Tambah seru saja, nampaknya lanjutan kisah kasus tabaka nyo tampek
manggaleh dunsanak awak di tanah abang.

Tomi winata marah karena dituduh Tempo sbg pihak yg sengaja membakar pasar
tanah abang , entah lah apakah benar atau tidak berita tsb , tapi
setidaknya dunsanak awak nan manggaleh di sinan lah manjadi korban.

sambil mahota di lapau kopi iko , misal awak ba andai andai dg beberapa
skenario sbb ;

skenario-1 ; misal kalau berita tsb tidak benar, yah berarti dunsanak awak
memang dapek musibah murni, basaba sajo lah , ba'a pulo ka di kato.

skenario-2 ; misal kalau memang benar bahwa Tomi Winata ( cukong nya
tentara , cukong judi yg diduga juga mencukongi Sutiyoso jadi gubernur DKI
) ,melakukan konspirasi dalam kasus kebakaran pasar tsb , dg suatu tujuan
bisnis dan politik tertentu. Dan yg menjadi korban adalah dunsanak awak nan
manggaleh di sinan , kalau baintun caritonyo awak basamo paralu pulo lah
membuat strategi.

( mungkin bisa diungkap pula kasus sebelumnya kebakaran di pasar senen ,
dimana banyak pulo panggaleh dunsanak awak nan jadi korban, apakah memang
murni musibah atau ada dugaan lain ?)

skenario-3 ; misal memang ada konspirasi besar untuk meruntuhkan kekuatan
jaringan ekonomi Indonesia, khususnya bisnis orang minang , ada ketakutan
pusat bisnis lain yg banyak orang minang spt pasar rumput atau cipulir akan
jadi target berikutnya.
(nampaknya terlalu jauh bana skenario ini)

untuk skenario-1 nan berlaku, yo basaba sajo lah awak.

kalau skenario-2 yg berlaku ,berarti dalam dunia bisnis di Indonesia saat
ini, lah paralu nampaknya pebisnis urang awak memiliki link informasi yg
canggih dan power yg disegani.
Sehingga misalnya
- Setidaknya sebelum terjadi kasus kebakaran tsb, kita sudah punya info
nya.
- Atau bisa juga dg negosiasi dg pihak mereka, sehingga kasus tsb bisa
dihindarkan.

( Nampaknya awak paralu baraja juo ka dunsanak awak nan punyo supermarket
Tip Top di Rawamangun,nan aman sajo ketika ada kerusuhan th '98 )

Kalau skenario-3 yg berlaku,nampaknyo awak basamo paralu merapatkan
barisan, menggalang kekuatan ( jan batangka saja sasamo awak )

Seandainya urang awak punyo power dan political bargaining yg kuat , orang
lain akan berpikir berkali kali,kalau akan berbuat sesuatu yg merugikan
para pebisnis minang.

hal ini nampaknya perlu jadi perhatian kita bersama pula, pada saat ini
dimana awak basamo di rantaunet ko sedang mulai membangun kekuatan melalui
Minang Incorporated , bahwa bisnis tak berdiri sendiri tapi memiliki kaitan
dg berbagai hal , semisal power dan politik.

atau bisa pulo, bahwa dari hota awak di palanta ko , telah tercetus ide
pengembangan ekonomi sehingga lahir Minang Incorporated,dan syukur sudah
mulai terlihat bentuknya dan mulai berjalan cepat.
Sebelumnya pernah terlontar ide tentang pengembangan pendidikan di Sumbar
dg membangun sekolah unggulan ( International university ) , tapi belum
berlanjut lagi action nya . Mungkin dari hota awak basamo di siko timbul
pula ide tentang membangun kekuatan orang minang dari sisi power dan
politik , babarapo dunsanak kurang setuju ttg ide tsb , tapi kenyataan di
lapangan di Indonesia saat ini , menunjukkan bahwa hal tersebut cukup
mendesak.

ada kabar pula, bahwa para pedagang tanah abang akan coba membawa kasus ini
ke pengadilan ( kalau memang terbukti dugaan nya ).

Tapi ambo agak pesimis mereka bisa menang,karena bisa jadi para pengacara
para pedagang urang awak tsb akan kalah di pengadilan melawan para
pengacara mahal yg jago bersilat lidah, yg dibayar Tomi winata. Atau bisa
jadi sudah kalah duluan karena diancam oleh preman nya mereka.

sakian hota ringan dari ambo

wassalam

HM

--------------------

Kronologi
Penyerbuan Tomy Winata ke TEMPO

Oleh: Ahmad Taufik, Wartawan Majalah TEMPO

Prolog

Peristiwa yang terjadi pada hari Sabtu, 8 Maret 2003,
telah menodai kemanusiaan dan kehidupan yang beradab
di negeri ini. Sekelompok orang dengan uang yang
dimilikinya mengerahkan massa, menteror dan berbuat
sewenang-wenang. Aparat keamanan (polisi) juga tidak
berdaya, dan dipermalukan di depan masyarakat
(minimal saksi mata dan saksi korban).

Apa yang akan saya ceritakan disini adalah kronologi
penyerbuan yang tak beradab dan penyelesaian akhir
yang terputus. Saya sebagai saksi mata, saksi pelaku
sekaligus saksi korban (yang mendengar, melihat dan
merasakan kejadian). Saya akan klasifikasikan secara
terbuka dalam laporan ini: apa itu informasi, yang
saya lihat, saya dengar, saya rasakan, analisa atau
kesimpulan. Soal kata akhir terserah masing-masing
pihak yang tersangkut disini, karena saya tidak bisa
terima dan sekaligus tertekan secara psikis.

Inilah laporan lengkapnya.

Rabu, 5 Maret 2003

Saya ditelepon oleh Desmon J.Mahesa, kuasa hukum Tomy
Winata. Ia mengatakan bosnya, Tomy Winata, tak senang
dengan tulisan saya di TEMPO edisi Senin, 3 Maret
2003, berjudul "Ada Tomy di Tenabang?". Dia tanya,
"Apakah tulisan itu dibuat BHM (Bambang Harymurti)?
BHM itu, kan bekas anak tentara, yang membenci Tomy
Winata, Artha Graha, karena AG diback-up Edy
Sudrajat."

Saya bilang, "Pada saat tulisan itu jadi BHM sedang
berada di luar negeri, di sini kami bekerja dalam
sebuah tim kolektif."

Desmon lalu bilang, "Akan mengirim surat ke TEMPO."
Saya katakan "silakan saja." Ia mengatakan, "Saya
kulonuwun dulu, karena ada senior di sini (TEMPO,
maksudnya saya, sebagai aktivis dulunya) untuk
mengirim surat atas permintaan bos/kliennya."

Saya sempat memberi tahu kepada atasan saya di
kompartemen nasional, dan beberapa kawan, serta BHM
soal rencana Tomy melalui Desmon J. Mahesa akan
mengirim surat ke TEMPO.

Jum'at, 7 Maret 2003

Desmon kembali, menelepon saya, bahwa ia sudah
mengirimkan surat somasi ke TEMPO. Lo, saya kaget
juga. Somasi? Saya pikir surat yang dimaksud Desmon
adalah surat bantahan. Saya tanya kapan dikirim?
"Sudah siang ini," jawabnya.
"OK, saya cek," jawab saya.
Baru saya turun ke lantai dua, Wakil Pemimpin Redaksi
Toriq Hadad memanggil saya, bahwa ada surat somasi
dari Tomy Winata yang baru diterimanya. Saya diminta
foto copy untuk mempelajarinya, dan mengumpulkan
bahan-bahan untuk bukti-bukti bila kasus tersebut
berlanjut ke pengadilan.

Saya berdiskusi dengan atasan saya di kompartemen
nasional. Atasan saya bilang "cobalah rayu Desmon
dulu, mungkin bisa diselesaikan dengan cara lain."

Kawan saya dari kompartemen lain, Karaniya
Dharmasaputra penanggung jawab kompartemen Ekbis &
Investigasi, juga berusaha menghubungi seorang
sumbernya yang merupakan kawan dekat Tomy Winata.
Katanya akan diatur pertemuan dengan Tomy Winata pada
Hari Senin, 10 Maret, mungkin caranya dengan
memberikan wawancara khusus kepada Tomy yang lebih
konprehensif seputar isi berita sebelumnya.

Saya menelepon Desmon, soal somasi itu. Dia mengatakan
akan memberikan konprensi pers di Restoran Sari
Kuring, kompleks SCBD, Sabtu, 8 Maret 2003, pukul
11.00 siang. Aku menawarkan kenapa dia tidak
mengajukan dulu surat bantahan (yang saya janjikan
akan bisa dimuat untuk terbitan mendatang), "jadi
somasinya enak."

Tapi Desmon bilang, "kliennya minta somasi bukan surat
bantahan. Lagi pula bantahannya kan sudah termuat
dalam berita itu," kata Desmon.

Kalau sudah ketetapannya begitu, saya bilang OK-lah.
Bahkan Desmon sempat bilang kirim orang ya ke
konprensi pers itu. Saya mengiyakan.

Sabtu, 8 Maret
Sekitar pukul 10.00 saya sedang menghadiri undangan
acara penikahan yang juga dihadiri Wakil Presiden
Hamzah Haz di daerah Condet, Jakarta Timur. Saya
ditelepon seseorang teman seprofesi. "Eh, Tomy marah
besar sama TEMPO soal berita Tanah Abang itu."

"O ya terima kasih," kata saya dan menceritakan soal
somasi dan konprensi pers Desmon, hari ini
(Sabtu/11/03). Telepon terputus. Tak lama kemudian
sekretaris redaksi menelepon, "Pik, tolong ke kantor
segera, di sini belum ada orang. Polisi sudah banyak
di depan katanya, orang-orang Tomy Winata akan mendemo
kantor TEMPO."

Namun, polisi tersebut mengatakan, "Sudah, bapak ke
depan saja, beri penjelasan kepada mereka."

Akhirnya dengan baca bismilllah, saya ke depan, saya
berpikir akan aman, toh polisi sudah lebih banyak dari
mereka (namun saya baru sadar belakangan semua polisi
berada di balik pagar, di dalam halaman kantor TEMPO).
Di depan massa, saya berkata, "Saya sekarang yang
sedang bertanggung jawab di kantor ini, saya akan
memberi penjelasan," kata saya sambil membawa kertas
surat kuasa Tomy dan Somasi Desmon. Namun yang terjadi
saya ditarik-tarik, ada 4 orang menarik-narik saya ke
arah tengah-tengah massa, seorang lagi yang berada di
dekat pagar menarik kerah baju saya (orangnya kurus
gondrong, dan terus ada sampai di kantor Polres). Saya
ditarik-tarik, tanpa ada yang menolong, di depan pagar
yang ada polisi, saya bilang, "Buka, buka tolong
selamatkan saya." Tapi pagar tidak dibuka (mungkin
polisi punya alasan lain, takut massa masuk juga).

Saya minta apa keluhan mereka. Saya mengenalkan nama
saya, dan kebenaran saat itu saya bilang saya yang
bertanggung jawab, karena yang lain sedang tidak ada,
karena hari Sabtu. Seorang (yang belakangan bernama
Yosep, menggertak tidak ada orang atau sengaja
diliburkan karena tahu kami akan datang?) Saya bilang
sekarang Hari Sabtu, yang masuk hanya yang piket saja,
dan orang yang belum selesai tulisannya. Akhirnya
debat yang tak perlu itu putus. Seorang yang bernama
Teddy Uban (tangan kanan Tomy Winata), lelaki berambut
putih berbicara nyerocos, marah-marah. Bahwa TEMPO
menulis hal yang tidak benar, akibat tulisan itu
kantor Bank Artha Graha di Jln.Jayakarta dilempari
telor, "Pak Tomy juga diteror, bahkan Hari Senin,
sejumlah pedagang korban kebakaran Pasar Tanah Abang
akan menyerbu kantor Arta Graha di Jln. Jendral
Sudirman. "Kalau nggak percaya gua telepon Kapolda
nih, mau?" kata Teddy.

"Ya, silakan saja," kataku. Dia tampak berusaha
menelepon, saya nggak tahu apakah benar menelepon
Kapolda itu atau cuma gertakan. "Beliau sedang acara
acara nggak bisa diganggu," kata Teddy. Sejumlah orang
pengikut Tomy, di dalam ruang rapat berteriak-teriak
mengompori, sahut menyahut, bagi saya itu biasa
terjadi, dalam rapat-rapat. Sudah cukup, saya bilang,
"Saya akan menjelaskan persoalannya." saya katakan,
"Saya sudah terima somasi dari Pak Tomy melalui
pengacaranya Desmon, bahkan hari ini kabarnya akan ada
konprensi pers, kami terima keluhan anda, kami juga
sedang berusaha menemui Pak Tomy, rencananya hari
Senin, sekarang kabarnya Pak Tomy sedang berada di
Kendari. Saya terima keluhan anda."

Belum selesai saya omong Teddy sudah menyahut kembali,
"kamu kan penulisnya, kami minta siapa sumber Anda,
hayo sebutkan sekarang, tunjukkan kalau Anda katakan
Anda akan aman, akan kami amankan."
Saya bilang, "ada prosesnya seperti yang sudah ada
dalam somasi ini," kata saya menunjukkan somasi, "apa
pun ada prosedurnya, orang bersalah juga tidak
langsung dimasukkan ke penjara, tapi ke polisi dulu
diproses, ke kejaksaan lalu ke pengadilan baru masuk
ke penjara."

"Ah, lu wartawan taik semua, lu nulis begitu UUD,
ujung-ujungnya duit, abis nulis lu dekati bos gua
minta duit, taik lu, " kata Teddy sambil jalan-jalan
di seberang meja, tak lagi duduk.

"Eh... Anda jangan begitu ini penghinaan, mana
buktinya, TEMPO tidak seperti yang Anda sebutkan,"
kata saya.

"Eeee lu ngomong bolak balik bisa aja," katanya emosi
sambil mengambil tisu kotak kayu dan dilemparkan ke
kepala saya, saya tangkis, rupanya kena kawan saya
Abdul Manan yang berada di sebelah kiri saya, kena pas
di tengah antara mata, dan hidung, luka berdarah,
seorang bagian umum mengambil betadin dan mengelapkan
betadine ke luka itu, tangan saya yang luka bertambah
berdarah, setelah menangkis itu, dan sambil
menjulurkan jari tanda minta diberi betadine juga.

"Lo, kok dikantor saya main kekerasan begitu," kata
saya kepada polisi yang berdiri di sebelah kanan saya,
yang diam saja. Saya langsung menelepon BHM, "Udah deh
kalau begitu saya telepon atasan saya."
"Panggil kesini segera," kata Teddy dengan suara
keras.

Seorang yang bernama Yosep menyela bicara, "Kamu tahu
pimpinan kami di Kendari, berarti kamu mengkuti kemana
saja bos kami pergi ya?"

Situasi tak jelas karena banyak yang omong namun yang
dominan Teddy, Yosep yang menekan-nekan dan yang lain
bersahut-sahutan.

Saya telepon BHM, sempat saya pada telepon pertama
karena saya punya nomor yang lama. Lalu saya telepon
lagi, dan bilang saya tak bisa mengatasi situasi, saya
keluar ruang bertemu dengan Kapolsek Menteng. Saya
tanya, "Bagaimana nih Pak Kapolsek?"

"Gimana ya selesaikan dong, kan anda yang tahu
persoalannya," kata Kapolsek Menteng itu.

Lalu Teddy menelepon, "Nih sudah ada yang nulisnya,
disini diapain," katanya. Tak lama kemudian lelaki
putih, berbaju jeans biru naik Belakangan saya tahu
bernama David alias A Miauw (juga dikenal sebagai
tangan kanan Tomy Winata) ia menyerocos terus
marah-marah tak jelas minta sumber berita itu supaya
dihadirkan sekarang juga. Bahkan ia menyebut-nyebut
soal yang berbau rasial. "Jangan mentang-mentang Tomy
winata, Cina, ya, gua cina, buka diskotek, buka judi,
lalu lu tulis senaknya."

"Nggak begitu Pak David," kata saya," disini kami
pluralis tak pandang suku."

"Lu banyak omong bisa aja balikin omongan orang,"
katanya sambil dia nyerocos saya lihat mata dia, "E,
mata elu jangan melotot ngeliatin gua ngomong gua
bunuh sekarang lu bisa juga," kata David emosi. Orang
asal Flores, orangnya Tomy Winata mengambil bangku
lipat yang ada dikantor mau di pukulkan ke wajah saya,
sudah terayun, begitu juga seorang Flores lain yang
memakai baju safari biru gelap didanyanya tertulis
bordiran PMD warna merah. Mendekati saya mau memukul.
Entah kenapa tidak jadi saya dikepruk.

Karaniya (kebetulan dia juga keturunan Cina) masuk,
saya bersyukur, karena David sudah menggunakan
ungkapan rasial. Akhirnya Karaniya yang mengambil alih
situasi. Semua penjelasan Karaniya juga tak digubris,
dan David serta kembali memaki-maki, "Elu ngomong
kayak berak. Gua tiup mati lu!"

Saya kini hanya lesu tertunduk loyo, sebagai manusia
saya akui saya takut dan merasa tertekan waktu itu,
saya cuma telepon kembali BHM, dia sudah berada di
jalan kolong BNI 46, Sudirman. David sudah tak sabar
meminta saya ditangkap, dibawa ke kantor polisi, "Ini
sudah ada penulisnya dia yang bertanggung jawab bawa
saja," kata David.

Kapolsek Menteng juga mendesak saya soal
penyelesaiannya. Saya bilang, "Tunggu, pimpinan saya,
Bambang harymurti, sudah tak jauh, paling lama 10
menit." Saya masuk ke dalam ruangan, David keluar
ruangan menelepon entah kemana, saya mencoba
mencairkan suasana. Saya peluk Yosep dan lelaki
berbaju safari yang bertampang seperti kawan kita di
kantor yang berasal dari NTT juga Saya bilang Anda
dari mana? Dari Flores, "Wah satu tempat dengan saya,
bapak saya dari Waingapu,"
"O, kita satu kampung, untung saya nggak jadi ngepruk
kamu," kata Yosep, "Kamu kenapa ke depan massa untung
kamu selamat."

Saya bilang, "Saya berani karena saya pikir yang di
depan saudara saya semua asal flores jadi saya aman,"
kata saya. Kami mengobrol basa-basi, Yosep menekan
saya, "kamu katakan saja siapa sumber kamu, ayo kamu
akan aman, aku yang jamin deh, udah jangan takut,"
katanya sedikit merayu. Saya hanya senyum saja.

Saya keluar ruangan, tak lama kemudian BHM datang dan
mengambil semua tanggung jawab berhadapan dengan
preman yang tak jelas omongannya, kesana kemari
membangga-banggakan diri, mengancam akan membunuh,
membakar kantor ini, menjadikan Humanika kedua, bilang
kantor TEMPO ini kecil dibeli sama Tomy juga bisa. Dia
juga menelepon mengendalikan massa di luar untuk terus
menekan.

David dengan sombong juga mengatakan, soal bom Bali,
"Tahu nggak yang memberi tahu adanya bom Bali pertama
kali ke Kapolri, gua, dia belum tahu gua udah tahu."

Ia juga ngomong soal kebakaran Tanah Abang. "Elu tahu
apa soal kebakaran Tanah Abang. Gua tahu titik api
pertama kali, kenapa pemadam kebakaran tidak bisa
masuk ke pasar. Jadi, lu, jangan sok tahu soal
kebakaran tanah Abang," kata David. Apa maksudnya?

Akhirnya sampai situasi, harus ke kantor polisi, agar
massa di depan kantor bisa tenang. BHM minta jaminan
keamanan dan barikade polisi. Bari kade malah di dalam
kantor, untung di luar turun hujan. BHM tampak naik ke
mobil Timor milik polisi, dan berusaha mempersiapkan
tempat untuk saya berdua.

Tetapi saya ditahan David untuk tidak masuk mobil
polisi, saya mulai khawatir diculik dan dibawa ke
tempat lain, saya terus berpegangan erat dengan
Karaniya. Mobil Land Cruiser hitam milik Arta Graha
(tampak dari tanda pengenal diujung kanan dekat sopir)
di dalam sudah masuk orang-orang Tomy winata yang tadi
ikut menarik-narik badan saya di tengah massa di depan
kantor. Karaniya menarik seorang polisi (dadan/dadang
untuk ikut masuk ke dalam mobil) di mobil itu sempat
bertumpuk-tumpuk. Akhirnya di bangku tengah kami
berempat, sebelah kiri saya Haris Sumbi, Ambon yang
tinggal di Bendungan Hilir, karena saya pernah bertemu
dia beberapa kali di Retro, Hotel Crown, depan Polda
Metro jaya, setelah saya ingat-ingat, ia mengiyakan
ingatan saya itu. Sebelah kanan saya Karaniya, sebelah
kanan nya lagi polisi Dadang tadi. Di depan David dan
sopir, dibangku belakang tiga orang dari arthha graha,
Yosep, si gondrong kurus yang menarik-narik baju saya
di depan massa dan lainnya. Akhirnya, kami dibawa
pergi, dengan suara sirenenya, nguing-nguing.

Di dalam mobil, David berkata lewat telepon, "Kantor
itu lu segel, nggak boleh ada seorang pun karyawan
TEMPO yang keluar dari situ, sampai persoalan ini
selesai, mengerti?" Katanya entah kepada siapa?
Alhamdulillah ternyata kami bukan dibawa kemana-mana
tapi ke kantor Polres Jakarta Pusat.

Sudah aman di kantor Polres? Nggak juga, David
marah-marah kepada Yosep, "Elu tahu, gua pecat lu, dia
kan orang Flores, seharusnya elu yang duluan
ijak-injak dia sampai mati." Sejak saat itu tampang
Yosep tak lagi bersahabat malah menekan-nekan. Dialah
yang pertama kali menggebuk wajak BHM dari belakang di
kantor polisi. Buk. Keras juga, sehingga kaca matanya
terpental. David, Teddy, dan beberapa preman lainnya
juga memaki-maki dan mendorong-dorong BHM di depan
kantor Kapolres Jak-Pus.

Saya, BHM, dan Karaniya dibawa ke ruang kerja Kasat
Serse Polres Jak-Pus A.R. Yoyol. Masuk ke ruangan
kerja Kasat Serse sekitar 5 polisi (beberapa
berpakaian preman), David, Teddy, Haris Sumbi, dan
sekitar 5 orang David lainnya. David terus mengoceh,
soal BHM sebagai komandan yang harus bertanggung
jawab, mengancam akan membunuh. "Lu gue tembak juga
deh sekarang, kalau gue di penjara dan dibunuh disini
nggak takut. Mana, mintain pistol?" kata David.

Dia ngoceh terus menunjuk-nunjuk saya dan BHM. "Lu,
kan, orang pintar kalau ngua kan nggak makan sekolah,
SD aja gua nggak tamat, tapi gua megang tempat judi di
Harco Mangga dua menghidupkan 800 orang, gua bayar
mereka Rp 50 ribu tiap hari, lu bisa?"

BHM berusaha menjawab tudingan David yang tak masuk
akal dan tak berdasar, dan menyebutkan cara
penyelesaiannya secara prosedur yang sudah ada,
beberapa polisi reserse ada di dalam ruangan itu juga
beberapa orang Tomy Winata. Dari TEMPO cuma saya, BHM
dan Karaniya. Lalu David emosi, dan menonjok perut
BHM, menendangnya dan memukul-mukul kepalanya, "Ini
saking pinternya sampe botak. Karaniya marah dan
protes atas perlakuan itu, malah bogem mentah
menghantam wajah sebelah kirinya. Keras juga. Saya
hanya diam saja. Saya lihat apa yang dilakukan David
sudah tidak wajar, menghina banyak orang termasuk
polisi dan tentara. "Udahlah polisi sudah gua bayar
semua, lampu disini juga gua yang beliin, gua juga
ngeluarin duit buat wartawan Rp 150 juta tiap bulan
ada daftarnya. Sutiyoso juga gue yang jadiin sebagai
Gubernur, kalau kagak mana bisa dia jadi gubernur.
Udahlah lu nggak ada ape-apenya jangan macem-macem.
Udah deh persoalan ini bisa selesai kalau Ciputra udah
ketemu sama bos gue Tomy Winata. Telepon dia!" kata
David.

"Wah saya nggak punya teleponnya, sejak handphone saya
hilang," kata BHM.
"Ah lu pemimpin goblok nih gua teleponin," kata David.
Dia sambungkan. "Halo ada yang mau bicara nih,''
telepon David pindah ke BHM. BHM ngomong dengan
Ciputra. Tapi hanya memberitahukan persoalan saja.
Kata BHM kemudian Ciputra bilang kan saya nggak
ikut-ikutan urusan redaksi, "Cuma komisaris saja, anda
kan yang tangani."

Situasi di ruangan Kasat Serse tak jelas. Saya, BHM,
dan Karaniya tak berkutik dan tak bisa melawan. Polisi
yang hadir cuma menonton tanpa berusaha mencegah semua
tindakan brutal itu. Belakangan, di situ juga hadir
Kasat serse Yoyol yang datang setelah penggebukan.
Tapi David masih berlaku tak sopan dengan polisi,
bahkan merendahkan martabatnya, namun polisi-poilisi
itu menerima saja tampaknya. IRONIS, BAHKAN DI KANTOR
POLISI HUKUM PUN SEPERTI TAK EKSIS.

Tak lama kemudian, David mengatakan, "Sekarang ini di
luar beredar kabar Anda diculik ditangkap, tapi
sebenarnya Anda kesini, kan untuk menyelasaikan
persoalannya, ya," kata David menekan-nekan.

Kami diminta untuk berbicara di lain tempat untuk
bersepakat dan berbicara pada pers, bahwa kami tidak
ditangkap, tidak ada kekerasan, tidak ada penggebukan.
Beruntung memang banyak kawan-kawan jurnalis yang ikut
ke kantor Polres, sehingga, tekanan terhadap kami
mulai berkurang. Sehingga di dalam ruangan data di
Polres kami mengadakan konprensi pers, BHM lah yang
berbicara dan seorang yang mengaku Habib Hamid Alhamid
dari Ambon yang mengaku punya pengajian membawa 50
orang massa dengan 2 metro mini dan mendapat makan
dari Tomy Winata.

Saat kami di dalam ruangan untuk konprensi pers,
sebenarnya kami masih tertekan, karena orang-orang
Tomy Winata masih banyak di dalam ruang itu dan depan
ruangan konprensi pers. Jawaban-jawaban BHM terkesan
diplomatis dan menghindarkan jawaban-jawaban langsung.
Wajar kami sudah hopeless, di ruang kantor polisi saja
orang-orang Tomy Winata bisa berbuat seenaknya. Siapa
yang jamin, apa lagi kabarnya kantor masih disegel dan
dijaga orang-orang Tomy Winata.

Saya lebih banyak diam dan mendengarkan pembicaraan.
Kesombongan David, ancamannya dan penghinaannya
terhadap profesi jurnalis dan polisi, begitu juga
setelah dipindahkan ke ruang Kapolres Jakpus dan hadir
Kapolres AKBP Sukrawardhi Dahlan, yang juga tak bisa
berbuat banyak. Bahkan, Teddy Uban lalu mengontak
Kapolda melalui HP-nya. Setelah tersambung, HP itu
diserahkannya ke Kapolres. Kapolres terdengar bicara,
"Siap, Jenderal. Siap, Jenderal" Setekah itu ia bilang
ke BHM, "Wah, ini sudah jadi urusan di atas. Saat ini
Kapolda sedang membicarakan nasib saya ke Kapolri". Ia
lalu menguliahi kami, bahkan Kapolres cenderung
mengarahkan agar TEMPO, membuat pernyataan permohonan
maaf pada Tomy Winata karena berita yang telah dibuat
itu fiktif. Tapi BHM tetap berkelit dan tak mau ada
pernyataan itu.

Yang keluar akhirnya adalah pernyataan bersama, yang
dikonsep oleh Karaniya dan Haris Sumbi (dari pihak
Tomy Winata) di ruang lain. Baik David alias A Miauw
dan Kapolres meminta agar TEMPO menyatakan semua
kejadian dianggap selesai disana, namun berkali-kali
soal permintaan maaf TEMPO diminta oleh David, Teddy,
dan kapolres. Tapi BHM bertahan. Akhirnya, pernyataan
bersama itulah yang keluar, yaitu akan menyerahkan
persoalan itu dengan lewat jalur hukum. Di pernyataan
itu, David alias A Miauw menyatakan diri sebagai YANG
MEWAKILI TOMY WINATA. Kami keluar dari ruang Kapolres,
bersalam-salaman (hanya basa basi), persoalan
sesungguhnya masing menggantung. Kenapa kekerasan bisa
terjadi, bahkan di kantor polisi? Saya sudah putus
asa.

Penutup

Saya kawatir sikap kritis jurnalis akan digadaikan
dengan ketakutan dan terror. Baru menghadapi seorang
Tomy Winata yang punya saham di Hotel Borobudur,
kelompok Artha Graha Grup, sejumlah tempat hiburan dan
judi. Tekanan yang lebih besar akan terus terjadi dari
orang-orang lain yang punya kekuasaan secara politik,
punya uang, punya senjata, punya otorisasi menangkap,
menculik, membunuh dan punya massa. Persoalan ini
harus diselesaikan secara tuntas. Saya minta David,
Teddy, Yosep, Hamid Al-Hamid dkk di proses secara
hukum dan adil sesuai andil yang mereka lakukan dalam
terror ini. Juga Tomy Winata dimintai pertanggung
jawabannya. Kalau tidak bakal bisa terjadi pada
siapapun dan institusi manapun. Situasi bisa terjadi
seperti Zaman Soeharto (orde baru) atau bahkan lebih
buruk lagi seperti terjadi di Kolombia, Amerika Latin,
ketika mafia kartel barang-barang terlarang menguasai
negeri. Saya tak tahu harus berbuat apa?

Jakarta, 10 Maret 2003, pukul 04.45 WIB

Ahmad Taufik
Wartawan MBM TEMPO
Anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta

Catatan:

Mungkin ada yang terlewat, atau kurang jelas, bisa
dikonfirmasikan kepada masing-masing pihak yang saya
sebutkan dalam cerita itu di atas. Inilah yang
sementara saya bisa rekam dalam waktu hampir lima
jam.. Diselingi minum pocari sweat, air putih dan
madu, sesekali ke kamar kecil. Banyak teman-teman yang
membantu dalam proses pendinginan suasana dan
melepaskan tekanan sedikit semi sedikit, termasuk
kawan-kawan jurnalis lainnya, saya mengucapkan terima
kasih. Begitu juga simpatisan yang bergerak untuk
melawan ketidakberadaban itu, baik yang lewat SMS,
yang dikirimkan kepada saya dan kemana-mana, maupun
yang membuat pernyataan tertulis, serta aksi-aksi
nyata yang dilakukan. Saya masih tertekan secara
psikis, tetapi saya dan teman-teman di TEMPO tidak
takut untuk melawan. Terima kasih





RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke