Assalamu'alaikum wr. wb.
Posting iko ambo mukasuikan untuk muloi mamaikia nasib awak nan kamuko, dek banyaknyo pihak nan maraso paralu jadi RADIKAL.
Salam
St. Bagindo
Nagari
Selamat Datang Krisis Kenegaraan
PELEDAKAN BOM yang dilakukan terorisme di Bali dan Manado adalah suatu aksi terorisme yang terkutuk dan biadab. Peristiwa itu adalah tragedi kemanusiaan yang amat mengharukan dan menyedihkan, selain menimbulkan kemarahan dan kedongkolan.
Mengapa? Sejak lebih dari setahun, tepatnya setelah peristiwa "September 2001", kita dihadapkan kenyataan dinamika politik internasional yang berubah dan beralih orientasi dengan cepat. Dunia seolah disadarkan, bahkan suatu negara yang dikategorikan adidaya dalam perspektif pertahanan, ternyata runtuh terhadap aksi terorisme internasional dengan korban banyak dan umumnya masyarakat awam. Sejak itu terjadi reorientasi dinamika politik keamanan yang kemudian berkembang menjadi paradigma politik internasional dan bertitik berat pada perang melawan terorisme yang dianggap sebagai aksi biadab dan terkutuk.
Hal ini tentu saja didukung banyak pihak, terutama negara dan bangsa yang sekurangnya pernah menjadi korban terorisme. Namun, hal ini juga ditolak pihak lain, karena dalam pernyataan politiknya Amerika Serikat (AS) dengan gegabah menjuruskan tuduhan kepada kelompok Al Qaeda pimpinan Osama bin Laden yang mengatasnamakan jihad sebagai landasan ideologi dan dengan nyata-nyata menganggap AS sebagai musuh utama. Setelah operasi peperangan meluluhlantakan rezim Taliban di Afganistan, pihak internasional yang dipimpin AS melanjutkan kampanye peperangan secara kolektif, global, dan komprehensif terhadap kekuatan-kekuatan yang dianggap bermusuhan dengan kepemimpinan internasional AS, terutama terhadap pihak-pihak yang bersangkut paut dengan jaringan kerja Al Qaeda.
***
MENGAPA Al Qaeda? Sejak peledakan bom Kedutaan AS di Nairobi tahun 1998, Al Qaeda menjadi target operasi intelijen AS. Jaringan kerja Al Qaeda merupakan gabungan atau kerja sama dari beberapa kelompok organisasi yang berdasarkan keyakinan akan kebenaran, jalan jihad dalam melakukan perlawanan dan peperangan terhadap seluruh elemen yang dianggap berkaitan dengan kepentingan nasional AS. Jaringan kerja Al Qaeda antara lain meliputi organisasi-organisasi Jamaah Islamiah (berpusat di Mesir), Al Jihad (Berpusat di Yaman), Al Hadist (berpusat di Pakistan), Liga Partisan Libanon, Jamaah Islamiah di Libya, Baitul Imam di Jordania, dan GIA di Aljazair.
Sejak kejadian Nairobi, intelijen AS intensif dan rajin mengumpulkan data dan informasi mengenai jaringan kerja kelompok ini di seluruh dunia. Tiap lembaga (termasuk lembaga pendidikan dan masjid) dan perorangan, yang pernah kontak atau pernah berkomunikasi dengan jaringan ini, diindikasikan sebagai pihak yang potensial menjadi bagian jaringan, karena itu dikategorikan sebagai bakal lawan potensial. Selain itu, komunitas intelijen AS beserta jaringan kerjanya terus berusaha menajamkan persepsinya dalam peperangan terhadap terorisme, terutama yang berkarakter fanatisme agama Islam.
Cara berpikir yang didasarkan asumsi apriori dan data-data telah menjadi landasan filosofis untuk mengesahkan politik intelijen proaktif terhadap segala bentuk ancaman dari terorisme. Dalam operasionalnya, mereka menggunakan asas-asas pre-emtif, pelibatan terpusat, minimalisasi efek kolateral (minimalisasi korban) dan bila perlu breaking the law. Jangan lupa, landasan berpikir dan bertindak komunitas intelijen AS umumnya amat oportunistik, realistik, dan pragmatis.
Apakah acuan berpikir seperti itu hanya berlaku bagi intelijen atau politik AS saja? Tidak, mengingat "mind set", school of thought, dan landasan filosofi ini adalah khas Anglo Saxon serta dijadikan acuan pengambil keputusan negara yang terikat traktat kerja sama intelijen "United Kingdom-USA " (UKUSA) tahun 1947. Karena itu, tidak usah heran bila di lingkungan strategis Nasional Asia Tenggara-Oceania seolah ada concertation dan "conformitas" cara pandang politik maupun intelijen, mengingat negara-negara tetangga kita adalah wilayah pengaruh Anglo Saxon yang nyata.
Dengan demikian, bila kemudian ada suatu skenario power games terhadap Indonesia yang dirancang intelijen luar, realitas ini tidak dapat diabaikan begitu saja!
***
PELEDAKAN bom di Bali pada dasarnya merupakan suatu kenyataan pukulan telak kepada kompetensi, kredibilitas, dan prestasi bangsa, terutama terhadap jajaran politik dan keamanan pemerintah/rezim yang berkuasa. Setelah kejadian ini, terasa ada semacam disorientasi dan kegamangan sikap terutama berkait dengan modal dasar kita sebagai bangsa yang berhubungan dengan harga diri, kebanggaan, kehormatan dan martabat, serta sebagai negara dengan jumlah umat Islam terbesar dan sebagai representasi kultural bangsa Nusantara.
Jajaran politik dan keamanan, terutama intelijen, mendapat kritik pedas yang kurang layak dan kurang proporsional karena dilancarkan secara terbuka oleh wakil presiden. Ini mencerminkan kenyataan yang amat memalukan, mengingat sebagai bangsa, seolah dipimpin oleh seorang yang tidak memenuhi kriteria kenegarawan. Seorang negarawan harus memiliki kemampuan analisis di bidang intelijen sehingga suatu produk intelijen dapat menjadi acuan yang bermakna dan efektif demi tegaknya negara.
Wakil Presiden yang selalu menyatakan tidak ada teroris di Indonesia seolah berkehendak sebagai satu-satunya Lord Protector dan pembela kelompok Islam radikal tertentu yang teridentifikasi sebagai kelompok teroris dengan mengatasnamakan jihad. Dengan kejadian di Bali, bukan hanya dia yang terjerembab menjadi lambang arogansi, kebohongan publik dan ketidakpekaan terhadap tuntutan kenegarawanan, yang menuntut kebijakan dan berpihak kepada kepentingan Nasional, namun seluruh rakyat Indonesia yang menanggung malu berhadapan dengan konteks kenyataan mediatisasi yang jelas dikuasai kekuatan Internasional dan belum tentu berpihak kepada kita.
Bali sebagai simbol citra surga Indonesia yang aman, tenteram dan damai, penuh toleransi dan kaya keindahan, lalu menjadi simbol keterpurukan. Ini tentu akan memukul kehidupan masyarakat dan meninggalkan keguncangan sosial yang berdampak luas. Bukan tidak mungkin kejadian ini akan memicu konflik dan mengakumulasikan kemarahan serta kekecewaan yang selama ini tidak termanifestasi terhadap pihak tertentu.
Intelijen dikritik dan dituding tidak becus menjalankan fungsi dan tugasnya untuk mencegah dan menangkal aksi terorisme. Dan sesuai kenyataan dinamika hubungan internasional, kini kita harus membuka pintu terhadap hadirnya kekuatan intelijen luar negeri yang nyata-nyata mewakili kepentingan internasional, mengingat tragedi ini juga bersifat internasional. Akibatnya, kini bangsa kita dalam semacam cengkeraman ancaman eksistensi, pemaksaan paradigmatik dan kehilangan kemerdekaan sejati.
***
DARI fungsi intelijen, sesuai dengan rujukan filosofis, kejadian akhir-akhir ini dapat dipandang sebagai keadaan darurat, akibat kenyataan "salah mengambil keputusan politik" dari seluruh orde kepemimpinan Nasional, yang dapat mengancam keberadaan dan eksistensi negara. Jadi saat ini bangsa dan negara telah menjadi korban kondisi politik dari kejumudan elite politik yang tidak lagi memiliki kepekaan saat berhadapan dengan dinamika lingkungan strategis serta akibat arogansi dan egoisme yang menafikan realitas ancaman. Toh kita kini (sadar atau tidak) telah dikepung kekuatan intelijen luar. Kita sendiri tanpa daya menangkal dan mencegah, apalagi berhadapan dengan niat-niat buruk yang terkandung. Menyikapi hal ini, bukan saatnya lagi bagi kita untuk berpanjang-panjang melakukan debat dan bertengkar sendiri, namun yang perlu dilakukan kini adalah bagaimana kita harus bertindak.
Langkah awal adalah refleksi dan otokritik, terhadap kita sendiri, pribadi per pribadi, kelompok per kelompok, institusi per institusi sebagai bagian bangsa, dalam rangka mencari jalan dan mengembalikan elan vital citra bangsa dan membangun lagi modal sosial kita, (kebanggaan, martabat, kepercayaan diri, harga diri dan kesantunan). Selain itu kita perlu pula merekonstruksi segala kemampuan imajinasi kreatif dengan tujuan membangun pikiran yang positif dan konstruktif dengan menyikapi tragedi ini sebagai satu "kekalahan" dari satu pertempuran abstrak intelijen dan belum sepenuhnya kalah dari peperangan sebenarnya.
Tidak kalah penting, kita harus tanggap sasmita dan waspada permana, mencermati implikasi peristiwa ini dalam percaturan politik nasional yang akan mendorong terjadinya eskalasi situasi kondisi menuju kerawanan dan kedaruratan, dan bukan tidak mungkin kita akan memasuki krisis politik kenegaraan baru serta proses perubahan politik yang drastis dan akan menentukan nasib pemerintah pada bulan-bulan mendatang.
Belum lagi kita akan berhadapan dengan tekanan dan keamanan politik internasional dalam segala bentuk manifestasinya, baik terbuka maupun tertutup, santun maupun kasar, bernuasa politik diplomatik maupun ekonomi. Hal penting lain yang perlu diperhatikan adalah manuver mediatik yang akan dilakukan pihak yang berniat buruk terhadap bangsa dalam mengemas pencitraan lebih negatif, sinis, dan sarkastis tentang keadaan kini. Untuk itu, kita perlu membuka kembali seluruh lembaran sejarah hubungan internasional dan menganalisis ulang antagonis historis dari hal itu.
Kini, siapkah kita menghadapi kondisi mendatang yang mungkin lebih buruk? Peristiwa peledakan bom yang baru terjadi jelas menggetarkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Ini adalah awal dari peristiwa lain yang akan memicu perubahan bangsa. Peristiwa ini juga akan mendorong lebih cepat eskalasi krisis yang mengandung peluang dan bahaya. Kini kita jangan lagi terlalu kalem terjebak pendekatan pengungkapan peristiwa, sebagai tuntutan pendekatan penegakan hukum yang akan menuntut waktu lebih lama, namun dekati pula dari aspek lain seperti politik, sosial, ekonomi, dan budaya yang akan berdinamika dengan cepat dan berenergi tinggi.
Dari peristiwa ini, dengan gamblang dapat diramalkan sebuah kecenderungan akan terjadinya krisis kenegaraan baru, dan mudah-mudahan kita siap meresponsnya dengan baik.
H DJUANDA SIP, Pengamat intelijen
> rahmatan lil alamin......??
>
> ----- Original Message -----
> From: "Jasman" <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Wednesday, October 23, 2002 18:30
> Subject: Re: [RantauNet.Com] Islam (radikal) di Indonesia (1)
>
>
> > Alhamdulillah.... Semua tempat hiburan dan kelab malam, diskotik, bar,
> mandi
> > uap, panti pijat
> > Tutup Selama Ramadhan ( mudah mudah terlaksana ..) dengan demikian FPI
> tidak
> > perlu lagi turun ke jalan.
> > menurut saya inilah salah satu kunci yang bisa meredam radikal dalam
> Islam.
> > yaitu dengan cara . Hapuskan maksiat, tegakkan hukum, bangun masyarakat
> ber
> > akhlak
> > Bukan kah begitu Mak St Bagindo...?
> >
> > ======================================================

