Apokoh iko ado hubungan jo isu teroris........???
Wassalam,
Puarman
=========================================
 
Wartawati Berjilbab Terganjal Ikut Mega ke Kamboja karena Paspor

Reporter : Danang Sangga Buwana

 

detikcom - Jakarta, Wartawati Kompas, Elly Rosita, terganjal ikut rombongan Presiden Megawati ke KTT ASEAN di Kamboja karena paspor. Pasalnya, Elly menolak setor foto tanpa jilbab sebagai syarat mendapatkan paspor dinas warna biru yang dipakai rombongan kenegaraan itu.

 

Uniknya, Biro Pers Istana Presiden yang mengurus keberangkatan rombongan, awalnya enggan membeberkan aturan itu secara gamblang. Akibatnya, Elly terpaksa berulang kali setor foto ke Biro Pers. Semula, foto yang sudah dikumpulkannya disuruh diganti karena tidak mengenakan blazer.

 

Elly lantas foto lagi dengan mengenakan blazer. Tentu saja tetap mengenakan jilbab seperti kebiasannya sehari-hari. Tapi setelah dikumpulkan, staf Biro Pers lagi-lagi meneleponnya dan mengatakan bahwa fotonya tetap tidak bisa dipakai. Alasannya, lucu, karena dia pakai blazer.

 

"Lho, saya kan pakai blazer seperti permintaan? Kok sekarang tidak boleh pakai blazer?" sergah Elly yang sudah 11 tahun bekerja di Kompas dalam penjelasannya pada rekan-rekan wartawan di Istana Negara, Jl.Medan Merdeka Utara, Jakpus, Jumat (1/11/2002).

 

Akhirnya, staf itu pun mengatakan apa adanya: untuk mendapatkan paspor biru, foto yang ditempel tidak boleh mengenakan penutup kepala apa pun. Pokoknya daun kuping mesti kelihatan. Artinya, Elly mesti mengumpulkan foto tanpa kerudung.

 

Elly berusaha menahan emosi dengan menjelaskan bahwa dia telah ganti paspor 2 kali dan semua fotonya pakai jilbab. Dan selama bepergian ke luar negeri, tidak ada masalah apa pun. "Kalau Imigrasi tidak membolehkan pakai jilbab, ya aturannya harusnya dari dulu," protes Elly.

 

Namun staf Biro Pers bersikukuh. "Ini lain, ini paspor dinas, aturannya begitu." Aturan dari mana? Apa dari Deplu? "Nggak tahu," jawab sang staf. Tidak puas, akhirnya lulusan ITB itu menelepon atasan sang staf. Ternyata atasan staf bilang, "Tidak ada masalah pakai jilbab."

 

Eh, esoknya staf Biro Pers telepon Elly lagi dan mengatakan Elly tetap tidak bisa mendapatkan paspor biru sebagai syarat ikut rombongan pers Presiden Megawati ke KTT ASEAN di Kamboja, 3-5 Novembeer mendatang. Kalau tetap meliput silakan saja pakai paspor hijau, alias tidak ikut rombongan presiden. "Kalau begitu, saya lapor ke atasan saya dulu," jawab Elly.

 

Akhirnya, Elly pun memberitahu ke atasannya di Kompas. Kantornya menilai kebijakan itu diskriminatif. Karena itu, Kompas memutuskan tidak ikut rombongan resmi presidan dan akan ke Kamboja dengan paspor hijau.

 

Sementara itu, Kepala Biro Pers Istana Presiden, Garibaldi Sujatmiko mengaku bahwa larangan foto berjilbab adalah ketentuan dari Departemen Luar Negeri (Deplu). "Ini saya sedang mencari SK-nya," kata Garibaldi pada detikcom per telepon, pukul 17.00 WIB. Apa alasan Deplu melarang? "Saya tidak tahu," jawab Garibaldi.

 

Sekadar diketahui, kasus seperti ini baru pertama kali mencuat di kalangan pers Istana Presiden. (nrl)

 

===============================================================================

 

Akhirnya Wartawan Berjilbab Diizinkan Ikut Mega ke Kamboja

Reporter : Danang Sangga Buwana

 

detikcom - Jakarta, Setelah diramaikan wartawan, akhirnya Deplu mengizinkan Elly Rosita, wartawati Kompas yang berjilbab, mendapatkan paspor dinas alias paspor biru dan ikut rombongan Mega ke KTT ASEAN di Kamboja. Meski demikian, Elly masih mempertanyakan aturan yang dinilainya diskriminatif itu.

 

Jubir Deplu Marty Natalegawa memberitahu langsung Elly yang tengah menunggu rapat kabinet terbatas tentang RUU Susduk MPR/DPR dan RUU Pemilihan Presiden Langsung di Istana Negara, Jl.Medan Merdeka Utara, Jumat malam ini (1/11/2002) bahwa paspor birunya bisa diproses dan dipersilakan ikut rombongan Presiden Mega ke Kamboja, 3-5 November nanti.

 

"Pak Marty mengatakan, paspor saya sudah bisa diproses, tidak ada masalah," kata Elly pada wartawan. "Menurut Pak Marty, keputusan ini sudah disampaikan pada Biro Pers dan Media Sekretariat Presiden,"sambung perempuan yang sudah 11 tahun bekerja di Kompas ini.

 

Meski sudah diizinkan mendapat paspor biru, namun Elly masih belum puas juga. Dia mempertanyakan aturan yang mengatur hal itu. "Aturan itu seperti apa? Saya ingin tahu jelas," kata lulusan ITB ini.

 

"Persoalannya bukan saya bisa ikut atau tidak, cuma saya tidak setuju dengan persoalan diskriminatif itu," tegas Elly.

 

Ketika ditanya apakah dirinya tetap akan mengikuti rombongan Mega ke Kamboja pada Minggu (3/11/2002) nanti, Elly agak masygul. "Saya kurang bahagia untuk pergi," keluhnya. Namun, karena itu tugas kantor, kata Elly, dia siap saja berangkat.

 

Sekadar diketahui, pada zaman Gus Dur, wartawan yang ikut rombongan presiden menggunakan paspor hijau yang tak mempersoalkan jilbab. Baru pada era Mega-lah wartawan seperti rombongan lain memanfaatkan paspor biru, yang sebetulnya khusus untuk disediakan bagi mereka yang menjalankan dinas negara bukan diplomatik.

 

____________________________________________________
  IncrediMail - Email has finally evolved - Click Here

Kirim email ke