Title: Message
 
-----
 

beberapa waktu yang lalu,
saya dan beberapa kawan bersama sama menikmati hidangan
es buah dirumah salah seorang kawan di kawasan Bangka-Mampang

ditengah tengah perbincangan, tuan rumah sedikit kaget melihat banyak semut
yang akan masuk ke dalam es buah yang diwadahi toples plastik tersebut,
mendengar itu saya berkomentar

  "semut itu memang --maaf-- goblok ya ?,
saking mau ngerasain manis sampai nyemplung ke air, akhirnya mati"

lalu teman saya menimpali
"ya, mereka mati dalam kenikmatan" :))

semut memang memiliki banyak keunikan,
dari dialog kami diatas, ada sebuah i'tibar(pelajaran) yang bisa kita
renungkan,
kita manusia sering secara tak disadari bertingkah seperti semut ..

untuk mengejar yang kita impikan,
seringkali kita justru mencampakkan diri kita dalam kebinasaan,
karena hasrat untuk menumpuk harta, menapak karir, seringkali akhirnya kita
"membunuh" diri diri kita ..

mungkin tidak langsung berdampak seperti semut yang langsung tak bernyawa ..
tidak, kadang kita tidak mengalaminya ..

yang saya maksud dengan membinasakan diri sendiri adalah dalam tataran
spiritual ..
dalam ruang Ilahiah yang mustinya justru kita hidupkan ...

betapa banyak anak anak remaja hidup dalam pergaulan bebas, bagi mereka ini
adalah "trend" dan "gaya hidup modern" belaka, dan mereka menganggap itu
bagian dari modernitas agar tak disebut kolot ... dan pararel dengan
anggapan tersebut, siapapun yang tidak funky, nggak trendi, nggak cool
seperti mereka, maka stempel kuno, norak lah yang akan mereka tempelkan ...
padahal, dalam kacamata keimanan, justru mereka yang mencampakkan diri
mereka dalam kebinasaan ..

pun berapa banyak kaum eksekutif berdasi dan bersepatu hak tinggi, yang
menganggap bahwa cafe, diskotek, perselingkuhan, free sex adalah sebuah
aksesoris kehidupan yang niscaya belaka, tanpa pernah ada sedikitpun "wajah"
Allah dalam aktifitas harian mereka ... jasad mereka memang tidak mati, tapi
hati mereka tak ubahnya mayat yang tak bergerak .. apa bedanya mayat dengan
orang hidup yang hatinya mati ? sama ....

dahulu, ketika habis maghrib, anak anak ramai mengaji berdengung bak lebah
.. tapi tidak sekarang .. mau maghrib, mau malam hari, hanya ramai suara
play station belaka, orang orang tua hanya berpikir memenuhi kesenangan
anaknya secara lahiriah, tapi jarang mau berpikir keras untuk mengisi ruang
bathin spirtual anak anak mereka ....

dalam sebulan, entah berapa uang yang dikeluarkan untuk mengkonsumsi barang
barang yang berdimensi dunia, sementara disisi lain, hanya uang receh
belaka yang sempat terogoh masuk ke tromol masjid, bahkan mungkin tidak sama
sekali, kalau tidak boleh dibilang lupa ... betapa banyak uang yang
dibelanjakan untuk konsumsi jasadiah belaka, tidak untuk ruhiyah yang justru
akan menghidupkan dengan kehidupan yang hakiki ...

QS 2:195. Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah
kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah,
karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

allahu a'lam bisshawab
 

wassalaamu'alaikum warahmatullaah wabarakaatuh
from the Desk of Hilal


Upgrade Your Email - Click here!

Kirim email ke