Assalamualaikum.Wr.Wb.

Perlu saya tambahkan,kak Fatin hamamah ini,bukan
sekedar pandai menulis puisi,tetapi membaca puisinya
sekaligus,..sangat..sangat MENGAGUMKAN SEKALI, bisa
terpana kita,bila mendengar kak Fatin baca puisi.

Saya mengenal kak Fatin semenjak msh di Diniyyah
Puteri Pd Panjang lagi,(kakak kelas mgkn setahun,atau
dua thn diatas saya ),sewaktu saya baru tiba di
kairo,beliau ini akan menikah dgn salah seorang
mahasiswa program Doktoral.Dan ketika beliau akan
melahirkan anaknya yg pertama,suami berada di
Jeddah,saya seorang yg menunggui baliau
melahirkan,kenangan yg tak dapat sama2 kali
lupakan,baik saya,apalagi beliau,sering diulang2nya
kejadian tsb.

Memang sdh takdir Allah,suami kak Fatin ditugaskan
menjadi atase Pendidikan di Kairo.Kami ketemu lagi,dan
msh tetap akrab.

Beberapa kebaikan sekolah Diniyyah Puteri Pd Panjang
yg saya rasakan adalah kita didik menjadi wanita yg
serba bisa,baik dlm urusan luar,maupun Rumah
tangga.Kita diajarkan bgmn cara mendidik,mengajar,juga
segala macam seni,sesuai dgn hobby kita
masing2,pidato,nyanyi,drama,kaligrafi,berorganisasi,menjahit,bahkan
spi membuat kain batik sekalipun.

Boleh dikatakan fasihnya saya membaca Al Qur'an dan
hafal Qur'an berkat dr bimbingan guru2 di Dinput
itu.Sungguh suatu jasa yg tdk bisa saya lupakan sama
sekali.

Banyak dr tammatan Din-put ini yg berhasil jadi
org,byk juga yg tdk berhasil (gagal ),tergantung dr
pribadi masing2 orang.

Yang selalu menjadi tanda tanya saya,setelah lebih
kurang 13 thn meninggalkan Din-Put itu,apakah
Pesantren Din-Put msh spt masa2 saya dahulu.Dan
Diniyyah sebenarnya salah satu Asset Sumbar yg pantas
utk dibanggakan,krn betapa byknya dahulu org2 yg
berasal dr panca negara belajar di sana.Wallhu a'lam
saat ini.Akankah Sumbar akan kembali maju spt
dahulu,.?? Wallahu a'lam.

Amat disayangkan banyak dari mahasiswi Din-Put,yg
berhasil,selalu keluar daerah Sumbar.Ini dikarenakan
byk yg dapat jodoh,diluar lelaki Minang kabau.Adapun
yg dpt jodoh lelaki Minang,tetapi tinggal di luar
daerah Sumbar.

Sayangnya Diniyyah Puteri itu,sekolah milik keluarga
Din-put,dan msh byk hal yg membuat para Almamater nya
tidak mau kembali mengabdi disana.Pengurusnya mgkn msh
bersikap Otoriter sekali.Dan inilah alasan utama saya
menolak disaat ditawarkan utk memimpin STIT (bagian PT
nya).Kita terlalu diikat,diatur,dan ngak bisa
bernafas,juga bergerak memajukan Diniyyah itu sesuai
dgn apa yg kita inginkan.Dan saya kira ini juga salah
satu penyebab mundurnya sekolah Din-Put tsb.
Apakah semua itu akan berubah spt dahulu,..?Wallahu
a'lam.

Dan melalui RN ini saya berterimakasih krn dgn adanya
RN,saya byk menemukan org2 yg ibunya tammatan
Diniyyah,termasuk teman akrab yg sangat saya
hormati,dan sayangi sekali,ternyata berasal dr
Diniyyah juga.Hal ini menambah keakraban saya
terhadapnya semakin bertambah.

Meski saya blm pernah bartatap muka dgn beliau ini
langsung,tapi seakan2 sdh dekat sekali,dan sdh seabad
lebih mengenalnya.Keakraban melalui dunia
maya,terkadang membuat seseorang terasa dekat dr
kampung halaman sendiri,meski ia berada jauh dr
kampung,apalagi ada kaitannya dgn almamater dimana
kita menimba ilmu dahulunya.

Wassalam.  " rahima "
 
--- "Nofendri T. Lare" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> MaizeSajak-sajak Fatin Hamama R Syam
> 
> Kurengkuh kau ke dada
> setelah melaut dalam dahaga
> gerimis di keningmu dan angin yang berhenti
> menyisakan ombak menderu
> 
> ribuan daun gugur
> dan langit yang tinggi berwarna merah menyala
> di pucuk pucuk awan
> duka menetes
> pelan
> 
> bayang bayang hitam dalam sinar petang
> meluruhkan sajak dalam sunyi yang perih
> 
> sehelai sayap tersingkap
> patah di tiang waktu
> merayap
> perahu pulang pada tanah bertuan
> kandas berlabuh di tepian keruh
> 
> dan badai menyisakan topan
> kau kembali dalam masa tak dinanti
> di tiang gantungan kau patriot
> yang menerima cinta sebagai hukuman
> 
> Cairo, 2002
> 
> SIAPAKAH YANG MENJEMPUT MATAHARI
> mengenang MB
> 
> Siapakah yang menjemput matahari
> hingga bulan sampai di sini
> sekelompok undan terbang ke langit
> mengaduk mega jadi hitam
> menanam badai dalam gerimis
> 
> Siapakah yang menjemput matahari
> hingga angin jadi resah
> cakrawala mengubah nama
> biru laut melepaskan warna
> padanya duka tak terkata
> 
> Sekelompok undan terbang ke langit
> mengabari awan membawa wangi kamboja
> bias mimpi tak bermana tepi
> siapakah yang pergi
> dukanya tetap di sini
> 
> Jakarta, 1999
> 
> 
> SAIDAH
> 
> Saidah, kaukah itu
> mengepul seperti asap
> hilang ditelan angin
> 
> Kau menangis
> air matamu mengalir diserap tanah
> kau bernyanyi
> suaramu sesak di rimbun semak
> 
> Siapa kau, Saidah
> doamu tumpah di tepi sajadah
> kau bungkus duka dalam palunan jubah
> mengapa kau diam termenung di jendela
> risaukah karena berpisah
> 
> Saidah
> kau gamang
> karena hidup
> tak pernah ramah
> 
> Cairo, 1990
> 
> 
> HAYY SABI
> 
> setelah haflah dan musik berhenti
> kita masukilah malam malam panjang
> aku di sampingmu, kekasih
> 
> sehelai benang menunggu tenunanmu
> kita buat apakah kain ini bila jadi?
> bagimu mungkin cocok sarung atau gamis
> bagiku cukup selendang saja
> atau bila ada sisa kita buatlah atap rumah
> 
> betapa ingin aku punya tempat tinggal
> melepasmu setiap pagi dengan kecupan
> menunggumu pulang dengan harapan
> 
> betapa aku ingin sebuah halaman
> tempat anak anak berlarian
> dan menanam mawar untuk kemudian
> kutaruh di jambangan
> 
> betapa aku
> ingin
> 
> Cairo, 1989
> 
> 
> LARON
> 
> Lampu mercuri di jalan
> Setelah senja berhujan
> Terang dan cemerlang
> 
> Ribuan laron
> Terbang dari sarang mengejar cahaya
> Bagitu mendekati tujuan
> Matanya perih sayapnya patah
> 
> Laron jatuh kepayahan
> 
> Di bawah tiang lampu
> Laron tersungkur bertebaran
> Meregang nyawa penuh penyesalan
> 
> Laron
> Korban impian menyilaukan.
> 
> Cairo, 2001
> 
> 
> NYANYIAN AWAN
> 
> Ketika hujan berhenti kau pun sudahi nyanyi
> sebilah nada menggantung di sisi awan
> matahari enggan mengusir gerimis pagi
> 
> Kembali sunyi menyanyi-nyanyi tanpa tari
> irama itu pun berhenti
> teruslah kau mengemasi
> betapa denting mengiris pelangi
> sebingkah biru kau reguk
> dan kau muntahkan
> 
> Langit dipenuhi awan
> hujan diam diam
> menitik lagi
> 
> Jakarta, 1999
> 
> 
> ---- raster (ada foto) -----
> 
> Fatin Hamama R Syam lahir di Padang Panjang, 15
> November 1967. Ia aktif menulis dan membaca puisi
> sejak usia 8 tahun, dan tetap ditekuninya saat
> menimba ilmu pada fakultas teologi Universitas Al
> Azhar, Cairo. Sekembali ke Indonesia ia menjadi
> pengurus Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Pusat.
> Sejak 2001 ia kembali ke Cairo mengikuti suaminya
> yang menjadi Atase Pendidikan dan Kebudayaan
> (Atdikbud) KBRI Cairo, dan kini Fatin menjadi Ketua
> Umum KSI Korda Cairo. Tahun 1997 ia mengikuti World
> Congress of Poets di Korea Selatan, tahun 1999
> mengikuti Pertemuan Sastrawan Nusantara di Malaysia,
> tahun 2001 menghadiri undangan Australia Indonesia
> Arts Alliance (AIAA) untuk membacakan sajak-sajaknya
> di Negeri Kanguru, dan tahun 2002 mengikuti Festival
> Penyair Dunia di Malaysia. Sajak-sajaknya
> dipublikasikan di berbagai media sastra dan buku
> antologi sajak. Buku kumpulan sajaknya, Papyrus,
> terbit tahun 2002 (KSI Korda Cairo). Sajak-sajaknya
> pada Oase edisi ini diambil dari Papyrus.
> 
> 


__________________________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail Plus - Powerful. Affordable. Sign up now.
http://mailplus.yahoo.com

RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke