MENJADI PENGUSAHA
PENGANTAR
Pelaku bisnis dalam kasus ini adalah
Anton : Mantan pegawai bank yang kena PHK.
Boy : Teman sekelas Anton di SMA yang sudah bosan jadi pegawai di sebuah perusahaan agro-bisnis.
Chris : Teman sekuliah Boy di Fak Ekonomi yang drop-out dan kemudian menjadi pengusaha toko barang elektronik.
Danang : Seorang eksekutif yang memimpin sebuah perusahaan dengan baik sehingga sejak dibawah pimpinannya perusahaan menghasilkan keuntungan yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Nina : Istri Anton, bekerja di perusahaan yang dipimpin Danang sebagai sekretaris Danang.
Nama-nama tersebut di atas adalah fiktif belaka, demikian juga alur cerita dalam Studi Kasus ini. Bila ternyata ada kesamaan dengan nama dan/atau pengalaman seseorang, anggaplah hal itu hanyalah suatu kebetulan saja.
“Kenalkan Pak, ini teman yang saya ceritakan kepada Bapak minggu lalu”, kata Boy mengenalkan Chris kepada Danang.
“Chris,” kata Chris mengenalkan namanya sambil bersalaman dengan Danang. Setelah basa-basi seperlunya Chris melanjutkan, “Saya sengaja tidak membuka toko hari ini Pak, dan sengaja meliburkan karyawan saya karena saya sangat tertarik dengan ajakan Boy untuk ikut dalam pertemuan dengan Bapak”, katanya melanjutkan.
“Apa cerita Boy kepada Anda tentang pertemuan ini. Kami hanya berbincang-bincang atau diskusi tentang isi buku ini. Dengan kata lain, kami ini sama-sama belajar untuk menjadi pengusaha.” kata Danang menunjukkan buku ‘Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis) dengan Pendekatan Proses Bisnis’.
“Persis, itu yang diceritakannya kepada saya, Pak” kata Chris. “Dia datang ke rumah saya malam-malam, hari Minggu yang lalu. Katanya waktu itu, paginya ada pertemuan yang kedua dengan Bapak di sini membicarakan topik tentang ‘menjadi pengusaha’, dan akan ada pertemuan yang ketiga, masih untuk membicarakan topik yang sama. Topik itu yang menyebabkan saya tertarik ikut dalam pertemuan ini, Pak.” Lalu lanjutnya, “Pernah saya bilang sama si Boy, kalau ingin jadi pengusaha - jangan menjadi pengusaha seperti saya, capek. Mendingan jadi pegawai aja. Malam itu dia bilang sama saya bahwa dalam buku itu saya akan menemukan sebabnya saya capek, yaitu karena saya tidak pakai sistematika dalam menjalankan usaha saya. Besoknya saya langsung cari buku itu di Toko Gunung Agung dan mempelajari isinya sesempat saya, sambil menjalankan usaha toko saya.” kata Chris.
“Jadi Anda sekarang sudah paham yang namanya pengusaha?” tanya Danang.
“Paham betul sih, belum.” jawab Chris. “Terutama tentang yang dimaksud dengan batasan-batasan ‘Fungsi Bisnis’. Saya hubungi si Boy di kantornya lewat telpon. Katanya itu mudah dipelajari, dipahami dan kemudian dipraktekkan. Lalu dia menyebut istilah ‘teknis berbisnis’. Katanya yang satu ini tidak begitu saja dapat dipelajari, dipahami dan kemudian dipraktekkan. Dia mengambil contoh teknis berbisnis dalam perdagangan barang-barang elektronik yang saya jalankan. Nah, tentang hal ini saya sangat ingin berkomentar.”
“Baik, terima kasih” kata Danang, “Tapi sebelum Chris melanjutkan dengan komentarnya, ada baiknya kita rehat sebentar dengan menikmati hidangan ala kadarnya ini. Ayo, silahkan.”
Karena merasakan pembicaraan makin serius, mereka berusaha menyegarkan fisik masing-masing dengan cara berjalan-jalan di taman, serta ada juga yang ke toilet terlebih dahulu. Setelah semua kembali ke tempat masing-masing, Danang membuka pembicaraan kembali, “Jadi Anda dan Boy telah pernah membahas tentang apa yang dinamakan ‘Teknis Berbisnis’ itu?.”
“Ya, Pak” jawab Boy dan Chris hampir bersamaan.
Boy lalu menambahkan, “Semula saya menyangka atau berpikir bahwa teknis berbisnis itu termasuk dalam sistematika menjalankan usaha. Setelah pertemuan kita minggu yang lalu, lama-lama dapat saya pahami bahwa memang seperti yang Bapak katakan, ternyata kedua hal tersebut merupakan dua sisi yang berbeda dalam menjalankan usaha (bisnis).”
“Ya, dalam hal ini kita sudah sepaham. Sekarang mari kita simak komentar Chris yang dari tadi sudah tidak sabar ingin mengeluarkannya.” kata Danang mempersilahkan.
Danang, Anton dan Nina tidak tahu pembicaraan tentang hal apa saja yang telah dilakukan oleh Boy dan Chris, sehingga mereka merasa agak tegang juga dan dengan serius siap mendengarkan setiap kata yang akan diucapkan Chris.
“Kalau si Boy menyangka atau berpikir bahwa teknis berbisnis itu termasuk dalam sistematika menjalankan usaha, maka saya berpikir sebaliknya.” kata Chris memulai komentarnya.
Semua terdiam seolah-olah berkata dalam hati, “Nah, ini baru komentar.”
“Saya malah berpikir atau berpendapat bahwa sistematika menjalankan usaha itu termasuk dalam teknis berbisnis. Kalau si Boy mengambil contoh bisnis yang sedang saya jalankan sekarang ini, maka dapat saya katakan bahwa saya mempunyai sistematika tersendiri dalam menjalankan bisnis saya. Hanya saja memang tidak seperti sistematika yang diuraikan dalam buku ini.” kata Chris menjelaskan.
“Dapatkah Anda jelaskan kepada kami sekarang ini tentang sistematika yang Anda gunakan itu?” tanya Danang.
“Agak sulit juga saya menjelaskannya, Pak.” kata Chris menjawab, “masalahnya menyangkut liku-liku dan seluk beluk perdagangan barang elektronik yang hampir berubah setiap hari.” tambahnya.
“Kalau begitu,” kata Danang, “Anda bukan membicarakan tentang sistematika, akan tetapi sedang membicarakan ‘teknis berbisnis’ itu sendiri, yaitu tentang cara-cara yang Anda lakukan dalam menghadapi liku-liku dan seluk beluk perdagangan barang elektronik itu. Apa lagi kalau cara-cara yang Anda lakukan akan selalu berubah-ubah sesuai perubahan situasi dan kondisi bisnis, atau yang Anda sebut sebagai liku-liku dan seluk-beluk bisnis itu sendiri, tidak heran kalau Anda kesulitan menjelaskannya apalagi bagi orang lain akan lebih sulit lagi untuk memahaminya. Kesimpulannya adalah bahwa hanya Andalah yang paling mengetahui tentang ‘teknis berbisnis’ yang Anda gunakan. Orang lain paling-paling dapat meniru, tetapi tidak akan dapat menguasainya.”
Danang meraih cangkirnya, minum seteguk, lalu melanjutkan, “Itulah sebabnya sistematika disebut sebagai sisi lain dalam menjalankan usaha (bisnis), yaitu oleh karena sifatnya yang tetap, tidak tergantung jenis dan bentuk usaha (bisnis) yang dijalankan, bahkan tidak tergantung situasi dan kondisi yang sedang dihadapi dalam menjalankan usaha (bisnis), sehingga dapat dipelajari dengan mudah oleh pebisnis pemula yang belum berpengalaman dalam menjalankan usaha (bisnis) sekalipun. Bahkan sistematika yang baik dapat menuntun seorang pebisnis pemula untuk menemukan sendiri apa yang disebut ‘teknis berbisnis’ itu.”
“Oooo, jadi itu yang dimaksud teknis berbisnis . . .” Chris mengekspresikan kesalah-pahamannya. “Kalau begitu selama ini saya hanya mengikuti naluri bisnis saya saja tanpa sistematika tertentu.” katanya.
“Persis.” Danang menegaskan.
Semua terdiam, merenung. Anton dan Nina kelihatan memikirkan sesuatu yang menandakan kalau mereka masih berusaha memahaminya. Boy terlihat senyum-senyum menandakan kalau dia telah merasa makin mantap dengan pemahaman yang telah dicapainya.
Chris temannya yang baru kali ini ikut pertemuan dengan Pak Danang terlihat geleng-geleng kepala menandakan ada sesuatu yang disesalkannya, terbukti dari ucapannya, “Kenapa baru sekarang ada sistematika menjalankan usaha seperti dalam buku ini, Pak. Kenapa tidak sebelum ayah saya meninggal, sehingga saya dapat mempelajarinya dulu. Diantara kami bersaudara, hanya saya yang dianggap atau diharapkan bisa menjalankannya sehingga akhirnya saya terpaksa meneruskan usaha ayah saya sebisa-bisa saya.”
Boy nyeletuk, “Babe ‘lu sih, nggak ngomong-ngomong dulu sama penulis buku ini kalau mau meninggal. Kalau ngomong dulu, pasti buku ini buru-buru ditulis lalu diterbitkan.” Semua tertawa mendengar seloroh si Boy.
“Yang jelas, kalau dibaca dari resume penulis, dia memerlukan waktu belasan bahkan puluhan tahun sampai menemukan ‘Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis) dengan Pendekatan Proses Bisnis’ ini, sehingga barulah akhir-akhir ini dia bisa menyusunnya menjadi buku dan menerbitkannya.” kata Danang sambil mempersilahkan lagi tamu-tamunya minum dan makan kue-kue yang masih ada.
“Pak, jadi bagaimana tentang kebingungan kami mengenai usaha apa yang sebaiknya kami jalankan?” tanya Anton lebih serius lagi.
“Anton, dari pertanyaan yang Anda ajukan menandakan bahwa Anda masih belum paham betul tentang ‘Teknis Berbisnis’ itu.” jawab Danang.
“Iya, memang rasa-rasanya masih belum mantap, Pak.” Anton mengiyakan sambil garuk-garuk kepalanya.
“Bila Anda menanyakan usaha apa yang akan dijalankan, berarti Anda menanyakan tentang produk yang akan dijadikan objek bisnis. Itu termasuk masalah ‘Teknis Berbisnis’. Temukan jawabannya dengan menggalinya dari dalam diri Anda sendiri. Kalau Anda tidak menemukannya dalam diri Anda sendiri, bukan berarti Anda tidak punya ide apapun tentang produk yang akan dijadikan objek bisnis. Anda hanya belum menemukannya saja. Dalam ‘Teknis Berbisnis’ diperlukan daya kreatif dan inovatif. Masalahnya mungkin daya kreatif dan inovatif Anda selama menjadi pegawai tidak memperoleh kesempatan untuk berkembang. Hal ini biasanya terjadi pada pegawai yang pekerjaannya monoton, yang banyak terdapat di lingkungan seperti bank tempat Anda pernah bekerja. Pegawai yang demikian umumnya mengerjakan apa-apa yang disuruh/ditugaskan saja, dan biasanya awet bekerja sampai pensiun. Sebaliknya pegawai yang bekerja di lingkungan yang memungkinkan daya kreatif dan inovatifnya berkembang biasanya tidak lama menjadi pegawai. Umumnya kemudian menjadi pekerja lepas atau berwira-swasta. Dalam hal Anda belum menemukan jawaban tentang ‘usaha apa sebaiknya yang akan Anda jalankan’, bicarakanlah dengan teman-teman Anda yang sudah sepakat dengan Anda untuk menjalankan suatu usaha (bisnis). Mungkin salah seorang telah menemukannya, dan untuk sementara tetapkanlah itu dulu sebagai objek bisnis, atau dengan kata lain produk yang akan disediakan dalam menjalankan usaha (bisnis). Setelah itu ikutilah sistematika yang ada dalam buku ini seperti yang sekarang saya kerjakan untuk mengembangkan usaha yang sedang saya pimpin.” kata Danang menjelaskan panjang lebar meniru penjelasan yang pernah diperolehnya via telepon dari ‘M. A. Dani & Associates’. “Saya sangat berkeinginan menyelesaikannya sampai saya berhasil menyusun sebuah ‘Sistem Bisnis’ dengan tujuan agar saya dapat menyerahkannya kepada seorang eksekutif. Terus terang saya juga sudah capek rasanya merangkap menjadi eksekutif.” lanjutnya.
Anton masih terlihat garuk-garuk kepala sehingga akhirnya kata Danang, “Begini, minggu depan mungkin saya tidak bisa meluangkan waktu untuk mengadakan pertemuan berikutnya. Saya melihat di antara kalian berempat sudah ada yang telah memahami tentang ‘menjadi pengusaha’ dan tentang ‘dua sisi dalam menjalankan usaha’, tinggal menyamakan tingkat pemahamannya. Jadi teruskan saja mengadakan pertemuan untuk membahas segala sesuatunya tentang sistematika ini, terserah kalian kapan dan dimana yang kalian bisa menyelenggarakannya, Oke?”
“Oke deh, Pak.” kata Anton, Nina, Boy dan Chris hampir serempak
“Kalau begitu pertemuan kita hari ini saya tutup sampai disini. Nina beritahukan kalau saya nanti masih diperlukan.” kata Danang menutup pertemuan.
“Kayaknya Bapak pasti masih diperlukan, Pak.” jawab Nina yakin.
***
TUGAS ANDA SEBAGAI PESERTA PENDIDIKAN/PELATIHAN:
Diskusikan dalam kelompok, dengan mengambil bahan-bahan yang terdapat dalam pembicaraan-pembicaraan yang dilakukan oleh Anton, Boy, Chris, Danang dan Nina, sehingga diperoleh kesimpulan tentang hal-hal yang diminta di bawah ini:
1) Apa yang menjadi tujuan Danang dan langkah-langkah apa yang dapat disarankan kepadanya untuk mempercepat pencapaian tujuan?
2) Apa yang menjadi tujuan Anton dan Boy, apa bedanya dengan tujuan Danang dan langkah-langkah apa yang dapat disarankan kepada mereka untuk mempercepat pencapaian tujuan?
3) Siapa di antara Anton, Boy, Chris dan Nina yang dianggap paling siap untuk menjadi pengusaha dan indikasi apa yang mendukung anggapan itu?
4) Bila mereka, termasuk Danang, membentuk kelompok yang akan mendirikan dan kemudian menjalankan sebuah perusahaan, siapa-siapa di antara mereka yang akan menjadi anggota kelompok dan apa peranan atau kontrribusi masing-masing dari sejak mendirikan perusahaan sampai dengan menjalankannya nanti.
***
***************
DISCLAIMER:
Privileged/Confidential information may be contained within this message. If you are not the intended recipient, you must not use, copy, retain, distribute, or disclose any of its content to others. Instead, please notify the sender immediately and then delete this e-mail entirely. We have checked this e-mail for any viruses and harmful components however; we cannot guarantee it to be secured or virus free. PT Perusahaan Pelayaran EQUINOX does not accept any responsibility for any damages or any consequences therefrom.

