Taufiq Ismail bercita-cita menjadi sastrawan sejak masih SMA. Lahir di Bukittinggi (25 Juni 1935) dan dibesarkan di Pekalongan, dia tumbuh dalam keluarga guru dan sastrawan yang suka membaca. Dengan pilihan sendiri ia menjadi dokter hewan dan ahli peternakan karena ingin memiliki bisnis
peternakan guna menafkahi cita-cita kesastraannya. Dia tamat 1963 dari FKHP-UI Bogor tapi gagal punya usaha ternak, yang dulu direncanakan disebuah pulau di Selat Malaka. Semasa kuliah ia aktif sebagai Ketua Senat Mahasiswa FKHP-UI (1960-61) dan Wakit Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia (1961-62) (dikutip dari cover buku Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia) Inilah salah satu karyanya dan pernah dibacakannya diforum pengajian Namira dan bundo hadir diwaktu itu mendengarkannya.


MALU (AKU) JADI ORANG INDONESIA

(oleh Taufiq Ismail)
I


Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga
Ke Wisconsin aku dapat beasiswa
Sembilan belas lima enam itulah tahunnya
Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia

Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia
Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda
Sahabatku sekelas Thomas Stone namanya
Whitefish Bay kampung asalnya

Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya
Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama
Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya
Dadaku busung jadi anak Indonesia

Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy
Mendapat Ph.D. dari Rice University
Dia sudah pensiun perwira tinggi dari US Army
Dulu dadaku tegap bila aku berdiri
Mengapa sering betul aku merunduk kini

II


Langit akhlak rubuh diatas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champ Elysees dan Mesopotamia
Disela khalayak aku berlindung dibelakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret dikepala
Malu aku jadi orang Indonesia


III


Dinegeriku selingkuh birokrasi peringkatnya didunia nomor satu,
Dinegeriku sekongkol bisnis dan birokrasi berterang-terang curang susah dicari tandingan,
Dinegeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,
Dinegeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan, senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu, dan peuyem dipotong birokrasi lebih separuh masuk kantung jas safari,
Dikedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal, anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden, menteri, sekjen, dan dirjen sejati, agar orang tua mereka bersenang hati,
Dinegeriku penghitungan suara pemilihan umum sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas penipuan besar-besaran tanpa sujung rambutpun bersalah perasaan,
Dinegeriku khotbah, suratkabar, majalah, buku dan sandiwara yang opininya bersilang tak habis dan tak putus dilarang-larang,
Dinegeriku dibakar pasar pedagang jelata supaya berdiri pusat belanja  modal raksasa,
Dinegeriku Udin dan Marsinah mati syahid dan syahidah, ciumlah aroma mereka punya jenazah sekarang saja sementara mereka kalah, kelak perencana dan pembunuh itu didasar        neraka oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,
Dinegeriku keputusan pengadilan secara agak rahsia dan tidak rahsia dapat ditawar dalam bentuk dijual beli, kabarnya dengan seporong SK suatu hari akan masuk Bursa Efek         Jakarta secara resmi,
Dinegeriku rasa aman tak ada karena 20 pungutan, lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,
Dinegeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja, fotocopi gosip dan fitnah bertebar tersebar-sebar,
Dinegeriku sepakbola sudah naik tingkat jadi pertunjukan terror penonton antarkota karena cuma&nb sp;sebagian sangat kecil bangsa kita tak pernah bersedia menerima skor pertandingan yang disetujui bersama,
Dinegeriku rupanya sudah diputuskan kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antar bangsa, lagi pula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil karena Cina, India, Rusia dan
kita tak turut serta, sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,
Dinegeriku ada pembunuhan, penculikan dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh, Tanjung Periuk, Lampung, Haur Koneng, Nipah, Santa Cruz, Irian dan Banyuwangi, ada pula
pembatahan terang-terangan dibawah cahaya surya
terang-terangan, dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai saksi terang-terangan,
Dinegeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada, tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.


IV


Langit akhlak rubuh, diatas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champ Elysees dan Mesopotamia
Disela khalayak aku berlindung dibelakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret dikepala
Malu aku jadi orang Indonesia

1998

(dari buku Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia - Seratus puisi Taufiq Ismail)



Do you Yahoo!?
Faith Hill - Exclusive Performances, Videos, & more
faith.yahoo.com

Kirim email ke