Dua Pilihan Yang Tidak Bisa Ditawar
Publikasi 14/11/2002 11:53 WIB

eramuslim - Setelah �panggung sandiwara� ini usai, kita mendapati dua pilihan atas 
peran yang telah kita mainkan. Di atas panggung, kita bebas berimprovisasi, asalkan 
tetap berada dalam kerangka naskah yang telah di atur dan ditetapkan oleh Sang 
Sutradara. Penilaian hanya ada dua, baik dan buruk, jalan lurus atau jalan menyimpang. 
Maka tidaklah sama antara yang haq dan yang batil. Sangat jauh berbeda kehidupan surga 
dan neraka. 

Pilihan Pertama. 

Dalam Al-Quran Surat Qaaf ayat 30 dikatakan �Dan ingatlah akan hari (yang pada hari 
itu) Kami bertanya kepada jahanam: �Apakah kamu sudah penuh? �Dan jahanam menjawab: 
�Masih adakah tambahan? Ini adalah dialog Allah yang Maha kuasa dengan neraka jahanam. 
Suasana manakah yang lebih mengerikan dari suasana di dalam neraka jahanam. Semua 
makhluk tidak akan sanggup dan bercita-cita ingin memasukinya, semua ingin selamat 
dari neraka. 

Tapi neraka senantiasa memangil-mangil bahkan bertanya "masih adakah lagi tambahan 
anggotaku?" Panggilan itu bertebaran di muka bumi berupa acara yang mengelar syahwat, 
walaupun untuk mengikutinya tidak sedikit uang yang harus dikeluarkan. Panggilan 
neraka itu mengarah kepada mereka yang menurutkan hawa nafsu, wanita yang menggelar 
aurat dan harga dirinya dengan harga yang sangat murah. 

Panggilan neraka itu tertuju kepada mereka yang melupakan Tuhan yang telah menciptakan 
mereka. Mereka lebih sibuk dengan bisnis haram, hiburan memabukkan, mereka 
mempermainkan agama, mereka terus mendengar panggilan neraka, hingga maut menjemput 
baru tumbuh kesadaran, insyaf, namun sayang semuanya sudah terlambat, kematian sudah 
tidak dapat lagi ditunda. 

Maka pada hari perhitungan digiringlah pendengar seruan neraka tadi ke jahanam, mereka 
dilemparlah satu-persatu dengan kasarnya. Jumlah mereka semakin bertambah saja, 
"Apakah kamu sudah penuh wahai neraka?" tanya Allah. 
"Masih adakah tambahan?" jawab neraka. 

Masya Allah, neraka senantiasa memanggil-mangil manusia, tempatnya masih cukup untuk 
memuat sebanyak apapun manusia. Cukuplah sampai disini saja, jangan hiraukan lagi 
panggilan dunia, hentikan perbuatan dosa, kembalilah kepada Rabb yang telah 
menciptakan kita!!! 

Pilihan Kedua

Pada hari Senin tangal 12 Rabi�ul Awal tahun 11 H, kematian menjemput Rasulullah. 
Manusia sempurna yang telah dijanjikan Allah surga itu telah menemui Rabbnya dengan 
jiwa yang tenang. Ia hanyalah seorang manusia biasa, kematian tidak lupa menghampiri 
kekasih Allah itu. Disaat sakaratul maut itu, Aisyah mendengar apa yang beliau 
katakan: "Ya Alah ampunilah aku, rahmatilah aku, dan pertemukanlah aku dengan Kekasih 
Yang Maha Tinggi. Ya Allah, Kekasih Yang Maha Tinggi" 

Keindahan surga tidak akan terbayang di pelupuk mata, tidak pernah terdengar oleh 
telinga, tidak terpikirkan oleh akal. Menurut Ibnu Qayyim, bagaimana bisa dibayangkan, 
rumah penghuni surga yang dibangun Allah dengan Tangan-Nya sendiri berbentuk istana. 
Yang materi batu batanya dari emas dan perak, yang atapnya Arasy Ar-Rahman, yang 
pepohonannya dari emas dan perak sebening kaca, yang buah-buahannya lebih lembut dari 
keju dan lebih manis dari madu, yang sungai-sungainya mengalirkan susu, madu dan arak 
yang tidak memabukkan, yang kebagusan wajah penghuninya seperti rembulan, yang 
kendaraanya kuda dan unta bersayap, yang istri mereka bidadari yang disucikan, cantik 
jelita nan bermata jeli. 

Surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai tidak akan mungkin kita temui di dunia 
ini. Kematian merupakan jembatan menuju jannah-Nya. Jika kita berharap akan 
mendapatkan jannah-Nya maka persiapkanlah bekal menuju ke arah sana. Sehingga kematian 
menjadi suatu yang sangat kita nanti-nantikan, sebagimana pejuang Islam yang syahid di 
belahan bumi Islam sana, mati syahid telah mengharumkan ruhnya, perjumpaan dengan 
Tuhan menjadi cita-cita mereka. Sedikitpun mereka tidak takut, karena mereka memiliki 
seni tersendiri menghadapi kematiannya. 

Kematian dapat menghantarkan manusia kepada perjumpaan dengan Kekasihnya. Hal ini di 
buktikan dalam diri manusia sempurna Rasulullah. Jika Rasul saja tidak luput dari 
kematian, lalu apakah kita yang tidak ada jaminan untuk bisa masuk surga ini akan 
kekal hidup di dunia? 

Setiap jiwa memiliki seni tersendiri menyiapkan kematiannya, manusia bebas memilih 
kedua pilihan itu. Bagaimana dengan kita, apakah sudah siap jika detik ini juga 
kematian itu menghampiri, kemudian kita dihadapkan pada kedua pilihan itu, mana yang 
akan Anda pilih? Wallahu'a'lam bishshowab (Yesi Elsandra) 







__________________________________________________________
Outgrown your current e-mail service? Get 25MB Storage, POP3 Access,
Advanced Spam protection with LYCOS MAIL PLUS.
http://login.mail.lycos.com/brandPage.shtml?pageId=plus&ref=lmtplus

RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke