|
Assalamu'alaikum...
maaf klo berita ko talambek diinformasikan...
kapado kluarga yang takanai musibah serato kluarga yang ditinggakan
oleh anggota kluarganyo, ambo pribadi ikuik berbelasungkawa. Innalillahi
wa inna illaihi radji'un...
smoga yang takanai musibah dapek manarimo ko dengan tabah dan
tawaqal akan secuil ujian dari Allah SWT ini... amin...
salamaik mambaco...
----
Senin, 7/10/2002 00.02 WIB
Padang Panjang Hangus
Padang Panjang, mimbarminang.com - �.....api lagi...api pagi,
lagi-lagi api...,� ungkapan sedih dan kecewa bercampur penasaran meluncur
dari beberapa warga Padang Panjang. Masih belum lenyap abu kebakaran
kantor Balaikota, kini pusat pasar kota itu pula yang dilalap si jago
merah.
�Saya tak mengerti, padahal markas besar Barisan Pemadam
Kebakaran letaknya sejeng kal dari lokasi kebakaran, apa saja sih kerja
mereka?� tanya lelaki tua yang Sabtu siang ketika Gubernur Zainal Bakar
mengunjungi lokasi kebakaran Padang Panjang menggerutu panjang pendek.
Kepenasaranannya beralasan juga. Maklum baru dalam hitungan
bulan saja kantor Balaikota terbakar ludes, kini sudah tiba pula kebakaran
besar. �Bertirit-tirit benar, tentu menjadi pertanyaan kita,� ujar lelaki
itu.
Ia memang tak peduli benar akan kondisi mobil pemadam
kebakaran kota tersebut yang sudah out of date. Begitu juga apakah
anggota-anggota Barisan Pemadam Kebakaran itu ada melakukan
latihan-latihan rutin? Dan apakah personel-personel pemadam kebakaran kota
Serambi Mekah itu benar-benar sudah melelalui rekrutmen yang selektif?
Pertanyaan itu adalah pertanyaan awam yang biasanya tidak
terlalu peduli apakah dana pendukung untuk itu cukup atau tidak. Yang
jelas, sebagaimana diingatkan gubernur Zainal Bakar saat datang menyilau
kebakaran itu hari Sabtu, kesiapsiagaan (dalam bahasa polisi disebut
kesamaptaan) petugas pamadam kebakaran di musim yang serba tidak menentu
ini adalah mutlak.
Gubernur menyatakan kerisauannya terhadap
ancaman bahaya kebakaran pada kota-kota seperti Bukittinggi, Padang,
Padang Panjang dan Solok. Keempat kota itu termasuk berfrekuensi tinggi
dalam hal mengalami bencana kebakaran pasar. Sedang di Padang yang lebih
sering adalah pemukiman penduduk.
Seperti layaknya cerita
lama, senantiasa pula kasus-kasus kebakaran tak tentu saja ujung
pangkalnya. Sampai hari ini, baik kebakaran Balaikota Padang Panjang,
kebakaran pasar 1999, kebakaran RM Pak Datuk tak pernah disampaikan kepada
khalayak apakah sudah kelar atau masih dalam penyelidikan ke penyelidikan
saja.
Kebakaran besar Padang Panjang Sabtu dinihari lalu itu
alamat akan terlipat dalam kenangan pahit saja. Meskipun pihak Balaikota
Padang Panjang dalam keterangan singkatnya kepada Gubernur juga sudah
menyinggung-nyinggung tentang adanya kompor yang meledak sebelum
kebakaran.
Sampai kemarin polisi memang masih bekerja
ekstrakeras di sela-sela hujan dan kabut tebal mencari-cari titik terang
apa saja yang dapat membuka tabir penyebeb kebakaran sesung-guhnya.
Kemarin, di lokasi kebakaran itu benar-benar padat oleh
luapan masyarakat sekitar Padang Panjang yang ingin menyaksikan
puing-puing bangunan yang sudah berdiri puluhan tahun itu.
Sejumlah pemilik bahkan juga masyarakat masih terlihat
mengais-ngais sesuatu di tumpukan abu. Sementara para pejabat kota dari
pagi hingga sore nampak hilir-mudik di sekitar lokasi dan posko. Dan
jumlah korban yang meninggal sebagaimana dicatat oleh posko masih tetap
tiga orang. Akibat kebakaran tersebut, sedikitnya kerugian materi mencapai
Rp10 miliar.
Keluarga korban ustadz Khalil Ayub-Baniar yang
paling terpukul karena dua orang anaknya yang meninggal dikurung si jago
merah itu ditampung oleh keluarga besar Partai Keadilan. �Keluarga ini
kami sediakan tempat penginapan dan tinggal di kantor PK,� ucap H.
Nasrullah Nukman, S.H Ketua Partai Keadilan Kota Padang Panjang kepada
Mimbar Minang, Ahad siang kemarin.
Sementara, menjelang
tengah hari kemarin, Walikota Padang Panjang H. Yohanis Tamin, S.H. masih
bisa melangsungkan rapat anggaran bersama jajarannya di kantor Bappeda Kam
pung Nias. �Saya mau rapat bersama Pak Walikota di Bappeda,� ucap Sekdako
Drs. Aulizul Syuib didampingi Asisten II Adminis trasi-Keuangan Drs. H.
Rizal Hidayat pada pagi harinya, di lokasi kebakaran kepada Mimbar Minang.
Sementara di Posko kebakaran Gedung Moh. Sjafe�i petugas
piket Drs. Syahrial �sehari-hari Kepala UPTD Pasar� didampingi Kepala
Bawasda Febri Erizon, S.H. mengatakan, pada umumnya pemilik toko dan rumah
di lokasi kebakaran memiliki sertifikat hak milik yang dikeluarkan oleh
kantor Pertanahan setempat.
Korban yang meninggal itu
masing-masing Abdullah (55) garin mushalla Islamiyah, Fatimatul Hidayah
(18), siswa kelas dua Madrasah Aliyah Negeri Kotobaru Padang Panjang
bersama adik kandungnya M. Anif (9), pelajar kelas empat SD Mesjid Raya
Jihad. Ketiga jasad korban ditemukan telah gosong dan sulit dikenali.
Ketiganya menemui ajal akibat terkurung oleh amukan api saat sedang
tertidur pulas di dalam mushalla.
Fatimatul Hidayah dan
M. Anif adalah anak kandung dari Khalil Ayub-Baniar, sehari-hari pengurus
mushalla dan berjualan arang di depan mushalla itu. Selain jenazah
Abdullah, kedua jasad kakak beradik itu dimakamkan di pandam pekuburan
PKDP Tanah Pak Lambiak. Pemakaman jenazah disamping warga kelihatan lebih
banyak diurusi oleh Keluarga Besar Partai keadilan. Dilokasi terlihat
Ketua DPW PK Sumbar Ir. Mahyeldi Ansyurullah bersama Ketua PK Padang
Panjang Nasrullah Nukman, S.H. Sebelum dimakamkan, jenazah dishalatkan di
Mesjid Raya Jihad Balai Baru. Dan ketika di RSUD, nampak Gubernur H.
Zainal Bakar, S.H. dan rombongan disertai Walikota menje nguk kedua jasad
yang malang itu.
Untuk pembangunan kembali toko yang hangus
terbakar, hingga kini Pemko Padang Panjang masih dalam mencari lokasi yang
baru. �Secepatnya dicarikan jalan keluar,� janji Wali kota sembari
memikirkan tempat penampungan sekaligus menyelidiki asal muasal umber api.
Untuk mencarikan jalan keluarnya tidak gampang bagi Pemko
Padang Panjang. Karena keterbatasan lahan yang dikuasai pemerintah daerah
di kota itu, maka kalaupun akan dipaksakan juga pastilah akan
berdempet-dempet di tengah pasar jua. Persoalannya, kata seorang anggota
dewan, tidak semua korban adalah pedagang. Ada juga yang merupakan
penghuni biasa di sana.
Sekedar di catat, di dalam kota
Padang Panjang sendiri, sesungguhnya Pemda setempat tidak banyak bisa
menguasai space. Banyak dari space pasar merupakan tanah hak milik dan
yanah milik TNI-AD serta Perumka.
Dari dulu hingga kini
itulah persoalan pelik yang dihadapi Pemko setempat. Sehingga bagi mereka
yang tidak memahami, seolah-olah isu perluasan kota hanya alasan
dicari-cari sekedar menghindar dari ancaman likuidasi. Padahal
sesungguhnya adalah keterbatasan lahan yang dapat dikuasai oleh Pemda
untuk lahan pembangunan.(mie)
----
Wassalamu'alaikum.....
Gusman HP :
62-811-195925
|