Ma sagalo adidunsanak jo anak kamanakan, Ambo salinkan satitiak sejarah nan terjadi di kampuang awak saisuak dari milis berita Krikil tgl 6-2-03. Agak talambek mangirim dek sakitar limo hari indak bisa manarimo dan mangirim ka RN.
Mungkin paralu dek nan mudo-mudo nan punyo minaik ka bidang ko. mak Sati ============================================= kompas Opini Senin, 03 Februari 2003 Serangan Fajar Payakumbuh Oleh Emil Salim PASUKAN Belanda menyerang Yogyakarta dan Bukittinggi secara serentak tanggal 19 Desember 1948. Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta serta beberapa anggota kabinet lainnya ditawan Belanda. Namun, kehadiran negara RI berlanjut di bawah Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang dipimpin Mr Sjafruddin Prawiranegara (ketua) dan Mr Teuku Mohammad Hasan (wakil ketua) dengan susunan kabinet yang dibentuk dalam pertemuan para pemimpin terkemuka RI pada fajar hari 22 Desember 1948 di Halaban, 15 km dari Payakumbuh. Untuk melaksanakan perjuangan gerilya secara lebih efektif, para pemimpin PDRI menyebarkan diri ke tiga jurusan. Pertama, Sjafruddin Prawiranegara bersama Teuku Mohammad Hasan memimpin rombongan, bergerak melalui Bangkinang ke Kampar. Namun karena selalu diincar serangan pesawat Mustang Belanda dan membawa korban penduduk, haluan perjalanan beralih menuju Bidar Alam, kabupaten Solok Selatan, 185 km dari Padang, sebagai basis perjuangan PDRI. Dari Bidar Alam inilah disiarkan Radio Republik Indonesia, dipimpin Dick Tamimi, perwira AURI, yang dipancarkan tidak saja ke Jawa-Sumatera, tetapi juga ke Rangoon, Burma, dan Delhi, India. Kedua, rombongan Mr Sutan Mohammad Rasjid, selaku Menteri Keamanan merangkap Menteri Sosial, Pembangunan, dan Perburuhan, dan Residen Sumatera Barat berangkat ke Kototinggi, Kabupaten Limapuluh Koto. Di bawah pimpinannya, Badan Pengawal Nagari dan Kota (BPNK) yang dibentuk Wakil Presiden Hatta beberapa bulan lalu diaktifkan dan dipimpin Chatib Sulaiman. Dengan meningkatnya perang gerilya, Kolonel Hidayat, yang duduk dalam PDRI selaku Panglima Teritorial Sumatera, memiliterkan unsur pemerintahan sipil dengan membentuk jabatan gubernur militer, bupati militer, wedana militer, dan seterusnya. Sedangkan wali nagari diberi jabatan wali nagari perang. Bila di Pulau Jawa perwira militer menjabat pekerjaan sipil, di Sumatera pejabat sipil menjadi pemimpin militer. Teuku Daud Beurueh menjadi Gubernur Militer Karesidenan Aceh, Langkat dan Tanah Karo dengan Mayor Akil sebagai Wakil Gubernur Militer. Dr Ferdinand Lumban Tobing menjadi Gubernur Militer Sumatera Timur dan Tapanuli dengan Letnan Kolonel Kawilarang sebagai Wakil Gubernur Militer. Mr Sutan Mohamad Rasjid menjadi Gubernur Militer Sumatera Barat dengan Letnan Kolonel Dahlan Ibrahim sebagai wakilnya. RM Oetojo menjadi Gubernur Militer Riau dan Letnan Kolonel Hasan Basri sebagai wakilnya. Dr AK Gani menjadi Gubernur Militer Sumatera Selatan dengan Kolonel Simbolon sebagai wakil. Untuk menghimpun kekuatan rakyat dalam gerilya dibentuk Markas Pertahanan Rakyat Daerah (MPRD) di tingkat keresidenan, MPR-kecamatan di tingkat kecamatan dam MPR-N di tingkat nagari. Gubernur Militer bertugas mengoordinasikan perjuangan tentara, pemuda, dan rakyat di bawah satu komando. Perjuangan gerilya secara fisik dibantu stasiun radio AURI di Kototinggi dipimpin Perwira M Yacob, yang melancarkan perjuangan nonfisik menembus blokade Belanda dan menyebarkan kegigihan perlawanan rakyat Indonesia terhadap Belanda sampai ke ruang sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Rombongan ketiga dipimpin Kolonel Hidayat, Panglima Teritorial Sumatera dalam kabinet PDRI, yang berjalan kaki menempuh 1.500 km melalui Tapanuli ke Banda Aceh. Perjalanan itu juga membantu gerilya sehingga menyulitkan Belanda menguasai jalan raya dan pedalaman. Tidak ada seorang pasukan Belanda yang berhasil menerobos masuk Aceh. Atas prakarsa Kolonel Hidayat, stasiun radio Aceh menyambungkan hubungan radio dan telekomunikasi antara Bidar Alam, Kototinggi dan tempat-tempat penting lainnya di Sumatera, Jawa dan juga Burma, India, serta Australia. HUBUNGAN telekomunikasi dan radio antara PDRI dan luar negeri amat penting sebagai bukti masih kokoh tegaknya negara dan Pemerintah Republik Indonesia. Sebagai alat komunikasi, maka perang informasi amat bergantung pada peristiwa yang nyata terjadi di front pertempuran. Dalam kaitan inilah amat penting peran Serangan Fajar Payakumbuh pada 3 Pebruari 1949 di bawah pimpinan PDRI di Sumatera sehingga memberi senjata diplomasi bagi para perunding RI di forum PBB. Sejak awal Januari 1949, pasukan Belanda meningkatkan serangannya di semua kota-kota, terutama Sumatera-Jawa, untuk menumpaskan PDRI. Belanda amat terganggu siaran radio Kototinggi, Bidar Alam, Banda Aceh, dan lain-lain yang berhasil merebut perhatian pers luar negeri. Karena itu, pada 10 Januari 1949, Belanda berhasil masuk Kototinggi, namun menemukannya kosong, sungguh pun peralatan siaran radio tersembunyi beberapa meter dari jalan yang mereka lalui. Gubernur Militer Mohammad Rasyid mengundang para pemimpin militer, sipil, dan tokoh masyarakat untuk bermusyawarah menyusun strategi melawan serangan Belanda. Sidang berlangsung di Negeri Situjuh Batur, 20 km dari Payakumbuh, Kabupaten Limapuluh Koto pada 14 Januari 1949. Oleh karena Mohammad Rasjid jatuh sakit, maka ditugaskan Chatib Sulaiman, Ketua Markas Pertahanan Rakyat Daerah, memimpin pertemuan ini. Sidang berlangsung di surau dalam lembah di kaki Gunung Sago. Setelah sidang sore hari para peserta kembali ke penginapan masing-masing. Ketua sidang, Chatib Sulaiman, bekerja hingga larut malam menulis hasil sidang. Menjelang fajar 15 Januari 1949 tentara Belanda berhasil masuk Negeri Situjuh Batur. Pasukan Mobil Teras dan anggota Badan Pengawal Nagari dan Kota memberi perlawanan. Namun, persenjataan Belanda jauh lebih banyak dan lebih modern dari senjata kita berupa beberapa senapan rampasan Jepang. Chatib Sulaiman bersama 68 pemimpin sipil, militer, dan rakyat gugur sebagai pahlawan di Situjuh Batur itu. Peristiwa Situjuh Batur ini membakar semangat perlawanan pejuang Republik. Gubernur Militer Mohammad Rasjid akhir Januari 1949 mengeluarkan instruksi menyesuaikan kebijakan dengan situasi perang. Kekuatan tenaga perjuangan di Kabupaten Limapuluh Kota dikonsolidasikan dan daerah ini dibagi dalam empat sektor pertempuran: Nusa Jantan (utara), Garuda Mas (baratdaya), Merapi (selatan), dan Singa Harau (timur). Keempat kekuatan tentara yang dibantu pemuda dan rakyat mengepung Kota Payakumbuh. Tanggal 3 Februari 1949 menjelang fajar, serentak meletus serangan dari empat sektor menyerbu Kota Payakumbuh. Pos dan berbagai tempat penting yang diduduki Belanda dibakar habis. Untuk kira-kira enam jam, Kota Payakumbuh direbut oleh pemuda, rakyat, dan tentara Republik Indonesia. SERANGAN fajar Payakumbuh membangkitkan semangat perlawanan untuk meningkatkan sabotase dan menahan gerak maju musuh mengikuti pola bergerilya Letkol Kawilarang: jika Belanda menyerang, kita mundur perlahan bergerilya mengganggu patroli dan konvoi Belanda serta sarana perhubungan musuh. Makin jauh Belanda maju, makin kritis pasukan terpencil, serta kritis memelihara garis logistik mereka sehingga mudah digempur.. Sebulan kemudian pada 1 Maret 1949 meletus Serangan Fajar Yogyakarta, Jawa, sehingga dunia internasional semakin yakin bahwa bendera Republik Indonesia masih berkibar di Indonesia. Kesadaran internasional ini memaksa Belanda membebaskan Presiden dan Wakil Presiden Soekarno-Hatta dari tawanan. Pemerintah Pusat Republik Indonesia bersatu kembali di Yogyakarta dengan PDRI untuk menghadapi Belanda di meja perundingan dengan kesadaran bahwa kekuatan rakyat memastikan tegaknya secara utuh Republik Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Prof Dr Emil Salim Mantan Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe, anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini. Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ===============================================

