Title: Serangan Fajar Payakumbuh
Doens Rantau-Net yth,
Tambahan informasi dari tulisan sejarah Pak Emil Salim :
Balando tahu tampek rapek di Lurah Kincia Situjuh Batur itu dek karano ado urang awak nan khianat namonyo Jamaluddin alias Tambiluak.
 
68 urang pahlawan nan gugur wakatu itu tamasuak Arisun St. Alamsyah(Bupati) namonyo ditulih langkok di muko gerbang Majid Pahlawan Situjuh Batur. Pemberian Nama Masjid Pahlawan juga diilhami dari peristiwa tsb dek banyaknyo pahlawan nan gugur disinan. Sampai kini makam pahlawan tu lai tatap dipaliharo dan satiok tgl 15 Januari diadokan upacara Peringatan Peristiwa tsb nan dihadiri dek Bupati 50 Kota bahkan Gubernur Sumbar, tapi alun ado tadanga peristiwa ko diangkek ka tingkek Nasional, atau antah ambo nan indak tau.
 
Sakitu tambahan dari ambo, mohon maaf dan tarimokasih.
 
Wassalam,
Yon Hendri
anak Situjuh Batur asli.
 

Opini - Kompas Cyber Media
Senin, 03 Februari 2003 

Serangan Fajar Payakumbuh

Oleh Emil Salim

PASUKAN Belanda menyerang Yogyakarta dan Bukittinggi
secara serentak tanggal 19 Desember 1948. Presiden
Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta serta
beberapa anggota kabinet lainnya ditawan Belanda.

Namun, kehadiran negara RI berlanjut di bawah
Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang
dipimpin Mr Sjafruddin Prawiranegara (ketua) dan Mr
Teuku Mohammad Hasan (wakil ketua) dengan susunan
kabinet yang dibentuk dalam pertemuan para pemimpin
terkemuka RI pada fajar hari 22 Desember 1948 di
Halaban, 15 km dari Payakumbuh.

Untuk melaksanakan perjuangan gerilya secara lebih
efektif, para pemimpin PDRI menyebarkan diri ke tiga
jurusan.

Pertama, Sjafruddin Prawiranegara bersama Teuku
Mohammad Hasan memimpin rombongan, bergerak melalui
Bangkinang ke Kampar. Namun karena selalu diincar
serangan pesawat Mustang Belanda dan membawa korban
penduduk, haluan perjalanan beralih menuju Bidar Alam,
kabupaten Solok Selatan, 185 km dari Padang, sebagai
basis perjuangan PDRI. Dari Bidar Alam inilah
disiarkan Radio Republik Indonesia, dipimpin Dick
Tamimi, perwira AURI, yang dipancarkan tidak saja ke
Jawa-Sumatera, tetapi juga ke Rangoon, Burma, dan
Delhi, India.

Kedua, rombongan Mr Sutan Mohammad Rasjid, selaku
Menteri Keamanan merangkap Menteri Sosial,
Pembangunan, dan Perburuhan, dan Residen Sumatera
Barat berangkat ke Kototinggi, Kabupaten Limapuluh
Koto. Di bawah pimpinannya, Badan Pengawal Nagari dan
Kota (BPNK) yang dibentuk Wakil Presiden Hatta
beberapa bulan lalu diaktifkan dan dipimpin Chatib
Sulaiman. Dengan meningkatnya perang gerilya, Kolonel
Hidayat, yang duduk dalam PDRI selaku Panglima
Teritorial Sumatera, memiliterkan unsur pemerintahan
sipil dengan membentuk jabatan gubernur militer,
bupati militer, wedana militer, dan seterusnya.
Sedangkan wali nagari diberi jabatan wali nagari
perang.

Bila di Pulau Jawa perwira militer menjabat pekerjaan
sipil, di Sumatera pejabat sipil menjadi pemimpin
militer. Teuku Daud Beurueh menjadi Gubernur Militer
Karesidenan Aceh, Langkat dan Tanah Karo dengan Mayor
Akil sebagai Wakil Gubernur Militer. Dr Ferdinand
Lumban Tobing menjadi Gubernur Militer Sumatera Timur
dan Tapanuli dengan Letnan Kolonel Kawilarang sebagai
Wakil Gubernur Militer. Mr Sutan Mohamad Rasjid
menjadi Gubernur Militer Sumatera Barat dengan Letnan
Kolonel Dahlan Ibrahim sebagai wakilnya. RM Oetojo
menjadi Gubernur Militer Riau dan Letnan Kolonel Hasan
Basri sebagai wakilnya. Dr AK Gani menjadi Gubernur
Militer Sumatera Selatan dengan Kolonel Simbolon
sebagai wakil.

Untuk menghimpun kekuatan rakyat dalam gerilya
dibentuk Markas Pertahanan Rakyat Daerah (MPRD) di
tingkat keresidenan, MPR-kecamatan di tingkat
kecamatan dam MPR-N di tingkat nagari.

Gubernur Militer bertugas mengoordinasikan perjuangan
tentara, pemuda, dan rakyat di bawah satu komando.
Perjuangan gerilya secara fisik dibantu stasiun radio
AURI di Kototinggi dipimpin Perwira M Yacob, yang
melancarkan perjuangan nonfisik menembus blokade
Belanda dan menyebarkan kegigihan perlawanan rakyat
Indonesia terhadap Belanda sampai ke ruang sidang
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Rombongan ketiga dipimpin Kolonel Hidayat, Panglima
Teritorial Sumatera dalam kabinet PDRI, yang berjalan
kaki menempuh 1.500 km melalui Tapanuli ke Banda Aceh.
Perjalanan itu juga membantu gerilya sehingga
menyulitkan Belanda menguasai jalan raya dan
pedalaman. Tidak ada seorang pasukan Belanda yang
berhasil menerobos masuk Aceh.

Atas prakarsa Kolonel Hidayat, stasiun radio Aceh
menyambungkan hubungan radio dan telekomunikasi antara
Bidar Alam, Kototinggi dan tempat-tempat penting
lainnya di Sumatera, Jawa dan juga Burma, India, serta
Australia.

HUBUNGAN telekomunikasi dan radio antara PDRI dan luar
negeri amat penting sebagai bukti masih kokoh tegaknya
negara dan Pemerintah Republik Indonesia. Sebagai alat
komunikasi, maka perang informasi amat bergantung pada
peristiwa yang nyata terjadi di front pertempuran.
Dalam kaitan inilah amat penting peran Serangan Fajar
Payakumbuh pada 3 Pebruari 1949 di bawah pimpinan PDRI
di Sumatera sehingga memberi senjata diplomasi bagi
para perunding RI di forum PBB.

Sejak awal Januari 1949, pasukan Belanda meningkatkan
serangannya di semua kota-kota, terutama
Sumatera-Jawa, untuk menumpaskan PDRI. Belanda amat
terganggu siaran radio Kototinggi, Bidar Alam, Banda
Aceh, dan lain-lain yang berhasil merebut perhatian
pers luar negeri. Karena itu, pada 10 Januari 1949,
Belanda berhasil masuk Kototinggi, namun menemukannya
kosong, sungguh pun peralatan siaran radio tersembunyi
beberapa meter dari jalan yang mereka lalui.

Gubernur Militer Mohammad Rasyid mengundang para
pemimpin militer, sipil, dan tokoh masyarakat untuk
bermusyawarah menyusun strategi melawan serangan
Belanda. Sidang berlangsung di Negeri Situjuh Batur,
20 km dari Payakumbuh, Kabupaten Limapuluh Koto pada
14 Januari 1949. Oleh karena Mohammad Rasjid jatuh
sakit, maka ditugaskan Chatib Sulaiman, Ketua Markas
Pertahanan Rakyat Daerah, memimpin pertemuan ini.

Sidang berlangsung di surau dalam lembah di kaki
Gunung Sago. Setelah sidang sore hari para peserta
kembali ke penginapan masing-masing. Ketua sidang,
Chatib Sulaiman, bekerja hingga larut malam menulis
hasil sidang.

Menjelang fajar 15 Januari 1949 tentara Belanda
berhasil masuk Negeri Situjuh Batur. Pasukan Mobil
Teras dan anggota Badan Pengawal Nagari dan Kota
memberi perlawanan. Namun, persenjataan Belanda jauh
lebih banyak dan lebih modern dari senjata kita berupa
beberapa senapan rampasan Jepang. Chatib Sulaiman
bersama 68 pemimpin sipil, militer, dan rakyat gugur
sebagai pahlawan di Situjuh Batur itu.

Peristiwa Situjuh Batur ini membakar semangat
perlawanan pejuang Republik. Gubernur Militer Mohammad
Rasjid akhir Januari 1949 mengeluarkan instruksi
menyesuaikan kebijakan dengan situasi perang.

Kekuatan tenaga perjuangan di Kabupaten Limapuluh Kota
dikonsolidasikan dan daerah ini dibagi dalam empat
sektor pertempuran: Nusa Jantan (utara), Garuda Mas
(baratdaya), Merapi (selatan), dan Singa Harau
(timur). Keempat kekuatan tentara yang dibantu pemuda
dan rakyat mengepung Kota Payakumbuh.

Tanggal 3 Februari 1949 menjelang fajar, serentak
meletus serangan dari empat sektor menyerbu Kota
Payakumbuh. Pos dan berbagai tempat penting yang
diduduki Belanda dibakar habis. Untuk kira-kira enam
jam, Kota Payakumbuh direbut oleh pemuda, rakyat, dan
tentara Republik Indonesia.

SERANGAN fajar Payakumbuh membangkitkan semangat
perlawanan untuk meningkatkan sabotase dan menahan
gerak maju musuh mengikuti pola bergerilya Letkol
Kawilarang: jika Belanda menyerang, kita mundur
perlahan bergerilya mengganggu patroli dan konvoi
Belanda serta sarana perhubungan musuh. Makin jauh
Belanda maju, makin kritis pasukan terpencil, serta
kritis memelihara garis logistik mereka sehingga mudah
digempur..

Sebulan kemudian pada 1 Maret 1949 meletus Serangan
Fajar Yogyakarta, Jawa, sehingga dunia internasional
semakin yakin bahwa bendera Republik Indonesia masih
berkibar di Indonesia. Kesadaran internasional ini
memaksa Belanda membebaskan Presiden dan Wakil
Presiden Soekarno-Hatta dari tawanan.

Pemerintah Pusat Republik Indonesia bersatu kembali di
Yogyakarta dengan PDRI untuk menghadapi Belanda di
meja perundingan dengan kesadaran bahwa kekuatan
rakyat memastikan tegaknya secara utuh Republik
Indonesia dari Sabang sampai Merauke.


Prof Dr Emil Salim Mantan Menteri Kependudukan dan
Lingkungan Hidup

***************
DISCLAIMER:
Privileged/Confidential information may be contained within this message. If you are not the intended recipient, you must not use, copy, retain, distribute, or disclose any of its content to others. Instead, please notify the sender immediately and then delete this e-mail entirely. We have checked this e-mail for any viruses and harmful components however; we cannot guarantee it to be secured or virus free. PT Perusahaan Pelayaran EQUINOX does not accept any responsibility for any damages or any consequences therefrom.

Kirim email ke