Basmalah: Tinjauan Sufistik Prof. Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat Rasulullah saw bersabda, "Semua urusan yang tidak dimulai dengan basmalah, maka urusan itu terputus." Apa yang dimaksud dengan amal yang terputus? Amal yang terputus adalah amal yang tidak mempunyai ujung, tidak ada tujuannya. Amal yang tidak mempunyai ujung atau tidak mempunyai tujuan adalah amal yang tidak dimulai dengan nama Allah. Sebaliknya, amal yang dimulai dengan nama Allah tidak akan terputus; amal itu akan berakhir dengan nama Allah lagi. Menurut Syekh Jawad Amuli, begitu pula jika amal kita dimulai dengan hamdalah, maka amal itu akan berujung dengan hamdalah pula.
Berkenaan dengan hadis di atas, Syekh Jawad Amuli membagi amal-amal tersebut ke dalam dua macam perbuatan baik. Pertama, amal yang baik dari segi perbuatan. Istilah ini disebut dengan hasan al-fi'li. Yang termasuk kriteria hasan al-fi'li misalnya adalah menolong orang lain, membantu orang yang sedang kesusahan, dan berdakwah. Semua perbuatan itu sudah termasuk perbuatan baik. Kedua, amal yang baik dari segi pelakunya atau disebut hasan al-f�'il. Orang yang melakukan suatu perbuatan itu memang terhitung baik dan ia memulai pekerjaannya dengan niat yang ikhlas. Pada Perang Shiffin, tentara 'Amr bin Ash dan Mu'awiyah mendapatkan kekalahan. Mereka meminta untuk berhukum. Tetapi orang Khawarij menolaknya seraya berkata, "Tidak ada hukum kecuali hukum Allah." Ketika Imam Ali bermusyawarah, berunding untuk memelihara perdamaian, orang Khawarij marah dan berkata, "Mengapa harus membuat pengadilan, karena semua hukum itu milik Allah." Imam Ali lalu berkata, "Ucapan orang Khawarij bahwa tidak ada hukum kecuali hukum Allah adalah ucapan yang benar, tetapi diucapkan dengan maksud yang buruk." Dalam pandangan Imam Ali, ucapan orang Khawarij itu adalah benar dari segi perbuatannya, tetapi tidak benar dari segi maksud orang yang mengucapkannnya. Pada saat itu Imam Ali as menggolongkan kelompok Mu'awiyah dan Khawarij dengan perkataan yang indah, "Orang-orang Khawarij lebih baik daripada orang Mu'awiyah, karena orang Khawarij adalah orang yang mencari kebenaran tetapi tidak menemukannya. Lebih baik orang yang mencari kebenaran walaupun tidak menemukannya daripada orang yang mencari kebatilan dan keburukan seperti Mu'awiyah." Basmalah adalah kalimat yang benar dan hasan dari segi fi'li. Jika orang melakukan suatu perbuatan baik yang dimulai dengan basmalah, berarti ia menisbahkan f�'il-nya untuk Allah. Ia menyandarkan pekerjaannya kepada Allah sehingga ia mengubah hasan al-fi'li sekaligus menjadi hasan al-f�'il. Jadi, ada perbuatan yang fi'li-nya baik tetapi f�'il-nya tidak baik, karena tidak berangkat dengan nama Allah. Perbuatan seperti ini dapat dikategorikan terputus atau batal. Suatu perbuatan harus hasan al-fi'li dan hasan al-f�'il; masuk dan keluarnya harus benar. Ayat yang mulia ini menjelaskan tentang tujuan amal, yaitu kebenaran. Inilah yang dianjurkan Allah kepada manusia dalam amal sehari-hari: Dan katakanlah: Ya Tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong. (QS. Al-Isra 80) Al-Quran menceritakan bagaimana agar tempat keluarnya menjadi tempat yang benar; seperti dalam surat At-Thalaq ayat 2-3: Dan mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik, atau lepaskanlah mereka dengan baik. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu menegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka olehnya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki-Nya). Sesunguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu... Orang-orang yang masuk dari tempat yang baik dan mengakhiri pada tempat yang baik adalah orang yang digambarkan dalam ayat di atas. Basmalah berarti kita melakukan suatu perbuatan dengan niat yang ikhlas dengan diiringi nama Allah, agar ketika kita keluar dari tempat itu dalam keadaan baik. Kita memulai perbuatan dengan al-haq agar ujung amal kita keluar dari al-haq pula. Nama Allah dalam kalimat basmalah adalah nama yang sangat agung yang mencerminkan kesempurnaan. Seperti disebutkan dalam Al-Quran: Mahaagung nama Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan karunia. (QS. Al-Rahm�n 78) Allah menjadikan nama-Nya sebagai sumber keberkahan. Allah juga memerintahkan kita untuk mensucikan nama-Nya; jangan sekali-kali mencemarinya. Dalam Al-Quran kita menemukan perintah untuk mensucikan nama-Nya. Allah mempunyai sifat sempurna dan harus dibersihkan dari segala sifat kekurangan: Sucikan nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi (QS. Al-A'la 1) Ketika turun surat Al-Waqiah ayat 74: Maka bertasbihlah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Mahabesar, Rasulullah saw bersabda, "Jadikanlah pensucian nama itu di dalam ruku' kamu." Dan ketika turun surat Al-A'la ayat 1: Sucikanlah nama Tuhanmu yang Mahatinggi, Rasulullah berkata, "Jadikanlah pensucian itu di dalam sujud kamu." Ada sebuah riwayat di kalangan 'irfani yang menyebutkan bahwa kata basmalah yang diucapkan oleh seorang hamba mempunyai kedudukan seperti lafad kun yang diucapkan Allah. Maksudnya, ketika Allah berkehendak dengan sesuatu, Dia hanya berkata Kun, maka jadilah sesuatu itu. (Lihat QS. Yasin 82). Bagi orang yang sudah mencapai maqam tertentu, ucapan basmalahnya akan sama dengan ucapan kun. Jika ia menghendaki sesuatu, terjadilah apa yang diinginkannya. Sebelum Nabi Nuh pergi meninggalkan kaumnya dengan perahu yang besar, ia berkata, "Bismill�hi majreh� wa murs�h�" (QS. Hud 41). Dengan ucapan itu, majulah perahu itu. Perahu itu bergerak dengan nama Allah. Nabi Nuh memberi contoh bagaimana menggerakkan sesuatu dimulai dengan nama Allah, dan bahwa yang dilakukan oleh Nabi Nuh bukan kehendaknya, tetapi kehendak Allah. Puncak dari perjalanan kepada Allah adalah ketika kehendak seorang hamba sudah bersatu dengan kehendak Allah. Ada beberapa tahap perjalanan menuju Allah. Pertama, ketika seseorang mendahulukan kehendaknya daripada kehendak Allah. Kedua, ketika seseorang mendahulukan kehendak Allah daripada kehendaknya. Jika seseorang sudah mendahulukan kehendak Allah daripada kehendak dirinya, dia tidak dapat membedakan mana kehendak Allah dan kehendak dirinya. Kakinya yang berjalan adalah kaki Allah, matanya yang melihat adalah mata Allah, dan tangannya yang memegang adalah tangan Allah. Dalam hadis Qudsi disebutkan: Jika seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan amal sunnah, Aku akan menjadi matanya untuk melihat, Aku akan menjadi tangannya untuk menyentuh, dan Aku akan menjadi kakinya untuk berjalan. Dan jika ia berdoa, Aku akan menjawab doanya. Jadi, hamba yang sudah dekat dengan Allah, kehendaknya sudah menjadi kun. Ucapan basmalahnya sama dengan kata kun dari Maula-nya, Allah. Pada tahap kedua ini kita coba membuang keinginan-keinginan kita; yang ada dalam diri kita hanyalah keinginan Allah. Kita serahkan diri kita untuk Allah tanpa menyisakan sedikit pun kehendak untuk kita. Ada sebuah cerita di kalangan sufi. Pada suatu hari Junaid Al-Baghdadi mikraj, naik ke langit. Pada perjalanannya, ketika sampai pada langit pertama, ia melihat ada kumpulan malaikat sedang ruku' dan zikir. Junaid ditanya oleh para malaikat, "Hai Junaid, bergabunglah bersama kami dengan berzikir mensucikan nama Tuhanmu." Junaid menjawab, "Tidak. Ajakan kalian tidak aku kehendaki." Lalu ia naik ke tingkat yang kedua. Ia melihat ada kumpulan orang sedang ruku'. Junaid diseru, "Hai Junaid, bergabunglah bersama kami." Junaid menjawab, "Tidak. Aku tidak ingin bergabung dengan kalian." Lalu ia naik ke tingkat ketiga. Ia melihat ada sekelompok orang yang sedang sujud. Junaid diseru oleh mereka untuk bergabung. Junaid menjawab, "Aku tidak ingin bergabung denganmu." Lalu sampailah ia pada suatu tempat yang lebih tinggi, yang disebut Sidhratul Muntah�. Pada tempat itu, ia mendengar perkataan, "Apa yang kamu kehendaki, wahai Junaid?" Junaid berkata, "Aku berkehendak supaya aku tidak mempunyai kehendak lagi." Inilah yang disebut sebagai puncak perjalanan tasawuf. Pada tingkat ini, kalimat basmalah mempunyai kedudukan sama dengan kata kun. Jika orang sudah sampai pada tingkat ini (mendahulukan kehendak Allah), ucapannya adalah sebuah kebenaran. Syekh Jawad Amuli menyebutkan contoh orang seperti ini adalah Abu Dzar Al-Ghifari. Semua perkataan Abu Dzar adalah kebenaran. Rasulullah bahkan pernah bersabda, "Di bawah naungan langit dan di atas permukaan bumi ini tidak ada lidah yang lebih jujur selain lidah Abu Dzar." Mengapa Abu Dzar sampai pada tahap seperti itu? Karena, ia sudah sampai pada tingkat tawakal kepada Allah; ia menyerahkan seluruh kehendaknya hanya untuk Allah. Dalam kitab Nur Al-Tsaqalain disebutkan: Sesungguhnya basmalah itu lebih dekat dengan nama Allah yang Mahaagung daripada dekatnya hitam mata dengan putihnya. Basmalah adalah nama agung bagi orang yang sudah mencapai derajat tertentu. Allah: Antara Kasih Sayang dan Murka Dalam basmalah itu terdapat asma-asma Allah yang menunjukkan sifat jal�liyyah dan jam�liyyah. Asma-asma yang disebut dalam Basmallah adalah Allah,Al-Rahm�n, dan Al-Rah�m. Menurut Al-Razi, asma Allah menunjukkan lafzh al-jal�lah. Allah adalah nama zat yang menunjukkan kebesaran-Nya. Dengan kata Allah itu, ditunjukkanlah kekuasaan, ke-Mahabesaran, dan ke-Mahatinggian Allah. Sesudah itu, Allah menyebut Al-Rahman dan Al-Rahim. Dan itulah sifat jam�liyyah (sifat kasih sayang). Allah hanya menggunakan satu nama untuk menggambarkan kebesaran-Nya, yaitu kata Allah. Tapi untuk menggambarkan kasih sayang-Nya, Allah menggunakan dua nama, yaitu Al-Rahman dan Al-Rahim. Ini menunjukkan bahwa kasih sayang Allah jauh lebih besar, lebih banyak, dan jauh lebih tinggi daripada ke-Mahakuasaan-Nya. Kita tahu ada dua wajah Allah. Pertama, wajah Allah yang keras, yang berat siksaan-Nya (Syad�d Al-'Iq�b). Inilah yang menunjukkan sifat jal�liyyah. Kedua, wajah lain dari Allah yang Pengasih dan Penyayang; wajah yang selalu siap mendengarkan keluhan dan penderitaan kita; wajah yang setiap malam menunggu kita untuk datang berdialog dengan-Nya; wajah yang selalu melimpahi setiap makhluk dengan anugerah-Nya, walaupun makhluk-Nya itu setiap saat bertambah kemaksiatan dan kedurhakaan kepada-Nya. Itulah wajah yang dalam istilah tasawuf disebut sebagai sifat-sifat jam�liyyah, yakni sifat-sifat keindahan Allah. Dalam basmalah ditunjukkan bahwa sifat jam�liyyah Allah lebih besar daripada sifat jal�liyyah-Nya. Kasih sayang Allah jauh lebih besar daripada kemurkaan-Nya. Dalam sebuah hadis Qudsi diriwayatkan: Aku ingin murka melihat kemaksiatan yang dilakukan oleh makhluk-Ku. Tetapi Aku melihat orang-orang tua yang ruku' dan sujud, anak-anak yang menyusu pada ibunya, dan binatang-binatang yang mencari makanan. Maka berhentilah kemarahan-Ku. Jadi, kasih sayang Tuhan jauh lebih besar daripada kemurkaan-Nya. Sehingga di dalam doa Kumayl, disebutkan Wahai Zat yang lebih cepat rida-Nya. Tuhan memang murka juga. Tetapi rida-Nya jauh lebih cepat. Di majalah Ummat, saya membaca tulisan Bapak Alwi Shihab. Di universitasnya, di Amerika Serikat, beliau menyaksikan orang-orang kafir yang akhlaknya sangat bagus, yang mencurahkan perhatiannya kepada ilmu dengan tidak memperhatikan hal-hal duniawi. Mereka masih kafir. Lalu dalam pikiran beliau bergulat berbagai masalah: Bagaimana orang kafir bisa begitu baik akhlaknya dan mengabdi kepada Allah? Bagaimanakah (nasib) mereka di akhirat nanti? Yang menarik dari kesimpulan Alwi Shihab adalah beliau menunjuk kepada besarnya kasih sayang Allah swt. Kalau kita memikirkan betapa besarnya kasih sayang Allah daripada murka-Nya, maka besar dugaan kita, kasih sayang Allah tidak hanya meliputi orang-orang Islam, tetapi juga orang-orang kafir. Ustad Alwi Shihab menduga bahwa orang-orang saleh yang agamanya berlainan akan mendapat limpahan kasih sayang Allah swt juga. Sebagian ulama mengatakan bahwa azab Allah juga berarti percikan kasih sayang-Nya. Dalam hidup ini, seringkali Allah memberikan pelajaran, baik berupa ujian maupun azab, kepada kita. Sebetulnya itu adalah percikan dari kasih sayang Allah. Siksaan dan ujian yang kita terima dalam kehidupan ini, tetap berasal dari samudera kasih sayang Allah swt. Kita pernah menceritakan keluhan seorang sahabat kepada Nabi saw. Ia mengeluh karena setelah masuk Islam dagangannya rugi dan tubuhnya sering ditimpa penyakit. Ia berkata, "Ya Rasulallah, tubuhku sakit dan hartaku hilang." Lalu Nabi menjawab bahwa ujiannya itu adalah tanda dari kasih sayang Allah, bukan tanda dari kemurkaan-Nya. Tak ada baiknya seseorang yang tubuhnya tidak pernah sakit dan hartanya tidak pernah rugi. Karena, apabila Allah mencintai seorang hamba, Allah akan coba ia dengan berbagai ujian, Ujian adalah percikan kasih sayang Allah. Begitu juga halnya dengan azab Allah yang Ia berikan pada hari akhirat nanti, ia masih merupakan percikan dari rahm�n rah�m-Nya. Mungkin kita bisa memahami bahwa ujian-ujian yang Allah berikan kepada kita di dunia adalah salah satu jalan guna mengangkat diri kita menjadi orang yang lebih baik. Dan itu sudah merupakan sunatull�h. Orang yang memiliki kualitas yang tinggi adalah orang-orang yang sudah teruji berkali-kali. Seperti sebuah peribahasa di negeri Barat yang menyatakan: Badailah yang membuat kuat bangsa Viking. > -----Original Message----- > From: lika rahim [SMTP:[EMAIL PROTECTED] > Sent: Jumat, 14 Maret 2003 9:15 > To: [EMAIL PROTECTED] > Subject: [RantauNet.Com] Menebar Cinta... > > > Ada sebuah kisah tentang cinta yang sebenar-benar > > > cinta yang dicontohkan Allah melalui kehidupan > > > Rasul-Nya. Pagi itu, walaupun langit telah mulai > > > menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan > > > sayap. Pagi itu,Rasulullah dengan suara terbatas > > > memberikan kutb ah, > > > "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah > > > dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah > > > kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, Al > > > Qur'an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, &nb > sp; > > bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang > > > mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku." > > > Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata > > > Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap > > > sahabatnya satu persatu. ; > > > > > > Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar > > > dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya.Usman > > > menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya &nbs p; > > > dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah > > > tiba. > > > > > > "Rasulullah akan meninggalkan kita semua,"keluh hati > > > semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir > > > selesai menunaikan tugasnya didunia. Tanda-tanda itu > > > semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas > > > menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah > > > &nbs p; ketika turun dari mimbar. Disaat itu, kalau mampu, > > > seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan > > > detik-detik berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pintu > > > rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang didalamnya, > > > Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya > > > yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang > > > menjadi alas tidurnya. > > > > > > Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang & > nbsp; > > berseru mengucapkan salam."Bolehkah saya masuk?" > > > tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya > > > masuk,"Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah > > > yang membalikkan badan dan menutup pintu. > > > & nbsp; > > > Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata > > > sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, > > > "Siapakah itu wahai anakku?" > > > &nb sp; > > > "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini > > > aku melihatnya," tutur Fatimah lembut. Lalu, > > > Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang > > > menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian waja h > > > anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang > > > menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang > > > memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul > > > maut,"kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan > > > tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi &nbs p; > > > Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama > > > menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang > > > sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia > > > menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. > > > &n bsp; > > > "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" > > > Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. > > > "Pintu-pintu langit telah terbuka,para malaikat telah > > > menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti > > &n bsp;> kedatanganmu, " kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak > > > membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh > > > kecemasan. > > > > > > "Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya > > > Jibril lagi."Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku > > > kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku > > > pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan > > > syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah ; > > > berada di dalamnya," kata Jibril. > > > > > > Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan > > > tugas.Perlahan ruh Ras ulullah ditarik. Nampak seluruh > > > tubuh Rasulullah bersimbahpeluh, urat-urat lehernya > > > menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." > > > Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali > > > yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril > > > memalingkan muka. & nbsp; > > > > > > "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu > > > Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar > > > wahyu > > > itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah > > > direnggut ajal," kata Jibril. > > > ; > > > Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, kerana > > > sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat > > > nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini > > > kepadaku, jangan pada umatku."Badan Rasulullah mulai > > > dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. > > > Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, > > > Ali segera mendekatkan telinganya. > > > &nbs > p; > > "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, > > > peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah > > > di antaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar > > > bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah > > > menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali > ; > > mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai > > > kebiruan. > > > "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, > > > umatku" Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang > > > memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai > > > sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik > > > wa salim 'alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada > > > kita. > > > &nb sp; > > > Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar > > > timbul kesedaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, > > > seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita. Karena > > > sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka. &nbs > p; > > > > > > ; > > # SESUNGGUHNYA SETIAP MUSLIM ITU BERSAUDARA # > > > > > _____ > > Do you Yahoo!? > Yahoo! Web Hosting > <http://rd.yahoo.com/webhosting/mail_tagline/evt=7748/*http://webhosting.y > ahoo.com/ps/wh3/prod/> - establish your business online ____________ DISCLAIMER : The information contained in this communication is intended solely for the use of the individual or entity to whom it is addressed and others authorized to receive it. It may contain confidential or legally privileged information. If you are not the intended recipient you are hereby notified that any disclosure, copying, distribution or taking any action in reliance on the contents of this information is strictly prohibited and may be unlawful. Unless otherwise specifically stated by the sender, any documents or views presented are solely those of the sender and do not constitute official documents or views of The Indonesian Bank Restructuring Agency (IBRA). If you have received this communication in error, please notify us immediately by responding to this email and then delete it from your system IBRA is neither liable for the proper and complete transmission of the information contained in this communication nor for any delay in its receipt. RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 ==============================================Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe, anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini. Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ==============================================

