Ass. ww,
Terima kasih sanak Arnoldison atas postingannya. Yang sangat netral dan
nampak jauh dari emosi penyampaian dan pendapat.
Semoga yang masih mempermasalahkan Pulkam dengan segala embel-embel bisa
terbuka hatinya untuk itu.

wassalam
Madahar (35)

-----Original Message-----
From: Arnoldison [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Friday, November 29, 2002 1:14 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [surau] Mudik - Ritus Budaya Warga Kota




   Ritus Budaya Warga Kota
   Oleh Mohamad Sobary 
    
   Kampung yang jauh di mata itu besar pesonanya. Ia memanggil-manggil 
   kita pulang. Dan, panggilannya mungkin lebih sentimentil daripada 
   rasionil. Dan, karena itu pula, perhitungan rasional kaum modern yang 
   menimbang untung rugi dari segi ekonomis, tak berlaku lagi. 
    
   Tidak juga ejekan bahwa mudik itu budaya para pembantu. Pembantu atau 
   bukan, tiap lebaran mesti mudik. Artinya, kita selalu kembali ke udik, 
   ke asal usul kita. Udik itu jauh dari kota. Letaknya mungkin di kaki 
   sebuah gunung. Mungkin di seberang sungai tanpa jembatan. Kendaraan 
   tak mampu menembus ke sana. Kita mungkin harus berjalan kaki sambil 
   menggotong koper besar, yang penuh simbol kemajuan dan citra sukses di 
   Jakarta. Atau di kota besar lainnya. 
    
   Orang pun bilang, mudik itu sentimen primordial. Kita dianggap belum 
   menaruh sentimen kita kepada perkara-perkara lebih besar, lebih luas, 
   lebih universal. Kita masih terpojok atau memojokkan diri di suatu 
   gugusan budaya setempat, yang sempit dan khusus. Tapi, kita masih tak 
   juga peduli. Apa pun kata orang tentang kita, ibaratnya anjing boleh 
   menggonggong dan kafilah akan tetap lalu. Kafilah jalan terus. Bagi 
   kita, mudik ya mudik. Dan, cuma itu. Artinya mudik tak ada hubungan 
   dengan kalkukasi ekonomi. Hidup menggelinding begitu saja. 
    
   Siapa bilang kita tak boleh sesekali --atau setahun sekali saja-- 
   mentraktir diri sendiri, berfoya-foya dan melupakan apa yang disebut 
   ekonomi, finansial dan penghematan? Memangnya kalau sudah menghemat 
   dan hidup dengan kalkulasi ekonomi, rakyat dijamin menjadi 
   konglomerat? Siapa yang menjamin? Orang lupa, para pemudik --rata-rata 
   kelas menengah bawah dan kelas bawah, mungkin malah bawahnya bawah-- 
   adalah kelompok-kelompok yang secara ekonomis masih runyam. Mereka 
   mudah pusing diajak bicara ekonomi. Juga jika diajak menabung, masuk 
   asuransi, atau hal-hal rasional yang menjadi masa depan lebih baik. 
    
   Mereka yang bicara masa depan mungkin kelompok yang hidup ekonominya 
   sekarang enak, relatif mapan, dan urusannya dengan begitu tak terpusat 
   pada upaya memenuhi tuntutan perut. Para pemudik kita, mungkin, 
   kelompok yang hidup sehari-harinya masih direpotkan oleh tuntutan 
   memenuhi kebutuhan perut tadi. 
    
   Mudik, yang merupakan pemborosan, tak dilihat dari segi pemborosan. 
   Mudik malah menjadi sejenis pembebasan. Mudik memberi mereka 
   kesempatan melupakan kerunyaman-kerunyaman ekonomis yang di kota, di 
   tempat kerja yang rusuh, dan menekan menjadi tekanan utama. Maka, 
   munculnya momentum budaya untuk melupakannya, sambil sekaligus 
   dibumbui makna-makna sosio-religius yang begitu penting, jelas 
   disambut dengan gegap gempita. 
    
   Begitu gegap gempita mereka menyambut momentum itu, hingga rela mereka 
   menginap di stasiun, di terminal bus, atau berdesak-desakan di kereta 
   api atau di dalam bus yang kelewat banyak takaran penumpangnya. Banyak 
   hal tak rasionil di sana. 
    
   Bukan cuma tak rasionil dilihat dari perhitungan ekonomi kota yang 
   maju, dan modern, tapi juga dari segi keamanan. Bus yang sarat 
   penumpang digasak saja --oleh sopir yang ingin mengeduk untung 
   berganda-- maupun oleh para penumpang yang cuma melihat ke satu titik, 
   mudik, mudik, dan cuma mudik. Perkara keamanan dihitung kelak, kalau 
   itu sungguh sudah menjadi problem nyata. 
    
   Kali, sawah, bukit, gunung tegalan pohon mangga, pohon jeruk, pohon 
   jambu, dan sekolah, masjid tua, surau kecil, balai desa, jalan baru, 
   gardu baru, puskesmas atau .. atau teman lama, orang tua, nenek, 
   kakek, paman, pak carik, pak lurah, semua menggumpal dalam ingatan dan 
   daya tarik mereka --sekali lagi-- kuat. Kepada mereka gairah tertuju. 
   Dan bahwa demi mereka keselamatan di jalan lupa diperhitungkan. 
    
   Apa yang lebih menjadi perhitungan? 
    
   Mungkin gairah kembali ke masa lalu. Masa lalu itu mungkin pedih. Dan 
   mungkin, sepedih apapun derita mereka di kota, dibanding masa lalu 
   masih tetap lebih baik sekarang. Karena itu masa lalu menjadi indah. 
   Dan kita sekarang diam-diam bersyukur atas karunia itu. 
    
   Masa lalu dikenang, mungkin juga karena indahnya hidup sebagai bocah. 
   Waktu itu belum ada tanggungjawab, belum ada keharusan ini dan itu 
   seperti sekarang. Maka keruwetan sehari-hari di kota, bisa ditutup 
   oleh kenangan akan masa bocah. Indahnya menyemplung di kali, tantangan 
   mencuri mangga, dan aneka macam kekonyolan sejenis itu. 
    
   Motivasi mudik bisa lebih penting, lebih dalam, dan lebih mendasar dan 
   dugaan-dugaan ini. Motivasi psikologis di balik hiruk-pikuk mudik 
   mungkin masih banyak yang belum terungkap. Penelitian belum pernah 
   diadakan. Kita tidak tahu apa persisnya. 
    
   Mungkin cuma para pemudik yang tahu. Tapi tak ada juga jaminan bahwa 
   mereka paham apa yang mereka lakukan. Motivasi bisa mengetuk begitu 
   saja alam bawah sadar kita. Ketukan itu tak usah dijelaskan panjang 
   lebar, karena bukankah ketika sudah menggejala sudah menjadi tradisi, 
   semuanya sudah tampak dan orang pun puas melihat sekedar apa yang 
   tampak? Dan bukankah sering terjadi, banyak tindakan sosial yang tak 
   kita pahami, meskipun kita terlibat di dalamnya, bahkan kita aktor 
   utamanya? 
    
   Gagasan mengenai sentimen primordial dan ejekan lain pun lalu terasa 
   tak relevan. Mudik, dengan begitu, tak ada hubungan dengan sentimen 
   ini dan itu. Kita, sekali lagi, cuma mudik karena mudik menjadi sebuah 
   keharusan budaya. Mudik --tak usah dianalisis statusnya-- sudah 
   menjadi sebuah ritus penting: ritus kebudayaan bagi warga kota yang 
   sumpek, yang longgar, yang sudah, yang senang atau yang hidup anatara 
   longgar dan sumpek dan antara susah dan senang. 
    
   Dan ritus, yang berarti memberi kesempatan menemukan kembali keutuhan 
   diri, kelengkapan elemen hidup yang lama terlupakan, lalu sukar 
   diabaikan. Biaya sosial ekonomisnya mungkin besar. Tapi manfaat 
   sosialnya mungkin juga besar. 
    
   Tapi, sekali lagi, perhitungan untung-rugi itu tak menjadi faktor 
   penting. Kita, para pemudik, cuma hendak menghindarkan diri dari corak 
   hidup kota yang mekanistik, rutin, dan menekan. Mudik memang memberi 
   kita tekanan yang lain. Dan mudik membentuk wajah kerutinan baru. Tapi 
   tekanan dan aneka kerutinan baru itu --barangkali lantaran barunya-- 
   memberi kita gairah. Kita merasa berhadapan dengan tantangan. Dan kita 
   tak mau kalah. 
    
   Bahkan andaikata kalahpun, kita masih sempat memetik rasa bahagia. 
   Ritus sudah kita tempuh. Keharusan hidup lengkap telah dicoba 
   dipenuhi. Pemenuhan itu mungkin membawa kelegaan. Jadi, kita bisa 
   lega, setidaknya setahun sekali saat mudik, mudik, dan mudik itu. 
    
    
   (). 


------------------------------------------------------------------------
                          MUTIARA HADIST
"Pada setiap malam, Allah Tabaraka wa Ta'ala turun kelangit dunia, ketika 
malam tinggal tersisa sepertiga terakhir, lalu berfirman, 'Siapakah yang
berdo'a kepadaKu, lalu Aku kabulkan do'anya! Siapakah   yang   meminta
kepadaKu, lalu Aku berikan permintaannya! Siapa yang meminta ampunan 
kepadaKU, lalu Aku ampuni dia! (HR. Muslim)
========================================================================
  

Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/ 





RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke