Menuju Utara (3)

Berpenduduk sekitar 900.000 orang, Sendai merupakan kota terbesar di 
wilayah bagian utara Jepang yang enak dihuni. Pemerintah kota memberikan 
perhatian khusus terhadap kenyamanan dan keasrian yang dipersembahkan 
kepada penduduknya yang rajin bayar pajak dan siap ditanyai setiap sen 
pengeluaran pajak tersebut.

Saban kali menginjakkan kaki di Sendai, mengunjungi toko elektronika dan 
pusat perbelanjaan dekat stasiun hampir tidak pernah terlewatkan yang 
bikin saya bisa tinggal di sana seharian. Kendati jarang berbelanja, 
jalan-jalan dalam pertokoan elektronika besar luas yang selalu 
menghadirkan barang-barang tercanggih mengirimkan gelombang motivasi kuat 
menggetarkan jiwaku dan seringkali melahirkan inspirasi baru. 

Hanya saja bersebab menenggang perasaan bini yang tidak begitu tertarik 
akan peralatan elektronika tersebut, sebentar saja aku dapat memuaskan 
kebutuhan rohani ini dan beranjak menuju pusat perbelanjaan yang berjarak 
dua tiga langkah dari sana. Nyaman rasanya menapaki pusat perbelanjaan 
yang memiliki jalan lebar dan berkubah tinggi itu dengan deretan toko 
yang beragam-ragam.

"Mengapa orang begitu tertarik dengan batu yang diasah ini?", tanyaku 
kepada bini yang asyik mematut-matut cincin berlian yang berkilauan 
dipantuli cahaya.

"Karena batu ini ada."

"Konkritnya?"

"Karena keindahannya yang tiada tara."

"Indah memang, tapi membuang uang puluhan, ratusan, dan bahkan jutaan yen 
untuk benda padat yang tidak bisa dimakan ini?"

"Hanya yang berperasaan halus saja yang mampu memahami nilainya."

Pahit aku tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala dalam hati akan 
ketidakmengertian banyak manusia yang bisa terpuaskan jiwanya lewat 
pemakaian berlian seperti cincin ini. Bagi saya yang terbiasa hidup 
sederhana dalam kepraktisan, maunya cincin yang tidak berguna ini 
dilantingkan ke comberan. Mamalak sajo.

Sehabis menyantap makan malam di restoran yang terdapat di lantai dua 
stasiun, kami langsung beli tiket kereta bawah tanah manakala neon-neon 
berwarna-warni mulai benderang mendandani wajah kota Sendai. 

Beranda stasiun bawah tanah berlampu putih susu merambah lebar, tetapi di 
kedua mulut terowongan tempat keluar masuk kereta sangatlah gelap gulita, 
buram senyap, dan dingin menakutkan. Lamunanku menerawang ke makhluk 
angkasa luar dalam film Man in Black II yang mendiami terowongan kereta 
bawah tanah yang bermuka amat mengerikan dan mirip benar dengan muka 
Habe, the ugliest creature on earth.

"Mamonaku densha ga mairimasu. Abunai desu kara, ....". Merdu tegas suara 
perempuan yang direkam dari pengeras suara ingatkan calon penumpang akan 
kereta yang sebentar lagi tiba.

Sedetik sebelum kereta berhenti, kumenoleh kepada bini yang lagi 
mengusap-usap jemari halusnya.

"Kenapa jemarinya?"

"Tidak apa-apa."

"Oh, ya?"

"Hanya agak gatal."

"Digigik nyamuak?"

"Indak. Nan manggigik jemari ambo hanyolah Uda nan surang."

(bersambung)

e


Menuju Utara (4)

Sekejap saja menunggangi kereta yang meluncur cepat di bawah bumi Sendai, 
kumendapatkan diriku sudah berada dalam taksi yang berlari menuju 
pelabuhan yang ditempuh dalam waktu 5 menit. Waktu turun taksi, di 
hadapan kami kapal berlabuh tenang menghadapkan haluannya ke Lautan 
Pasifik yang luas.

Ada antrian yang agak panjang bagi calon penumpang untuk check-in, tetapi 
orang-orang beringsut cukup cepat bersebab pegawai yang melayaninya 
banyak dan sigap mengurus tiket dengan komputernya. Lantaran kemampuan 
bahasa Jepang saya tidak ada apa-apanya dibanding dengan bini, dialah 
yang pergi ke loket sendirian dan aku menghenyakkan pantat di kursi 
sendirian.

"Uda, tunggulah di siko," ucap bini.

"Iyo."

"Sapaningga ambo, mato jan mancaliak ka nan lain."

"Indak. Mato Uda hanyolah tapauik ka adiak nan surang."

Memuncak musim bepergian pada pertengahan Agustus bagi orang Jepang untuk 
menikmati liburan musim panasnya. Tiket kapal menuju Hokkaido sudah 
dipesan sebulan sebelum hari keberangkatan lewat biro travel. Namun, 
karena mengambil waktu yang bersamaan dengan kepergian orang Jepang yang 
berbondoh-bondoh tersebut, tiket satu kamar tidak bisa diperoleh. 

Terpaksa berpuaslah kami beroleh tiket kamar yang diisi 6 orang penumpang 
yang berharga 10.000 yen per orang. Tetapi, itu lebih baik daripada 
mendiami kamar biasa yang diisi 20 orang penumpang. Kami sampaikan kepada 
biro travel agar memindahkan kami ke kamar spesial seandainya ada yang 
mengembalikan kamar tersebut.

Mujur memang, dua hari sebelum hari bertolak, staf perusahaan kapal 
menelepon kami akan adanya penumpang yang batal berangkat sehingga 
tersedia kamar spesial yang bisa ditempati. Biaya kamar adalah 52.000 yen 
yang lebih mahal daripada harga tiket pesawat terbang dengan tujuan yang 
sama. Tetapi, tidak apa-apa karena kenyamanan yang akan diperoleh sesuai 
dengan harga yang dibayar dalam perjalanan selama 14 jam itu menuju 
Komakomai di Hokkaido.

Sebetulnya agak juga terpikir mengeluarkan uang sebanyak itu dikarenakan 
kehidupanku berlandas atas perhitungan keuangan yang cukup ketat. 
Ketimbang mengeluarkan uang sebanyak itu, tidaklah lebih baik menghuni 
kamar biasa yang jauh lebih murah sehingga kelebihannya bisa disumbangkan 
kepada kaum papa yang menjerit di Indonesia atau negara lain? Bukankah 
kebahagiaan abadi adalah sesudah bisa membahagiakan orang lain?

"Kapan-kapan ada baiknya membahagiakan diri dengan menikmati kehidupan 
pribadi di kamar pribadi," bela hatiku.

Sehabis check-in, langsung beranjak kami ke lantai dua gedung tersebut 
yang memiliki koridor berkarpet panjang menuju kapal. Awak kapal 
laki-laki berpakaian necis berdiri di depan gerbang masuk dan dalam 
membungkukkan badan sambil mengucapkan selamat datang dengan muka yang 
ramah tersenyum. Seorang awak kapal lain, perempuan, yang berdiri di 
depan pintu masuk menyimpulkan senyum sambil menunjukkan arah ke kamar 
kami. 

Saya lupa memperhatikan informasi tentang kapal yang bernama "Kiso" itu, 
tetapi kemungkinan panjang badannya sekitar 80 m. Di dalamnya terdapat 
sauna, ruang bermain, ruang konser, toko, bar, restoran, bioskop, dan 
sebagainya. Jendela-jendela kaca lebar berderetan di sisi kapal yang 
memungkinkan penumpang bisa duduk berleha-leha sambil memandangi laut 
biru pada siang hari yang ceria dan laut hitam pada malam hari yang 
gulita.

(bersambung)

e


Menuju Utara (5)

Kamar yang kami tempati tidak beda jauh dengan kamar hotel biasa bersebab 
tersedia tempat tidur, meja, kursi, lemari, kamar mandi, televisi, dan 
video. Kelebihannya adalah jendela kaca yang lebar menyamping berbentuk 
mempersembahkan panorama yang memesona.

Sehabis bergolek sebentar, kami menuju dek paling atas beberapa menit 
sebelum kapal angkat sauh. Perlahan kapal yang berperut besar ini 
melepaskan diri dari pelabuhan yang dibantu oleh kapal tunda yang 
bertubuh kecil. Pemandangan malam kota Sendai diwarna-warnii oleh jutaan 
kunang-kunang yang pelan menjauh. Sejenak kemudian, rembulan menyembulkan 
wajahnya dan bintang gemintang mengedip-ngedipkan mata genitnya.

"Tengok rembulan yang beraut wajah teduh dan elok dipandang itu. Laiknya, 
sang rembulan becermin pada wajahmu, dik."

"Tapi, Neil Armstrong mengirimkan bukti pandangan mata kepada dunia tahun 
1969 bahwa permukaan bulan itu capuak-capuak."

"Siapa yang bilang wajah adik yang putih lembut halus bak pualam ini 
capuak-capuak?"

"Pokoknya, wajah ambo tidak mau disamakan dengan rembulan."

Perasaan perempuan berselimut berlapis misteri yang sukar dikuakkan untuk 
mengetahui apa yang terpendam di dalamnya. Bening matanya adalah telaga 
tempat laki-laki meneduhkan jiwa raga dan terkadang menenggelamkan. Kian 
berbincang dengan makhluk ini kian dapat memahami kehalusannya, 
kewanitaannya, kemanusiaannya, dan ketegarannya yang tidak dimiliki oleh 
kaum laki-laki. Namun, hatinya yang lebih dalam daripada Lautan Pasifik 
mustahil dapat diselami habis sampai ke dasarnya. 

Kerucut haluan kapal membelah permukaan laut dalam lajunya yang tenang. 
Masih berdua kami di atas dek yang lapang. Bulan mulai menutupi wajahnya 
dengan awan yang panjang. Barangkali tersipu malu dia memandangi seorang 
laki-laki berkulit hitam yang terus menempatkan tangannya di pinggang 
seorang perempuan berkulit putih, seolah-olah besok mau kiamat saja.

"Uda juga mau menulis perjalanan ini di internet?"

"Tentu saja."

"Cerita Babelok Jalan ka New Caledonia sudah tamat?"

"Belum. Cerita episode ketiga masih di pagi hari di hari pertama di New 
Caledonia?"

"Kita berada di sana 10 hari bulan Desember tahun lalu. Kapan tamatnya 
cerita itu?"

"Tidak tahu."

"Memangnya ada yang baca?"

"Tidak tahu."

"Ambo tidak mau cerita yang bernada pribadi ini dibaca orang banyak."

"Kalo baitu kato adiak, izinkanlah ambo menulis perjalanan ini sampai di 
sini saja."

Penghormatan saya terhadap kaum hawa sering berupa penghormatan terhadap 
ibuku sendiri. Jadinya, demi menghormati bini, tidak akan aku ceritakan 
hal sesudah kembali kami ke kamar kami yang diremangi lampu merah muda 
itu.

(tamat)

e


RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke