Basmalah: Tinjauan Sufistik
Prof. Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat

Rasulullah saw bersabda, "Semua urusan yang tidak dimulai dengan basmalah,
maka urusan itu terputus." Apa yang dimaksud dengan amal yang terputus? Amal
yang terputus adalah amal yang tidak mempunyai ujung, tidak ada tujuannya.
Amal yang tidak mempunyai ujung atau tidak mempunyai tujuan adalah amal yang
tidak dimulai dengan nama Allah. Sebaliknya, amal yang dimulai dengan nama
Allah tidak akan terputus; amal itu akan berakhir dengan nama Allah lagi.
Menurut Syekh Jawad Amuli, begitu pula jika amal kita dimulai dengan
hamdalah, maka amal itu akan berujung dengan hamdalah pula.

Berkenaan dengan hadis di atas, Syekh Jawad Amuli membagi amal-amal tersebut
ke dalam dua macam perbuatan baik. Pertama, amal yang baik dari segi
perbuatan. Istilah ini disebut dengan hasan al-fi'li. Yang termasuk kriteria
hasan al-fi'li misalnya adalah menolong orang lain, membantu orang yang
sedang kesusahan, dan berdakwah. Semua perbuatan itu sudah termasuk
perbuatan baik. Kedua, amal yang baik dari segi pelakunya atau disebut hasan
al-f�'il. Orang yang melakukan suatu perbuatan itu memang terhitung baik dan
ia memulai pekerjaannya dengan niat yang ikhlas.

Pada Perang Shiffin, tentara 'Amr bin Ash dan Mu'awiyah mendapatkan
kekalahan. Mereka meminta untuk berhukum. Tetapi orang Khawarij menolaknya
seraya berkata, "Tidak ada hukum kecuali hukum Allah." Ketika Imam Ali
bermusyawarah, berunding untuk memelihara perdamaian, orang Khawarij marah
dan berkata, "Mengapa harus membuat pengadilan, karena semua hukum itu milik
Allah." Imam Ali lalu berkata, "Ucapan orang Khawarij bahwa tidak ada hukum
kecuali hukum Allah adalah ucapan yang benar, tetapi diucapkan dengan maksud
yang buruk." Dalam pandangan Imam Ali, ucapan orang Khawarij itu adalah
benar dari segi perbuatannya, tetapi tidak benar dari segi maksud orang yang
mengucapkannnya. Pada saat itu Imam Ali as menggolongkan kelompok Mu'awiyah
dan Khawarij dengan perkataan yang indah, "Orang-orang Khawarij lebih baik
daripada orang Mu'awiyah, karena orang Khawarij adalah orang yang mencari
kebenaran tetapi tidak menemukannya. Lebih baik orang yang mencari kebenaran
walaupun tidak menemukannya daripada orang yang mencari kebatilan dan
keburukan seperti Mu'awiyah."

Basmalah adalah kalimat yang benar dan hasan dari segi fi'li. Jika orang
melakukan suatu perbuatan baik yang dimulai dengan basmalah, berarti ia
menisbahkan f�'il-nya untuk Allah. Ia menyandarkan pekerjaannya kepada Allah
sehingga ia mengubah hasan al-fi'li sekaligus menjadi hasan al-f�'il.

Jadi, ada perbuatan yang fi'li-nya baik tetapi f�'il-nya tidak baik, karena
tidak berangkat dengan nama Allah. Perbuatan seperti ini dapat dikategorikan
terputus atau batal.

Suatu perbuatan harus hasan al-fi'li dan hasan al-f�'il; masuk dan keluarnya
harus benar. Ayat yang mulia ini menjelaskan tentang tujuan amal, yaitu
kebenaran. Inilah yang dianjurkan Allah kepada manusia dalam amal
sehari-hari: Dan katakanlah: Ya Tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang
benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar dan berikanlah kepadaku dari
sisi Engkau kekuasaan yang menolong. (QS. Al-Isra 80)

Al-Quran menceritakan bagaimana agar tempat keluarnya menjadi tempat yang
benar; seperti dalam surat At-Thalaq ayat 2-3: Dan mereka telah mendekati
akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik, atau lepaskanlah mereka
dengan baik. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara
kamu dan hendaklah kamu menegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah
diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.
Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan
keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka olehnya.
Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan
keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki-Nya).
Sesunguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu...

Orang-orang yang masuk dari tempat yang baik dan mengakhiri pada tempat yang
baik adalah orang yang digambarkan dalam ayat di atas.

Basmalah berarti kita melakukan suatu perbuatan dengan niat yang ikhlas
dengan diiringi nama Allah, agar ketika kita keluar dari tempat itu dalam
keadaan baik. Kita memulai perbuatan dengan al-haq agar ujung amal kita
keluar dari al-haq pula.

Nama Allah dalam kalimat basmalah adalah nama yang sangat agung yang
mencerminkan kesempurnaan. Seperti disebutkan dalam Al-Quran: Mahaagung nama
Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan karunia. (QS. Al-Rahm�n 78) Allah
menjadikan nama-Nya sebagai sumber keberkahan. Allah juga memerintahkan kita
untuk mensucikan nama-Nya; jangan sekali-kali mencemarinya. Dalam Al-Quran
kita menemukan perintah untuk mensucikan nama-Nya. Allah mempunyai sifat
sempurna dan harus dibersihkan dari segala sifat kekurangan: Sucikan nama
Tuhanmu Yang Maha Tinggi (QS. Al-A'la 1)

Ketika turun surat Al-Waqiah ayat 74: Maka bertasbihlah dengan menyebut nama
Tuhanmu yang Mahabesar, Rasulullah saw bersabda, "Jadikanlah pensucian nama
itu di dalam ruku' kamu." Dan ketika turun surat Al-A'la ayat 1: Sucikanlah
nama Tuhanmu yang Mahatinggi, Rasulullah berkata, "Jadikanlah pensucian itu
di dalam sujud kamu."

Ada sebuah riwayat di kalangan 'irfani yang menyebutkan bahwa kata basmalah
yang diucapkan oleh seorang hamba mempunyai kedudukan seperti lafad kun yang
diucapkan Allah. Maksudnya, ketika Allah berkehendak dengan sesuatu, Dia
hanya berkata Kun, maka jadilah sesuatu itu. (Lihat QS. Yasin 82). Bagi
orang yang sudah mencapai maqam tertentu, ucapan basmalahnya akan sama
dengan ucapan kun. Jika ia menghendaki sesuatu, terjadilah apa yang
diinginkannya.

Sebelum Nabi Nuh pergi meninggalkan kaumnya dengan perahu yang besar, ia
berkata, "Bismill�hi majreh� wa murs�h�" (QS. Hud 41). Dengan ucapan itu,
majulah perahu itu. Perahu itu bergerak dengan nama Allah. Nabi Nuh memberi
contoh bagaimana menggerakkan sesuatu dimulai dengan nama Allah, dan bahwa
yang dilakukan oleh Nabi Nuh bukan kehendaknya, tetapi kehendak Allah. 

Puncak dari perjalanan kepada Allah adalah ketika kehendak seorang hamba
sudah bersatu dengan kehendak Allah. Ada beberapa tahap perjalanan menuju
Allah. Pertama, ketika seseorang mendahulukan kehendaknya daripada kehendak
Allah. Kedua, ketika seseorang mendahulukan kehendak Allah daripada
kehendaknya. Jika seseorang sudah mendahulukan kehendak Allah daripada
kehendak dirinya, dia tidak dapat membedakan mana kehendak Allah dan
kehendak dirinya. Kakinya yang berjalan adalah kaki Allah, matanya yang
melihat adalah mata Allah, dan tangannya yang memegang adalah tangan Allah.
Dalam hadis Qudsi disebutkan: Jika seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku
dengan melakukan amal sunnah, Aku akan menjadi matanya untuk melihat, Aku
akan menjadi tangannya untuk menyentuh, dan Aku akan menjadi kakinya untuk
berjalan. Dan jika ia berdoa, Aku akan menjawab doanya. Jadi, hamba yang
sudah dekat dengan Allah, kehendaknya sudah menjadi kun. Ucapan basmalahnya
sama dengan kata kun dari Maula-nya, Allah.

Pada tahap kedua ini kita coba membuang keinginan-keinginan kita; yang ada
dalam diri kita hanyalah keinginan Allah. Kita serahkan diri kita untuk
Allah tanpa menyisakan sedikit pun kehendak untuk kita.

Ada sebuah cerita di kalangan sufi. Pada suatu hari Junaid Al-Baghdadi
mikraj, naik ke langit. Pada perjalanannya, ketika sampai pada langit
pertama, ia melihat ada kumpulan malaikat sedang ruku' dan zikir. Junaid
ditanya oleh para malaikat, "Hai Junaid, bergabunglah bersama kami dengan
berzikir mensucikan nama Tuhanmu." Junaid menjawab, "Tidak. Ajakan kalian
tidak aku kehendaki." Lalu ia naik ke tingkat yang kedua. Ia melihat ada
kumpulan orang sedang ruku'. Junaid diseru, "Hai Junaid, bergabunglah
bersama kami." Junaid menjawab, "Tidak. Aku tidak ingin bergabung dengan
kalian." Lalu ia naik ke tingkat ketiga. Ia melihat ada sekelompok orang
yang sedang sujud. Junaid diseru oleh mereka untuk bergabung. Junaid
menjawab, "Aku tidak ingin bergabung denganmu." Lalu sampailah ia pada suatu
tempat yang lebih tinggi, yang disebut Sidhratul Muntah�. Pada tempat itu,
ia mendengar perkataan, "Apa yang kamu kehendaki, wahai Junaid?" Junaid
berkata, "Aku berkehendak supaya aku tidak mempunyai kehendak lagi."

Inilah yang disebut sebagai puncak perjalanan tasawuf. Pada tingkat ini,
kalimat basmalah mempunyai kedudukan sama dengan kata kun. Jika orang sudah
sampai pada tingkat ini (mendahulukan kehendak Allah), ucapannya adalah
sebuah kebenaran.

Syekh Jawad Amuli menyebutkan contoh orang seperti ini adalah Abu Dzar
Al-Ghifari. Semua perkataan Abu Dzar adalah kebenaran. Rasulullah bahkan
pernah bersabda, "Di bawah naungan langit dan di atas permukaan bumi ini
tidak ada lidah yang lebih jujur selain lidah Abu Dzar." Mengapa Abu Dzar
sampai pada tahap seperti itu? Karena, ia sudah sampai pada tingkat tawakal
kepada Allah; ia menyerahkan seluruh kehendaknya hanya untuk Allah. Dalam
kitab Nur Al-Tsaqalain disebutkan: Sesungguhnya basmalah itu lebih dekat
dengan nama Allah yang Mahaagung daripada dekatnya hitam mata dengan
putihnya. Basmalah adalah nama agung bagi orang yang sudah mencapai derajat
tertentu.
Allah: Antara Kasih Sayang dan Murka

Dalam basmalah itu terdapat asma-asma Allah yang menunjukkan sifat
jal�liyyah dan jam�liyyah. Asma-asma yang disebut dalam Basmallah adalah
Allah,Al-Rahm�n, dan Al-Rah�m. Menurut Al-Razi, asma Allah menunjukkan lafzh
al-jal�lah. Allah adalah nama zat yang menunjukkan kebesaran-Nya. Dengan
kata Allah itu, ditunjukkanlah kekuasaan, ke-Mahabesaran, dan
ke-Mahatinggian Allah. Sesudah itu, Allah menyebut Al-Rahman dan Al-Rahim.
Dan itulah sifat jam�liyyah (sifat kasih sayang). Allah hanya menggunakan
satu nama untuk menggambarkan kebesaran-Nya, yaitu kata Allah. Tapi untuk
menggambarkan kasih sayang-Nya, Allah menggunakan dua nama, yaitu Al-Rahman
dan Al-Rahim. Ini menunjukkan bahwa kasih sayang Allah jauh lebih besar,
lebih banyak, dan jauh lebih tinggi daripada ke-Mahakuasaan-Nya.

Kita tahu ada dua wajah Allah. Pertama, wajah Allah yang keras, yang berat
siksaan-Nya (Syad�d Al-'Iq�b). Inilah yang menunjukkan sifat jal�liyyah.
Kedua, wajah lain dari Allah yang Pengasih dan Penyayang; wajah yang selalu
siap mendengarkan keluhan dan penderitaan kita; wajah yang setiap malam
menunggu kita untuk datang berdialog dengan-Nya; wajah yang selalu melimpahi
setiap makhluk dengan anugerah-Nya, walaupun makhluk-Nya itu setiap saat
bertambah kemaksiatan dan kedurhakaan kepada-Nya. Itulah wajah yang dalam
istilah tasawuf disebut sebagai sifat-sifat jam�liyyah, yakni sifat-sifat
keindahan Allah.

Dalam basmalah ditunjukkan bahwa sifat jam�liyyah Allah lebih besar daripada
sifat jal�liyyah-Nya. Kasih sayang Allah jauh lebih besar daripada
kemurkaan-Nya. Dalam sebuah hadis Qudsi diriwayatkan: Aku ingin murka
melihat kemaksiatan yang dilakukan oleh makhluk-Ku. Tetapi Aku melihat
orang-orang tua yang ruku' dan sujud, anak-anak yang menyusu pada ibunya,
dan binatang-binatang yang mencari makanan. Maka berhentilah kemarahan-Ku.
Jadi, kasih sayang Tuhan jauh lebih besar daripada kemurkaan-Nya. Sehingga
di dalam doa Kumayl, disebutkan Wahai Zat yang lebih cepat rida-Nya. Tuhan
memang murka juga. Tetapi rida-Nya jauh lebih cepat.

Di majalah Ummat, saya membaca tulisan Bapak Alwi Shihab. Di universitasnya,
di Amerika Serikat, beliau menyaksikan orang-orang kafir yang akhlaknya
sangat bagus, yang mencurahkan perhatiannya kepada ilmu dengan tidak
memperhatikan hal-hal duniawi. Mereka masih kafir. Lalu dalam pikiran beliau
bergulat berbagai masalah: Bagaimana orang kafir bisa begitu baik akhlaknya
dan mengabdi kepada Allah? Bagaimanakah (nasib) mereka di akhirat nanti?
Yang menarik dari kesimpulan Alwi Shihab adalah beliau menunjuk kepada
besarnya kasih sayang Allah swt.

Kalau kita memikirkan betapa besarnya kasih sayang Allah daripada murka-Nya,
maka besar dugaan kita, kasih sayang Allah tidak hanya meliputi orang-orang
Islam, tetapi juga orang-orang kafir. Ustad Alwi Shihab menduga bahwa
orang-orang saleh yang agamanya berlainan akan mendapat limpahan kasih
sayang Allah swt juga.

Sebagian ulama mengatakan bahwa azab Allah juga berarti percikan kasih
sayang-Nya. Dalam hidup ini, seringkali Allah memberikan pelajaran, baik
berupa ujian maupun azab, kepada kita. Sebetulnya itu adalah percikan dari
kasih sayang Allah. Siksaan dan ujian yang kita terima dalam kehidupan ini,
tetap berasal dari samudera kasih sayang Allah swt.

Kita pernah menceritakan keluhan seorang sahabat kepada Nabi saw. Ia
mengeluh karena setelah masuk Islam dagangannya rugi dan tubuhnya sering
ditimpa penyakit. Ia berkata, "Ya Rasulallah, tubuhku sakit dan hartaku
hilang." Lalu Nabi menjawab bahwa ujiannya itu adalah tanda dari kasih
sayang Allah, bukan tanda dari kemurkaan-Nya. Tak ada baiknya seseorang yang
tubuhnya tidak pernah sakit dan hartanya tidak pernah rugi. Karena, apabila
Allah mencintai seorang hamba, Allah akan coba ia dengan berbagai ujian,
Ujian adalah percikan kasih sayang Allah. Begitu juga halnya dengan azab
Allah yang Ia berikan pada hari akhirat nanti, ia masih merupakan percikan
dari rahm�n rah�m-Nya.

Mungkin kita bisa memahami bahwa ujian-ujian yang Allah berikan kepada kita
di dunia adalah salah satu jalan guna mengangkat diri kita menjadi orang
yang lebih baik. Dan itu sudah merupakan sunatull�h. Orang yang memiliki
kualitas yang tinggi adalah orang-orang yang sudah teruji berkali-kali.
Seperti sebuah peribahasa di negeri Barat yang menyatakan: Badailah yang
membuat kuat bangsa Viking.


> -----Original Message-----
> From: lika rahim [SMTP:[EMAIL PROTECTED]
> Sent: Jumat, 14 Maret 2003 9:15
> To:   [EMAIL PROTECTED]
> Subject:      [RantauNet.Com] Menebar Cinta...
>
> >   Ada sebuah kisah tentang cinta yang sebenar-benar
>
>  >   cinta yang dicontohkan Allah melalui kehidupan
>
>  >   Rasul-Nya. Pagi itu, walaupun langit telah mulai
>
>  >   menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan
>
>  >   sayap. Pagi itu,Rasulullah dengan suara terbatas
>
>  >   memberikan kutb ah,
>
>  >   "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah
>
>  >   dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah
>
>  >   kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, Al
>
>  >   Qur'an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku,          &nb
> sp;
>  >   bererti mencintai aku  dan kelak orang-orang yang
>
>  >   mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku."
>
>  >   Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata
>
>  >   Rasulullah yang tenang  dan penuh minat menatap
>
>  >   sahabatnya satu persatu.                          ;
>
>  >
>
>  >   Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar
>
>  >   dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya.Usman
>
>  >   menghela nafas panjang dan Ali menundukkan  kepalanya  &nbs p;
>
>  >   dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah
>
>  >   tiba.
>
>  >
>
>  >   "Rasulullah akan meninggalkan kita semua,"keluh hati
>
>  >   semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir
>
>  >   selesai menunaikan tugasnya didunia. Tanda-tanda itu
>
>  >   semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas
>
>  >   menangkap  Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah
>
>  > &nbs p; ketika turun dari mimbar. Disaat itu, kalau mampu,
>
>  >   seluruh sahabat yang hadir di sana pasti  akan menahan
>
>  >   detik-detik berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pintu
>
>  >   rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang didalamnya,
>
>  >   Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya
>
>  >   yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang
>
>  >   menjadi alas tidurnya.
>
>  >
>
>  >   Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang                    &
> nbsp;
>  >   berseru mengucapkan salam."Bolehkah saya masuk?"
>
>  >   tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya
>
>  >   masuk,"Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah
>
>  >   yang membalikkan badan dan menutup pintu.
>
>  >                            & nbsp;
>
>  >   Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata
>
>  >   sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah,
>
>  >   "Siapakah itu wahai anakku?"
>
>  >       &nb sp;
>
>  >   "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini
>
>  >   aku melihatnya," tutur Fatimah lembut. Lalu,
>
>  >   Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang
>
>  >   menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian waja h
>
>  >   anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang
>
>  >   menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang
>
>  >   memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul
>
>  >   maut,"kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan
>
>  >   tangisnya.  Malaikat maut datang menghampiri, tapi           &nbs p;
>
>  >   Rasulullah menanyakan kenapa Jibril  tidak ikut sama
>
>  >   menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang
>
>  >   sebelumnya  sudah bersiap di atas langit dunia
>
>  >   menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu  dunia ini.
>
>  >                            &n bsp;
>
>  >   "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?"
>
>  >   Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.
>
>  >   "Pintu-pintu langit telah terbuka,para malaikat telah
>
>  >   menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti
>
> &n bsp;>   kedatanganmu, " kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak
>
>  >   membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh
>
>  >   kecemasan.
>
>  >
>
>  >   "Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya
>
>  >   Jibril lagi."Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku
>
>  >   kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku
>
>  >   pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan
>
>  >   syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah       ;
>
>  >   berada di dalamnya," kata Jibril.
>
>  >
>
>  >   Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan
>
>  >   tugas.Perlahan ruh Ras ulullah ditarik. Nampak seluruh
>
>  >   tubuh Rasulullah bersimbahpeluh, urat-urat lehernya
>
>  >   menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
>
>  >   Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali
>
>  >   yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril
>
>  >   memalingkan muka.                     & nbsp;
>
>  >
>
>  >   "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu
>
>  >   Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar
>
>  >   wahyu
>
>  >   itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah
>
>  >   direnggut ajal," kata Jibril.
>
>  >                         ;
>
>  >   Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, kerana
>
>  >   sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat
>
>  >   nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini
>
>  >   kepadaku, jangan pada umatku."Badan Rasulullah mulai
>
>  >   dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
>
>  >   Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu,
>
>  >   Ali segera mendekatkan telinganya.
>
>  >                                                                  &nbs
> p;
>  >   "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku,
>
>  >   peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah
>
>  >   di antaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar
>
>  >   bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah
>
>  >   menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali
> ;
>  >   mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai
>
>  >   kebiruan.
>
>  >   "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku,
>
>  >   umatku" Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang
>
>  >   memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai
>
>  >   sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik
>
>  >   wa salim 'alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada
>
>  >   kita.
>
>  >                 &nb sp;
>
>  >   Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar
>
>  >   timbul kesedaran untuk mencintai Allah dan RasulNya,
>
>  >   seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita. Karena
>
>  >   sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka.          &nbs
> p;
>  >
>
>
>
>                  ;
>
>       # SESUNGGUHNYA SETIAP MUSLIM ITU BERSAUDARA #
>
>
>
>
>   _____
>
> Do you Yahoo!?
> Yahoo! Web Hosting
> <http://rd.yahoo.com/webhosting/mail_tagline/evt=7748/*http://webhosting.y
> ahoo.com/ps/wh3/prod/> - establish your business online


____________
DISCLAIMER :
The information contained in this communication is intended solely for the use of the 
individual or entity to whom it is addressed and others authorized to receive it.   It 
may contain confidential or legally privileged information.   If you are not the 
intended recipient you are hereby notified that any disclosure, copying,  distribution 
or taking any action in reliance on the contents of this information is strictly 
prohibited and may be unlawful. Unless otherwise specifically stated by the sender, 
any documents or views presented are solely those of the sender and do not constitute 
official documents or views of  The Indonesian Bank Restructuring Agency (IBRA).
If you have received this communication in error, please notify us immediately by 
responding to this email and then delete it from your system IBRA is neither liable 
for the proper and complete transmission of the information contained in this 
communication nor for any delay in its receipt.


RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
==============================================Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR 
ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
==============================================

Kirim email ke