----- Forwarded message from estananto <[EMAIL PROTECTED]> -----
Date: Sat, 23 Nov 2002 04:47:48 -0000
From: estananto <[EMAIL PROTECTED]>
Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [baitnet] Fwd:  Re: Tentang Ulil
To: [EMAIL PROTECTED]

--- In [EMAIL PROTECTED], "estananto" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
--- In [EMAIL PROTECTED], hertasning ichlas <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>  Sejarah agaknya berulang2, dari mulai memoarnya
>  cokroaminoto, diteruskan oleh Cak Nur (meng-enrich
>  formasi sblmnya atas wahib & johan) hingga kini
>  liberal islamnya kawan2 Utan Kayu yg dikawal salah
>  satunya oleh Ulil.

Saya kira kasus Ulil harus dibedakan dengan kasus Cokroaminoto atau Nurcholish
Madjid. Pak Tjokro dan Cak Nur tidak mengutak atik konsep2 baku agama Islam;
mereka mempertanyakan penafsiran atas konsep2 tersebut. Lihatlah, Ulil
menyatakan dengan tegas tentang pernikahan beda agama, yang di dalam agama
manapun tentulah tidak dianjurkan. Pernahkah anda dengar ada doktrin Katolik
atau Protestan atau Hindu yang menganjurkan pernikahan beda agama? Ketika anda
melihat sakramen pernikahan oleh sang pastor, itu adalah ibadah yang mengikat
dua insan yang percaya kepada Kristus. Demikian pula dengan akad nikah dalam
Islam, itu adalah ibadah yang mengikat dua orang yang percaya kepada doktrin
syahadat. Kalau anda ingin membolehkan pernikahan beda agama mestinya tidak
diarahkan ke doktrin agama tetapi ya ke aturan sipil, untuk mereka yang tidak
ingin terikat secara agama. Cak Nur sendiri agak tidak senang ketika diberitakan
putri beliau menikah dengan seorang Yahudi, artinya beliau masih!
 memperhatikan ketentuan agama.
Lain pula Ulil dengan Achmad Wahib. Yang diterbitkan dari Wahib adalah buah
pemikiran pribadi dari buku hariannya. Itu adalah pergolakan pribadi dan tidak
ditujukan kepada publik. Sedangkan Ulil dengan jelas menulis dan mengarahkan
semuanya ke publik.
Ketika Ulil berkata bahwa "maka agama juga harus bisa mengembangkan diri sesuai
kebutuhan manusia itu sendiri. Yang ada adalah hukum manusia, bukan hukum Tuhan,
karena manusialah stake holder yang berkepentingan dalam semua perbincangan soal
agama ini", Ulil seolah2 mengatakan agama itu tidak ada artinya. Kenapa? Karena
justru agama datang untuk mengatur manusia. Manusia beragama, karena mereka rela
diatur oleh agama tersebut. Itulah yang dinamakan "penyerahan diri". Tentang
"kebenaran universal" dari agama-agama, saya tentu saja lebih percaya kepada
Ibnu Arabi atau Jalaluddin Rumi daripada Ulil. Mengapa? Karena dua sufi besar
tersebut menjelaskan kebenaran dengan kesadaran penuh akan posisinya di antara
Tuhan dan kemanusiaan. Atau dengan bahasa yang lebih tepat "agamaku adalah agama
cinta" (Ibnu Arabi). Demikian pula dengan St. Francis of Assisi atau Joan d'Arc
dari kalangan Katolik. Cinta di sini, cinta kepada manusia adalah cinta kepada
Tuhan; akan tetapi cinta kepada Tuh!
an adalah di atas segalanya. Sementara Ulil cenderung berbicara dengan bahasa
pikiran dan bukan dengan bahasa cinta, dia cenderung mengatakan bahwa agama
adalah milik manusia!

>  Mestinya pemikiran islam yg warna-warni ini terus
>  kita pelihara dgn baik. Problem intelektual kita
>  di indonesia salah satunya kemalasan mengakomodasi
>  perbedaan yg karenanya membuat historical bloc
>  yang jadi tak pernah punya tali-temali yang
> strategis.

Percayalah, semakin Ulil melakukan kegemarannya memprovokasi dengan bahasan yang
sebenarnya salah kaprah itu, semakin banyak dia mengundang munculnya ekstremisme
dan radikalisme. Saya memforward artikel sinyalemen terorisme tahun 1999 itu,
dengan maksud menunjukkan bahwa tidak perlu jauh2 seperti Ulil untuk melakukan
koreksi. Siapa Hisham Kabbani? Tidak lain dan tidak bukan dia adalah mursyid
(semacam guru) tarekat Naqsyabandiah (tarekat yang juga populer di Indonesia) di
Amerika. Saya hanya menunjukkan, bahwa kita harus bisa membedakan mana yang
disebut kritis dan mana yang disebut keluar dari konteks...

>  Barusan saya dapat email dari teman di Bandung
>  yg bersama cendikia muslim Jalaluddin Rakhmat turut
>  meramaikan khasanah islam di Nusantara ini lewat
>  aktivitasnya dan tradisi pemikiran yang mereka bawa.
>  Informasinya; Apa yang ditulis saudara Ulil akan
>  segera didiskusikan disana sebagai hal penting.
>  Bagusnya notulensinya akan segera mereka posting
>  buat saya.

Ada baiknya anda membaca buku2 Jalaluddin Rakhmat; anda akan mampu dengan cepat
membedakan antara pikiran Rakhmat dan Ulil...

>  Ulil dan teman2 JIL punya peran baik yg perlu dijaga,
>  mereka membuat banyak orang berpikir ttg islam.
>  Meskipun pemikiran yg mereka sodorkan terkadang
> sangat
>  akrobatis dan syarat sandaran hermenetis yg 'berani'.

Antara Ulil dan teman2 JIL yang lain, sebenarnya beraneka ragam. Kalau anda baca
tulisan Haedar Bagir atau Ihsan Ali Fauzi atau Zuhairi Misrawi yang semuanya
kontributor JIL, akan terlihat dengan jelas di mana posisi Ulil dan di mana
posisi teman2 yang saya sebutkan namanya itu. Mereka tidak meninggalkan tradisi
Islam; mereka hanya menyuguhkan penafsiran baru terhadapnya. Namun yang
dilakukan Ulil sekali lagi adalah seperti meruntuhkan fundamen ketundukan
keagamaan. Okelah, saya setuju bahwa pesan agama harus dibedakan dengan
medianya. Namun ketundukan dalam cinta kepada Tuhan adalah fundamen yang harus
ada, yang tanpanya justru agama akan kehilangan peranan sama sekali!

>  mereka lakukan dgn jalan menguji (test-case) sejauh
>  mana citarasa keislaman orang Indonesia. Mereka
>  melakukan itu dgn menggulirkan isu2 yg nakal dan
>  provoking demi sebuah proyek penyegaran dan geliat
>  berpikir orang Islam Indonesia yg makin hari islamnya
>  makin seperti hapalan. Jelas mereka melakukan itu
>  dgn keberanian yg hampir seperti kenekadan juga
>  ketulusan yg dihitung-itung dan dijaga ketat setiap
>  hari guna tak perosok dalam kenistaan kekuasaan; baik
>  itu kekuasaan popularitas, status hingga kekuasaan
>  yg sebenar2nya.

Mau menyegarkan Muslim Indonesia? Akan lebih baik jika keadilan yang disebut2
Ulil itu diterapkan dalam konsep2 praktis. Atau perilaku hidup jujur (yang
sangat dianjurkan dalam agama) atau mencairkan aplikasi agama yang kehilangan
esensi. Misalnya, Zakat yang terus menerus dilakukan itu esensinya adalah
solidaritas, maka pesannya adalah agar sistem kenegaraan atau sistem
kemasyarakatan - apapun namanya - harus menjamin adanya keadilan sosial. Jangan
sampai ada yang mati kelaparan sementara ada yang hidup berkecukupan...

Salam,

Nano
--- End forwarded message ---


-----------------------------------------------------------------
Baiturrahman Net, No.Rekening: 102.00174.20,
Bank Muamalat Capem Salman, Bandung.
BNI ITB BANDUNG No. Rek : 236.001284819.901 a.n. SYAMRIL
BANK MANDIRI BDG MARTADINATA No.Rek. : 131-0002004937 a.n. SYAMRIL
-----------------------------------------------------------------
This MailingList is provided by Baiturrahman Net
Maintained by   : [EMAIL PROTECTED]
To Post a msg   : Send mail to [EMAIL PROTECTED]
To Unsubscribe  : Mail to [EMAIL PROTECTED]
.                 BODY : unsubscribe baitnet
For more information, send mail to [EMAIL PROTECTED]
with "HELP" in the BODY of your mail (without quote).
-----------------------------------------------------------------


----- End forwarded message -----

RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke