Hari ini Ramadhan hari kesebelas. Hujan yang mengguyur Jakarta dan
sekitarnya baru saja usai. Perpohonan berayun pelan dibelai angin
semilir. Sepuluh hari yang disebut Rasulullah SAW sebagai periode rahmah
sudah selesai. Sepuluh hari di tengah yang disebut Nabi sebagai periode
maghfirah atau periode pengampunan baru saja mulai.

(Tadi malam bulan mulai mendekati purnama. Tetapi sesungguhnya di
sepanjang Ramadhan ada purnama. Di sepanjang Ramadhan langit selalu
penuh dengan bunga)

Adakah diri yang tidak dikotori dosa?

Adalah Ustad Dr. Miftah Faraidh---yang renungan sahurnya di ANTV, hampir
selalu saya ikuti---menjelang pagi tadi menjawab, bahwa bahwa menurut
ajaran Islam setiap manusia dilahirkan dalam keadaan suci. Kelakuan atau
perangai seseoranglah yang membuat dirinya dikotori dosa. Bahkan beliau
menegaskan bahwa dalam perspektif Islam  tidak ada yang namanya �anak
haram�! Kelakuan orang tuanyalah yang haram

Memang kelakuan atau perangailah yang membuat nurani seseorang pekat
dengan jelaga.

�Bukan penyakit, tetapi perangailah yang membunuh�, bunyi sebuah pepatah
Minang.

Tetapi baik penyakit maupun perangai ada obatnya. Dan Ustad Miftah lalu
menjelaskan mengenai taubat, taubatan nasuha sebagai obat perangai.
Hampir tidak ada dosa yang tidak diampunkanNya, asalkan manusia
bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat, taubatan nasuha: menyesali
perangai yang tidak berpatutan, berjanji tidak akan mengulanginya dan
berbuat kebajikan untuk menghapuskan dosa-dosa yang sudah diperbuat.

Ya, Bukantah Allah Maha Pengasih dan Maha Pengampun?

(Ya tentu saja, bukantah tidak sedikit ayat-ayat Al Qur�an yang diakhiri
oleh kata-kata �innallaha ghafurrurrahim?)

Lalu saya teringat khotbah Jumat di Masjid PTIK kemarin yang sangat
indah dan menyentuh yang berjudul �Ikhlas�, dan sang Khatib yang
bertutur tentang Rabiah Adawiyah, seorang Perempuan Sufi besar. Beliau
yang berparas cantik ini sebelumnya berprofesi sebagai pelacur kelas
wahid, lalu bertaubat dengan  taubatan nasuha, lalu larut dalam riadhah
dan ibadah yang dilandaskan cinta dan kerinduan kepada Sang Khalik. Dan
Khatib lalu mengutip ucapan Sufi besar itu yang terkenal: �Ya Allah,
kalau aku beribadah hanya karena mengharapkan syurga, maka tutuplah
pintu syurga bagiku, kalau aku  beribadah hanya karena takut akan api
neraka, bukakanlah pintu neraka bagiku, tetapi kalau aku beribadah
karena rindu dan cinta kepadaMu, perlihatkanlah wajahMu kepadaku.�

Masya Allah!

Hari ini Ramadhan kesebelas yang berarti sepuluh hari di tengah yang
disebut Nabi sebagai periode maghfirah baru saja mulai. Hujan yang
mengguyur Jakarta dan sekitarnya baru saja usai. Saya yang dhaif ini
lalu berkaca diri, wahai, dari tahun ke tahun puasaku sepertinya tidak
beranjak dari puasa awam.  Saya masih sering �mangkel� melihat
orang-orang yang klepas-klepos merokok seenaknya siang hari di bulan
puasa di tempat-tempat umum. Kalau saya meliwati Pasar Blok M di siang
hari, air liur saya masih suka terbit melihat gerobak dorong yang
menjajakan bakso urat, ketupat gulai atau masakan Padang �Rajo Salero�
dan seterusnya, dan seterusnya. Ya, apalah awak ini.

Tatapi kalau tidak kepada Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,
kepada siapa pula badan buruk ini mohon rakhmat dan pengampunan?

Wassalam, Darwin



RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke