Liputan6.com, Sawahlunto: Meski tergolong kota kecil di Provinsi Sumatra Barat, Sawahlunto memiliki segudang potensi. Kota yang mulanya berstatus nagari atau setingkat desa ini pernah menjadi pusat industri bangsa Eropa dan kota yang sangat terkenal dan penting di Pulau Sumatra. Hal ini menyusul ditemukannya batubara oleh ahli tambang bangsa Belanda, W.H. de Greve pada 1868. Tak heran bila Sawahlunto juga menjadikan Indonesia sebagai satu di antara negara penghasil batubara terbesar di dunia.
Emas hitam, itulah julukan bagi bahan tambang batubara yang sempat menjadi primadona bahan bakar sebelum ditemukannya minyak bumi. Bak harta karun yang tak ternilai harganya, batubara juga menjadi kekayaan utama yang menghidupi Sawahlunto hingga sekarang. Sejak ditemukannya batubara di sekitar Sungai Ombilin dan produksi pertama yang dimulai pada 1892, geliat perekonomian Kota Sawahlunto praktis bergantung pada sektor pertambangan. Namun lazimnya masa penjajahan, hasil bumi Sawahlunto itu masuk ke kantong pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Kala itu, seluruh buruh yang dipekerjakan berasal dari para narapidana yang disebut juga orang rantaian. Mereka umumnya berasal dari sejumlah daerah di Nusantara, seperti Pulau Jawa dan Nias. Bahkan, ada juga buruh dari Singapura--koloni Inggris saat itu. Pascakemerdekaan, pemerintah Indonesia mengambil alih penambangan peninggalan kolonial itu melalui PT Bukit Asam Unit Produksi Ombilin. Hingga 1991, batubara yang berhasil digali mencapai 122 juta ton dari pertambangan di bawah permukaan tanah atau tambang dalam dan 33 juta ton dari pertambangan di permukaan tanah atau tambang luar. Namun, saat ini deposit batubara di lokasi-lokasi penggalian Belanda telah habis. Tak pelak, pemerintah harus membangun lokasi penggalian baru untuk mengeksplorasi cadangan yang tersisa. Yakni sebesar 65 juta ton yang diperkirakan dapat diekplorasi hingga 65 tahun mendatang. Sayangnya proses penggalian lokasi baru bukan pekerjaan mudah karena deposit yang tersisa hanya terdapat di bawah permukaan tanah. Padahal, batubara bukan lagi menjadi komoditas andalan. Dengan begitu, kegiatan penggalian bisa saja dihentikan jika dinilai tak menguntungkan secara ekonomis. Pertimbangan ekonomis itulah setidaknya akan meninggalkan banyak kenangan. Pasalnya, kegiatan eksplorasi tambang batubara yang dilakukan pemerintah Belanda selama periode 1892-1945, banyak menyimpan kisah sejarah, seperti yang dialami para mantan pekerja tambang. Mereka yang masih hidup, sebagian besar adalah para pekerja generasi akhir era eksplorasi Belanda sebelum diambil alih pemerintah Indonesia. Sebut saja seorang mantan pekerja tambang era pemerintahan Belanda bernama Rachmat. Menurut Rachmat, saat itu mereka bekerja berdasarkan lamanya hukuman. "Jika dihukum seumur hidup, berarti bekerja di sana seumur hidup juga," ujar Rachmat. Selama bekerja, mereka hanya dibayar pemerintah Belanda sebesar tiga ketip. Satu ketip berkisar sebesar 10 sen. Dari 30 sen itu, 10 sen di antaranya dipotong buat biaya hidup dan lima sen buat koperasi. "Meski dipotong, makan dan minum kami dijamin," ujar Rachmat. Namun, semua yang mereka dapatkan tak sebanding dengan pekerjaan yang dilakukan. "Saat itu, banyak yang mati, termasuk orang Belanda," kata Rachmat. Kenangan tinggallah kenangan. Komunitas keluarga para mantan pekerja tambang era pemerintahan kolonial kini tinggal di kawasan Kampung Tanah Lapang, Sawahlunto. Sebagian dari mereka memanfaatkan bangunan bekas tangsi atau kompleks penginapan pekerja sebagai rumah tinggal. Sisanya membuat bangunan baru di areal tanah milik pertambangan. Mereka menganggap daerah ini telah menjadi tanah leluhur. Jejak peninggalan selama masa eksplorasi kolonial masih terlihat di berbagai sudut kota yang terletak sekitar 105 kilometer sebelah timur laut Kota Padamg. Tak hanya berupa bangunan kantor dan rumah tinggal para pimpinan pertambangan. Beberapa infrastruktur untuk pengangkutan batubara, seperti stasiun kereta api juga masih berdiri. Namun, masa keemasan Sawahlunto sebagai kota pertambangan batubara bisa saja berakhir seiring pertimbangan ekonomis untuk menghentikan kegiatan penambangan. Jika hal itu terjadi yang tersisa hanyalah bangunan-bangunan tua sebagai saksi perjalanan sejarah pertambangan. Itu pun tak bisa dimanfaatkan secara optimal sebagai aset wisata mengingat sebagian besar status kepemilikannya telah berubah. Mungkin, Sawahlunto akan bernasib sama seperti kota bersejarah lainnya di Tanah Air. Terlupakan, bersama terkuburnya sebuah penggalan sejarah.(ORS/Tim Potret) __________________________________________________ Do you Yahoo!? Yahoo! Mail Plus - Powerful. Affordable. Sign up now. http://mailplus.yahoo.com RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe, anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini. Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ===============================================

