Title: Maize

Assalamualaikum Wr, Wb.

Ide-ide lamo, tapi rancak juo didiskusikan di Palanta awak ko, berikut ambo kirimkan 2 artikel dari pak Edi Utama, Tokoh Kesenian Sumatera Barat.

 

Wassalam,

=================

DALAM suatu pertemuan bulan lalu di Yogyakarta, saya diminta tanggapan oleh sejumlah perantau Minang di sana, bagaimana kalau Provinsi Sumatra Barat diganti namanya dengan �Provinsi Minangkabau�. Gagasan untuk mengganti nama Provinsi Sumatra ini akan mereka sampaikan sebagai suatu himbauan kepada Pemerintah Sumatra Barat. Rencana gagasan ini akan mereka bawa ke dalam suatu pertemuan formal dalam bentuk seminar dan musyawarah di kota �Berhati Nyaman� ini.

Saya tidak kaget mendapatkan permintaan ini, karena dalam banyak kesempatan saya melihat �orang rantau� jauh lebih konservatif dalam melihat Minangkabau, karena banyak di antara mereka hidup dalam wilayah nostalgia. Saya langsung menjawab dan dengan terus terang mengatakan tidak setuju dengan gagasan tersebut. Kelihatannya mereka tidak senang dengan jawaban saya, karena pada saat itu tampaknya mereka begitu bersemangat membicarakannya. Dengan cepat salah seorang di antara perantau itu bertanya, apa alasannya saya tidak setuju.

Pertanyaan ini langsung saya jawab. �Menurut saya Minangkabau tidak dapat dipahami sebagai suatu wilayah administrasi pemerintahan. Minangkabau adalah wilayah budaya. Ada daerah darek  atau sering disebut luhak dan ada daerah rantau. Meminjam istilah Cristine Dobbin, daerah luhak adalah perkampungan tradisional orang Minangkabau, yang wilayahnya tetap dan tidak berubah. Namun daerah rantau, sangat dinamis dan terus berkembang sesuai dengan perkembangan migrasi orang Minangkabau sendiri. Kedua daerah ini dipertalikan bukan oleh ikatan struktural, tetapi dipertautkan oleh ikatan kultural dan geneologis yang disebut dengan anak nagari.  Dalam pengertian ini bagaimana kita akan mempetakan wilayah Minangkabau menjadi suatu provinsi? Ada banyak wilayah Minangkabau secara kebudayaan yang terdapat di provinsi lain di Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri. Jadi bagaimana membuat Provinsi Minangkabau berdasarkan pengertian wilayah administratif pemerintahan,� kata saya dengan penuh semangat.

Tapi bukan orang Minang namanya kalau tidak bisa menjawab setiap soal. Kato bajawek gayung basambuik, begitulah ungkapannya. Tak kurang bersemangatnya, salah seorang orang rantau tersebut yang bergelar Datuk, langsung menjawab. �Hanya dengan menukar nama Provinsi Sumatra Barat dengan Provinsi Minangkabau, orang Minang baru bisa mambangkik batang tarandam. Hanya dengan cara ini rasa percaya diri orang Minang bisa dibangkitkan.� Banyak lagi alasan yang dikemukakan, dan tampaknya niat mereka sudah bulat untuk mengusulkan pergantian nama ini.

Tanpa mau mengalah saya pun kembali menjawab dengan bersemangat. �Belanda dulu gagal membuat negara Minangkabau, karena tidak mampu dan bisa mempersatukan nagari-nagari yang bersifat otonom tersebut. Tapi yang paling merugikan kalau sempat membuat Provinsi Minangkabau, tiba-tiba Alam Minangkabau bisa menjadi sangat sempit dan statis. Bukankah ajaran adat menyebutkan, Alam Minangkabau itu jikok dikambang saleba alam dan dibalun saleba kuku�.

Namun penjelasn saya ini tampaknya tidak memuaskan mereka. Tetapi begitulah, masyarakat Minangkabau telah jauh berubah. Kalau kita kembali belajar pada sejarah perkembangan intelektual Minangkabau, yang begitu dinamis, biasanya orang yang merantau justru selalu pulang membawa wacana pemikiran baru ke kampung halamannya, sehingga pemikiran berkembang dengan pesat. Namun sekarang tampaknya banyak orang rantau yang ingin �pulang kampung� dengan hanya mengusung sejarah masa lalu. Inilah yang mereka tawarkan kepada orang kampungnya. Saya kira inilah salah satu sumber kemunduran orang Minangkabau, yang banyak dibicarakan belakangan ini. Saya tidak percaya orang Minangkabu �mundur� (?) atau stagnasi karena negeri ini bernama Provinsi Sumatra Barat. Menurut saya sekarang, masalah yang dihadapi orang Minang sekarang, karena terlalu banyak bernostalgia terhadap masa lalu, sehingga mereka kehilangan sikap kritis, yang menjadi ciri khas orang Minang.

Kirim email ke