Berikut berita dari koran Republika hari ini tentang nasib kereta ap di sumbar. 
Maaf bagi yang sudah membaca.

wassalam

====================

Republika, Kamis, 23 Januari 2003
Tidak Ada Lagi Kereta Lewat di Sumbar

Tidak ada lagi kereta yang akan lewat. Lirik tersebut bukan judul sinetron yang 
dikemas di Sumatra Barat (Sumbar). Namun, hal itu merupakan kisah nyata yang 
merangkum drama penutupan pelayanan kereta api di bumi Minangkabau.

Mulai awal 2003 ini keakraban warga Sumbar dengan kereta api berakhir. Lengking 
peluit terakhir nan pilu itu ditiup pekan silam. Dengan demikian, hanya 
keajaiban yang membuat ''masih ada kereta yang lewat'' di Sumbar. PT Kereta Api 
Indonesia (PT KA) memutuskan menutup kantor eksploitasi dan semua jalur yang 
ada di Sumbar. Ini dilakukan karena PT Bukit Asam juga menutup tambang batu 
bara Ombilin, setelah 120 tahun dibuka.

Dengus kereta api mulai terdengar di Sumbar pada 1887, terpaut usia 13 tahun 
dengan pengoperasian kereta api di Jawa, dengan jalur kereta api sepanjang 300 
km. Jalur itu mengular, di antaranya dari Padang ke Pelabuhan Telukbayur (7 
km), Lubuk Alung--Pariamn (20,9 km), Padang--Padangpanjang (68,3 km), dan 
Bukittinggi--Payakumbuh (33 km). Beberapa jalur telah ditutup pada 1970. 

Sisanya jalur, Telukbayur--Padang--Padangpanjang--Solok--Sawahlunto itu 
sepanjang 210 Km. Di ruas ini terdapat 33,8 Km rel bergigi, yaitu di kawasan 
Lembah Anai sampai ke dekat Danau Singkarak. Inilah satu satu rel bergigi yang 
ada di Indonesia. Rel bergigi diperlukan untuk kawasan yang menanjak tajam, 
tetapi belakangan ini pun ditutup.

Mengapa dihentikan? Kepala Humas PT KA Regional II Sumbar, Zulkifli Kiram, 
kepada Republika menyebutkan bahwa operasional kereta api di daerah itu ditutup 
karena tidak ada lagi yang akan diangkut. Selama ini yang diandalkan hanya batu 
bara dari tambang Sawahlunto. Namun, kini batubara sudah habis. Dengan 
demikian, habis pulalah harapan kereta api, kecuali delapan sampai sembilan ton 
semen curah dari Indarung ke Telukbayur untuk tujuan eskpor.

Catatan yang diberikan Zulkifli Kiram menunjukkan bahwa pengangkutan batu bara 
dari Sawahlunto ke Telukbayur atau ke Semen Padang dengan kereta api dimulai 
beberapa tahun silam. Dalam beberapa tahun terakhir pengangkutan mengalami 
penurunan yang berarti, tahun 1999 hanya sekitar satu juta ton, tahun 
berikutnya turun menjadi 700 ribu ton, dan turun lagi pada tahun 2001 menjadi 
480 ribu ton. 

Tahun 2002 turun lagi menjadi 216 ribu ton saja. Pada Oktober 2002 sepucuk 
surat dilayangkan oleh PT Bukit Asam (PTBA). Isi surat itu menyatakan bahwa 
batu bara yang bisa diangkut dari Sawahlunto ke PT Semen Padang hanya 10 ribu 
ton/bulan atau 120 ribu ton/tahun. Jika begitu kondisinya, menurut Zulkifli, 
berarti satu hari hanya terpakai 13 gerbong yang setiap gerbongnya berkapasitas 
330 ton batu bara. ''Ini sangat tidak rasional,'' katanya.

Semula pihak PT KA berharap bahwa PTBA masih mengusahakan tambang dalam di unit 
pertambangan Ombilin (UPO) Sawahlunto. Menurut Dirut PTBA, Ismet, pihaknya 
sudah menjalin kerjasama dengan investor Cina dengan tenggat tahun 2003. Namun, 
kelihatannya, rintisan itu tidak berhasil diwujudkan. Dengan didapatnya 
kepastian bahwa tambang dalam batu bara tidak mungkin lagi dilakukan, maka 
sekaligus tambang batu bara Sawahlunto pun ditutup setelah 120 tahun dibuka. 

Akibatnya, 18 pintu perlintasan antara Padang dan Sawahlunto kini sepi. Tidak 
ada lagi petugas di sana. Sejak beberapa bulan belakangan, stasiun Simpang 
Haru, Padang kelihatan sepi. Ke mana perginya 1.300 orang karyawan perusahaan 
itu? Mereka datang mengambil absen pagi hari, kemudian pergi satu per satu. 
Tinggallah bangunan kokoh dengan rel-rel dingin membisu bersama sejumlah 
lokomotif dan gerbong-gerbong tua.

Kantor itu terlihat seperti menangis. Tidak ada orang lalu-lalang seperti 
sediakala. Di gerbang utama stasiun bersejarah itu, terlihat sebuah lokomotif 
uap yang dijadikan pajangan. Papan nama perusahaan baru saja diperbarui. Pada 
relnya yang dingin membelah lurus ke arah Telukbayur di satu sisi dan ke arah 
Padangpanjang di sisi lainnya pula tidak ada lagi kereta yang lewat.

Lantas ke mana loko dan gerbong itu? Loko, gerbong, dan karyawan dipindahkan ke 
Jawa. ''Ya beginilah, saya mungkin pindah ke Madiun,'' kata Yanuar, salah 
seorang karyawan. Namun, tidak semua bersedia pindah. Muslim Roza, 
misalkan, ''masih mikir-mikir untuk pindah.''

Sampai Januari 2003, sebanyak 12 orang karyawan perusahaan ini sudah pindah ke 
Palembang serta ke Pulau Jawa. Mereka pindah atas permohonan sendiri. Jumlah 
itu teramat kecil jika dibandingkan dengan jumlah seluruh karyawan yang 1.300 
orang itu. Namun, menurut Zulkifli Kiram, saat ini 126 lagi sedang diproses 
untuk dipindahkan ke Madiun. 

Ditutupnya kegiatan kereta api Sumbar merupakan pukulan hebat bagi karyawan 
perusahaan itu. Apalagi sebelumnya mereka tidak pernah membayangkan jika hal 
itu akan terjadi. Jika mereka pindah, kesulitan segera membayang di depan mata. 
Pindah berarti memboyong anak dan istri, membangun kehidupan baru di Jawa 
dengan jenjang karier yang tidak pasti. 

Jika tidak pindah, pilihlah pensiun muda. Pilihan terakhir ini silakan diambil 
dengan catatan: perusahaan tidak punya biaya untuk membayar pesangon.
Ketua Serikat Pekerja PT KA regional II Sumbar, Puspawarman, menyebutkan bahwa 
pihaknya berharap kantor di Padang tidak ditutup. 

''Sebentar lagi akan ada rel trans-Sumatra, jadi untuk apa ditutup,'' katanya. 
Ia menyarankan agar mengoptimalkan jalur wisata Padang--Pariaman dan 
menghidupkan kembali jalur Padang--Muaro Kalaban untuk membawa semen ke arah 
selatan Sumatra. ''Kami karyawan akan berusaha keras agar kantor di Padang 
tidak ditutup,'' kata dia.

Jalan panjang kereta api di Ranah Minang itu akan jadi kenangan. Sebagian 
tertutup tanah dan di atasnya akan berdiri rumah penduduk. khairul jasmi

RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke