Mamak, etek, uda , uni, dunsanak sadonyo , izinkan lah ambo bacarito
saketek, supayo jaleh a nan di mukasuid.

Bila ada 4 ekor burung angsa penjelajah yg anggun di ikat kaki kaki nya,
saling berhubungan , ia tak akan terbang kemana mana jadinya , pergi
berlawanan arah, kakinya terikat,  ikatan bagi mereka bukan lah nilai
tambah positif.
berbeda hal nya dg kumpulan lidi, yg dikumpulkan kemudian di ikat, ia akan
menjadi berdaya guna, kumpulan lidi akan menjadi sapu lidi yg berdaya guna
daripada sebatang lidi. Bagi lidi , ikatan memberi nilai tambah positif.

Sekumpulan Angsa, akan terbang masing masing, namun di atas langit ,
sekumpulan burung angsa yg terbang akan membuat formasi berbentuk huruf V ,
yg indah. Sungguh mengagumkan , mereka bisa membangun formasi tsb di atas
langit ketika terbang, padahal ketika hendak terbang , mereka tak "janjian"
dulu. Kesamaan visi, persepsi dan saling pengertian diantara mereka lah yg
membuat terbangun nya formasi huruf V tsb. Di ujung formasi V tsb ,
terbanglah seekor burung angsa yg mengarahkan kemana formasi tsb akan
menuju, sungguh mengagumkan.

Mungkin analogi burung angsa tsb, lebih cocok untuk karakter urang minang
dalam berorganisasi dibandingkan analogi kumpulan ikatan lidi yg mungkin
lebih mengena untuk etnis Jawa misalnya yg dengan "di ikat" sejak awal
membuat mereka kompak dan kuat...
urang awak , kalau di ikat sejak awal , malah sering konflik jadi nya..,
bagaikan angsa tsb.., pengalaman riel sehari hari membuktikan nya, bisa
dilihat sendiri dari berbagai organisasi rang awak...

Salah satu organisasi rang awak yg cukup fenomenal dan bisa bertahan lama,
ialah Bank Nasional Bukittinggi, yg digagas oleh para pedagang pasar
Bukittinggi , sekitar tahun 1930 - an. ( Namun sayang kemudian ia dibeli
oleh Bakrie brothers dan akhirnya bangkrut. )  Bank Nasional didirikan oleh
para pedagang pasar yg telah memiliki jam terbang lama dalam bisnisnya, dan
organisasi tsb bagi mereka akan menambah kemajuan bisnisnya.

Ada analogi lain yg menarik yg bisa jadi pelajaran bagi kita , ialah bila
kita mengamati kawanan kepiting ,
Kepiting tidak dapat maju karena terbelenggu oleh egonya sendiri.

Cobalah perhatikan sejumlah kepiting dalam sebuah keranjang. Dapatkah
mereka memanjat dinding naik ke atas, untuk meraih sukses atau membebaskan
diri? Ternyata tidak. Bila ada seekor kepiting yang menunjukkan tanda-tanda
akan berhasil, kepiting yang lain akan segera me-nariknya kembali ke dasar
keranjang. Mereka sangat suka dengan yang disebut "senasib sepenanggungan",
dalam arti yang negatif.  Mereka seolah-olah ber-sepakat: "Mari kita
sama-sama menderita".

Coba pikirkan bagaimana mengambil kepiting untuk dibakar , kalau langsung
diambil pakai tangan ia akan menjepit tangan kita.. ?
Salah satu caranya ialah dg merojok kan kayu ke kepiting dalam
ember,sehingga ia marah menjepit kayu tsb dg kuat nya ,nah baru kemudian
diangkat, dan diletakkan di tempat pembakaran ,(atau tempat merebus
kepiting) lama kelamaan jepitan nya akan melepas.

Logikanya ialah bahwa dengan membuat kepiting marah, ia akan menjepit dg
kuatnya tak mau dilepaskan, nah karena itulah kepiting tsb, bisa diambil.

menarik juga, logika tsb bisa pula untuk memahami karakter urang awak nan
capek naik darah /pamberang dan egosentris tinggi , justru karena itu pula
lah , salah satu weak point rang awak.

Seorang teman yg pinter main politik cerita, salah satu cara untuk
"mengendalikan/menangkap" orang minang, ialah salah satu nya dg memancing
kemarahan nya , memancing egosentris nya supaya membesar  dg berbagai cara,
(bisa dg pujian misalnya ) . Bila orang emosi nya sudah tinggi, biasanya
logika nya agak lambat jalan nya , nah pada kondisi itulah mereka
"dipermainkan" atau "dijatuhkan"

Sejalan dg falsafah " Alam takambang jadi guru" ,  fenomena burung angsa &
kepiting tsb, bisa jadi pelajaran berharga bagi rang awak..., untuk
memahami karakter kita , etnis minang, khususnya dalam berjalan bersama
mencapai suatu tujuan ( organisasi ) . Dan juga kita perlu memahami "weak
point" , awak sehingga tak dipermainkan orang lain.

Sungguh menarik , kalau kita bisa terbang bersama, berangkat secara bebas
dan mandiri  , terus membentuk formasi V   yg indah ketika terbang. yg
penting kita telah punya kesamaan visi dan persepsi , kemana kita akan
menuju ( kalau masalah ini-visi & tujuan, menarik juga kalau rang awak
diminta pendapatnyo - diagiah tahu, kama awak ka bajalan (visi ) ia selalu
menjawab, iyo ambo lah tahu tu, jan man-guru- i  awak juo )

Mungkin pola tsb lebih cocok bagi organisasi etnis minang, seperti Minang
Incorporated yg sedang dibangun oleh kita bersama .

Mudah mudahan kita tak seperti kepiting , yg terjebak dalam egonya sendiri
dan gampang marah, sehingga akhirnya "dijatuhkan" orang lain.

berikut ini saya lampiran juga, uraian mengenai kisah angsa dan kepiting
tsb .
semoga bermanfaat.

wassalam

Hendra Messa
ditulis di  Banduang , nan dingin diselimuti kabut malam, satalah hujan
dareh patang hari tadi....
------------------
''BELAJAR KEPADA ANGSA''
Di negara-negara yang mempunyai 4 musim, maka pada musim gugur, akan
terlihat rombongan angsa terbang ke arah selatan untuk menghindari
musim dingin. Angsa-angsa tersebut terbang dengan formasi berbentuk
huruf "V". Kita akan melihat beberapa fakta ilmiah tentang mengapa
rombongan angsa tersebut terbang dengan formasi "V".
Fakta:
Dari mekanika fluida diketahui , pada saat burung yang didepan
mengepakkan sayapnya, gelombang / aliran udara yang dihasilkannya
akan memberikan "nilai tambah" bagi burung yang terbang tepat
disamping belakangnya. Ini terjadi karena burung yang terbang di
samping belakang tidak perlu bersusah-payah untuk menembus 'dinding
udara' di depannya. Dengan terbang dalam formasi "V", seluruh kawanan
dapat menempuh jarak terbang 71 % lebih jauh daripada kalau setiap
burung terbang sendirian.
Pelajaran:
Orang-orang yang bergerak dalam arah dan tujuan yang sama serta
saling membagi dalam komunitas mereka dapat mencapai tujuan mereka
dengan lebih cepat dan lebih mudah. Ini terjadi karena mereka
menjalaninya dengan saling mendorong dan mendukung satu dengan yang
lain.
Fakta:
Kalau seekor angsa terbang keluar dari formasi rombongan, ia akan
merasa berat dan sulit untuk terbang sendirian. Dengan cepat ia akan
kembali ke dalam formasi untuk mengambil keuntungan dari "nilai
tambah" yang diberikan burung di depannya.
Pelajaran:
Kalau kita memiliki cukup logika umum seperti seekor angsa, kita akan
tinggal dalam formasi dengan mereka yang berjalan didepan. Kita akan
mau menerima bantuan dan memberikan bantuan kepada yang lainnya.
Lebih sulit untuk melakukan sesuatu seorang diri daripada
melakukannya bersama-sama.
Fakta:
Ketika angsa pemimpin yang terbang di depan menjadi lelah, ia terbang
memutar ke belakang formasi, dan angsa lain akan terbang menggantikan
posisinya.
Pelajaran:
Adalah masuk akal untuk melakukan tugas-tugas yang sulit dan penuh
tuntutan secara bergantian dan memimpin secara bersama. Seperti
halnya angsa, manusia saling bergantung satu dengan lainnya dalam hal
kemampuan, kapasitas, dan memiliki keunikan dalam karunia, talenta
atau sumber daya lainnya.
Fakta:
Angsa-angsa yang terbang dalam formasi ini mengeluarkan suara
riuh-rendah dari belakang untuk memberikan semangat kepada angsa yang
terbang di depan sehingga kecepatan terbang dapat dijaga.
Pelajaran:
Kita harus memastikan bahwa suara kita akan memberikan kekuatan.
Dalam kelompok yang saling menguatkan, hasil yang dicapai menjadi
lebih besar. Kekuatan yang mendukung (berdiri dalam satu hati atau
nilai-nilai utama dan saling menguatkan) adalah kualitas suara yang
kita cari. Kita harus memastikan bahwa suara kita akan menguatkan dan
bukan melemahkan.
Fakta:
Ketika seekor angsa menjadi sakit, terluka, atau ditembak jatuh, dua
angsa lain akan ikut keluar dari formasi bersama angsa tersebut dan
mengikutinya terbang turun untuk membantu dan melindungi. Mereka
tinggal dengan angsa yang jatuh itu sampai ia mati atau dapat terbang
lagi. Setelah itu mereka akan terbang dengan kekuatan mereka sendiri
atau dengan membentuk formasi lain untuk mengejar rombongan mereka.
Pelajaran:
Kalau kita punya perasaan, setidaknya seperti seekor angsa, kita akan
tinggal bersama sahabat dan sesama kita dalam saat-saat sulit mereka,
sama seperti ketika segalanya baik!
- - - - - -
Hikmah:
Pada dasarnya angsa-angsa tersebut tidak mempunyai kemampuan untuk
mengamati , menganalisa , ber-ekperimen , dan lain-lain.
Semua kemampuan yang dimilikinya adalah sudah "built-in" didalam
badannya.
Berdasarkan teori yang ada sekarang , semua fakta yang ada dialam ini
adalah hasil dari suatu proses evolusi yang sangat panjang , dan
semua itu terjadi secara kebetulan , yang artinya semua terjadi tanpa
skenario dan sutradara.
Padahal secara logika , kalau misalnya kita punya huruf A sampai Z
yang terbuat dari palstik yang masing-masing jumlahnya 1000 buah ,
kemudian secara acak kita lempar begitu saja keatas meja , seberapa
besarkah tingkat kemungkinannya / kebetulannya sehingga tersusun
menjadi suatu puisi yang sangat indah , tentu nol persen.
Sehingga secara logika , apabila ada puisi yang sangat indah pasti
ada yang menggubahnya. Secara logika pula , adalah "orang yang habis
minum pil koplo" saja yang beranggapan bahwa sebuah puisi yang
sangat indah bisa terjadi dengan sendirinya secara kebetulan.
Sehingga hikmah yang dapat kita petik adalah , semua isi alam ini
pasti ada yang menciptakan dan mengaturnya , sehingga isi alam ini
bisa menjadi sebuah sistem yang sangat kompak dan seimbang.
Kita wajib mengagumiNYA.

--------------------

EGO SEEKOR KEPITING

Manusia kadang seperti kepiting. Mereka tidak dapat maju karena terbelenggu
oleh egonya sendiri. Cobalah perhatikan sejumlah kepiting dalam sebuah
keranjang. Dapatkah mereka memanjat dinding naik ke atas, untuk meraih
sukses atau membebaskan diri? Ternyata tidak. Bila ada seekor kepiting yang
menunjukkan tanda-tanda akan berhasil, kepiting yang lain akan segera
me-nariknya kembali ke dasar keranjang. Mereka sangat suka dengan yang
disebut "senasib sepenanggungan", dalam arti yang negatif. Mereka
seolah-olah ber-sepakat: "Mari kita sama-sama menderita".

Di kota Pontianak, orang memancing kepiting dengan mempelajari serta
memanfaatkan ego yang ada pada kepiting. Pernah dengar bagaimana caranya?
Mereka menggunakan sebatang bambu, mengikatkan tali ke bambu itu. Seutas
tali diikatkan ke batang bambu sementara pada ujung tali yang lain
diikatkan batu. Mereka mengayun bambu agar batu di ujung tali terayun
menuju kepiting yang diincar. Mereka mengganggu kepiting itu dengan batu,
menyentak dan menyentak agar kepiting itu marah, dan kalau berhasil
kepiting itu menggigit tali atau batu itu dengan geram, capitnya akan
mencengkeram batu atau tali dengan kuat sehingga mereka dengan leluasa
dapat mengangkat bambu dengan ujung tali berisi kepiting gemuk yang sedang
marah. Mereka tinggal mengayun perlahan bambu itu agar ujung talinya menuju
sebuah wajan besar berisi air mendidih karena di bawah wajan itu ada kompor
dengan api yang sedang menyala. Mereka celupkan kepiting yang sedang murka
itu ke dalam wajan, dan seketika kepiting melepaskan gigitannya dan
tubuhnyapun berubah menjadi merah. Tak lama kemudian mereka bisa menikmati
kepiting rebus yang sangat lezat. Kepiting-kepiting yang malang itu menjadi
korban the crab hunters karena kemarahannya, karena kegeramannya atas
gangguan yang dilakukan melalui sebatang bambu, seutas tali dan sebuah batu
kecil.

Kita sering sekali melihat banyak orang jatuh dalam kesulitan, menghadapi
berbagai masalah, kehilangan peluang, bahkan kehilangan segalanya karena
MARAH. Karena egonya yang terpancing. Jadi kalau Anda menghadapi gangguan,
baik itu batu kecil atau batu besar, hadapilah dengan bijak, redam
kemarahan sebisa mungkin, lakukan penundaan beberapa saat, tarik nafas
panjang sembari menghitung mundur, turun dari dua puluh menuju sepuluh.
Kalau perlu pergilah ke kamar mandi, cuci muka atau basuhlah tangan dengan
air dingin, agar murka Anda mereda dan Anda terlepas dari ancaman wajan
panas yang bisa menghancurkan masa depan Anda.

Ego yang mendidih ibarat air yang berlumpur, pikiran sangat jauh dari
jernih. Untuk mendapatkan kembali kejernihannya, biarkan butiran halus
lumpur itu mengendap bersama waktu dalam kesabaran dan kesadaran, secara
alami.

Ego itu terkait dengan harapan yang bersifat possesive disertai rasa takut
yang tersembunyi. Ego itu menyuarakan harapan seperti: "Belum tahu dia
siapa aku", "Jangan coba-coba berani mengganggu apalagi melecehkan aku".
Rasa takut membangkitkan keraguan seperti: "Kira-kira mau nggak mereka
menghargaiku. Mau nggak mereka memperlakukan aku sebagai orang penting?".
Ego itu adalah "pikiran monyet" yang bersikap gelisah serta bertindak salah
tingkah, dalam upaya melindungi harga diri tuannya sebagai "sosok pribadi
yang bermartabat". "Monyet edan" yang menggandul di pundak pikiran
sesungguhnya dapat dikendalikan serta dipisahlan dengan mengamati secara
seksama apa yang terjadi (inside yourself) ketika sedang marah, ketika
benci terhadap sesuatu atau seseorang. Just give a great attention, focus
on what's happening, and free yourself from the filter of possessive
expectation and fears. Feel the tranquility of the moment) Untuk
mendapatkan hasil yang optimal tentu dibutuhkan latihan yang teratur &
kontinyu.).

Dan, ?? tiba-tiba saja kita tiba pada satu sudut pandang yang berbeda, yang
dapat membebaskan diri kita dari berbagai belenggu persoalan. Bahwa
berbagai masalah tidak semata-mata berada pada diri orang lain atau dunia
luar. Bahwa berbagai persoalan terkait dengan respons yang kita berikan
kepada orang lain atau dunia luar. Dan respons-respons ini sesungguhnya
dapat (dilatih untuk) dikendalikan




RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke