|
Beberapa
tahun lalu, ada berita yang cukup mengejutkan, bahwa di Sydney Australia, ada
perkumpulan �urang awak� yang sebagian besar berasal dari nagari Guguak Randah
dan Guguak Tinggi, Kecamatan IV Koto, Agam. Mereka dikabarkan telah membentuk
komunitas sendiri, yang berada dibawah organisasi perantau �Minang Saiyo�. Ada yang menyebut, �Mereka telah
membentuk kelurahan sendiri di sana�. Sayangnya tidak ada data resmi berapa
jumlah mereka yang menetap di kota terbesar di Australia itu. Namun yang pasti berita tersebut
menunjukkan, bahwa rantau �urang Minang� semakin jauh dan luas. Karena
itu pula, mitos rantau dan �urang rantau� dalam kehidupan kebudayaan Minangkabau
sekarang, mungkin telah mengalami perkembangan dan perubahan yang cukup banyak.
Jika lima puluh tahun yang lalu, merantau ke Betawi atau merantau ke Kolang (Malaysia), masih dianggap
sebagai rantau yang jauh. Namun merantau ke Betawi sudah dianggap biasa saja,
sehingga tidak ada yang perlu saling tangis menangisi. Bahkan ke negeri yang
lebih jauh pun, tak perlu dirisaukan. Lagu �Teluk Bayur�, yang merupakan
nyanyian perpisahan, tidak lagi
menjadi lagu sendu menjelang anak dagang meninggalkan ranah Minang. Rantau atau
merantau seperti kehilangan mitos, yang menjadi sumber kekuatan tradisi merantau
itu sendiri. Tradisi merantau tidak lagi menjadi sesuatu yang bersifat ritual
budaya. Orang bisa saja pergi kemana saja, tanpa harus memotong ayam untuk
mengadakan pesta perpisahan. Orang siak tidak lagi perlu diundang ke rumah
untuk mendoakan yang pergi agar selamat
diperjalanan. Minangkabau
memang telah berubah, dan memang harus berubah. Begitulah ajaran adat
Minangkabau. Masalahnya, apakah perubahan itu sesuai dengan arah diinginkan di
dalam kebudayaan Minangkabau sendiri. Itulah masalahnya. Kita bisa berbeda
pendapat dan berdebat tentang jawaban ini. Namun yang pasti Minangkabau telah
banyak berubah. Dalam
masyarakat Minangkabau tradisional, jika seorang anak bujang ingin merantau,
sebelum ia pergi mamaknya akan
bertanya. Pertanyaan itu berkisar sekitar, apakah modal yang dibawanya merantau?
Maksud pertanyaan ini jelas, bukan berapa banyak uang yang ia bawa, tapi lebih
dari itu. Pertanyaan seorang mamak
pada kemenakannya, dalam konteks merantau ini, bisa dianggap sebagai pertanyaan
kebudayaan. Sebetulnya setiap orang sudah tahu apa jawabannya, dan mamak itu sendiri pun sudah tahu apa
yang akan dijawab kemenakannya. Pada
masa lalu, setiap anak bujang yang ingin merantau, sekurang-kurangnya ia sudah
harus menguasai secara baik, yaitu bersilat dan mengaji. Pandai bersilat sudah
dapat dianggap mampu untuk mempertahankan diri, dan pandai mengaji dianggap
sudah mampu memilih dan menempuh jalan yang benar. Inilah pesan dan sekaligus
isi pertanyaan budaya tersebut. Jika seorang anak bujang sudah dianggap mampu
menguasai kedua kepandaian ini secara baik, maka ia akan dilepas pergi merantau.
Bahkan boleh jadi, pergi merantau ini juga merupakan suatu keharusan budaya,
sehingga ia bisa memahami dan memiliki wawasan yang
luas. Nah
sekarang, apakah pertanyaan budaya ini masih diajukan kepada setiap anak bujang
untuk merantau? Jika kita melihat perkembangan perantau di dunia rantau
sekarang, sulit untuk mengatakan bahwa pertanyaan itu masih dipertanyakan kepada
mereka yang akan pergi merantau. Tetapi apakah masih diperlukan mengajukan
pertanyaan yang sama? Atau orang Minang membutuhkan pertanyaan yang baru, dan
yang lebih kontekstual? Pertanyaan
budaya yang dimiliki oleh masyarakat tradisional Minangkabau terhadap anak
bujang yang akan pergi merantau, tampaknya masih tetap diperlukan. Tetapi
bebanya bukan hanya itu. Pertanyaan budaya tersebut memang merupakan nilai dasar
untuk tetap menjadi perantau Minang yang berwawasan kultural, tetapi pertanyaan
tentang apa yang akan dicari di rantau tampaknya perlu dirumuskan kembali.
Sebabnya apa? Dunia rantau yang sudah semakin luas ke seluruh pelosok dunia,
yang juga berarti kampung halaman bukan lagi hanya sekedar daaerah yang
terisolasi, membutuhkan suatu hubungan yang bukan hanya sekedar �kerinduan�,
tetapi juga kesadaran bahwa mitos rantau tidak lagi jendela dunia
satu-satunya. Kita perlu hormat dan memberikan selamat pada dunsanak-dunsanak kita yang berhasil membangun komunitas baru, seperti apa yang terjadi di Sydney sana. Mereka telah memperluas dan memperkaya rantau Minangkabau. Tetapi kita juga perlu mengingatkan yang lain, jika rantau Minangkabau tidak lagi membuka dan membawa ide-ide baru bagi keharusan perubahan Minangkabau, maka benarlah mitos rantau itu telah dikuburkan dengan masa lalunya. Karena itu pula, rantau Minangkabau juga harus tetap menjadi anti-tesis bagi Minangkabau itu sendiri. Bukan memperkuat tesis, apa lagi statusquo. Kalau ini terjadi, maka pertanyaan dalam masyarakat tradisional Minangkabau untuk anak bujang yang akan pergi merantau, semakin diperlukan. |
Title: Maize

