Assalamualaikum,

Doens yth,

Karena sedang mengajari seorang murid kelas V SD arti pribahasa Indonesia yang berbunyi Bagai Membeli Kucing Dalam Karung, iseng2 saya search internet untuk mengetahui dalam konteks apa saja pribahasa ini dipakai orang. Kalau dunsanak tertarik untuk membaca, ini cukilannya:

1.  Pak Anwar dari Palembang mengutarakan kekecewaan pada  terhadap partai pilihannya pada Pemilu 1999 lalu.  "Saya sebenarnya kecewa dengan partai pilihan saya. Janji-janji yang diberikan ternyata banyak yang tidak dilakukan. Mulai dari pimpinan tertinggi sampai kader di daerah, tindakannya banyak yang meleset dari ucapannya dulu. Saya pikir baik kalau pemilu mendatang memakai sistem terbuka supaya kita tahu persis orang-orang yang akan mewakili kita. Paling tidak, kita di daerah pasti lebih mengenal mereka yang sedaerah daripada kalau beli kucing dalam karung seperti sistem proporsional tertutup itu." Anwar, 43 Pegawai Negeri Sipil di Palembang.(Kompas)

2. Lin Che Wei CFA Director SG Securities (Singapore) mengutarakan  kekecewaannya pada BPPN dalam penjualan aset kredit senilai Rp 185 trilyun dari 1.558 obligor atau 2.591. Katanya, " tanpa menghiraukan prinsip penciptaan competitive bidding environment yang fair dan transparan, BPPN telah meluncurkan program penjualan aset yang sangat kontroversial. Penjualan dengan metoda "jual kucing dalam karung ini" tentu saja makin meningkatkan problem kepada bank dan juga otoritas moneter di dalam memonitor distribusi dari risiko di dalam sistem perbankan.(Kompas)

3. A.S.Hikam, sewaktu menjabat Menristek pada kabinet Gus Dur, membuat pernyataannya yang sempat bikin geger tentang rencana pemerintah untuk membeli pesawat tempur F-16. Ketika ditanya soal investasi swasta atau asing, jawabnya:
Kegiatan ristek itu omong kosong kalau tidak ada insentif. Ini penting supaya ada hubungan antara lembaga riset, pasar dan industri. Selain itu, saya setuju pendapat bahwa kita harus lebih terbuka. Bagaimana orang disuruh invest jika caranya seperti beli kucing dalam karung? Peminatnya ada, tapi mereka butuh kepastian. Industri-industri kita juga perlu perubahan fundamental dalam budaya perusahaan; mereka itu bisnis, bukan pegawai negeri yang kerja tidak kerja dibayar. (Angkasa No.9 thn 2000)

Jadi Doens, dari ketiga abstraksi diatas saya menarik kesimpulan sementara, bahwa pribahasa Bagai Beli Kucing Dalam Karung itu  berkonotasi negatif,  mengandung kekecewaan dan  tidak bisa dipercaya. Coba saja, bagaimana Doens mau mengeluarkan uang pada seekor kucing bila yang  mau di beli tidak tahu jantan-betinanya, jenis Anggora atau kucing kurap yang bebas berkeliaran di gang2 sempit Jakarta.
 
Selamat berfikir......
 
Wassalam,
 
--GM-- 
 

Kirim email ke