> --- In [EMAIL PROTECTED], "AWAM" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Hehe1001X. Kalo menurut saya sih, kalo kita gak mampu menjalankan > suatu > perintah atau gak mampu menghindar larangan sih mending AKUI aja > (walau di dalam hati). > Tidak perlu belok2, berkelit, nyari2 pembenaran atau bikin penafsiran > seenak jidat. > > Lama2 ZINA bisa jadi HALAL lagi :)
Saya sangat setuju pendapat ini. Untuk memahami ajaran agama kita jelas memerlukan akal dan perbandingan-perbandingan melalui pengalaman, baik pengalaman diri sendiri maupun pengalaman orang lain. Tetapi kita harus sadar bahwa akal dan persepsi yang kita serap dari pengalaman-pengalaman tersebut memiliki berbagai keterbatasan. Memahami suruhan dan larangan agama hendaknya dilakukan dalam perspektif seperti ini. Kalau ada perintah agama yang kita pikir tidak sesuai dengan akal atau kita tidak sanggup untuk melakukannya tidak mesti ditafsirkan sebagai �salah�. Kalau ada perintah agama yang kita tidak atau belum mampu untuk melakukan kita jujur saja dan minta ampun kepadaNya. Dalam perspektif agama masalah pokok bukan apakah seseorang berbuat salah (melanggar kaidah-kaidah moral dan agama) atau bukan, tetapi pada kemampuan seseorang itu untuk cepat menyadari kesalahan-kesalahan yang dilkukannya lalu bertaubat: menyesali keslahannya, minta ampunan, berjanji untuk tidak akakan mengulangi kesalahan dan bebuat baik untuk menghapus kesalahan-kesalahan. Sangat banyak ayat-ayat Kitab Suci Al Qur�an yang dialkhiri dengan kata-kata: �Sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang� (Kalau kesalahan kepada manusia lain tentu lain cerita. Tangan mencencang bahu memikul). Bagi pemeluk Islam yang mendekati agama dengan kerendahan hati, agama itu mudah dan sederhana, termasuk pelaksanaan salat lima waktu. Karena salat yang dilakukan dengan khusuk dan tartil akan membawa ketentraman batin dan kejernihan pikiran. Bagi seorang muslim yang beragama dengan kerendahan hati, salat dan ibadah-ibadah lainnya, tidak terasa sebagai kewajiban, tetapi kebutuhan. Islam itu sesungguhnya mudah. Saya pikir salah satu keberhasilan dakwah Aa� Gym---yang sangat fenomenal itu---ialah keberhasilan beliau mengambarkan betapa sederhana dan mudahnya beragama, tanpa meningalkan sikap tegas dalam apa yang beliau anggap prinsip dalam agama, misalnya cara muslimah dalam berpakaian. Islam itu sesungguhnya mudah dan indah, tetapi jangan dipermudah-mudah. (Apalagi isu-isu yang dibahas Aa� Gym umumnya isu-isu utama yang dihadapi Bangsa Indonesia dewasa ini: rendahnya moral keagamaan dan rasa kebangsaan di sementara kalangan ummat dan pejabat, sehinga korupsi, kebohongan publik, pengkhianatan terhadap kepentingan rakyat dan bangsa, pelecehan kepada yang lemah, cara berbusana yang kurang senonoh dan komersialisasi tubuh perempuan dilakukan seperti tanpa beban) Demikian pula cara Almarhum Buya Hamka berdakwah pada zamannya. Ulama besar yang dikenal berhasil mendekatkan masyarakat Kebayoran Baru, yang ketika itu merupakan kawasan elit di Jakarta di samping kawasan Menteng, kepada Islam. Tidak jarang beliau menerima dengan lapang dada para muslimah yang menemui beliau sehabis bermain dan masih memakai kostum tennis, dan tidak langsung menegur mereka-meraka yang baru senang-senangnya salat melakukannya dengan kuku-kuku tangan dan kaki yang masih bersaput kuteks. Kalau kemudian mereka menemui Buya dengan pakaian yang lebih pantas atau membersihkan kuteks sebelum berwuduk lebih karena kesadaran mereka sendiri. Demikian pula cara beliau mengisi kuliah subuh yang disiarkan oleh Siaran Nusantara RRI Jakarta ketika itu. Dengan suara yang serak-serak basah, dengan lembut beliau menjampaikan pesan-pesan keagaaman dan menjawab pertanyaan dari para pendengar termasuk para pendengar dari semenanjung Malaya dan Singapura yang terjangkau oleh siaran RRI. Tentulah tidak kebetulan kalau Aa� Gym pernah secara terbuka mengemukakan rasa hormat dan kekagumannya kepada Almarhum Buya Hamka. Kembali kepada pokok persoalan, secara prinsip saya sependapat dengan para netters yang menganggap bahwa tulisan Ulil sangat bagus dan logis. Tetapi dengan segala kerendahan hati, pokok-pokok pikiran revolusioner, dalam tanda petik, yang dalam hal tertentu punya kesamaan dengan paham muta�zilah bukan sesuatu yang baru dalam khasanah pemikiran Islam. Malah suatu ketika paham ini pernah didukung oleh kekuasan Sultan Mu�tasyim dan Penggantinya Watsiq yang hendak memaksakan pendapat bahwa Al Qur�an adalah �makhluk�, sampai banyak ulama yang berpegang teguh pada Al Qur�an dan Sunnah bertekuk lutut dan tiarap satu persatu, kecuali Imam Ahmad bin Hanbal---salah satu dari 4 imam mahzab besar dalam Islam---walaupun beliau sempat mendapat siksaan fisik bahkan kemudian diusir dari kerajaan. Secara prinsip saya sependapat dengan para netters yang menganggap bahwa tulisan Ulil sangat bagus dan logis, tetapi........ �Yang logis itu belum tentu benar� kata hakim kepada pembela yang kemudian terdiam dan terpana dan mengakhiri diskusi di antara mereka di ruang kerja sang hakim di bagian akhir sebuah filem hitam-putih yang sangat apik �Judgment in Nurenberg�*], yang pernah diputar di Jakarta di akhir tahun enampuluhan yang mengisahkan proses peradilan oleh pihak sekutu terhadap seorang penjahat perang Nazi Jerman. Ya, yang logis itu belum tentu benar, Seperti saya singung di awal tulisan saya, saya sangat setuju dengan pendapat ini. �Ilmu tempatnya di kepala, agama tampatnya di hati�, begitu Hatta sang Mahaputra dan Pemimpin besar bangsa---yang dikenal sebagai pribadi yang sangat terpelajar, santun dan mempunyai komitmen yang sangat tinggi untuk menjalankan ajaran-ajaran agama yang dianutnya---suatu ketika berkata. Dan sejarah mencatat, bagi Hatta agama adalah untuk diamalkan, bukan untuk diwacanai dengan akal, apalagi untuk �digagahi�. Karena itu saya hanya ingin bermakmum kepada pemikiran dan sikap keagamaan Hatta, Buya Hamka, Aa� Gym dan ulama-ulama seperti beliau itu, misalnya Ustad Miftah Faridh, kakak beradik Quraish dan Alwi Sihab, KH Mustafa Bishri, Arifin Ilham, Ary Ginanjar, yang saat ini tidak terhitung banyaknya. (Kalau ada yang berpendapat bahwa pemikiran dan sikap keagamaan beliau-beliau tersebut sebagai �tidak modern� atau �anti kemoderenan�, tentunya penjelasan entri �modern� dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia perlu kita ganti dulu) Lagi pula bagi saya, upaya-upaya untuk �menggagahi� nash dengan akal dan logika manusia semata adalah sangat menggelikan, dan seperti pernah saya kemukakan di sebuah milis dengan sarkasme Padang saya: �seperti tikus comberan yang hendak mengencingi matahari�. Sekalipun demikian saya berharap, bagi yang tidak setuju dengan Ulil hendaknya menyanggah pendapatnya saja dan tidak melakukan pembunuhan karakter, misalnya dengan menuduh Ulil atau Jaringan Islam Liberal (JIL) sebagai bagian dari konspirasi yang bertujuan untuk �merusak� Islam dengan sokongan dana dari Asian Foundation, terlepas dari kenyataan bahwa logo Asian Foundation dulu (entah sekarang) memang tampil pada homepage JIL. Pemikiran-pemikiran seperti JIL pernah ada dan akan selalu ada. Dan Insya Allah tidak akan merusak Islam. Islam tidak akan penah bisa rusak, kecuali oleh penganutnya sendiri, terutama oleh penganutnya yang ber-Islam---maaf---tidak pakai otak. Termasuk segelintir orang Islam jenis Amrozi c.s., para �penggantang asap� yang memilih terorisme untuk apa yang mereka sebut sebagai �memperjuangkan� Islam. Begitu. Salam, Darwin *] Filem ini dibintangi oleh Spencer Tracy yang berperan sebagai Hakim, Burt Lancaster penjahat perang Nazi Jerman dan Maxmillian Schell yang berperan sebagai pembela. Seingat saya Maxmillian Schell mendapat Oscar atas perannya dalam filem ini. Spencer Tracy dan Burt Lancaster mendapat Oscar di filem mereka yang lain. RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe, anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini. Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ===============================================

