SUARA PEMBARUAN DAILY

Sastrawan, Diplomat, dan Buku

 

Indra J Piliang

SSedikit saja kenangan dari Pekanbaru. Dengan anggaran besar, Pekanbaru sedang menata diri menjadi pakan (berarti pasar) yang benar-benar baru. Seribu bangunan tumbuh, dalam cuaca panas, terutama toko-toko dan gedung-gedung pemerintahan. Gedung megah DPRD Riau hampir selesai tanpa Izin Mendirikan Bangunan (IMB).

Selain deru pembangunan bangunan-bangunan, Pa-kanbaru hanyalah "Pakanlama" yang didandani. Berita media lokal dipenuhi peristiwa nasional, seperti perang pernyataan soal pelaku pengeboman di Bali atau berpisahnya Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Hampir keseluruhan peristiwa adalah politik. Pembangunan dan politik, membawa Pekanbaru pada alaf baru. Berkah desentralisasi mengucurkan dana melimpah. Pekanbaru disulap jadi kota terbesar di Pulau Sumatera, tetapi dengan kelambanan tinggi dari dunia gagasan, juga persentuhan dengan akar peradaban, lewat seni dan puisi.

Pertumbuhan itu mengundang adik kelas di UI merantau ke Pekanbaru. Saya tercengang melihat perubahan dalam dirinya. Setelah memutuskan berhenti dari UI, nasib membawanya ke tanah India dan Nepal untuk sekolah selama tiga tahun. Kini, pengalaman India ada dalam keseluruhan pandangan mata dan pikirannya, termasuk masa depan demokrasi di Riau dan Indonesia. Dengan jumlah penduduknya yang meraksasa, India jadi kiblat atau model baru pertumbuhan ekonomi dan demokrasi. Politik telah menjadi hak hidup setiap orang. Pemilu bisa terjadi kapan saja, begitu juga seorang pejabat bisa silih-berganti. Dalam sistem demokrasi di India, pengaruh politik terhadap kehidupan masyarakat se-cara umum hampir tidak terasa.

Di Indonesia, politik justru mematikan banyak kota. Provinsi dan kabupaten baru lahir dan tumbuh, tetapi dengan meninggalkan residu permasalahan yang tak selesai. Kepri telah terpisah lewat UU inisiatif DPR, atas fatwa Mahkamah Agung, namun enggan ditanda-tangani Presiden Megawati. Perbedaan kepentingan penyelenggara negara, menyebar ke publik. Publik terpecah, termasuk di Kepulauan Natuna yang bersikeras tetap bergabung dengan Riau, tetapi UU melarang. UU yang tak bersahabat dengan penduduk, apa bukan penjara namanya? Politik telah memenjarakan kehidupan.

Sebuah Film

Selain cerita India yang hebat itu, Pekanbaru tak menyisakan apa-apa. Untung, dini hari sekali, di layar TV hotel terhidang sebuah film bagus, Disappearance of Garcia Lorca. Puisi Lorca mengawali, juga ingatan masa kecil Sang Tokoh yang diperankan Esai Morales. Morales adalah seorang penulis Spanyol yang lari ke Amerika ketika rezim Franco, tetapi begitu dipengaruhi ingatan masa kecilnya melihat pertunjukan teater sastrawan Spanyol, Frederico Garcia Lorca (1898-1936). Sineas terkenal Andy Garcia memerankan dengan amat bagus karakter Lorca. Film itu penuh puisi, politik, intrik, kekerasan, juga cinta yang tulus. Kudeta pengikut Falangist Franco membunuh sang sastrawan. Morales yang pernah minta tanda-tangan Lorca, menyusun kembali kisah hilangnya Lorca.

Akhir film itu adalah tragedi dari keseluruhan tragedi. Lorca mati ditembak. Tembakan pertama dari Sang Kolonel ayah teman Morales yang mati ketika revolusi, lalu tembakan kedua dari ayah Morales sendiri. Untuk apa? Si Kolonel menyalahkan Lorca sebagai pihak yang telah menyebabkan anaknya terbunuh. Ketika si anak terbunuh di usianya yang kecil itu, kebetulan si anak sedang menemani Morales berburu kedatangan Lorca di Granada. Ayah Morales, pada malam kematian Lorca, datang kepada Sang Kolonel demi menyelamatkan jiwa anaknya yang juga jadi sasaran kemarahan Sang Kolonel yang memimpin kudeta. Ayah Morales, ikut menembak Lorca idola anaknya, demi membela Morales agar tak jadi sasaran kemarahan si Kolonel.

Ketika tokoh idolamu, yang kau tekuni dan mimpikan sepanjang hidupmu, lalu kau ingin membela posisinya dalam sejarah, lalu idolamu itu kau ketahui dibunuh oleh ayah temanmu yang terbunuh, juga temanmu itu terbunuh karena ikut denganmu memburu kedatangan idolamu, dan bapakmu sendiri membunuh idolamu demi melindungimu, apa yang akan kau lakukan? Klimaks terjadi atas nama penerimaan nasib. Akhir film menunjukkan keluarga besar itu berkumpul, karena Morales kawin dengan anak sang Kolonel, adik dari teman kecilnya yang terbunuh. Mereka sedang merayakan ulang tahun putri Morales, cucu dari dua kakek pembunuh Lorca, sambil bermain bola.

Sebuah puisi Lorca menutup film itu. Dua kata yang saya ingat: Negeri Andalusia. Mimpi Lorca, agar Negeri Andalusis melahirkan penulis/pemikir baru, justru tak terwujud dengan perlawanan gigihnya kepada kaum diktator tanpa rasa takut. Morales tak mungkin menyelesaikan penulisan bukunya, lalu menyebarkan ke masyarakat, di mana riwayat hitam ayah dan mertuanya, dan riwayatnya sendiri, dipertaruhkan.

Di Riau, sastrawannya juga sudah banyak yang mati. Sebagian terbunuh oleh politik dan revolusi sosial. Politik juga yang membuat sastra terkontaminasi. Abdul Kadir Ibrahim, sastrawan Kepri asal Natuna, dalam sajak-sajaknya cukup concern memperjuangkan keberadaan Provinsi Kepri dan siap berkorban nyawa (lihat www.ips.org/indonesia/kepri.html). Ketika politik menguasai negeri, ruang buat sastra, syair, dan puisi berubah jadi (sastra) politik. Padahal, masa kelahiran telah tiba di Riau, bagi bangkitnya sastra Melayu rendah dan tinggi. Melayu, sebagai gabungan banyak unsur etnik lain yang dikenal sebagai penguasa bahari, sungai dan laut, sudah saatnya menyumbang bagi pembaruan gagasan kebudayaan Indonesia. Penguasa sekaliber Sultan Ali Haji, kapan akan lahir kembali?

Seorang Diplomat

Ketika buku besar yang mungkin akan lahir, tak jadi lahir, di mana letak kebenaran dan moralitas? Pekanbaru juga sebuah buku, yang sedang ditulis riwayatnya. Dengan imajinasi atas film itu, saya melangkah ke bandara. Di Coffee Shop, saya memesan secangkir kopi menunggu masuk pesawat. Seorang bule, pemuda gagah berkacamata hitam, menyapa: "Bolehkah saya duduk?" Saya mempersilakan. Ia merokok, lalu memesan kopi juga.

"Anda suka kota ini?" tanya saya.

"Saya hanya transit, tak sempat berkeliling," jawabnya.

"Saya tak suka. Kota ini terlalu panas."

"Anda dari mana?"

"Jakarta"

"Bukankah Jakarta juga panas"

"Iya, jawab saya, tanpa bermaksud memberi penjelasan, bahwa Pekanbaru masih melimpah lahan-lahannya untuk ditumbuhi jutaan pohon, bukan jutaan bangunan. Berbeda dengan Jakarta yang aus lahan.

"Anda dari mana?" tanya saya.

"Rusia"

"Bisnis?"

"Saya menjalankan tugas diplomatik."

"Anda orang kedutaan?"

"Apa yang Anda maksud dengan kedutaan?" tanyanya.

"Kedutaan Rusia di Jakarta."

"Kedutaan?

Saya tak bermaksud melanjutkan pembicaraan itu. Sifat misterius orang Rusia ini susah ditebak. Mungkin ia berniat memancing saya untuk bicara soal perbedaan tugas-tugas di kedutaan, dengan tugas-tugas diplomatik. Atau apa saja. Yang terlintas di benak saya, film-film Amerika soal agen-agen KGB.

"Anda punya pendapat soal terorisme," kata saya, mengalihkan pembicaraan.

Terorisme gejala global. Ia terjadi di mana saja. Di Amerika,..

"Juga di Moskwa. Sebuah bom meledak di sana beberapa hari lalu, dan membunuh satu orang. Apa pelakunya orang Chenchen?"

"Bom di Moskwa? Hm"

Saya sadar, ia tak ingin mengajukan opini apa saja tentang negerinya, juga tugas diplomatiknya itu. Mungkin ia hanya ingin mendengarkan saya bercerita tentang negeri ini. Saya memilih diam, dan diselamatkan oleh panggilan untuk naik pesawat. Sambil membayar kopi dan penganan, saya menyambar sebuah buku yang dipajang di sudut coffee shop. Saya beli buku itu, karena tertarik dengan judulnya: Mengapa Harus Merdeka?: Tangis dan Darah Rakyat Riau dalam Memperjuangkan sebuah Marwah. Buku itu ditulis oleh Edyanus Herman Halim, dengan pengantar Prof. Dr. Tabrani Rab, terbitan Desember 2001. "Sampai ketemu," kata saya, kepada sang diplomat. Ia tampaknya agak gusar, dan hanya tersenyum, karena memang tak menuju Jakarta.

Indonesia juga punya banyak diplomat, di seluruh penjuru dunia. Ketika sang diplomat Rusia itu pelit menyampaikan opini soal negerinya, itukah gambaran diplomat yang sesungguhnya? Kata-kata sang diplomat Rusia bahwa terorisme adalah gejala global, di samping menetralisir bom yang meledak di Moskwa, juga bisa menetralisasi bom Bali. Moskwa, bisa saja menuduh pejuang Chenchen (Chechnya), yang juga Islam, sebagai pelaku teror, tetapi sang diplomat hanya mengatakan: "Hm'. Ketika tragedi 11 September 2001 meluluh-lantakkan Amerika, Amerika memburu para teroris di luar Amerika, baik di Afghanistan atau Irak. Ketika pengeboman terjadi di Bali, seluruh dunia menekan Indonesia mencari teroris dalam negeri.

Satu hal yang hampir pasti, jenis bom di Bali adalah produksi luar negeri. Kebudayaan yang melahirkan ilmu pengetahuan di Indonesia, memang sejak ratusan tahun gagal membuat senjata-senjata pembunuh raksasa. Pengawasan terhadap teroris, seyogianya dimulai dari pengawasan terhadap para produsen senjata. Sejak lama tangan-tangan pejuang kemanusiaan menunjuk negara-negara Dunia Pertama sebagai produsen senjata pembunuh, yang digunakan dalam banyak peperangan, dan jutaan pembunuhan, baik rakyat jelata atau orang-orang yang punya tahta.

Andai seluruh senjata dimusnahkan, masihkah ada teror dan terorisme? Afrika Selatan pernah disebut Nelson Mandela sebagai negeri yang diperintah oleh senjata, dan rupanya senjata membuatnya trauma. Bisakah, demokrasi dibangun tanpa senjata? Senjata dan demokrasi adalah tema yang banyak tertinggal dari studi-studi di pusat-pusat pemikiran demokrasi di Dunia Pertama. Ketika sebagian besar negara-negara Dunia Kedua sedang mengalami krisis ekonomi, negara-negara Dunia Ketiga dihadapkan dengan junta terorisme yang menjadi agenda semua bangsa, hanya dalam waktu satu tahun! Buku-buku sejarah, mustahil nantinya ditulis, tanpa menyebut istilah terorisme.

Seeksemplar Buku

Ketika buku Edyanus saya bolak-balik, tak ada kata teroris di dalamnya. Buku ini berisi pembelaan kepentingan masyarakat Riau, juga akibat-akibat intervensi dan hegemoni Jakarta. Tabrani bercerita soal tak direstuinya putra daerah Riau, Ismail Suko, menjadi gubernur, padahal dimenangkan oleh DPRD Riau. Tabrani juga menulis soal nasib pengusiran orang-orang Sakai dari tanahnya sendiri. Terakhir, Tabrani mencontohkan berpisahnya Singapura dan Malaysia sebagai to be or not to be. Sedangkan Edyanus menulis banyak hal, karena buku ini adalah kumpulan artikel di media lokal.

Kisah Lorca yang gagal ditulis demi rekonsiliasi dengan masa lalu, kisah diplomat Rusia yang mencatatkan Indonesia sebagai bagian jaringan global, dan buku Edyanus itu, apa benang merahnya? Tak ada, kecuali sebuah kisah. Tragedi, diplomasi, kesetiaan, cinta, kemerdekaan, bisakah disatukan?

Pekanbaru tumbuh ketika Riau dipenuhi lahan-lahan kelapa sawit, sepanjang mata memandang. Kekayaannya hanya minyak, yang menunggu waktu untuk punah. Pascaminyak, Riau mau ke mana? Hanya sedikit kota yang bisa bertahan, lantas menjadi kota mati, setelah tambang minyak, emas, atau apa saja habis tersedot dari kota itu. Kota tambang Las Vegas akhirnya menjadi kota judi.

Nasib teknologi sedang dipertaruhkan oleh minyak. Arab tanpa minyak, Amerika tanpa minyak? Juga, kaum teroris tanpa minyak, apa bisa membuat atau membeli bertimbun-timbun bahan peledak dan senjata lain? Perang tanpa minyak, apa bisa mengudarakan ribuan pesawat yang juga membawa teroris ke seluruh penjuru dunia? Dunia tanpa minyak? Entahlah.

Penulis adalah peneliti Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS, Jakarta. Peminat sastra.


Last modified: 24/10/2002

<<s.gif>>

Kirim email ke