"t-lare"                                                         
                       
                      <bukareh@sungaipagu         To:      "RantauNet" 
<[EMAIL PROTECTED]>             
                      .zzn.com>                   cc:      (bcc: Jack 
ALENZO/IDJKT04/TDE/ALSTOM)              
                      Sent by:                    Subject: [RantauNet.Com] [Republika 
Online] Amerika Motori  
                      rantau-net-owner@ra         Pembentukan Opini Perangi Gerakan 
Islam                     
                      ntaunet.com                                                      
                       
                                                                                       
                       
                                                                                       
                       
                      25-10-02 13:47                                                   
                       
                      Please respond to                                                
                       
                      rantau-net                                                       
                       
                                                                                       
                       
                                                                                       
                       







                                                                            
                                                                            
                                                                            


   
   
   


25 Oktober 2002  11:36:00
Amerika Motori Pembentukan Opini Perangi Gerakan Islam

Jakarta-RoL--Ketua Hizbut Tahrir Indonesia, Muhammad Ismail Yusanto,
menilai pihak asing sengaja membangun opini dalam rangka memerangi
gerakan-gerakan Islam di dunia, dengan terus mengaitkan aksi-aksi terorisme
di sejumlah tempat dengan kelompok Islam garis keras.

"Apa yang dikatakan sebagai terorisme global itu hanya kedok saja. Maksud
sesungguhnya adalah untuk memerangi gerakan Islam, karena paska 'perang
dingin', mereka menganggap Islam fundamentalis sebagai ancamannya," katanya
di Jakarta, Jumat.

Penilaian tersebut dilontarkan menanggapi pernyataan Menlu Denmark yang
mengatakan fenomena meningkatnya gerakan Islam fundamentalis memiliki
kesamaan dengan gerakan Nazisme dan komunis yang pernah melanda Eropa.

Pembentukan opini oleh pihak asing tersebut, katanya, dimotori oleh Amerika
Serikat yang memang mempunyai kepentingan-kentingan tertentu, antara lain
ingin menguasai kekayaan yang dimiliki negara Islam seperi cadangan minyak.

AS, katanya, beranggapan bahwa satu-satunya penghalang bagi mereka untuk
mencapai tujuan itu adalah gerakan Islam garis keras yang merka sebut
sebagai Islam fundamentalis.

Karena itulah, lanjut Ismali Yusanto, sebelum gerakan Islam itu menjadi
besar maka AS berusaha memukul habis berakan itu, termasuk yang sekarang
ini terjadi Indonesia.

"Lalu dibuatkan skenario mulai dari pelaku penghancuran WTC adalah kelompok
Al Qaeda sebagai kelompok terorisme meski tidak ada bukti-bukti, yang pada
akhirnya dikaitkan lagi dengan gerakan Islam garis keras secara keseluruhan
di manapun berada," katanya.

Ismail mengaku mempunyai data-data dari pihak penerbangan bahwa tuduhan AS
mengani pelaku penghancuran WTC itu adalah teroris tidak masuk akal, karena
pesawat sekaliber Boeing 747 yang sengaja ditabrakkan ke Menara WTC itu,
beroperasi secara otomatis melalui sistem komputerisasi.

"Jadi pesawat itu sudah diprogram dengan sendirinya sehingga bagaimana
mungkin pembajak bisa masuk ke dalam sistem operasional pesawat itu kalau
bukan orang-orang yang tahu sistem itu," katanya.

Peristiwa pengeboman di Bali, menurut dia, juga tidak terlepas dari
skenario global yang sengaja diciptakan untuk menunjukkan seolah ada bukti
bahwa memang di Indonesia ada teroris.

Dia menambahkan, kalau betul pelaku peledakan bom di Bali adalah teroris
maka perlu dipertanyakan apa motivasinya, karena akan lebih masuk akal jika
lokasi peledakan itu adalah instalasi milik AS.

"Kalau memang pelakunya adalah terorisme dari kalangan Islam garis keras,
apa motivasinya meledakkan bom di tengah-tengah turis. Akan lebih beralasan
kalau misalnya bom itu diledakkan di kedubes AS," katanya.

Hal itu, katanya, menunjukkan adanya skenario besar untuk menekan Indonesia
secara psikologis, ekonomis, dan politik, untuk lebih tegas terhadap
gerakan Islam yang dianggap sebagai garis keras.

"Jadi, kalau awalnya mereka menyatakan perang terhadap terorisme, maka
sekarang ini skenario mereka telah meningkat menjadi perang terhadap
gerakan Islam yang dianggap sebagai fundamentalis," katanya.



Berita ini dikirim melalui Republika Online http://www.republika.co.id
Berita bisa dilihat di :
http://www.republika.co.id/cetak_detail.asp?id=101165&kat_id=23








RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
==============================================Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR 
ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
==============================================

Kirim email ke