14 Oct 2002 23:54:2 WIB
TEMPO
Interaktif, Jakarta: Ketua
Front Pembela Islam Habib Rizieq Shihab mencurigai rekayasa badan intelijen
luar negeri Amerika Serikat atau CIA dalam pengeboman Sari Club di Jalan Raya
Legian, Kuta, Bali. Kecurigaan itu lantaran Amerika dia nilai paling getol
menciptakan opini bahwa Indonesia sarang teroris.
�Sehingga mereka memiliki motif kuat untuk membenarkan tuduhan mereka,�
ujar Rizieq pada wartawan di Jakarta, Senin (14/10). Ini tuduhan kedua setelah
kemarin malam Pemimpin Majelis Mujahidin Indonesia Abu Bakar Ba�asyir bersama
elemen Islam lain di Solo melontarkan tuduhan serupa.
Menurut Rizieq, CIA telah melakukan operasi intelijen di Indonesia untuk
memburu teroris. CIA telah memberi masukan pada Kedutaan Besar Amerika Serikat
di Jakarta tentang sejumlah tempat yang kemungkinan menjadi sasaran teroris.
Kata Rizieq, info itu diberikan Sabtu pagi pekan lalu, atau beberapa jam
sebelum peledakan.
Setelah mendapat informasi, kata Rizieq, Kedutaan Amerika lantas membuat
siaran pers yang memperingatkan warganya di Indonesia agar tidak mendekati
tempat keramaian seperti restoran, klub dan tempat hiburan lain hingga tanggal
8 April tahun depan. Malam harinya, pukul 23.30 WIB, ternyata terjadi
peledakan bom di Bali. Korban banyak warga negara asing selain Amerika
Serikat. �Artinya peristiwa itu terjadi tidak sampai 24 jam dari peringatan
Kedutaan Amerika pada warganya,� tutur dia.
Rizieq sependapat bahwa pelaku bekerja sangat profesional. Memperhatikan
penggunaan bahan peledak dengan kekuatan ledak yang begitu dahsyat, dia yakin
CIA memiliki kemampuan rekayasa semacam itu. Selain itu, ia juga menaruh
curiga upaya ini untuk memprovokasi masyarakat Bali yang beragama Hindu,
sehingga mencurigai umat Islam dan menuntut pelepasan kemerdekaan dari
Indonesia.
�Kami meyakini tujuan tragedi Bali untuk menciptakan suasana kacau di
Indonesia yang akhirnya mengantarkan kepada disintegrsi bangsa. Tragedi Bali
adalah bagian dari skenario besar musuh Indonesia memecah belah bumi pertiwi,�
kata dia. Apa bukti dari semua tuduhan itu? Ternyata Rizieq mengakui masih
lemah. �Kami sedang kumpulkan informasi,� tutur dia. Tuduhan tanpa bukti? Dia
meyakinkan sinyalemen itu bisa dia pertanggungjawabkan. (Eduardus Karel
Dewanto � Tempo News Room)