> --- In [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] wrote: > On 7 Oct 2002, at 2:48, Darwin Bahar wrote: > > > > --- In [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] wrote: > > >
Dari kecil teranja-anja Sudah besar terbawa-bawa Sudah tua terubah tida� Jusfiq sekali beruk Tetap beruk Beruk jelas tidak bisa mengerti bahwa tokoh-tokoh dalam Al Qur�an tidak memerlukan pembuktian arkeologis---termasuk Adam, Nuh dan Musa. Kebenaran Al Qur�an tidak terletak kepada apakah Adam, Nuh, Ibrahim dan Musa merupakan realitas atau bukan, tetapi kepada ajaran tauhid, pesan-pesan universalnya yang �tidak lekang dek panas tidak lapuk dek hujan�, serta bahasanya memliki sastra tertinggi dan terbuka bagi beragam arti. Karena itu mualaf-mualaf Barat terpelajar yang melakukan konversi kepada Islam umumnya karena terpikat kepada Al Qur�an. Kisah-kisah Adam, Nuh, Ibrahim, Musa dan lain-lain lebih berdimensi moral ketimbang historikal. Mualaf-mualaf Barat terpelajar yang melakukan konversi kepada Islam karena terpikat kepada Al Qur�an mampu membedakan ensiklopedi dengan kitab suci. Beruk jelas tidak Tetapi Jusfiq bukan beruk sembarang beruk Jusfiq adalah beruk tua yang nyinyir (Beruk tua yang sudah tidak sigap lagi memanjat dan memetik buah kelapa. Diikat dipagar menunggu mati lalu menjebi, menyeringai, melotot, menyodor-menyodorkan pantatnya kepada orang lewat, walaupun orang itu tidak mengganggunya) Dia akan tetap menyeringai, melotot, menyodor-menyodorkan pantatnya kepada setiap orang Sampai dia terjengkang Tatkala kematian datang Jusfiq, beruk tua yang malang Begitu Salam, Darwin (Selalu ber do�a agar Jusfiq berhenti menjadi beruk) P.S. thread ini saya c.c.kan ke Milis Surau dan RantauNet, terutama bagi netters yang pernah membaca posting saya yang berisi dialog saya dengan Jusfiq dengan subyek �Dalam Lautan Bisa Diduga� > > Manusia bermental keledai debil pengencuk kambing congek lagi > cacingan ini toh tidak bisa: > > a) membantah bahwa al-Mushaf itu hanya menyuruh orang Padang > Pasir untuk naik haji. > > b) membutktikan bahwa Nabi Ibrahim itu memang pernah ada. > > (Kesimpulan ilmuwan bisa berubah, tapi kenyataan tetap saja bahwa > TIDAK ada bukti hingga hari ini bahwa nabi Ibrahim itu memang > pernah hidup). > > Dan panggilan Nabi Ibrahim yang tidak terbukti pernah ada inilah > yang diturutkan oleh manusia bermental keledai pengencuk kambing > lagi congek ini. > > Tolol bukan? > > Dungu bukan? > > Bodoh bukan? > > Goblok bukan? > > Pandir. > > Otak! > > Itulah yang tidak dimiliki Darwin Bahar ini. > > Apalagi harga diri. > > > (Maaf, karena kesibukan pekerjaan baru sekarang dapat saya > tanggapi). > > > > Anda persis sperti seeokor beruk tua nyinyir yang sudah tidak sigap > lagi > > memanjat dan memetik buah kelapa. Diikat dipagar menunggu mati lalu > > menjebi, menyeringai, melotot, menyodor-menyodorkan pantatnya > kepada > > orang lewat, walaupun orang itu tidak mengganggunya. > > > > Sebagai seorang yang mempunyai gen Minang yang standar: telinga > tebal, > > lidah tajam, saya siap membalas cercaan Anda kepada saya yang > mengatakan > > bahwa saya "pandir kayak keledai debil" lebih dari pada sekedar > > mengatakan Anda "seekor beruk tua yang nyinyir". Anda pasti tahu > itu. > > > > Tetapi saya berfikir positif saja. Lagi pula bagi saya kemampuan > untuk > > bercarut marut bukan sesuatu yang perlu dipamer-pamerkan apalagi > menjadi > > kebanggaan atau menjadi "trade mark". > > > > Saya mencoba menangkap moral pesan Anda yaitu agar saya tidak > > membuang-buang untuk "memenuhi panggilan Nabi Ibrahim" yang menurut > > keyakinan Anda---berdasarkan peneletian arkeologis yang dilakukan > > Finkelstein dan Silberman menyimpulkan bahwa kitab Pantateuk yang > > bercerita tentang Ibrahim itu "hanya" bikinan manusia---sedangkan > > al-Mushaf yang menyampaikan kisah-kisah Ibrahin tidak berbukti > berisi > > wahyu Allah, karena sejarawan revisionis (Wansbrough, Crone, Cook > dll.) > > bilang bahwa al-Mushaf itu disusun di Arabia Utara oleh beberapa > orang. > > > > Sementara kata-kata kotornya Anda kenakan buat Anda saja. You > deserve! > > > > Sejujurya, saya seorang seorang awam di bidang arkeologi dan bukan > pula > > ahli sejarah, dan tidak akan mecoba berpura-pura ahli dalam kedua > bidang > > ilmu pengetahuan tersebut hanya sekedar "ngeyel" mempertahankan > keyakinan > > saya. Tetapi sebagai orang yang "makan sekolahan" dan dalam mencari > > nafkah dari padanya, saya juga paham tentang teori-teori mengenai > ilmu > > pengetahuan, paham bagaimana ilmu pengetahuan bekerja, paham apa > itu > > ontologi ilmu, apa itu epistemologi ilmu dan aksiologi ilmu. > > > > Dan seperti kebanyakan orang yang paham bagaimana ilmu pengetahuan > > bekerja, dan paham akan kegunaan dan ---sekaligus > keterbatasan---ilmu > > pengetahuan, saya berpendapat bahwa kesimpulan ilmu pengetahuan > bukan > > sesuatu yang final! Kesimpulan ilmu pengetahuan selalu bersifat > terbuka, > > termasuk penelitian di bidang ilmu-ilmu eksakta. > > > > (Karena itu saya sangat setuju dengan ungkapan Prof Dr Jujun Suria > > Sumantri: "Adalah ketinggihatian yang tidak mempunyai dasar sama > sekali > > bila kita beranggapan bahwa ilmulah alfa dan omega dari > kebenaran"[1]) > > > > Dan arkeologi bukan ilmu eksakta! Ilmu sejarah---revisionis atau > bukan--- > > bukan ilmu eksakta! > > > > Tetapi saya di sini bukan untuk membantah Finkelstein, Silberman, > > Wansbrough, Crone dan Cook. Dan juga bukan untuk membantah > kesimpulan > > para pakar-pakar tersebut semata-mata hanya karena arkeologi dan > ilmu > > sejarah bukan ilmu eksakta, karena inti persoalan bukanlah masalah > > Ibrahim sebuah realitas atau bukan, yang ingin saya kemukan bahwa > yang > > punya kepala tidak hanya Finkelstein, Silberman, Wansbrough, Crone, > Cook > > dan Jusfiq Hadjar (!) > > > > Yang ingin saya garis bawahi adalah terlepas dari apakah kisah-kisah > > dalam kitab Pantateuk terbukti secara arkelogis atau tidak, tidak > > mengurangi kenyataan bahwa Ibrahim---seperti yang didskripsikan > dalam > > cover story TIME 30/09/02---merupakan Bapak Monotheisme, Bapak > Spritual > > dari tiga agama besar: Yahudi, Kristen dan Islam. > > > > Dan tidak disangsikan bahwa David Van Biema yang menulis Laporan itu > > untuk TIME juga punya kepala dan juga sudah membaca sekian banyak > buku, > > tetapi paham bagaimana ilmu pengetahuan bekerja, dan paham akan > kegunaan > > dan ---sekaligus keterbatasan---ilmu pengetahuan. > > > > (Kalaulah Pantateuk semata-mata karangan manusia, pastilah yang > menulis > > itu seorang genius, walaupun tidak bersekolah tinggi dan membaca > ratusan > > buku tetapi bisa "menciptakan" konsep monoteisme yang diserap oleh > tiga > > agama besar dan eksis dan bekembang sampai hari ini.) > > > > Dan tidak disangsikan bahwa David Van Biema yang menulis Laporan itu > > untuk TIME juga punya kepala dan juga sudah membaca sekian banyak > buku > > dan paham paham akan kegunaan dan ---sekaligus keterbatasan---ilmu > > pengetahuan. Dan saya termasuk yang percaya dan mendukung semangat > dalam > > Laporan TIME bahwa Ibrahim yang merupakan Bapak Spritual ketiga > agama > > Yahudi, Kristen dan Islam itu akan mampu mempersatukan ummat ketiga > agama > > besar tanpa menafikan eksistensi dan hubungan salingmenghormati > dengan > > agama dan penganut agama di luar ketiga agama besar tersebut. > > > > (Dan sangat jelas, bak bersuluh matahari, bahwa orang-orang seperti > > David Van Biema bukanlah kelompok minoritas di muka bumi ini) > > > > Ibrahim---persis seperti yang didesekripsikan dalam Al Qur'an: Bapak > > Monotheisme dan Bapak Spritual > > > > Dan mengenai Wansbrough, Crone, Cook, tentunya saya tidak perlu > membaca > > buku mereka kalau hanya hendak mengatakan bahwa kesimpulan mereka > bahwa > > "al-Mushaf itu disusun di Arabia Utara oleh beberapa orang" dan > > menggangap bahwa kesimpulan mereka sebagai kesimpulan final, akan > > banyak mendapat tantangan dari orang-orang yang juga mempunyai > kepala, > > bersekolah tinggi dan membaca ratusan buku. > > > > Boro-boro peristiwa empat belas abad yang lalu, siapa yang > sesungguhnya > > merancang Peristiwa Berdarah 27 tahun yang lalu saja tidak ada ahli > > sejarah---revisionis atau bukan---yang berani mengatakan bahwa > kesimpulan > > mereka adalah kesimpulan yang final ! > > > > Wansbrough, Crone dan Cook, atau siapa saja yang berkesimpulan > demikian, > > gagal untuk melihat fakta bahwa Al Qur'an sudah menghasilkan ribuan > > kajian dan berbagai peristiwa sejarah yang berkesinambungan sejak > dari > > zaman khalifah empat sampai dengan dinasti Umayah, Abasyah, > Fatimiyah > > sampai dengan Turki Osmani---tanpa ada satupun link yang hilang. > > > > Mereka juga gagal mengetahui, bahwa orang-orang Islam juga > mengetahui > > bahwa tidak lama setelah Nabi wafat, terdapat beberapa versi > Al-Mushaf > > yang berbeda untuk hal-hal yang tidak sangat prinsip sebelum panitia > yang > > dibentuk oleh Khalifah Ustman merekomendasikan agar yang digunakan > oleh > > Ummat adalah al Mushaf yang disimpan oleh Janda Rasullulah Ummu > Salamah, > > tanpa meragukan sedikitpun kesucian semua Mushaf---yang bahasanya > memliki > > sastra tertinggi dan terbuka bagi beragam arti itu�--tersebut > sebagai > > Wahyu Illahi. > > > > Walaupun tidak sedikit orang-orang yang tidak sanggup menyangkal > > kebenaran historikal sistem hadist, lalu berusaha melakukan berbagai > > pembunuhan karakter terhadap Bukhari, Muslim, Ahmad dan ulama hadist > > lainnya, tanpa dapat menunjukkan dan membuktikan bahwa sumber-sumber > > historikal yang mereka gunakan lebih valid dari pada sistem hadist. > > > > Tetapi apapun dan siapapun kalau hanya mendekati Al Qur'an > > semata-mata---saya ulangi---semata-mata dengan pendekatan keilmuan > yang > > berlandaskan akal dan pengukuran dengan panca indera saja, tidak > akan > > mampu menjelaskan, mengaapa Al Qur'an tidak saja bertahan, tetapi > mampu > > menempati tempat sentral dalam kehidupan kaum muslimin. Bahkan > > mualaf-mualaf Barat terpelajar umumnya melakukan konversi setelah > > mempelajari Kitab Suci ini. Pendekatan keilmuan yang nberbasis akal > > semata tidak akan mampu menjelaskan mukjizat Al Qur'an, sensasi yang > > timbul bagi orang-orang beriman yang membacanya, mukjizat yang > terkandung > > dalam sejumlah ayat-ayatnya (Para kyai dengan "K" besar dan para > santri > > dengan "S" besar tahu persis kekuatan apa---misalnya---yang > terkandung > > dalam ayat 9 Surah Yasin, ayat yang melafaskan ucapan Ibrahim > sebelum > > dibakar tanpa hasil oleh Nimrod, atau kekuatan penyembuhan yang > > terkandung dalam Surrah Al-Fatihah). > > > > Dan Engku Jusfiq---dengan segala hormat saya terhadap keterpelajaran > Anda > > dan "niat baik" Anda untuk mengajak umat Islam Indonesia berfikir > > rasional---Anda termasuk orang yang semata-mata hanya menggunakan > > pendekatan keilmuan yang hanya berlandaskan akal dan pengukuran > dengan > > panca indera saja. Itupun hampir selalu dengan mata yang sengaja > > "dijulingkan". Sumber-sumber yang Anda gunakan tentang peri > kehidupan > > Nabi SAW hampir selalu sumber-sumber sampah yang orang-orang sangat > > terpelajar seperti Prof Annemarie Schimmel tidak akan peenah mau > > mengunakannya. Anda sangat membesar-besarkan buku-buku Ibnu > > Warraq---manusia hina---si murtad yang sesudah keluar dari Islam > lalu > > menjelek-jelekkan agamanya yang lama. Tetap Anda mengesampingkan > > buku-buku Dr. Jeffrey Lang yang alih-alih memburuk-burukkan agama > > lamanya, namun lebih banyak menyampai sikap kritis tetapi tulus > kepada > > agama barunya dan penerimaannya yang sangat rasional---karena beliau > > adalah seorang prof matematika---tetapi total terhadap Al Qur'an. > > > > Dan dengan mata yang sengaja dijulingkan itu pula Anda hanya mampu > > melihat ritual Haji sebagai "lari-lari kayak anjing gila di Makkah, > > antara dua bukit kecil dan muter-muter kayak orang sedeng disekitar > > Kaabah". Anda gagal total melihat pesan yang sangat mulia---yang > > disampaikan dengan sangat spetakuler---yang tidak pernah ada dalam > ibadah > > kolosal manapun---bahwa manusia, siapapun dia, adalah sama di sisi > Allah, > > semuanya harus menggalkna atribut keseharian yang mencirikan ras > dan > > status seorang dalam kehidupan sehari-hari, termasuk status kegamaan > > (ulama) dan atribut yang membedakan antara manusia yang satu dengan > yang > > lainnya, dengan memakai pakaian ihram yang sama---yang bagi, siapun > dia > > adalah berupa kain kafan, seperti kain yang akan membungkus > jasadnyanya > > jika nyawa sudah lepas dari badan kelak dalam jumlah yang sangat > > kolosal---sekitar 3 juta orang--- melakukan ritual tanpa komando, > kecuali > > gerak dan niat yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. > > > > Tidak ada Engku, tidak ada satu ibadah---yang begitu kolosal--- > dalam > > kuantitas yang pesan universalnya yang setara dengan ibadah haji. > > > > Tidak ada! > > > > Karena melihat dengan mata yang dijulingkankan ini pula, Anda gagal > > melihat bahwa dari segi jumlah dan kemudaratan yang ditimbulkannya, > > pengeluran yang dikeluarkan oleh jemaah untuk menjalankan ibadah > haji, > > tidak ada artinya sama sekali jika dibandingkan dengan jumlah dana > yang > > ditilep penguasa dan pengusaha jahat melalui KKN yang kemudian > > dihambur-hamburkan di pusat-pusat perbelanjaan dan perjudian di luar > > negeri. > > > > Jadi sebenarnya problem ibadah haji bukan terletak pada kaum > muslimin > > yang pergi berhaji---khususnya mereka yang berhaji berbekal taqwa > dan > > mampu memperoleh kebangkitan rohani dengan mendapat haji yang > mabrur. > > Tetapi dari mata yang selalu Anda julingkan dalam melihat aspek > apapun > > dalam Islam. Dan ketidaksungkanan Anda menggunakan kata-kata yang > paling > > kotor dalam melihat Islam dengan mata yang hampir selalu > dijulingkan, > > maka "beruk tua yang nyinyir" adalah metafora yang paling sopan yang > bisa > > saya nisbatkan kepada Anda. > > > > Tetapi saya juga berdusta bila saya katakan Anda selalu seperti > "beruk > > tua yang nyinyir" > > > > Tidak, Anda juga pernah keluar dengan wacana yang sangat mengharukan > > saya, bahwa ayat-ayat Makiah itu bersifat universal dan berlaku > sepenajng > > masa. > > > > Saya sangat terharu terhadap implikasi dari wacana yang Anda > tawarkan > > itu, yang tidak perlu saya ulas lagilah. Itu begitu terang bak > bersuluh > > matahari. > > > > Saya sangat terharu karena percaya---terlepas dari Anda sadar atau > tidak, > > Anda sangkal atau tidak---bahwa pada bagian yang sangat dalam dari > > sanubari Anda masih bersemi apa yang disebut "iman" > > > > Karena itu---terlepas Anda percaya atau tidak, Anda menolak atau > tidak, > > saya selalu berdoa---termasuk bila saya berada di tanah suci kelak, > agar > > apa yang masih bersemi dalam sanubari Anda tersebut bisa semakin > > besar-dan membesar, sehingga dalam sisa-sisa hidup Anda Anda tidak > lagi > > berperilaku seperti beruk tua yang nyinyir. > > > > Dan terlepas dari Anda tetap berperilaku seperti beruk tua yang > nyinyir > > atau tidak---seperti saya kemukakan dalam salah satu posting saya di > > Prol, jika sewaktu-waktu Anda pulang ke Indonesia, pintu rumah dan > pintu > > hati saya, karena Allah, terbuka buat Anda. > > > > Begitu > > > > Salam, Darwin > > > > P.S. thread ini saya copykan ke Milis Surau dan RantauNet, terutama > bagi > > netters yang pernah membaca posting dialog saya dengan Jusfiq > dengan > > subyek "Dalam Lautan Bisa Diduga" > > > > [1] Penyunting Buku "Ilmu dalam Perspektif", Yayasan Obor Indonesia, > > Ctakan Kelimabelas, 2001 > > > > > Berjuta-juta rupiah uang dibuang hanya untuk memenuhi > panggilan > > > Nabi Ibrahim yang tidak pernah hidup itu saya anggap perbuatan > > > tolol, dungu, bodoh lagi goblok yang hanya pantas dilakukan > oleh > > > manusia bermental d�bil profond kayak keledai pengencuk > kambing > > > congek lagi cacingan! > > > > > > Pandir! > > > > > > Ya, saya tidak habis pikir, bagaimana mungkin ditahun 2002 ini > > > orang seperti Darwin Bahar - dan ribuan orang Islam lain - > masih > > > mau saja menelan kibulan orang Arab, kayak anjing lampar > menelan > > > taik angat: dengan lahapnya. > > > > > > Tahun 2002, saat kita bisa mengetahui bahwa al-Mushaf itu > tidak > > > berbukti berisi wahyu Allah, saat kita diberi tahu oleh para > > > archeolog bahwa cerita tentang Nabi Ibrahim itu hanyalah fiksi > > > doang! > > > > > > Otak! > > > > > > Kemana otak itu ditaruh? > > > > > > Hopeless! > > > --- End forwarded message --- > > > > > > > > Post message: [EMAIL PROTECTED] > > Subscribe : [EMAIL PROTECTED] > > Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] > > List owner : [EMAIL PROTECTED] > > > > Your use of Yahoo! Groups is subject to > http://docs.yahoo.com/info/terms/ > > > > > > > --- End forwarded message --- RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe, anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini. Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ===============================================

