Assalamu'alaikum wr.wb.,
Tulisan nan baru kini talakik mangirimkan.
Wassalamu'alaikum wr.wb.,
Lembang Alam
URANG MINANG (as I see it)
Banyak diantara kita mencatat bahwa �urang awak� sekarang semakin tericir dibandingkan dengan orang dari etnik lain. Ambil contoh dengan tetangga paling dekat kita saja misalnya, di sebelah utara. Harus diakui lebih banyak nama-nama orang bermarga yang berkiprah di negeri besar Indonesia Raya ini dibandingkan dengan urang awak. Urang awak, kalaupun ada masih dari generasi yang lebih senior dan jumlahnya hanya sedikit, bahkan adakalanya �nyaris tak terdengar�.
Dan kita mencatat pula bahwa �urang awak� biasanya �tidak suka menolong� terhadap sesama �awak�. Ini berbeda dengan saudara kita dari utara tadi itu, yang kalau satu orang berada di pucuk atau bertugas sebagai penjaga pintu, biasanya akan berdirit-dirit yang �semarga dengannya maupun yang semarga dengan boru�nya ikut menempel, menyusul masuk. Maka dimana-mana bertebaranlah �halak kita� sesudah itu, dari lapisan paling atas sampai lapisan paling bawah.
Agaknya ini memang merupakan kenyataan yang tidak dapat dipungkiri. �Awak� memang lebih soliter. Kalau �urang awak� maju maka majunya adalah hasil usaha dirinya sendiri. Waktu �awak� sekolah boleh saja dibantu oleh mamak, oleh kakak sepupu, oleh pak etek atau siapapun secara materi. Tapi sesudah itu, kalau ingin menjadi �orang�, mau mulai bekerja, biasanya �awak� harus mencari sendiri. �Awak� panjat anak tangga itu ciat-ciat dengan bersunyi diri, dengan tidak banyak suara. Barulah mungkin orang tahu dan melihat setelah kita mencapai anak tangga yang agak sebelah keatas.
Apresisasi masyarakat urang awak terhadap mereka yang berhasil mencapai puncak juga biasanya biasa-biasa saja. Tidak berlebih-lebihan. Walau ada juga yang suka menghitung-hitung, �si Itu urang awak, si Ini urang awak�, tapi tidak lebih dari sekedar sebutan saja. Tidaklah melekat benar ke dalam hatinya kebanggaan karena �si Itu� tadi jadi orang santiang itu. �Ooo, Haghun Zen tu balancik-lacikan ghumah-� jo ghumah awak di kampuang tumah.� Namun sesudah itu, Harun Zen adalah Harun Zen dan dia adalah dia, yang manggaleh di kaki lima, tidak sedikitpun ada urusannya dengan Harun Zen. Atau yang lebih sering terdengar, �kok ka santiang banano, bialah nak santiang sin no surang.� Ini bukan ungkapan sinis, bukan frustrasi, bukan benci, bukan iri melihat keberhasilan orang lain. Tapi apa adanya.
Salah satu bukti betapa minimnya apresiasi masyarakat �urang awak� terhadap �orang besar yang urang awak� (Hatta, Agus Salim, Syahrir dsb) adalah jarang sekali yang melestarikan nama besar mereka itu untuk generasi penerus. Hampir tidak ada anak-anak muda generasi saya (berumur lima puluh tahunan) ataupun generasi sesudah saya yang �memakai� nama orang-orang besar tadi itu. Maka Agus Salim, Hatta, Yamin, Syahrir tetaplah nama-nama soliter. Sesoliternya Emil Salim, Harun Zen, Azwar Anas. Sesoliternya Syahril Sabirin, Baihaki.
Apakah ini sebuah �kekurangan� sehingga perlu diperbaiki, atau sebuah �kelebihan� sehingga perlu di lestarikan atau hanya sebuah keniscayaan saja? Entahlah. Yang jelas orang Minang tetaplah orang Minang. dengan egonya, dengan �p�d�-nya�.
St. Lembang Alam
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail Plus - Powerful. Affordable. Sign up now

