Asalamu'alaikum wr. wb.
 
Cukup menarik judul tulisan dari Sdr.Daniel Mohamad Rosyid. PR IV ITS ini, anmun dari isinya tidak ada alternatif yang ditawarkan selain alternatif semantik (omong doang), "serangan teroris" versi usa dan "indonesia diserang" versi DMR tidak membahas what and why peristiwa teroris dan pribadi ABB beserta gengnya yang ingin menghabisi "semua kafir" di indonesia (solo/jateng kali). Pembahasan semantik yang indah sama sekali tidak memberikan solution yang di caim oleh sanak Irdam Syah sebagai solusi yang real, sayangnya tetap pseudo solution.
Bgaimana mungkin dengan mengganti istilah dan terori jadi  "Indonesia di serang". Dengan teori ini, bangsa Indonesia dari seluruh lapisan, kelompok, suku dan agama, sipil dan militer akan merapatkan barisan untuk mempertahankan diri melawan "musuh bersama" yang hendak memecah-belah bangsa ini. Kita tidak hanya akan menolak tuduhan Indonesia sebagai bangsa Teroris, tapi kita akan
menolak penghancuran infrastruktur sosio-ekonomi kita
.
Apa dengan menolak tuduhan masalah akan selesai, tidak Bung, kegagalan bangsa ini bermula dari ketidak mampuan merubah uud atau konstitusi menjadi "human oriented" dari semula "transcendental oreinted", dari semula "kesatuan" menjadi "persatuan", dari semula kesatuan menjadi federasi atau confederation, dari semula controlled by military menjadi civilian controlled, mungkin semantik juga seperti uraian dibawah, apa boleh buat karena pemikiran pancasila yang seharusnya dalam wacana pribadi diajadikan wacana publik (negara) dan inilah kepalsuan atau pseudo rationale yang paling parah. Lucunya disokong oleh banyak anggota masyarakat yang beragama Islam, Kristen dan Katholik plus yang lain. Mereka dengan sengaja atau tidak menerima sebuah negara yang berketuhan yang maha esa akan mensejahterakan mereka, padahal dari situlah konspirasi awal terjadi, berikutnya nyawa orang menjadi sama dengan nyawa ayam (pandangan dari sebagian fundamentalis Islam).
Keinginan mempersatukan seluruh elemen bangsa, untuk apa? apa semua mau disuruh memerangi usa? pemikiran yang naif. Selam elit birokrasi bangsa ini belum mampu menegakkan keadilan dan peradilan atas dosa-dosa pelanggaran berat HAM masa lalu, jangan harap keutuhan nkri ini akan bertahan dalam seperempat abad mendatang. Nggak setuju? boleh saja, yang jelas bom akan terus berjatuhan sejak dari Istiqlal, BEJ, Gereja Menteng, Borobudur (dulu), BEJ terakhir Bali & Menado, demikian juga razia "tempat hiburan" akan lebih marak karena bulan puasa menjelang. Begitulah sikap sebagian ikhwan kita yang muslim kayaknya kita tidak mampu "beragama" tanpa bantuan pedang pemerintah atau bukan, apa ini yang ingin diteruskan oleh Sdr. DMR?
Entahlah.
Salam
 
SBN
----- Original Message -----
From: Irdam Syah
Sent: Monday, October 21, 2002 12:05 PM
Subject: [RantauNet.Com] FW: bom bali dan pilihan semantik

Suatu alternatif yang perlu dipikirkan karena bisa menghasilkan
alternatif solusi yang berlainan... not pesudo but really an alternative...
 
tg,--
                                                                                                                   
INDONESIA  DISERANG ! (sebuah alternatif semantik )
Daniel Mohammad Rosyid Pembantu Rektor IV ITS Surabaya
Telp./fax  031-5923411,e-mail : [EMAIL PROTECTED]

Antara teori dan fakta

Hampir selama seminggu ini, bangsa Indonesia dibombardir oleh informasi
yang telah diolah,oleh sebagian besar media massa asing dan domestik,
sehingga dipahami seolah sebagai fakta. Ledakan bom -beserta ratusan
korbannya- di Legian, Kuta, Bali pada tanggal12 Oktober 2002 yang lalu
adalah akta, sementara "serangan teror" hanyalah teori-lebih tepat disebut
hipotesis-  yang dibangun di atas fakta itu. Dalam hujan informasi
tersebut,timbul kesan luas, bahwa teror -yang sebenarnya hanya teori itu-
menjadi fakta.

Penting untuk dipahami -mengikuti metoda ilmiah yang ketat-, bahwa atas
fakta yang sama, kita dapat menyusun teori alternatif yang berbeda :
"Indonesia diserang". Teori ini telah dipakai oleh Amerika Serikat sewaktu
menghadapi fakta keruntuhan 2 menara kembar World Trade Centre di New York
11 September 2001yang lalu. Beberapa jam setelah peristiwa itu,GW. Bush,
dan  juga koran  Amerika Serikat mengatakan bahwa :"USA under attack !",
kemudian  segera mencari kambing hitam di luar USA : Osamah bin Laden  
dengan jaringan  Al Qaedah-nya.

Bangsa Indonesia tidak menyadari, bahwa kini USA menerapkan teori yang
sama  untuk lokasi lain, yaitu tanah air mereka sendiri : Indonesia.
Faktanya adalah bahwa di Indonesia (Bali) telah terjadi serangkaian
ledakan bom yang telah menewaskan ratusan orang (sebagian besar orang
asing), dan ratusan lainnya luka-luka. Dengan teori "serangan teroris" itu,
kini USA menuding tersangka yang sama (al qaedah), dengan kombinasi lokal
(Jamaah islamiah), padahal yang dirugikan adalah Indonesia !. Bagi USA,
ledakan bom di Bali itu adalah bukti bahwa teroris ada di Indonesia
sebagaimana yang telah di"teorikannya" selama ini.

Liputan media juga amat tidak seimbang. Respons cepat sebagian penduduk
Denpasar seperti para relawan muslim PAN Bali untuk melakukan pertolongan
atas ratusan korban bom di Legian -kurang dari 2 jam setelah ledakan- juga
sama sekali tidak diliput oleh media massa. Namun justru kegiatan aparat
dan  orang-orang sebuah organisasi yang datang terlambat, baru dibentuk, justru
diliput habis-habisan oleh media massa. Sebagian orang Indonesia, dan juga
orang asing yang pro kampanye anti-teror Amerika, tentu mengira bahwa
disinformasi ini menguntungkan mereka, padahal tidak. Setiap disinformasi
akan diikuti oleh disinformasi berikutnya yang tidak akan sustainable.

Teori Serangan Teroris

Beberapa hal berikut merupakan "tindaklanjut" dari teori ini. Bisa
dipastikan, para penyelidik gabungan internasional (dibantu FBI USA dan
AFP Australia) yang sekalipun dipimpin POLRI, akan bertindak  diatas
pijakan hipotesis "serangan teroris"ini. Bisa  diperkirakan bahwa para
penyelidik akan dengan mudah menemukan "bukti-bukti" melalui serangkaian
penangkapan para "teroris" -lebih tepat  diteorikan sebagai teroris -
tersebut di berbagai daerah di Indonesia. Di tingkat ini, banyak
penyelidik POLRI -bahan Menteri Pertahanan dan Menko Polkam - yang kurang
menyadari bahaya dari teori "serangan teroris"ini bagi bangsa Indonesia.

Karena kalau teori "serangan teroris"ini diikuti terus, akan banyak lagi
"bukti-bukti serangan teroris" yang sengaja dibuat oleh pihak-pihak yang
tidak menghendaki Indonesia sebagai negeri yang kuat, dan bangsa Indonesia
akan terpecah belah, dan hancur infrastruktur sosio-ekonominya.

Bahkan pimpinan POLRI tidak menyadari "jebakan metoda ilmiah" ini yang
tampaknya tidak dikuasai oleh banyak aparat hukum Indonesia (menurut
catatan  Saya, berbeda dengan di USA, di Indonesia, lulusan SMU yang pintar 
sedikit  yang mau masuk fakultas hukum,dan akademi kepolisian. Mereka  
yang pintar  berjuang untuk diterima di fakultas teknik dan kedokteran.
Kelucuan-kelucuan  dunia peradilan dan hukum  di Indonesia akhir-akhir 
ini sebagian besar  disebabkan oleh karena mereka yang masuk fakultas 
hukum  bukan dari mereka  yang terbaik).

"Tindak lanjut " berikutnya adalah kemarahan orang Australia,dan kepergian
orang-orang asing dari Indonesiaakibat dianjurkan pergi meninggalkan
Indonesia karena Indonesia dianggap merupakan sarang teroris. Bila ada
bom-bom berikutnya, itu daftar bukti tambahan bahwa memang banyak teroris
berkeliaran di Indonesia.  "Serangan-serangan teroris"lain bakal akan
terjadi di sarana transportasi, perdagangan, dan wisata, dan Indonesia
justru kembali sebagai tertuduh.

Sabtu ini kita mendengar bahwa Ustadz Abu Bakar Baasyir -orang yang
dikenal konsisten dengan "garis keras"nya (inipun mengikuti teori ini)-
dinyatakan sebagai tersangka, walaupun bukan untuk kasus Bom Bali,tapi
berdasarkan pengakuan UmarAl  Faruq (who the hell is this guy, after all ?)
ke FBI/CIA mengenai beberapakasus pemboman di Jakarta dan rencana
pembunuhan  Presiden Megawati. Bila USA lebih percaya pada omongan Umar 
Al Faruq  daripada ustadz  Baasyir tentu dapat dipahami,tapi bila  
orang Indonesia  yang  waras juga lebih percaya pada Al Faruq si Mr. X 
daripada  ustadz  Baasyir,   ini  sudah kegilaan. Sulit dipahami bahwa orang
sekaliber Susilo Bambang  Yudhoyono lebih percaya Pada Mr.X Al Faruq ini.

Teori alternatif : Indonesia diserang

Perspektif luas yang kini dibangun oleh media massa ini merupakan keanehan
yang luar biasa, untuk tidak mengatakan kebodohan -bahkan pembodohan-
bangsa  Indonesia. Seharusnya, kitalah yang menggunakan teori itu : Indonesia
diserang (Indonesia under attack)!. Bila teori  ini yang kita pakai, maka
yang paling masuk akal adalah "menuduh orang lain (orang asing) yang
melakukannya, bukan malah menuduh orang Indonesia sendiri ! Di atas teori
ini, kita dapat mencari "bukti-bukti"yang diperlukan, dan mengambil
langkah-langkah mandiri, misalnya memeriksa secara ketat wisatawan asing,
terutama para agen-agen asing, juga memeriksa seluruh kapal-kapal dagang
dan  kapal perang asing yang masuk ke wilayah Indonesia

Kitalah yang sepatutnya marah karena industri pariwisata kita hancur
(bukannya menjadi sasaran kemarahan rakyat Australia),dan kantor-kantor
konsulat asing yang kita curigai seharusnya diminta untuk ditutup (bukan
mereka tutup sendiri karena adanya ancaman teroris).

Dari sudut pandang apapun, hampir-hampir tidak ada orang Indonesia yang
diuntungkan -termasuk jaringan Jamaah Islamiah berbasis Indonesia- dari
peledakan bom tersebut, dan tewasnya ratusan turis.  Sasaran-sasaran yang
mustinya diserang oleh Al Qaedah adalah sasaran-sasaran kepentingan Amerika
Serikat di Indonesia seperti Exxon di Aceh, Freeport di Papua , dsb.,
bukannya Bali dan turis-turis  Australia.  Setidaknya, Al Qaedah tidak
menuduh orang lain atas beberapa tindakannya selama ini -ini yang
menyebabkan Osamah bin Laden tampak lebih gentleman dari GW Bush

Dengan mengatakan bahawa "Indonesia di serang", seluruh unsur bangsa ini
niscaya akan merapatkan barisan (seperti yang dilakukan oleh bangsa AS
menghadapi kambing hitam Al qaedah), tidak justru berpecah belah. Bahkan,
kini saatnya seluruh komponen bangsa melupakan perbedaaan-perbedaan mereka
untuk bersatu menyelamatkan bangsa ini dari proses balkanisasi melalui
permusuhan antar suku, antar kelompok,  sipil melawan militer, bahkan antar
agama.

Penutup

Kejadian ratusan korban tewas dan luka-luka akibat bom di Legian, Kuta
patut disesalkan, dikutuk, dan dihentikan. Persoalannya adalah :
kita -termasuk elite negeri ini - mau memilih teori "serangan teroris",
atau  "Indonesia diserang!". Pilihan teori "serangan teroris" yang kini 
menjadi  main stream akan -dari sudut manapun- tidak menguntungkan  
Indonesia,dan  berpotensi untuk menjadikan Indonesia sebagai Jugoslavia 
jilid berikutnya :  kehancuran infrastruktur sosio-ekonominya, terpecah- 
belah dan hilang dari  peta dunia. Yang perlu dicamkan seluruh masyarakat 
Indonesia adalah bahwa  Jamaah Islamiah, Ustadz Baasyir, ummat Islam,  
bahkan bangsa Indonesia  seluruhnya (tidakpeduli agama mereka), dan  
juga para backpackers bersandal  jepit di Kuta yang tewas akibat Bom 
Legian tersebut bagi master mind perang  persepsi ini adalah besaran 
yang disposable (tidak berarti untuk  dimusnahkan), dibandingkan  
kepentingan mereka untuk menghancurkan bangsa  ini.

Yang menjadi persoalan tambahan adalah bahwa "ruang publik" pada
halaman-halaman koran dan monitor TV kita dihujani oleh pilihan teori
"serangan teroris"ini, sedangkan alternatif teori "Indonesia
diserang"tidak  memperoleh  liputan yang cukup.
Pilihan yang tepat adalah pilihan teori "Indonesia di serang". Dengan
teori ini, bangsa Indonesia dari seluruh lapisan, kelompok, suku dan
agama, sipil dan militer akan merapatkan barisan untuk mempertahankan diri
melawan "musuh bersama" yang hendak memecah-belah bangsa ini. Kita tidak
hanya akan menolak tuduhan Indonesia sebagai bangsa Teroris, tapi kita akan
menolak penghancuran infrastruktur sosio-ekonomi kita. Kiranya Tuhan
memberi  kesanggupan bangsa ini untuk memilih teori yang tepat.

                                                          ------>+<----- 

Kirim email ke