On Thu, 31 Oct 2002 15:34:54 +0700 "Basri Hasan" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kenapa ya mereka menghendaki yang begini
Kamis, 31/10/2002, 13:43 WIB
Front Baru Muncul Menentang Sekolah Wanita di Afghanistan
satunet.com - Sebuah surat yang ditulis dengan tangan ditemukan di Desa Arim Dad, persis di selatan Kabul, Sabtu lalu, sepertinya merupakan pemberitahuan permulaan dari sebuah front baru sisa-sisa Taliban yang berjuang melawan pemerintah pusat Afghanistan dukungan Amerika.
Dilekatkan pada sebuah pohon sekarat, sekitar 50 meter dari sebuah sekolah wanita yang diserang Jumat malam lalu, surat tanpa nama penulisnya itu meminta kepada warga Afganistan untuk bangkit melawan tentara Amerika, yang telah "menguasai" Afghanistan dan "membuat saudari perempuan kita menjadi pelayan dan budak mereka."
"Kami menyerukan kepada semua pria di negeri ini untuk menjaga agar saudari dan putrinya tetap suci dari para kafir ini," katanya dalam surat tersebut. "Jangan mengikuti rencana Amerika, atau kalian menghadapi serangan-serangan mematikan selanjutnya."
Sekolah wanita adalah salah satu dari empat gedung yang rusak akibat serangan Jumat malam di sebuah desa pedalaman di sebelah selatan Kabul, ibukota Afghanistan. Di setiap tempat serangan itu ditemukan surat, yang ditandangani oleh "pahlawan Mujahadeen Afghanistan". Tidak jelas apakah itu merupakan referensi umum atau nama sebuah kelompok baru.
Tidak ada yang cedera dalam insiden itu, yang terjadi setelah sekolah bubar. Dua sekolah ditembak dengan roket hingga meninggalkan sebuah lubang pada dinding kelas. Kebakaran di dua sekolah lainnya menghanguskan papan tulis, lantai dan atap.
Tapi, pengaturan waktu serangan yang baik, dan sebuah salinan surat yang diterima oleh New York Times Rabu, tampaknya dimaksudkan untuk memastikan bahwa militan Islam sudah memulai serangan kampanye melarang pendidikan bagi wanita.
Taliba, dengan doktrinnya yang diinpretasikan dari Islam, melarang sebagian besar bentuk pendidikan bagi gadis dan wanita. Presiden baru Afghanistan, Hamid Karzai, sudah mengganti kebijakan itu, dengan membuka ratusan sekolah wanita, dibantu oleh sejumlah organisasi bantuan asing.
Tanda-tanda pertama dari awal perlawanan terhadap pendidikan itu muncul pada musim semi baru-baru ini di wilayah selatan kota Kandahar, di mana seseorang yan tak disebut namanya melarikan diri dari sekolah meminta orang Afghanistan untuk tidak bekerja sama dengan orang asing.
Pada pertengahan Septembe, sebuah ledakan kecil terjadi di bawah kursi guru di sebuah sekolah pendidikan dasar di Kandahar, menyebabkan seorang guru terluka ringan. Pada 25 September, berandalan di kota Sar-i-Pul, wilayah utara Afghanistan, menembaki tenda yang digunakan oleh pelajar putri.
Serangan akhir pekan lalu terjadi di pusat negeri itu, 30 mil di selatan ibukota negara. Pejabat polisi mengumumkan Rabu bahwa mereka sudah menangkap dua pria terkait dengan serangan tersebut, dan mengatakan mereka yakin bahwa orang tersebut merupakan sisa-sisa pejuang Taliban atau pejuang yang loyal terhadap panglima perang Gulbuddin Hekmatyar.
Para penyerang itu tampaknya mengetahui secara detil sekolah-sekolah itu. Di satu desa, seorang pria bersenjata mendekati seorang penjaga di dekat pasar dan menahannya ketika sebuah roket ditembakkan ke sekolah itu.
Namun, siapa pun di belakangnya, serangan-serangan dan ancaman itu belum mempengaruhi para orang tua, guru-guru atau anak-anak gadis yang bersekolah. Dalam sebuah wawancara, sejumlah di antara mereka bersumpah tetap membuka sekolah.
Raihana, gadis berusia 9 tahun yang bersekolah di tempat yang diserang itu, memandang reruntuhan gedung tersebut dengan gemetar. Dia menutupi wajahnya dengan syal sutra hitam dan menolak menjawab pertanyaan orang asing.
Tetapi, dia langsung bereaksi ketika ditanyakan apakah dia masih mau datang ke sekolah. "Saya takut," katanya. "Tapi saya akan terus sekolah."
Surat yang ditinggalkan di sekolahnya itu --sebuah serangan terhadap kerjasama Afghanistan dan AS dan kebebasan baru yang dinikmati oleh sejumlah wanita Afghanistan-- menggambarkan perpecahan budaya yang terjadi di Afghanistan.
Penduduk di Kabul dan kota-kota lain di negeri itu jauh lebih tidak konservatif daripada penduduk desa Afghanistan, khususnya etnis Pashtun yang dominan di wilayah selatan dan timur Afghanistan.
Secara tradisional, orang-orang Pashtun di daerah pedalaman membatasi akses kaum wanita mereka, bukan hanya ke sekolah tapi juga terhadap semua dunia luar. Pemerintahan Taliban, di satu sisi, merupakan kekuatan untuk menerapkan nilai-nilai konservatif kehidupan pedesaan Pashtun di kota-kota Afghanistan.
Sebagaimana mungkin diharapkan, penduduk kota terpaksa mengikuti pembatasan itu. Dengan jatuhnya Taliban, pemerintahan baru di negeri itu dan dengan bantuan kelompok Barat, saat ini melakukan hal sebaliknya; membawa nilai-nilai kota ke pedesaan.
Penulis surat tersebut memainkan ide akan adanya penguasaaan orang asing secara terus menerus. Serangan terhadap sekolah itu dilakukan sebagai usaha bukan untuk menekan wanita Afghanistan, tapi untuk melindungi mereka dari adat Barat yang akan merampas harga diri mereka.
"Mereka telah mengambil pakaian harga diri dari tubuh mereka," demikian bunyi surat itu, merujuk pada burkas, pakaian wanita Afghanistan, yang memanjang dari kepala hingga ujung jari. "Dengan ini, mereka ingin menunjukkan kekuasaan mereka."
Penulis surat itu terus menuduh sekolah tersebut sebagai penyebaran agama Kristen dan menuduh pemimpin baru di negeri itu mengizinkan orang-orang Barat mengambil foto "perempuan". Surat tersebut diakhiri dengan sumpah untuk "memburu" orang Afghanistan yang tidak patuh. "Bila ada yang tidak menghormati ini, dia akan dikirim ke neraka oleh Mujahidin."
Muhammad Jan, orang tua yang mengizinkan salah satu rumahnya --yang dibangun dari batu bata dan lumpur-- untuk digunakan sebagai sekolah wanita, mengatakan dia menyerahkan itu untuk alasan praktis. "Saya memberikan rumah ini agar anak-anaka kami bisa membaca," katanya.
"Bila mereka tidak bisa membaca, mereka akan menjadi pencuri," katanya. Dengan bangga dia menceritakan, bahwa sejak serangan tersebut, kegiatan belajar dilakukan di luar rumah, di mana murid-murid merasa lebih aman duduk di tanah di bawah pohon murbey.
Muhammad Aslam Amiri, seorang pria berusia 30 tahun yang bekerja bersama kelompok bantuan Amerika, International Medical Corp, mengemukakan bahwa nabi Muhammad mengizinkan isteri dan putrinya mendapat pendidikan. Dia mengatakan sekolah wanita yang diserang di sini dinamai dengan nama putri nabi, Fatima.
Para wanita sendiri bahkan lebih teguh. Bibi Saharam, murid kelas empat, mengatakan, "Harus ada sejumlah tempat di mana wanita dan gadis-gadis bisa belajar." Raihana, seorang murid di sekolah lain yang juga mendapat serangan, mengatakan dia menginginkan pendidikan agar dia dapat melayani negaranya sebagai insinyur untuk membangun apartemen.
Adiknya perempuan berusia 7 tahun, Parwana, mengatakan di juga ingin menjadi seorang insinyur. Dia mengatakan keinginannya itu dengan membisikkannya kepada kakaknya itu.
============================================================================= Ikutan Kuis Berhadiah ? Klik www.kuissiapaberani.com ============================================================================= Ikuti polling TELKOM Memo 166 di www.plasa.com dan menangkan hadiah masing-masing Rp 250.000 tunai =============================================================================
RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe, anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini. Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ===============================================

