Assalamu'alaikum WW

Kalau di sabagian nagari dikenal dengan istilah maanta .
Kadang dilakukan babarapo kalo, eg sabalum puaso , maanta pabukoan pas puaso..., sahari sabalum Hari Rayo ??

Wassalam

Z Chaniago - Palai Rinuak

http://www.mimbarminang.com/cgi-bin/bacav2.cgi?sumber=hotnews/jalang281102

Manjalang, Tradisi yang Masih Hidup

PADANG - Seorang wanita paruh umur, berkebaya merah dan bermake-up seadanya, menaiki sebuah angkutan kota. Tiga anak yang masih kecil menempel lekat pada bapaknya. Si ibu tampak sibuk mengemasi bungkusan besar yang dijunjungnya. Di tangan kanannya masih terjinjing sebuah rantang alumunium dengan motif bunga anggrek berwarna biru.

Sepintas, keluarga kecil tersebut seperti pengungsi, tapi raut wajah dan dandanan kebaya serta pakaian muslim yang dikenakan bapak dan anak-anaknya itu, seakan menegaskan kesan akan berbagi kegembiraan.

Meski tidak lagi sekental suasana puluhan tahun lalu, pemandangan tadi yang ini dikenal sebagai tradisi �manjalang� atau mengantarkan makanan ke rumah sanak keluarga terutama ke tempat mertua, masih merupakan tradisi �wajib�.

Tradisi �manjalang� di berbagai daerah di Sumbar sangat beragam sebutannya, ada yang menyebutnya dengan �menganta konji� (mengantar penganan kolak), �babuko basamo jo mintuo� (berbuka bersama mertua) dan lain sebagainya.

Baik �manjalang� maupun �manganta konji� tujuannya tetap sama yaitu mendekatkan silaturahmi antara keluarga, anak dengan orang tua, cucu dengan nenek dan istri dengan mertua.

Menurut Ketua Majelis Taklim (BKMT) Kota Padang, Ny Fitri Zainoen, tradisi manjalang timbul karena adanya kebiasaan masyarakat Minang di mana sang suami justru tinggal di rumah keluarga istri.

Hal tersebut tentunya, tidak terlepas dari sistem �matrilinial� di mana garis keturunan justru berasal dari tali darah perempuan, katanya.

Karena sang suami menetap bersama keluarga istri, sehingga sulit bisa meluangkan waktu bisa bertemu dengan orang tuanya walaupun terkadang masih berada di kota yang sama.

Kerinduan orang tua terhadap putra dan cucunya semakin menjadi apabila mereka tinggal berjauhan dan anaknya juga jarang pulang ke rumah.

Di samping itu, katanya, kesempatan �manjalang� merupakan saat yang tepat bagi sang menantu mengambil hati mertua, karena keberadaan lelaki di Minang merupakan tonggak penerus tradisi keluarga.

Seorang mertua akan merasakan kebahagian dan kebanggaan tersendiri bila menantu, anak dan cucunya tiba di rumah. Ditambah lagi bila rantang dan bungkusan sang menantu penuh makanan dan beragam kue.

Kebahagian orang tua itu akan lebih penuh lagi, bila sang menantu santun pada mertua, pandai melayani suami dan penyayang terhadap anaknya.

Tak cukup sampai di situ, sang menantu pun harus rajin membantu mertua dan tidak boleh hanya duduk saja bersama suami dan anaknya.

Ia menambahkan, sang ibu mertua biasanya akan berbasa-basi, kalau menantu jangan ikut menyiap kan menghidangkan makanan dan minuman yang dibawa tadi untuk disantap bersama, padahal itu hanya untuk mencoba sampai di mana rasa hormat dan penghargaan terhadap mertua.

Ujian lain yang harus diperhatikan seorang menantu adalah ia harus bersiap mencuci piring dan membersihkan semua bekas makanan bila telah selesai bersantap.

Puncaknya, acara �manjalang� yang berlangsung sore sebelum berbuka sampai saat shalat tarawih tersebut, sang menantu harus meminta maaf dan doa restu menghadapi tibanya hari lebaran.

Penganan yang dibawa ke rumah mertua tidak bisa berupa makanan yang sembarangan saja. Makanan tersebut harus yang pilihan dan memenuhi bebagai persyaratan.

Di samping membawa nasi dan berbagai menu makanan seperti rendang, gulai ikan, goreng ikan, ikan bakar, sup, dendeng dan kaliyo jengkol, ada juga penganan ringan serta buah-buahan.

Kemudian menu berbuka puasa diwajibkan cende (bubur beras yang dibuat bulat) atau konji (kolak), dan agar-agar. Ada juga yang membawa kue-kue beking (sejenis bolu) dan lemang pulut dengan tapai ketan.

Tidak hanya ragam makanan yang harus dipersiapkan, tetapi bahan dan kualitasnya harus yang terbaik. Apabila membawa ikan bakar atau ayam bakar, maka ikan dan ayam tersebut haruslah yang terbesar.

Menurut Bambang, untuk �manjalang� ia memang mempercayakan sepenuhnya kepada isteri, tetapi terkadang ia harus turun tangan membantu mencarikan bahan-bahan yang akan dibawa.

�Meski telah hidup mandiri sejak awal pernikahan, namun untuk urusan manjalang guna menunjukkan penghargaan kepada orang tua, harus berusaha yang terbaik,� ujar Bambang, yang sehari-hari menjabat sebagai asisten Walikota Padang.

Ia mengatakan, sebagai pegawai negeri kebutuhan untuk pergi manjalang tidak hanya dari uang yang ada bahkan tak jarang ia harus utang kiri-kanan.

Sementara itu, menurut Ny Zainoen, menu �manjalang� tidak lagi harus membawa penganan tradisional. Karena pada dasarnya penganan tradisional pada zaman dahulu merupakan bahan makanan yang paling banyak disukai orang.

Demikian juga sekarang, sebaiknya membawa bekal makanan yang banyak dijual dan disukai oleh keluarga yang didatangi. Namun tidak perlu memaksakan diri, katanya.

Menurut dia, kedatangan anak cucu bagi mertua merupakan kebahagian yang tiada tara yang tidak bisa diukur dengan uang, apalagi dengan menu makanan.

�Kesederhanaan dan ketulusan hati adalah yang paling utama yang diinginkan seorang mertua,� ujarnya ibu yang juga mertua dari empat menantu itu.

Manjalang ternyata bisa untuk memperta hankan penganan tradisional dari kepunahan sehingga keberadaannya tetap dapat melanjutkan kebiasaan lama baik dalam masalah bumbu maupun bentuk ukurannya.

Menurut Ida, seorang guru SMP Negeri Padang, kebiasaan berkumpul dengan mertua diman faatkannya untuk mengenang masa lampau.

Ia mengatakan, tiap tahun dia selalu membi carakan apa yang telah terjadi selama kurun waktu yang lalu. Terkadang sering juga membandingkan rasa, jenis dan berbagai bumbu yang dibawa pada bulan Ramadhan yang lalu.

Tak jarang ia dan mertua yang di Pariaman, 40 km dari tempatnya berdomisili, ingin dibuatkan makanan spesial yang pernah ada pada waktu dulu.

Tidak hanya bubur cende yang sudah jarang dijual di Padang, tetapi sambal cabe dengan biji petai dan hati ayam pun sering dibikin bersama.

Belum lagi konji, yaitu bubur ubi jalar yang dicampur dengan pisang batu dan air gula tebu. Dalam istilah lain bahasa Minang �konji� juga berarti lem atau perekat.

Makna kata �perekat� itulah agaknya yang terkandung pada tradisi �manjalang�, yakni tak hanya merekatkan jiwa dalam kedamaian bulan Ramadhan antara mertua dan sanak keluarga dengan membawakan mertua bungkusan penganan, tapi juga mempererat tali silaturahmi setelah mereka berpisah tempat tinggal. anspek




======================================================================
Alam Takambang Jadi Guru
======================================================================




_________________________________________________________________
MSN 8 helps eliminate e-mail viruses. Get 2 months FREE*. http://join.msn.com/?page=features/virus


RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke