Menuju Utara (5)

Kamar yang kami tempati tidak beda jauh dengan kamar hotel biasa bersebab 
tersedia tempat tidur, meja, kursi, lemari, kamar mandi, televisi, dan 
video. Kelebihannya adalah jendela kaca yang lebar menyamping berbentuk 
mempersembahkan panorama yang memesona.

Sehabis bergolek sebentar, kami menuju dek paling atas beberapa menit 
sebelum kapal angkat sauh. Perlahan kapal yang berperut besar ini 
melepaskan diri dari pelabuhan yang dibantu oleh kapal tunda yang 
bertubuh kecil. Pemandangan malam kota Sendai diwarna-warnii oleh jutaan 
kunang-kunang yang pelan menjauh. Sejenak kemudian, rembulan menyembulkan 
wajahnya dan bintang gemintang mengedip-ngedipkan mata genitnya.

"Tengok rembulan yang beraut wajah teduh dan elok dipandang itu. Laiknya, 
sang rembulan becermin pada wajahmu, dik."

"Tapi, Neil Armstrong mengirimkan bukti pandangan mata kepada dunia tahun 
1969 bahwa permukaan bulan itu capuak-capuak."

"Siapa yang bilang wajah adik yang putih lembut halus bak pualam ini 
capuak-capuak?"

"Pokoknya, wajah ambo tidak mau disamakan dengan rembulan."

Perasaan perempuan berselimut berlapis misteri yang sukar dikuakkan untuk 
mengetahui apa yang terpendam di dalamnya. Bening matanya adalah telaga 
tempat laki-laki meneduhkan jiwa raga dan terkadang menenggelamkan. Kian 
berbincang dengan makhluk ini kian dapat memahami kehalusannya, 
kewanitaannya, kemanusiaannya, dan ketegarannya yang tidak dimiliki oleh 
kaum laki-laki. Namun, hatinya yang lebih dalam daripada Lautan Pasifik 
mustahil dapat diselami habis sampai ke dasarnya. 

Kerucut haluan kapal membelah permukaan laut dalam lajunya yang tenang. 
Masih berdua kami di atas dek yang lapang. Bulan mulai menutupi wajahnya 
dengan awan yang panjang. Barangkali tersipu malu dia memandangi seorang 
laki-laki berkulit hitam yang terus menmpatkan tangannya di pinggang 
seorang perempuan berkulit putih, seolah-olah besok mau kiamat saja.

"Uda juga mau menulis perjalanan ini di internet?"

"Tentu saja."

"Cerita Babelok Jalan ka New Caledonia sudah tamat?"

"Belum. Cerita episode ketiga masih di pagi hari di hari pertama di New 
Caledonia?"

"Kita berada di sana 10 hari bulan Desember tahun lalu. Kapan tamatnya 
cerita itu?"

"Tidak tahu."

"Memangnya ada yang baca?"

"Tidak tahu."

"Ambo tidak mau cerita yang bernada pribadi ini dibaca orang banyak."

"Kalo baitu kato adiak, izinkanlah ambo menulis perjalanan ini sampai di 
sini saja."

Penghormatan saya terhadap kaum hawa sering berupa penghormatan terhadap 
ibu saya sendiri. Jadinya, demi menghormati bini, saya tidak akan 
menyinggung tentang hal sesudah kembali kami ke kamar kami yang diremangi 
lampu merah muda itu.

(tamat)

e

RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke