Wa alaikumsalam ww

Mak Ajo Buyuang di Marsailes France sarato don-snakes dima sajo barado
Babarapo waktu nan lalu ambo pernah juo posting dengan topik yang sama
"Propinsi Minangkabau Raya" pls find attachment, thanks

(Prop. Minangkabau Raya)  =  (ex Luhak nan tigo plus Rantau pasisia Panjang
& Rantau Pasisia Laweh di Riau Daratan & Kerinci di prop. Jambi & Bengkulu
bagian Utara dizaman sebelum penjajahan Belanda)  =  (ex keresidenan
westkust Sumatera plus sebagian keresidenan Riau & Sebagian Keresidenan
Jambi di era pemerintahan Kolonial) = (Prop. Mianangkabau Raya masih dalam
kerangka NKRI)

Daerah Rantau Minangkabau jangan diartikan sebagai perkampuangan / komunitas
orang Minang yang baru dibentuk oleh perantau Minang seperti di Sydney yang
sebagian besar berasal dari nagari Guguak Randah  dan Guguak Tinggi,
Kecamatan IV Koto Agam itu, tetapi dalam konteks ex wilayah Kerajaan Melayu
Minangkabau selain dari wilayah Luhak nan Tigo

ab alphili von qothomaghafaq paris westkust sumatera
mantan bakal calon gubernur jendral prop. minangkabau raya
mailto:[EMAIL PROTECTED] or mailto:[EMAIL PROTECTED]

-----Original Message-----
From: Zubir Amin [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Tuesday, November 26, 2002 10:32 PM
To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Subject: Prov.Sumbar=Prov.Minang???

Assalamualaikum wr.wb!Selamat menjalani Ibadah Puasa.
Satolo senek,manyalo "bola tabang" tantang kainginan mangganti namo
Prov.Sumbar manjadi Prov.Minangkabau di palanta awakko.Nan tapikia dek jo
Buyuang adolah,apokoh keinginan comantun karena arus reformasi yang
menggulirkan otda atau hanya percikan sabanta dari suasana seminar di Jogja
itu.Kalau dalam ruang seminar kaluanyo,buliah-buliah sajo.Kalau didasarkan
pada galodo Otda,cik lu.Jan lo kito nan di Sumbar ko,latah-latah pulo
sap�rati pemahaman Otda disementara daerah,sadonyo harus
seragam,saetnis,sasuku bangso dlsb.Padohal pengertian ba otda indak comantun
doh.Semangat Otda tetap dalam kerangka negara kesatuan RI,nan barati sia juo
urangnyo nan tingga dan menetap di prov.tu atau apapun nan akan dikarajokan
di prov.itu,sadonyo ndak buliah manyimpang dari kebijakan dan bingkai NKRI.

Jadi,kalau mampopulerkan kini agar prov.Sumbar diganti jo prov.Minangkabau
dengan alasan Otda,sebaiknya lupakan sajolah tu.Kacuali kalau sampai kini
masih eksis nan namo� Prov.Sumatera Tengah."Masih bisa"dita
rimo aka.Baa gak ati,sanak Arman Bahar nan rang Koto Marapak,IV Angkek
Padusunan,Piaman.Nampak� kalau cuma idee sajo buliahlah,tapi kalau mau di
paiyokan sacara sungguh2,nampaknyo awak ko akan ma elo aua sungsang.

Ikolah senek,salo jo Buyuang dari Marseille,semoga ota awak dipalanta ko
tetap dalam alur nan patuik secara Minangi.Wass.wr.wb.A.Buyuang(62).
----- Original Message ----- 
From: Nofendri T. Lare 
To: Milis RantauNet 
Sent: Tuesday, November 26, 2002 12:57 PM
Subject: [RantauNet.Com] PROVINSI MINANGKABAU #2
Oleh Edi Utama
PENOLAKAN saya untuk mengganti nama Provinsi Sumatra Barat menjadi Provinsi
Minangkabau (14 Juni 2000), mendapat tanggapan yang serius dari Angku Rusdi
Wahab, seorang pekerja sosial dan menetap di Maninjau. Dengan judul tulisan
"Provisi Minangkabau, Kenapa Tidak" (21 Juni 2000), Angku Rusdi Wahab
mengajukan dasar hukum yang memungkinkan digantinya nama Provinsi Sumatra
Barat menjadi Provinsi Minangkabau. Dasar yang digunakan adalah produk
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999, serta sistem pemerintahan yang dibentuk
kolonial Belanda menjelang meletusnya Perang Dunia II, yakni tentang
Keresidenan Sumatra Barat 1937-1938. Keresidenan Sumatra Barat ini
dianggapnya sebagai suatu perubahan yang bersifat reformis dalam sistem
pemerintahan di Minangkabau(?). Berdasarkan berbagai argumen, akhirnya Angku
Rusdi Wahab berkesimpulan, bahwa cukup alasan untuk mengganti nama Provinsi
Sumatra Barat menjadi Provinsi Minangkabau. 

Tentu saja perbedaan pendapat ini boleh saja. Namun pada kesempatan ini saya
ingin menegaskan kembali pandangan saya tentang topik perbincangan ini.
Alasan penolakan saya jelas, karena saya melihat Minangkabau sebagai suatu
konsep kultural. Jadi kalau berbicara tentang konsep wilayah, maka yang
dimaksudkan adalah wilayah dalam pengertian kultural tersebut. Rasanya tidak
mungkin menarik pengertian lain tetang Minangkabau, selain mendasarinya dari
konsep kultural ini. Sementara Angku Rusdi Wahab, telah mencampur-adukan
antara konsep kultural dengan konsep struktural-politis, yaitu antara
Minangkabau dengan Sumatra Barat yang jelas-jelas menunjuk pada konsep
struktural-politis. Pemerintahan kolonial Belanda pun tidak menyebut
Keresidenan Minangkabau, tetapi tetap Keresidenan Sumatra Barat. Atau,
Sumatra Westkust dalam bahasa mereka. Jadi di sinilah kerancuan itu dimulai,
karena ada perbedaan yang mendasar antara pengertian geokultural dengan
geopolitik. Namun Angku Rusdi Wahab, tidak lagi melihat perbedaan ini
sebagai hal yang prinsipil. Sebagai suatu konsep kultural, Minangkabau
memang mengenal adanya pengertian wilayah budaya, yaitu luhak dan rantau,
yang bersifat dialektis dan dinamis. Wilayah luhak yang terdiri dari
nagari-nagari ini, mungkin bisa dipetakan secara administratif-geografis,
namun wilayah rantau menurut konsep kultural Minangkabau, bagaimana
memetakannya, karena begitu dinamis dan terus berkembang.

Saya dapat memahami jalan pikiran Angku Rusdi Wahab, sejauh ia berbicara
tentang wilayah dalam pengertian geopolitik Sumatra Barat, yang mengacu
kepada landasan historis yang dibuat pemerintahan kolonial Belanda. Namun
sulit untuk mengkaitkannya dengan Minangkabau dalam pengertian wilayah
kultural? Bagaimanakah memposisikan kepulauan Mentawai dalam konsep Provinsi
Minangkabau misalnya, pada hal secara geopolitis adalah bagian dari wilayah
Provinsi Sumatra Barat. Atau, bagaimanakah mendudukkan konsep rantau dalam
pengertian geopolitis, pada hal konsep ini sangat penting secara kultural
bagi Minangkabau.   

Inilah antara lain yang menjadi dasar pemikiran saya untuk menolak mengganti
nama Provinsi Sumatra Barat menjadi Provinsi Minangkabau. Selain mengacaukan
pengertian konsep kultural Minangkabau, juga memungkinkan terjadinya
dominasi politik dan kebudayaan dari Minangkabau terhadap minoritas yang ada
di Sumatra Barat. Bukankah kebudayaan Minangkabau menolak segala dominasi
dalam bentuk apapun.

Kemudian, yang juga menjadi persoalan bagi saya membaca tanggapan Angku
Rusdi Wahab, adalah pemikirannya yang mengandung kontradiktif. Pada satu
sisi ia mengajak kita perlunya kembali ke akar budaya, dengan menjadikan
wilayah Provinsi Minangkabau sebagai Motherland. Namun pada sisi lain ia
juga mengukuhkan akar historis yang dibentuk oleh pemerintahan kolonial
Belanda, sebagai dasar dari pembentukan Provinsi Minangkabau. Menurut saya,,
kalau kita mau berbicara tentang "kembali" ke akar budaya Minangkabau,
apapun yang ingin kita kembangkan sekarang ini tentunya harus merujuk kepada
konsep budaya Minangkabau itu sendiri. Artinya, legitimasi kulturalnya
haruslah berangkat dari konsep, nilai-nilai dan pemahaman budaya yang
dibentuk dan dikembangkan oleh sejarah kebudayaan dan masyarakat Minangkabau
itu sendiri. Jadi legitimasinya bukanlah oleh dan dari pemerintahan kolonial
Belanda, yang bagaimanapun tetap merupakan pemerintahan jajahan. 

Dengan demikian, kalau kita mau berbicara untuk mengembangkan Minangkabau
sebagai suatu wacana perubahan, seyogianya haruslah juga berangkat dari
nilai-nilai keminangkabauan itu sendiri. Oleh karena itu muncul lagi
pertanyaan, apakah dalam sejarah kebudayaan Minangkabau kita bisa menemukan
pengertian tentang wilayah administratif pemerintahan atau, geopolitik?
Kalau itu ada, maka itu tidak lain hanya terdapat dalam basis kultural
masyarakat Minangkabau yang kita sebut nagari. Di luar itu semua adalah
ciptaan dari penguasa, baik penguasa kolonial maupun oleh pemerintahan kita
sendiri, yang sampai kini masih belum juga memberikan otonomi yang
sungguh-sungguh terhadap basis kultural Minangkabau tersebut. 




--- Begin Message ---
FYI                               
Thanks
ABP Malin Bandaro
> ----------
> From:         J.Dachtar[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Reply To:     [EMAIL PROTECTED]
> Sent:         Sunday, May 20, 2001 4:13 PM
> To:   [EMAIL PROTECTED]
> Subject:      RE: [RantauNet] PROPINSI MINANGKABAU? RAYA?
> 
> Padek sanak komah. Kok indak salah paradaban tu iyo tumbuah dari akumalasi
> jo seleksi kajadian dari maso ka maso. Masyarakat nan baradab pandai
> mangoreksi kasalahan maso lalu untuak mambudayakan jo mampamudah kahidupan
> manusia di 
> zamannyo. Untuak contoh nan paliang sederhana: kok baraja kazaman Nabi
> saat agamo di pakai untuak mangaluakan 
> masyarakat dari ka Jahiliah-an, mungkin ndak kasampai saroman kini dima
> agamo malah banyak dimanfaaikan  untuak masuak 
> kazaman jahiliah baru. Jadilah masyarakaik awak masyarakaik Jahiliah
> baugamo. 
> JD
==============================================
> Haa tu hah, tu namuah tu, bialah nak sato pulo saya sakaki:
> Sejak abad ke 7 hanyolah Kerajaan Melayu Minangkabau sebagai kerajaan
> pertama maupun terakhir dan satu2nya yang pernah bakuaso didaratan
> Sumatera Bagian Tengah, arati e bana caro kini disabuik sabagai daerah
> propinsi Sumatera Barat, Sebagian besar daerah di Propinsi Riau / Daratan
> dan Sebagian daerah di Propinsi Jambi.
> 
> Kok lai ado bana Kesultanan2 kecil Melayu non Minangkabau seperti
> Kesultanan Siak [kini tasabuik sebagai Kabupaten Siak hasil pemekaran dari
> kabupaten induk Bengkalis] maupun Kesultanan Palalawan [kini lah manjadi
> pulo Kabupaten Pelalawan hasil pemekaran dari kabupaten Kampar] namun bagi
> urang2 yang jujur terhadap sejarah pasti mangarati bahwa kedua kesultanan
> tersebut mempunyai hubungan Vertikal ka Istano Pagaruyuang, arati e ado
> pakirim Ameh Manah tando katunduakan kapado Daulat Pagaruyuang.
> 
> Di dindiang Istana Sultan Siak terdapat semacam prasasti yang mangatokan
> bahwa Penabalan / pengangkatan Sultan Siak harus mandapek idzin dari Rajo
> Minangkabau sarato Pangulu Luhak Nan Tigo (antah kok prasasti tu kini alah
> ba andokan dek urang2 tertentu untuak mukasuik tertentu pulo).
> 
> Kok ado bana hubungan kedua kesultanan tersebut dengan Kesultanan Lingga
> maupun Kesultanan Penyengat di daerah Kepulauan Riau maupun kesultanan2
> lain didaerah Semenajung Tanah Melayu (Malaysia sekarang) nan jaleh kedua
> kesultanan tersebut tidak pernah menguasai seluruh wilayah Riau Daratan
> arati e bana kekuasaan Sultan tersebut indak sampai bana ka hulu mandakek
> kabateh daerah pegunungan / Bukit Barisan.
> 
> Kesultanan Siak iyo Siak dibagian Muaro sajo indak sampai ka hulu2 sungai
> Siak tu bana seperti Tapung dan sekitarnya, terbukti di daerah Tapung
> bahaso dan budaya rakyatnyo adolah Budaya Tigo Baleh Koto Kampar nan
> manganut ajaran Datuak Parapatiah dan Datuak Katumangguangan, baitu pulo
> Istana Kerajaan Pelalawan nan talatak arah ka muaro Batang Kampar indak
> sampai bana pengaruhnyo kadaerah hulu bahkan di Taratak Buluah sajo
> penduduk aslinyo basuku bantuak Urang Tigo Luhak, jadi jelaslah bahwa
> memang tidak pernah Kesultanan Siak maupun Pelalawan manguasoi seluruh
> daerah Riau Daratan.
> 
> Baa lai? Dizaman Penjajahan Balando saluruah rakyat Minangkabau dibawah
> pimpinan unsur2 Tali nan tigo sapilin, Tungku nan tigo sajarangan [niniak
> sarato jo mamak, urang alim sarato jo ulama, urang nan cadiak sarato
> pandai] tanpa saling mendominasi satu sama lain ba-samo2 bangkik malawan
> Kolonial Belanda labiah2 satelah agak talambek menyadari bahwa kaum adat
> di Luhak
> Tanah Data balawanan jo Kaum Paderi samo aratinyo malawan dunsanak
> sendiri, tapi bialah walau talambek labiah elok pado lupo samo sakali, tu
> mah akhianyo kemegahan Minangkabau pupuih baganti dengan penderitaan
> dibawah penjajahan.
> 
> Dengan berhasilnya Belanda menguasai semua daerah di nusantara tak
> terkecuali kerajaan Minangkabau dijadikan satu wilayah administrasi
> pemerintahan Hindia Belanda, hingga 1958 pemerintah pusat berdasarkan
> Undang2 no.61 tentang Pembentukan Daerah2 Swatantara Tingkat I  maka Ranah
> Minang, Tanah Jambi dan Riau / Kepulauan dijadikan Propinsi Sumatera
> Tengah
> yang berdiri sendiri.
> 
> Ditahun 1959 Pemerintah Pusat memecah Propinsi Sumatera Tengah menjadi
> Propinsi Sumatera Barat, Riau dan Jambi, sayangnya pembagian daerah
> tersebut tidak memperhatikan nilai2 kesatuan budaya sehingga sebagian
> bekas wilayah
> Kerajaan Minangkabau menjadi ciut, dengan catatan kita kehilangan wilayah
> kesatuan adat dan budaya Minangkabau antara lain Muaro Takuih, Muaro Mahek
> sampai ke Bangkinang, Kuok, Aia Tirih, Danau Bingkuang, Taratak Buluah
> hinggo ka Gunuang Sahilan, tamasuak Tapuang, Patapahan, Koto Garo, Rokan,
> Tambusai, Rokan Hulu Duo Koto yang kaya Migas, hinggo ka daerah Taluak
> Kuantan, Lubuak Jambi dan Kuantan Singingi.
> 
> Baa kini lai? Namo Minangkabau lah di ilangkan urang dari kedaulatan
> wilayah dituka jo istilah Riau, sasudah tu ditambah lo jo tojeh ciek lai
> seolah2 urang Melayu non Minangkabau yang bahaso sehari2nyo mirip bahaso
> urang di semenanjung Melayu (Malaysia kini) dikesankan se-olah2 sebagai
> penduduk asli diseluruh propinsi Riau, labiah2 dek karano propinsi nyo
> banamo propinsi Riau pado hal nan arah ka pantai iyo batua tapi nan ma
> arah kahulu tantu dunsanak awak we e tu mah, dek indak ado kaum cadiak
> pandai nan rajin basorak, lah diasak urang labuah mangkeh lalu, lah dituka
> urang cupak dek rang panggaleh, labuah lah diasak urang lalu, hinggo nan
> disabuik urang minang adolah urang Sumbar dan dicap sebagai pendatang /
> perantau di daerah
> Riau, kito sebagai urang Melayu Minangkabau yang menetap di Pakanbaru dan
> sekitarnya, di nagari niniak muyang kito sendiri dicap sebagai urang
> pendatang, kok indak tau kito maso kito indak tau indak kaba'a bagai doh,
> itulah kini nan marumik, tambo adat yang mangatokan " jauah nan buliah
> ditunjuakkan, dakek nan buliah dikakokkan, kok ilang tulisan dibatu di
> limbago ado juo" sebagai tanah pusako dari niniak muyang urang Minang lah
> indak bulek lai.
> 
> Jadi kok kini tampaknyo alah ado kesadaran kito untuak manjujuang tinggi
> perjuangan niniak muyang kito saisuak, seperti kamaubah namo propinsi
> Sumatera Barat ex Keresidenan Sumatera Barat yang produk Bulando tu
> manjadi Propinsi Minangkabau iyo paralu disokong, mari kito dorong
> sumangaik kejuangan Datuak Perpatiah dan Datuak Katumangguangan didado
> kaum cadiak
> pandai dan niniak mamak kito, jan hanyo manjadi ciloteh dipalanta ko sajo.
> 
> Kok dipikia2 lah katinggalan kito ko mah, jagolah lai, Kerajaan Siak lah
> manjadi kabupaten Siak di Riau, Kerajaan Pelalawan juga di Riau lah
> manjadi kabupaten Pelalawan,  Kerajaan Banten lah mancogok jo Propinsi
> Banten, baitu pulo Propinsi Papua, baa gak ati?
> 
> Sebagai Informasi, indak lamo lai propinsi Riau kapacah duo atau mungkin
> bisa pacah tigo, partamo kalahia Propinsi Riau Kepulauan dengan ibu kota
> Tanjuang Pinang, kapatangko urang Bengkalis, Inderagiri Hilir, Kodya Dumai
> dan Rokan Hilir, Siak dan Pelalawan nandak tagak sorang pulo manjadi
> Propinsi Riau Pesisir, ini sangat mungkin terjadi, kok iyo ko ha tinggalah
> Riau Daratan yang terdiri dari Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Kampar dan
> Kabupaten Kuantan Singingi yang berbasis etnik dan kultur Melayu
> Minangkabau, kok lah bantuak iko, lah buliah pulo kito ciek kan manjadi
> Propinsi Minangkabau Raya, samo2
> kito pacintokan, antah kok indak?
> 
> wasalam
> Arman Bahar Piliang Malin Bandaro
> 
> > ----------
> > From:       edyutama[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> > Reply To:   [EMAIL PROTECTED]
> > Sent:       Saturday, May 19, 2001 8:57 AM
> > To:         [EMAIL PROTECTED]
> > Subject:    [RantauNet] PROPINSI MINANGKABAU?
> > 
> > Dunsanak kasadonyo,
> > Ambo kirimkan kolom "Basilang Kato" Ambo di Mimbar Minang tahun lalu,
> nan bajudul Propinsi Minangkabau? Sayang kini ambo alah baranti maiisi
> kolom tu, tapi jumlahnyo ado sakitar 25 tulisan.
> > "Basilang Kato"
> > PROPINSI MINANGKABAU?
> > Oleh Edy Utama
> > 
> > Dalam suatu pertemuan bulan lalu di Yogyakarta, saya diminta tanggapan
> oleh sejumlah perantau Minang disana, bagaimana kalau Propinsi Sumatera
> Barat diganti namanya dengan "Propinsi Minangkabau". Gagasan untuk
> mengganti nama Propinsi Sumatera Barat ini akan mereka sampaikan sebagai
> suatu himbauan kepada Pemerintah Sumatera Barat. Rencana gagasan ini akan
> mereka bawa ke dalam suatu pertemuan formal dalam bentuk seminar dan
> musyawarah di kota "Berhati Nyaman" ini.
> Saya tidak kaget mendapatkan permintaan ini, karena dalam banyak
> kesempatan saya melihat "orang rantau" jauh lebih konservatif dalam
> melihat Minangkabau, karena banyak di antara mereka hidup dalam wilayah
> nostalgia. Saya langsung menjawab dan dengan terus terang mengatakan tidak
> setuju dengan gagasan tersebut. Kelihatannya mereka tidak senang dengan
> jawaban
> saya, karena pada saat itu tampaknya mereka begitu bersemangat
> membicarakannya. Dengan cepat salah seorang di antara perantau itu
> bertanya, apa alasannya saya tidak setuju. Pertanyaan ini langsung saya
> jawab. "Menurut saya Minangkabau tidak
> dapat dipahami sebagai suatu wilayah administrasi pemerintahan.
> Minangkabau adalah wilayah budaya. Ada daerah darek  atau sering disebut
> luhak dan ada daerah rantau. Meminjam istilah Cristine Dobbin, daerah
> luhak adalah perkampungan tradisional orang Minangkabau, yang wilayahnya
> tetap dan tidak berubah. Namun daerah rantau, sangat dinamis dan terus
> berkembang sesuai dengan perkembangan migrasi orang Minangkabau sendiri.
> Kedua daerah ini dipertalikan bukan oleh ikatan struktural, tetapi
> dipertautkan oleh ikatan kultural dan geneologis yang disebut dengan anak
> nagari.  Dalam pengertian ini bagaimana kita akan mempetakan wilayah
> Minangkabau menjadi suatu propinsi? Ada banyak wilayah Minangkabau secara
> kebudayaan yang terdapat
> dipropinsi lain di Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri. Jadi bagaimana
> membuat Propinsi Minangkabau berdasarkan pengertian wilayah administratif
> pemerintahan", kata saya dengan penuh semangat. 
> Tapi bukan orang Minang namanya kalau tidak bisa menjawab setiap soal.
> Kato bajawek gayung basambuik, begitulah ungkapannya. Tak kurang
> bersemangatnya, salah seorang orang rantau tersebut yang bergelar Datuk
> langsung menjawab. "Hanya dengan menukar nama Propinsi Sumatera Barat
> dengan Propinsi Minangkabau, orang Minang baru bisa mambangkik batang
> tarandam. Hanya dengan cara ini rasa percaya diri orang Minang bisa
> dibangkitkan". Banyak lagi alasan yang dikemukakan, dan tampaknya niat
> mereka sudah bulat untuk mengusulkan pergantian nama ini.
> Tanpa mau mengalah saya pun kembali menjawab dengan bersemangat. "Belanda
> dulu gagal membuat negara Minangkabau, karena tidak mampu dan bisa
> mempersatukan nagari-nagari yang bersifat otonom tersebut. Tapi yang
> paling merugikan kalau sempat membuat Propinsi Minangkabau, tiba-tiba Alam
> Minangkabau bisa menjadi sangat sempit dan statis. Bukankah ajaran adat
> menyebutkan, Alam Minangkabau itu jikok dikambang saleba alam dan dibalun
> saleba kuku".
> Namun penjelasan saya ini tampaknya tidak memuaskan mereka. Tetapi
> begitulah, masyarakat Minangkabau telah jauh berubah. Kalau kita kembali
> belajar pada sejarah perkembangan intelektual Minangkabau, yang begitu
> dinamis, biasanya orang yang merantau justru selalu pulang membawa wacana
> pemikiran baru ke kampung halamannya, sehingga pemikiran berkembang dengan
> pesat. Namun sekarang tampaknya banyak orang rantau yang ingin "pulang
> kampung" dengan hanya mengusung sejarah masa lalu. Inilah yang mereka
> tawarkan kepada orang kampungnya. Saya kira inilah salah satu sumber
> kemunduran orang Minangkabau, yang banyak dibicarakan belakangan ini. Saya
> tidak percaya orang Minangkabu "mundur" (?) atau stagnasi karena negeri
> ini bernama Propinsi Sumatera Barat. Menurut saya sekarang, masalah yang
> dihadapi orang Minang sekarang, karena terlalu banyak bernostalgia
> terhadap masa lalu, sehingga mereka kehilangan sikap kritis, yang menjadi
> ciri khas orang Minang.
> Padang,  14 Juni 2000.
> RantauNet http://www.rantaunet.com
> =================================================
> WebPage RantauNet dan Mailing List RantauNet adalah
> servis dari EEBNET http://eebnet.com, Airland Groups, USA
> =================================================
> 
--- End Message ---

Kirim email ke