, pastilah yang menulis itu seorang genius, walaupun tidak bersekolah tinggi dan membaca ratusan buku tetapi bisa �menciptakan� konsep monoteisme yang diserap oleh tiga agama besar dan eksis dan bekembang sampai hari ini.) Dan tidak disangsikan bahwa David Van Biema yang menulis Laporan itu untuk TIME juga punya kepala dan juga sudah membaca sekian banyak buku dan paham paham akan kegunaan dan ---sekaligus keterbatasan---ilmu pengetahuan. Dan saya termasuk yang percaya dan mendukung semangat dalam Laporan TIME bahwa Ibrahim yang merupakan Bapak Spritual ketiga agama Yahudi, Kristen dan Islam itu akan mampu mempersatukan ummat ketiga agama besar tanpa menafikan eksistensi dan hubungan salingmenghormati dengan agama dan penganut agama di luar ketiga agama besar tersebut. (Dan sangat jelas, bak bersuluh matahari, bahwa orang-orang seperti David Van Biema bukanlah kelompok minoritas di muka bumi ini) Ibrahim---persis seperti yang didesekripsikan dalam Al Qur�an: Bapak Monotheisme dan Bapak Spritual Dan mengenai Wansbrough, Crone, Cook, tentunya saya tidak perlu membaca buku mereka kalau hanya hendak mengatakan bahwa kesimpulan mereka bahwa �al-Mushaf itu disusun di Arabia Utara oleh beberapa orang� dan menggangap bahwa kesimpulan mereka sebagai kesimpulan final, akan banyak mendapat tantangan dari orang-orang yang juga mempunyai kepala, bersekolah tinggi dan membaca ratusan buku. Boro-boro peristiwa empat belas abad yang lalu, siapa yang sesungguhnya merancang Peristiwa Berdarah 27 tahun yang lalu saja tidak ada ahli sejarah---revisionis atau bukan---yang berani mengatakan bahwa kesimpulan mereka adalah kesimpulan yang final ! Wansbrough, Crone dan Cook, atau siapa saja yang berkesimpulan demikian, gagal untuk melihat fakta bahwa Al Qur�an sudah menghasilkan ribuan kajian dan berbagai peristiwa sejarah yang berkesinambungan sejak dari zaman khalifah empat sampai dengan dinasti Umayah, Abasyah, Fatimiyah sampai dengan Turki Osmani---tanpa ada satupun link yang hilang. Mereka juga gagal mengetahui, bahwa orang-orang Islam juga mengetahui bahwa tidak lama setelah Nabi wafat, terdapat beberapa versi Al-Mushaf yang berbeda untuk hal-hal yang tidak sangat prinsip sebelum panitia yang dibentuk oleh Khalifah Ustman merekomendasikan agar yang digunakan oleh Ummat adalah al Mushaf yang disimpan oleh Janda Rasullulah Ummu Salamah, tanpa meragukan sedikitpun kesucian semua Mushaf---yang bahasanya memliki sastra tertinggi dan terbuka bagi beragam arti itu�--tersebut sebagai Wahyu Illahi. Walaupun tidak sedikit orang-orang yang tidak sanggup menyangkal kebenaran historikal sistem hadist, lalu berusaha melakukan berbagai pembunuhan karakter terhadap Bukhari, Muslim, Ahmad dan ulama hadist lainnya, tanpa dapat menunjukkan dan membuktikan bahwa sumber-sumber historikal yang mereka gunakan lebih valid dari pada sistem hadist. Tetapi apapun dan siapapun kalau hanya mendekati Al Qur�an semata-mata---saya ulangi---semata-mata dengan pendekatan keilmuan yang berlandaskan akal dan pengukuran dengan panca indera saja, tidak akan mampu menjelaskan, mengaapa Al Qur�an tidak saja bertahan, tetapi mampu menempati tempat sentral dalam kehidupan kaum muslimin. Bahkan mualaf-mualaf Barat terpelajar umumnya melakukan konversi setelah mempelajari Kitab Suci ini. Pendekatan keilmuan yang nberbasis akal semata tidak akan mampu menjelaskan mukjizat Al Qur�an, sensasi yang timbul bagi orang-orang beriman yang membacanya, mukjizat yang terkandung dalam sejumlah ayat-ayatnya (Para kyai dengan �K� besar dan para santri dengan �S� besar tahu persis kekuatan apa---misalnya---yang terkandung dalam ayat 9 Surah Yasin, ayat yang melafaskan ucapan Ibrahim sebelum dibakar tanpa hasil oleh Nimrod, atau kekuatan penyembuhan yang terkandung dalam Surrah Al-Fatihah). Dan Engku Jusfiq---dengan segala hormat saya terhadap keterpelajaran Anda dan �niat baik� Anda untuk mengajak umat Islam Indonesia berfikir rasional---Anda termasuk orang yang semata-mata hanya menggunakan pendekatan keilmuan yang hanya berlandaskan akal dan pengukuran dengan panca indera saja. Itupun hampir selalu dengan mata yang sengaja �dijulingkan�. Sumber-sumber yang Anda gunakan tentang peri kehidupan Nabi SAW hampir selalu sumber-sumber sampah yang orang-orang sangat terpelajar seperti Prof Annemarie Schimmel tidak akan peenah mau mengunakannya. Anda sangat membesar-besarkan buku-buku Ibnu Warraq---manusia hina---si murtad yang sesudah keluar dari Islam lalu menjelek-jelekkan agamanya yang lama. Tetap Anda mengesampingkan buku-buku Dr. Jeffrey Lang yang alih-alih memburuk-burukkan agama lamanya, namun lebih banyak menyampai sikap kritis tetapi tulus kepada agama barunya dan penerimaannya yang sangat rasional---karena beliau adalah seorang prof matematika---tetapi total terhadap Al Qur�an. Dan dengan mata yang sengaja dijulingkan itu pula Anda hanya mampu melihat ritual Haji sebagai �lari-lari kayak anjing gila di Makkah, antara dua bukit kecil dan muter-muter kayak orang sedeng disekitar Kaabah�. Anda gagal total melihat pesan yang sangat mulia---yang disampaikan dengan sangat spetakuler---yang tidak pernah ada dalam ibadah kolosal manapun---bahwa manusia, siapapun dia, adalah sama di sisi Allah, semuanya harus menggalkna atribut keseharian yang mencirikan ras dan status seorang dalam kehidupan sehari-hari, termasuk status kegamaan (ulama) dan atribut yang membedakan antara manusia yang satu dengan yang lainnya, dengan memakai pakaian ihram yang sama---yang bagi, siapun dia adalah berupa kain kafan, seperti kain yang akan membungkus jasadnyanya jika nyawa sudah lepas dari badan kelak dalam jumlah yang sangat kolosal---sekitar 3 juta orang--- melakukan ritual tanpa komando, kecuali gerak dan niat yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Tidak ada Engku, tidak ada satu ibadah---yang begitu kolosal--- dalam kuantitas yang pesan universalnya yang setara dengan ibadah haji. Tidak ada! Karena melihat dengan mata yang dijulingkankan ini pula, Anda gagal melihat bahwa dari segi jumlah dan kemudaratan yang ditimbulkannya, pengeluran yang dikeluarkan oleh jemaah untuk menjalankan ibadah haji, tidak ada artinya sama sekali jika dibandingkan dengan jumlah dana yang ditilep penguasa dan pengusaha jahat melalui KKN yang kemudian dihambur-hamburkan di pusat-pusat perbelanjaan dan perjudian di luar negeri. Jadi sebenarnya problem ibadah haji bukan terletak pada kaum muslimin yang pergi berhaji---khususnya mereka yang berhaji berbekal taqwa dan mampu memperoleh kebangkitan rohani dengan mendapat haji yang mabrur. Tetapi dari mata yang selalu Anda julingkan dalam melihat aspek apapun dalam Islam. Dan ketidaksungkanan Anda menggunakan kata-kata yang paling kotor dalam melihat Islam dengan mata yang hampir selalu dijulingkan, maka �beruk tua yang nyinyir� adalah metafora yang paling sopan yang bisa saya nisbatkan kepada Anda. Tetapi saya juga berdusta bila saya katakan Anda selalu seperti �beruk tua yang nyinyir� Tidak, Anda juga pernah keluar dengan wacana yang sangat mengharukan saya, bahwa ayat-ayat Makiah itu bersifat universal dan berlaku sepenajng masa. Saya sangat terharu terhadap implikasi dari wacana yang Anda tawarkan itu, yang tidak perlu saya ulas lagilah. Itu begitu terang bak bersuluh matahari. Saya sangat terharu karena percaya---terlepas dari Anda sadar atau tidak, Anda sangkal atau tidak---bahwa pada bagian yang sangat dalam dari sanubari Anda masih bersemi apa yang disebut �iman� Karena itu---terlepas Anda percaya atau tidak, Anda menolak atau tidak, saya selalu berdoa---termasuk bila saya berada di tanah suci kelak, agar apa yang masih bersemi dalam sanubari Anda tersebut bisa semakin besar-dan membesar, sehingga dalam sisa-sisa hidup Anda Anda tidak lagi berperilaku seperti beruk tua yang nyinyir. Dan terlepas dari Anda tetap berperilaku seperti beruk tua yang nyinyir atau tidak---seperti saya kemukakan dalam salah satu posting saya di Prol, jika sewaktu-waktu Anda pulang ke Indonesia, pintu rumah dan pintu hati saya, karena Allah, terbuka buat Anda. Begitu Salam, Darwin P.S. thread ini saya copykan ke Milis Surau dan RantauNet, terutama bagi netters yang pernah membaca posting dialog saya dengan Jusfiq dengan subyek �Dalam Lautan Bisa Diduga� [1] Penyunting Buku �Ilmu dalam Perspektif�, Yayasan Obor Indonesia, Ctakan Kelimabelas, 2001 > Berjuta-juta rupiah uang dibuang hanya untuk memenuhi panggilan > Nabi Ibrahim yang tidak pernah hidup itu saya anggap perbuatan > tolol, dungu, bodoh lagi goblok yang hanya pantas dilakukan oleh > manusia bermental d�bil profond kayak keledai pengencuk kambing > congek lagi cacingan! > > Pandir! > > Ya, saya tidak habis pikir, bagaimana mungkin ditahun 2002 ini > orang seperti Darwin Bahar - dan ribuan orang Islam lain - masih > mau saja menelan kibulan orang Arab, kayak anjing lampar menelan > taik angat: dengan lahapnya. > > Tahun 2002, saat kita bisa mengetahui bahwa al-Mushaf itu tidak > berbukti berisi wahyu Allah, saat kita diberi tahu oleh para > archeolog bahwa cerita tentang Nabi Ibrahim itu hanyalah fiksi > doang! > > Otak! > > Kemana otak itu ditaruh? > > Hopeless! > --- End forwarded message --- RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe, anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini. Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ===============================================

