Dari C4, mini nuclear lalu berubah drastis ke bom pupuk (amonium nitrat)
lengkap dgn bon pembelian bahan2nya ... sekarang kembali lagi ke bahan
peledak sungguhan yg bukti2nya ditemukan di hutan dalam wadah peralon.
bener2 hebat !

Fw.:Soal Keterlibatan TNI Makin Sulit Disangkal

Intro: Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto tampak makin sibuk
sibuk saja membantahi berita bahwa beberapa orang jenderal terlibat
peledakan di Bali. Bantahan yang dikemukakan Jenderal Endriartono
kedengarannya menarik. Kalau dulu ia meminta supaya jenderal yang
disinyalir ada di Bali ditembak saja, maka sekarang dia bicara
tentang gudang senjata yang kebobolan pencuri. Sulit untuk dipastikan
apakah rangkaian bantahan ini bisa mengusir kecurigaan masyarakat
bahwa TNI memang punya peran yang tidak diketahui umum. Koresponden
Syahrir mengirim laporan berikut dari Jakarta:

Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto mengakui bahwa amunisi
milik Amrozi yang ditemukan di hutan Dadapan, Lamongan, Jawa Timur
adalah sejenis amunisi yang digunakan TNI. Walau begitu Panglima
menyangsikan amunisi tersebut berasal dari PT Pindad. Tim investigasi
kasus bom Bali sementara itu telah menemukan ribuan amunisi dan
senjata laras panjang di hutan tersebut. Barang-barang itu diduga
keras milik tersangka kasus peledakan bom di Bali, Amrozi. Panglima
TNI yang selama ini berusaha keras membantah adanya unsur
keterlibatan TNI, akhirnya karena sudah tersudut, tak bisa mengelak
lagi. Endriartono langsung mempersalahkan kondisi gudang-gudang TNI
yang tidak layak pakai dan mengakibatkan pencurian. Jenderal ini
tidak menjelaskan soal dugaan polisi bahwa oknum-oknum Kopassus
terlibat dalam tragedi kemanusiaan di Bali.

Endriartono: Memang gudang-gudang kita barangkali sudah tidak layak
lagi untuk gudang. Karena anggaran selama ini terbatas. Kondisi ini
mungkin memudahkan terjadinya pencurian dan sebagainya begitu. Kalau
di Pindad saya yakin tidak terjadi kebocoran. Barangkali lebih,
contohnya kemarin kejadian hilangnya sekian ribu butir di Batujajar.
Itu karena memang penggudangan yang sangat tidak layak.

Sementara itu, hingga kini Amrozi, penduduk desa Tenggulun, Kecamatan
Pasiran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur masih menjadi sorotan
sentral. Ia dituduh polisi sebagai pimpinan operasional pengeboman
Kuta, Bali. Amrozi disebut-sebut dekat dengan Pesantren Al-Islam,
satu-satunya pesantren di Lamongan yang mewajibkan santri
perempuannya menggunakan cadar ala Taliban. Menurut seorang tokoh
Muhammadiyah asal Jawa Timur yang enggan disebut namanya, pesantren
ini pernah didatangi Abu Bakar Ba'asyir yang kini ditahan Mabes Polri
berkaitan dengan tuduhan rencana pembunuhan Megawati dan peledakan
sejumlah gereja serta Masjid Istiqlal. Oleh karenanya pesantren ini
tidak begitu disukai oleh Muhammadiyah dan NU, karena menerapkan
ajaran Islam yang konservatif dan kaku.

Amrozi sendiri disebut-sebut pernah belajar di Pesantren Ngruki, Jawa
Tengah. Setelah tamat dari Ngruki, Amrozi melanjutkan pendidikannya
ke Pakistan. Pulang dari Pakistan Amrozi berjihad ke Ambon. Setelah
dari Ambon Amrozi pulang ke kampungnya. Ia memiliki bengkel dan mobil
Mitsubishi L-300. Namun berita bahwa Amrozi berasal dari pesantren
Al-Islam dibantah oleh Ustadz Zakaria pemimpin Pondok Pesantren
tersebut. Memang Amrozi sering sholat Jamaah di masjid pesantren.
Tapi dia sama sekali tidak ada kaitan dengan Pesantren yang ingin
menerapkan ajaran Islam seasli-aslinya seperti yang dilakukam oleh
Taliban di Afghanistan. Namun Ustadz Zakaria mengakui bahwa Amrozi
berkenalan dengan Ba'asyir di pesantrennya.

Ustadz Zakaria: Kalau ada di rumah ya sering ke pesantren untuk ikut
sholat berjamaah. Bertepatan Ustadz Ba'asyir datang ke pesantren,
kebetulan waktu itu Amrozi ada di rumah jadi dia ikut. Waktu selesai
ceramah, salaman biasa.

Abubakar Ba'asyir sendiri yang dibela oleh pengacara Adnan Buyung
Nasution, bersikukuh bahwa ia tidak mengenal Amrozi. Namun paling
tidak, bila benar apa yang dikatakan narasumber tokoh Muhammadiyah
asal Jawa Timur tadi, berarti memperkuat dugaan adanya jaringan
Jama'ah Islamiyah di Asia Tenggara. Selama ini Jamaah Islamiyah hanya
dianggap sebagai stigma oleh kalangan yang dirugikan oleh pemberitaan
ini. Murdjoko, seorang tokoh Majelis Mujahidin Indonesia, Jawa Timur,
menjelaskan,

Murdjoko: Ya, Front Pembela Islam, sebenarnya adalah pergerakan Islam
yang ada di Indonesia. Yang di sini berdiri sendiri, yaitu FPI.
Laskar Jihad juga berdiri sendiri dan punya pemimpin sendiri. Dan
Majelis Mujahidin Indonesia merupakan aliansi yang dipimpin oleh
Ustadz Abu Bakar Ba'asyir. Jadi Laskar Jihad tidak sama dengan Laskar
Mujahidin, dan Laskar Mujahidin tidak sama dengan FPI begitu.

Muslim Abdurahman, seorang intelektual Islam asal Lamongan, berpesan
janganlah pemerintah Indonesia terjebak skenario Barat yang
ditunggangi oleh kepentingan Yahudi, dengan menyamaratakan semua umat
Islam sebagai teroris. Kalangan fundamentalis Islam Indonesia, pun
tidak percaya bahwa dampak pembomannya luar biasa, karena bisa jadi
bukan Amrozi yang merakitnya. Amrozi dan kawan-kawannya mungkin
hanya memarkir mobil L-300 yang digunakan untuk meletakkan bom.
Mereka hanya mengira dampaknya cuma ledakan kecil, seperti yang
terjadi di Gedung Bundar Kejaksaan, dan di gereja-gereja. Setelah
tahu bahwa korban tewas mencapai ratusan mereka kebingungan.

Beberapa tokoh PDI-Perjuangan curiga bahwa semua ini tidak terlepas
dari permainan pasukan khusus TNI-AD. Bisa jadi pula CIA membiayai
tentara Indonesia untuk melakukan pematangan situasi dengan menjalin
kerja sama dengan Islam garis keras di Indonesia.

Kerja sama antara militer Indonesia dan kalangan Islam garis keras
dapat ditelusur sejak naiknya Jenderal Hartono, sebagai KSAD dan
terakhir kali Jenderal Wiranto yang memprakarsai berdirinya Pam
Swakarsa, sejenis milisi sipil yang organ-organnya terdiri dari
sejumlah kalangan Islam garis keras. Pam Swakarsa dipercaya banyak
kalangan sebagai embrio Laskar Jihad yang kemudian dikirim ke Ambon
untuk melakukan perang agama. Bagian Pam Swakarsa yang lain berubah
menjadi Front Pembela Islam yang mengkhususkan diri pada masalah
memerangi kemaksiatan di kota-kota besar. Merekalah yang semula
diorganisir untuk membela Habibie dan menentang Megawati. Kini banyak
Jenderal, kecuali mantan Kepala Bakin ZA Maulani, ramai-ramai cuci
tangan.

Sedangkan ZA Maulani masih aktif melakukan penggalangan di kalangan
Islam garis keras. Terakhir dia membentuk Laskar Mujahidien di
Cirebon dan tegas menyatakan bahwa Laskar-Laskar Islam tidak bisa
dihapuskan selama umat Islam merasa terancam.

Apa beda Laskar Jihad yang dibina militer dengan Laskar Mujahidin?
Seorang aktivis majelis Mujahidin menjelaskannya.

Aktivis Majelis Mujahidin: Saya kira sudah putus hubungan dalam arti
Ustadz karena waktu itu santrinya banyak, di Ngruki dan
terpencar-pencar di seluruh Indonesia, setelah Ustadz kembali ke
Indonesia dan memimpin Majelis Mujahidin hubungan itu putus jadi
Ustadz bukan lagi membina Jamatul Islam tapi Majelis Mujahidin di
Indonesia.

Apapun yang mau dikatakan orang, kenyataannya sekarang di kalangan
masyarakat sudah ada keyakinan bahwa kalangan Islam garis keras, TNI

Kirim email ke