Assalamualaikum w.w.

Yulmizar wrote:

Rajo bukan "raja" tapi adalah limbago adat. Rajo Adat tidak pernah
mengakui ada seorang pemimpin tapi tigo tungku sajarangan. Rajo Alam
disamping memakai sistem tigo tungku sajarangan, mempunyai seorang yang
dituakan. Beda rajo ini juga berbeda tinggi rendah ruang rapeknyo. Untuk
Rajo Adat balantai sama datar. Untuk Rajo Alam, lantai untuk "Ketua"
agak ditinggikan.
Bana baitu. Rajo atau kerajaan di awak iyo balain dari nan dibayangkan urang lain. Dalam novelnyo Gus tf manulih:

(catatatan: nan manyabuik dirinyo aku adolah tokoh Dt.Perpatih nan Sabatang)

"Mata kakakku menyorot, lurus ke arahku. “Kaupikir main- main aku kemari? Mengunjungimu ke sini hanya untuk bercanda?”
“Bukan begitu maksudku, Kakanda. Tapi ...,“ kulemparkan pula tatap ke luar jendela, “Aku pernah punya pikiran, tentang sebuah struktur, bukan kerajaan, yang mengatur manusia dalam tatanan berbeda.”
“Bukan kerajaan? Ceritakan kepadaku, Adinda.”
“Ia hanya suatu wilayah, Kakanda.” Kutatap kakakku. “Suatu wilayah, seperti yang kulihat di Benua Rum terdiri pula atas daerah-daerah. Masing-masing daerah ini, seperti yang kulihat di Benua Gina terdiri atas suku-suku. Suku suku ini, Kanda, akan diatur sedemikian rupa sehingga lebih menonjolkan pemilikan bersama daripada perseorangan, di mana laki-laki mempunyai hak usaha, sedangkan perempuan mempunyai hak memiliki.”
“Bagaimanakah kepemimpinannya?”
“Aku menyebutnya dengan istilah pucuk alam, Kakanda. Tak soal apakah terdiri dan dua, tiga atau lebih orang, karena pada prinsipnya mereka hanyalah wakil dari apa yang kusebut nan bana?"
Nan bana? Bukan manusia, Adinda?”
“Kalau manusia, Kanda, apalagi bila hanya seorang, kebenaran akan memusat. Bukankah lain manusia, lain pula kebenarannya? Dengan adanya beberapa manusia, Kanda, kebenaran akan membulat -- nan bana, makanya, bertempat
di atas apa saja.”
“Jelaskan!” kakakku antusias, “Jelaskan kepadaku, Adinda. Segalanya!”
Pucuk alam ini, Kakanda, dalam pelaksanaan pengaturan, barangkali pula harus dibantu oleh beberapa lembaga
di bawahnya, karena tak mungkin mereka awasi segalanya. Begitu juga, tentulah diperlukan pimpinan tiap daerah yang mengatur masing-masing daerahnya. Di bawah para pemimpin daerah ini, itulah daerah kecil yang kumaksudkan terdini dan suku-suku. Pada masing-masing suku inilahdiberlakukan suatu tatanan, suatu sistem adat tertentu, tang memberikan tuntunan dalam pola laku keseharian -- sesuai dengan nan bana." (halaman 51)

Selain itu Gus tf mengemukakan hal lain nan menarik tentang susunan pemerintahan minang, yaitu tentang indak adonyo pasukan balatentara dalam kerajaan minangkabau dahulu tu:

Tapi aku bukanlah raja.
Dan kakakku bukanlah Sutan Balun.
Bagaimanapun telah berubahnya Sutan Marajo, Baginda Aryawangsa Mauliawarmadewa besar di Majapahit. Sebagai seorang yang pernah memegang jabatan panglima perang, logikanya tak bisa dilepaskan dan tentara, dan senjata. Maka, “Kau bermimpi, Dinda. Tak ada kerajaan tanpa angkatan perang,” katanya ketika suatu han aku menyampaikan apa yang ada dalam pikiranku.
“Aku tak bermimpi, Kakanda. Bila perang dihilangkan dan bahasa, orang pun takkan mengerti cara melakukannya. Pernahkah Kanda dengar suatu daerah yang tak memiliki kata dusta dalam bahasanya? Itu karena mereka memang tak pernah melakukan dusta.”
“Untuk dusta mungkin saja. Tapi untukperang tidak akan, Dinda. Sebelum orang lain mendahului kita, akan lebih menguntungkan kalau kita mendahului mereka.”
“Tapi logika itu bukankah bisa dibalik, Kakanda?Jika kita tak menyerang orang lain, orang lain pun tak punya alasan menyerang kita.”
“Orang akan membuat alasan. Selalu orang akan membuat älasan. Beribu-ribu alasan, Adinda.”
Begitulah. Tapi kusadari, mi fasal yang sama sekali ber beda dan Tank Balas. Dan akan jauh lebih sulit. Berselisihnya dunia antara diriku dengan Aditiawarman atau Sutan Marajo Basa adalah penyebab utama. Kondisi seperti mi, diperlihatkan oleh sejarah, hanya bisa dipecahkan dengan masuk ke dunia pertama untuk kemudian membawanya ke dunia kedua. Tapi, akan mampukah aku? Karena itu sama artinya dengan lebih dulu masuk ke dunia kakakku. Sejarah penaklukan itu.
Hanya ayahku Cati Bilang Pandai yang bisa mengerti.
Hanya ... hanya ibuku Bundo Kanduang yang mampu memahami.
Setiap memandang Bundo, setiap memandang adikku Puti Jamilan, setiap memandang perempuan, perempuan mana saja di belahan dunia mana pun, aku selalu melihat kekuasaan memporak-porandakan mereka. Di daerah taklukan juga di daerah kemenangan. Di daerah taklukan menjelma jeritan, di daerah kemenangan menjelma hiburan. Tak lebih dan benda, legitimasi dari apa yang orang laki-laki sebut keperkasaan. (halaman 38-39)

Akhirnya, mungkin kerena keadaan aman yang berlangsung cukup lama, alam minangkabau mengalamai kemajuan di bidang ekonomi dan budya menciptakaan kemakmuran dan kesentosaan bagi rakyatnya...

“Tak kupercaya,” kata kakakku, “Luhak Nan Tigo, kini, seperti kayangan.”
Saat itu awal tahun barn, Januari 1361. Musim hujan barn saja lewat dan bumi Pagarnyung, Alam Minangkabau kami, seolah serupa disepuh.
“Bukankah berkat anggaran tentara yang kita alihkan?” kataku menanggapi.
“Betapa lain rasanya setelah sekian tahun tak ke medan perang,” gumam kakakku kemudian. “Angkatan perangku, di wilayah rantau tergeletak begitu saja — seperti tak berguna, Dinda, padahal mereka terus menelan biaya.”
“Sudah kukatakan, Kanda, bubarkan saja mereka. Biarlah mereka memilih kehidupan mereka sendiri.”
Kakakku Datuk Katumanggungan, atau Sutan Marajo Basa, atau Aditiawarman, atau Baginda Aiyawangsa Mauliawarmadewa, menghela napas. “Tidak, Adinda. Alam Minangkabau boleh tak berangkatan perang, tapi Pagaruyung harus. Masih kuwaswasi: Akan selalu ada alasan bagi seseorang untuk menaklukkan orang lain.”
“Masa itu sudah lewat, Kanda. Majapahit sendiri, Kanda lihat, telah tak terdengar sepak terjangnya.”
“Itu karena Gajah Mada sudah cukup tua, Dinda. Akan sulit mencari panglima secakap Gajah Mada.”
Bila percakapan telah mengarah ke sana, aku tak lagi berkeinginan untuk menanggapi kalimat kakakku. Segera saja aku jadi teringat, ini bukanlah percakapan pertama kami soal tentara, atau prajurit, atau angkatan perang Pagarnyung. Bagaimanapun, aku maklum, tak mudah bagi seseorang untuk melepaskan diri dan apa yang telah berpuluh-puluh tahun ia yakini. Bahwa daerah darek , Alam Minangkabau, keberadaannya bisa seperti mi — tanpa prajurit kecuali dubalang itu hanyalah karena kegigihanku, dulu, berdebat panjang dan kebetulan pula ayah kami Cati Bilang Pandai berpihak kepadaku.
(halaman 66-67)



Wass.
Adyan



Online Polling


  


Kirim email ke