Analisis Ekonomi Faisal Basri Kompas, 4 Nov 2002 Kita Harus Berubah BELUM sebulan Tragedi Bali berlalu, bermunculan sejumlah proyeksi ekonomi yang dari hari ke hari semakin pesimistis. Pemerintah telah mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk 2003 dari 5 persen menjadi 4 persen. Versi semua lembaga riset swasta mengeluarkan angka yang lebih rendah, berkisar antara 3 persen sampai 3,8 persen. Institute for Development of Economics and Finance (Indef), misalnya, keluar dengan angka 3,12 persen. Seorang analis dari lembaga sekuritas milik negara, Danareksa, mengatakan kepada saya, Sabtu lalu, lembaganya hanya berani memasang angka 3 persen. Sementara itu, lembaga keuangan asing, JP Morgan, pada laporannya tertanggal 16 Oktober 2002 masih mencantumkan angka 3,8 persen untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun depan. Angka sebesar itu sudah barang tentu belum memperhitungkan Tragedi Bali, 12 Oktober 2002. Angka-angka memang penting sebagai alat untuk memahami potret perekonomian dewasa ini dan perkiraan arah pergerakannya ke depan. Namun, berpangku pada angka-angka saja bisa membuat kita lebih sibuk merevisi angka-angka tersebut karena perubahan-perubahan yang terjadi kian cepat dan kian sulit untuk diprediksikan. Lebih tak berarti lagi seandainya angka-angka atau indikator-indikator makroekonomi yang tersedia semakin tak mampu menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Bagaimana mungkin, misalnya, pertumbuhan ekonomi 2001 hanya 3,3 persen, sedangkan konsumsi listrik naik di atas 10 persen. Padahal, rasio pertumbuhan konsumsi listrik terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berkisar satu. Artinya, kalau PDB tumbuh 1 persen, maka konsumsi listrik juga akan naik sekitar 1 persen saja. Katakanlah rasio untuk negara-negara berkembang seperti Indonesia dua kali lipat lebih tinggi sehingga konsumsi listrik naik 6,6 persen. Kita masih belum bisa menjelaskan ke mana larinya selisih sebesar 4 persen (10 persen minus 6 persen). Untuk kasus semen juga demikian. Pertumbuhan konsumsi semen pada tahun 2000 dan 2001 masing-masing ialah 18,5 persen dan 14,5 persen. Karena pertumbuhan PDB pada periode yang sama masing-masing adalah 4,9 dan 3,3 persen, maka nisbah pertumbuhan konsumsi semen terhadap pertumbuhan PDB meningkat dari 3,8 pada tahun 2000 menjadi 4,4 pada tahun 2001. Data perkembangan penjualan baja, truk, serta banyak lagi yang lainnya menambah keyakinan kita bahwa makin banyak yang tak lagi bisa dijelaskan dengan akurat oleh indikator-indikator makroekonomi yang tersedia (versi resmi). Maraknya korupsi, kegiatan-kegiatan ilegal, seperti perjudian, dan penyelundupan juga menjadi penyebab indikator-indikator ekonomi resmi tak bisa lagi menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Saya menduga bahwa indikator-indikator ekonomi yang tersedia masih bertopang pada struktur perekonomian lama sebelum krisis. Perekonomian, khususnya sektor industri, didominasi oleh pelaku-pelaku besar. Mereka banyak berutang dalam dollar AS, bertumpu pada pasar dalam negeri, dan bergantung pada bahan baku dan barang modal impor. Jenis-jenis usaha seperti inilah yang terkapar akibat krisis. Sebagian besar usaha mereka masih bergelut dengan masalah. Sebaliknya, jutaan usaha baru bermunculan. Mereka tak bergantung pada sektor perbankan yang masih belum melakukan ekspansi kredit secara berarti. Mereka pun tak pernah dapat fasilitas dari pemerintah. Pelaku-pelaku baru ini belum sepenuhnya tertangkap oleh data-data resmi. Data resmi juga tampaknya belum sepenuhnya bisa menangkap dinamika perubahan yang terjadi di dalam masyarakat. Pola konsumsi masyarakat pascakrisis niscaya sudah banyak berubah. Kalau kita keliru dalam membaca perubahan, saya khawatir langkah-langkah penyelesaian masalah pun akan keliru. *** POTENSI terjadinya kekeliruan juga terjadi pada cara pemerintah menangani persoalan utang dalam negeri dan penjualan aset-aset yang dikelola Badan Penyehatan Perban Nasional (BPPN). Pemerintah berpandangan bahwa semakin cepat aset-aset tersebut dialihkan ke swasta, semakin cepat pula pemulihan ekonomi. Apalagi kalau aset tersebut dibeli dengan dana segar dari luar negeri. Keyakinan demikian benar adanya kalau penjualannya dilakukan secara akuntabel dan transparan. Namun, kenyataannya jauh dari itu. Salah satu praktik yang terjadi sekarang kira-kira bisa digambarkan seperti berikut. Saya punya utang di BPPN senilai Rp 100. Utang saya itu dilelang oleh BPPN dengan potongan sebesar 75 persen. Murahnya aset tersebut disebabkan karena BPPN tak menjalankan fungsinya untuk merstrukturisasikan utang tersebut terlebih dahulu. Untuk membeli kembali aset saya itu, saya menggandeng salah satu bank pemerintah dengan membentuk konsorsium. Saya cuma setor Rp 5, sisanya Rp 20 dari bank. Aset yang telah saya kuasai tersebut selanjutnya sedikit dipoles sehingga meningkatkan nilainya menjadi Rp 40. Bermodalkan aset ini saya pinjam ke bank pemerintah lainnya, katakanlah Rp 28 (70 persen dari nilai aset). Pinjaman baru ini saya gunakan untuk membeli kembali aset dari bank mitra konsorsium dengan harga nominal Rp 20 plus bunga dan fee, katakanlah Rp 2. Dengan demikian, saya masih memiliki sisa uang sebesar Rp 6 (Rp 28 minus Rp 22). Dengan melakukan praktik seperti di atas, saya beruntung. Bank mitra konsorsium senang karena dapat fee lumayan besar dalam waktu singkat. Bank pemberi pinjaman yang kedua juga senang karena bisa menyalurkan kredit dengan back up jaminan yang cukup. Akan tetapi apa dampaknya bagi perekonomian? Tak ada dana segar baru. Aset kembali ke tangan pemilik lama yang masih tetap melakukan praktik curang. Yang terjadi justru "perampokan" terus berlangsung. Beban akhirnya ditanggung rakyat. Saya yakin yang sejenis ini banyak sekali terjadi karena otoritas penjualan aset berada di tangan para "pencoleng" yang ironisnya sudah diberi gaji ratusan juta rupiah sebulan. Apakah perampokan atas aset-aset negara secara besar-besaran secara terang-terangan terus kita biarkan? Kalau perangkat hukum sudah mandul, paling tidak tindakan politik harus dilakukan. *** KITA harus melangkah lebih dari sekedar merevisi angka-angka makroekonomi konvensional, sebagai akibat Tragedi Bali. Teramat banyak masalah lainnya yang menghadang. Alangkah idealnya kalau momentum Tragedi Bali yang telah membuka satu mata kita juga membuka mata yang satunya lagi, sehingga terang terlihat segala permasalahan di hadapan kita semua. Misalnya, tindakan segera harus dilakukan untuk menghindari kelangkaan pasokan listrik yang mengakibatkan pemadaman pada semester kedua 2004. Juga harus segera diantisipasi kekurangan semen pada 2006, karena pabrik yang ada tak akan mampu lagi mengimbangi pertumbuhan konsumsi semen yang pesat dalam tiga tahun terakhir. Di sektor pertanian, kiranya perlu diwaspadai kecenderungan peningkatan impor produk-produk yang sebetulnya bisa kita hasilkan sendiri dengan lebih produktif, seperti beras, kedelai, jagung, pakan ternak, buah-buahan, gula, dan juga garam. Di lain pihak, banyak sekali produk-produk pertanian yang pasarnya di luar negeri masih sangat menjanjikan. Industri dalam negeri harus diamankan dari serbuan impor yang dilakukan secara ilegal dan tidak sepatutnya. Negeri ini jangan sampai menjadi tempat pembuangan sampah dari produk-produk negara lain. Industri menengah-kecil yang sudah menggeliat perlu memperoleh perhatian lebih. Di sinilah letak pentingnya penguatan Infrastruktur yang menopang mereka, sehingga bisa menekan biaya transaksi. Selanjutnya, segala langkah harus dilakukan untuk mencegah agar struktur pasar dan kepemilikan tidak kembali seperti masa sebelum krisis. Benih-benih unggul-pengusaha dan usahanya-harus dijaga, agar tetap tumbuh, bukan justru dimatikan oleh kekuatan-kekuatan lama yang memperoleh amunisi, akibat penjualan kembali aset-aset BPPN yang penuh dengan skandal. Kini saatnya kita memperkuat sendi-sendi, agar pasar domestik menjadi tulang punggung pemulihan ekonomi, tanpa harus menempuh kebijakan-kebijakan yang protektif seperti di masa lalu. Dengan demikian perekonomian kita makin tangguh menghadapi segala macam terpaan yang berasal dari luar, sekaligus makin tak bergantung pada luar negeri. Seandainya segala langkah di atas dilakukan dengan terintegrasi dan penuh kesadaran, rasanya kita bisa menatap masa depan dengan lebih optimis. Semangat berkorban dan kesediaan keluar dari comfort zone dari semua elemen masyarakat-terutama para elite penguasa-menjadi awal yang menentukan.*
RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe, anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini. Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ===============================================

