Ulang kirim, alamat tidak lengkap AAR (55) From: Azizar Aras Sent: Monday, November 25, 2002 12:38 PM To: '[EMAIL PROTECTED]'; dedi hidayat; '[EMAIL PROTECTED]' Subject: RE: [KuraiNet] [ikaeska] FW: Wahai para Pemudik, jangan Pamer Kekayaan di Kampung Halaman !
Jujur..... memang itulah yang ditangkap oleh sebahagian orang kampuang dunsanak awak nan tetap basikokoh "bertahan" di kampuang halamn berjuang dengan segala kekurangannya selama ini, namun.........., kalaulah ini dilihat sebagai peluang, mungkin ada banyak hal yang bisa dilakukan, itupun haruslah dengan syarat, bahwa semua pihak berani membongkar tabir apriori seperti apa yang terangkat kepermukaan oleh seorang Bujang dimana ia popuiler dengan dipanggilan saat ini. Inisiatif bisa diambil oleh kaum muda dan lembaga ninik mamak untuk melakukan atau mengadakan suatu acara yang berwawasan Budaya Minang Kabau, supaya orang rantau bersama keluarga terutama anak Minang nan lahia dan gadang dirantau bisa ikut turun bersama-sama membaur dalam suasana kekeluargaan untuk mengenal lebih dalam Budaya Minang yang semakin hari semakin kabur bagi perantau dan keluarga. Iko kan...., indak ado pulo acara nantun, sahinggo iyo bakumpua kaluarga sajao, tantu oto banyak parkir dimuko rumah nan nampak yo pamer, padahal kok indak jo oto nan ado mungkin kalimpasingan pulo mancari ongkoih untuk pulak saparinduakan tu dundanak oooi......... Untuk itu semua pemuda, ninik mamak, candiak pandai sarato alim ulama bahu membahu mengadakan helat gadang, katakanlah begitu tentu ini dalam jangkauan yang tidak terlalu besar ataupun tidak terlalu kecil, kecil dan banyak akan membuat pilihan terlalu beragam sehingga pemudik ko binguang pulo kama inyo kasato. Isino......... banyak nan brilian punyo ide bantuak nantun di kampuan wak SUMBAR ranah Minang ko Sampai saat ko danguang nan labiah adolah perantau ingin pulang, namun apo nan bisa ditangkok dek urang kampuang dek danguang ko ....iyo alun tadanga..., antahlah kok antene nan pendek......... Bersatulah sehingga kelihatan kokoh , jan banyak juo nan kamuko tapi gadang dan taguah sarato arek no nan manjadi andalan, bulek, boneh, baisi. Wassalam AAR (55) -----Original Message----- From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]] Sent: Monday, November 25, 2002 12:01 PM To: dedi hidayat; [EMAIL PROTECTED] Subject: [KuraiNet] [ikaeska] FW: Wahai para Pemudik, jangan Pamer Kekayaan di Kampung Halaman ! ----- Forwarded by Dessy Ismellia/JKT/ID/Avon on 25/11/2002 12:08 PM ----- Andam Dewi To: Dessy Ismellia/JKT/ID/Avon@Avon, Mustika 25/11/2002 Putri/JKT/ID/Avon@Avon, Fonni 08:22 AM Yohassan/JKT/ID/Avon@Avon, Fifi Arfiati/JKT/ID/Avon@Avon cc: Subject: [ikaeska] FW: Wahai para Pemudik, jangan Pamer Kekayaan di Kampung Halaman ! Elok-elok di kampuang ...... Wahai para Pemudik, jangan Pamer Kekayaan di Kampung Halaman! Padang-RoL--Seniman asal Sumatra Barat, Andria "Bujang" Adhan, merisaukan para perantau Minangkabau yang setiap kali pulang lebih banyak memamerkan kekayaan dan tidak meninggalkan "jejak" ketika kembali ke rantau. "Perantau asal Minang setiap pulang ke kampung halaman lebih mengutamakan memajang mobilnya di depan rumah ketimbang memberikan sesuatu yang berharga untuk pembangunan kampung halaman," ujar pemeran tokoh Bujang dalam sinetron Duo Datuk ini di Padang, Sabtu. Setiap tahun menjelang lebaran tradisi masyarakat Minangkabau di perantauan adalah pulang ke kampung halaman, mereka pulang bersama-sama dalam sebuah acara Pulang Basamo. Belasan ribu orang perantau pulang untuk merayakan hari raya Idul Fitri di kampung halamannya di seluruh Sumatera Barat. Kerisauan "Bujang" --begitu ia sekarang dipanggil kawan-kawannya-- berangkat dari kian tidak berkesannya kepulangan para perantau ke kampung halaman, karena tidak menciptakan sesuatu yang bernilai di kampung halamannya. Ia melihat, para perantau yang sukses lebih banyak menghabiskan uang di jalan atau di kedai-kedai untuk memperlihatkan keberhasilannya. "Yang ada hanya cerita kebanggaan, itu harus dirobah, para perantau harus melakukan upaya merubah budaya pulang merantau yang berfoya-foya dengan budaya membangun nagari atau kampung halaman," katanya. Ada banyak cara yang bisa dilakukan para perantau untuk bisa meninggalkan "jejak" di kampung halaman setelah para perantau kembali tanah rantau. Di antaranya dengan cara menggelar acara Taragak Basuo berupa Alek Nagari. "Dengan Alek Nagari, kerinduan kampung halaman akan terpenuhi dan upaya membangun kampung halaman dengan mengumpulkan uang akan terlaksana," kata putra Piaman yang pernah bermain dalam Sinetron Sabai Nan Aluih ini. Dalam pengamatannya, para perantau Minang sering menciptakan kesenangan dengan menghambur-hamburkan uang di sebuah tempat hiburan atau tempat yang disewa. Padahal bila uang itu disumbangkan 10 persen saja untuk kampung halaman akan lebih bermanfaat dan berbekas. Ia tidak melihat perubahan berarti dari kepulangan para perantau ke kampung halaman kecuali untuk "menjajakan" kebanggaan. � Antara/pra ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~--> �FREE Health Insurance Quotes-eHealthInsurance.com http://us.click.yahoo.com/1.voSB/RnFFAA/46VHAA/9rHolB/TM ---------------------------------------------------------------------~-> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/ RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe, anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini. Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ===============================================

