kawan-kawan

saat ini meskipun sudah terang benderang perlawanan terhadap privatisasi 
dan divestasi, nampaknya meneg bumn tidak akan surut selangkahpun 
untuk menghentikan penjualan aset negara yang berujung pada kesengsaraan rakyat.

seperti kita tahu, privatisasi yang dijalankan meneg bumn sampai 
saat ini belum memiliki landasan undang-undang yang memadai. selain 
itu pelaksanaan privatisasi juga ditengarai banyak pihak sangat sarat dengan skandal.

tidak cukup hanya skandal dalam privatisasi, tetapi divestasi bank 
rekap turut pula memberikan kesengsaraan yang tidak kalah parahnya. 
karena di bank rekap ada obligasi pemerintah yang harus dibayar 
bunganya. untuk bank mandiri saja, kalau saya tidak keliru, jumlahnya mencapai 25 
triliun. 

jumlah itu jauh lebih besar dibanding target privatisasi 2003 yang 
berjumlah 8 triliun rupiah. tidak sebanding dengan subsidi untuk 
BBM dan non BBM yang dialokasikan pemerintah daam apbn 2003 ini.

faktor pemicunya sudah jelas, bank dunia (beserta cgi) diikuti pula 
oleh imf menginginkan pemerintah menjalankan kebijakan privatisasi 
dan divestasi tersebut. tujuannya adalah untuk mempertahankan kemampuan 
membayar utang pemerintah dan sekaligus mengambil alih kekayaan 
negara kita menjadi aset bisnis untuk kepentingan kapitalisme global.

bagi pemerintahan saat ini, tampaknya memang lebih utama memenuhi 
keinginan para perompak yang bernama Bank Dunia, CGI dan IMF ketimbang kehendak amanat 
rakyat.

karena dengan memenuhi keinginan poros washington tersebut posisi 
kekuasaan politik mereka lewat jabatan yang saat ini di pegang bisa langgeng.

bukankah dorodjatun, boediono dan laksamana sukardi adalah orang-orang 
yang didukung penuh keberadaannya di kabinet oleh IMF dan Bank Dunia. 
Mereka juga sudah teruji dan sangat berprestasi dalam menjalankan 
kebijakan-kebijakan yang direkomendasikan oleh Bank Duni dan IMF. 

Bahkan ketika desakan untuk mengakhiri kerjasama dengan IMF, tak 
kurang usaha mereka mencari dalih justru untuk memperpanjang kontrak dengan imf.

dengan kondisi itu, tidak ada jalan lain bagi kita untuk segera 
melakukan konsolidasi aksi untuk melawan kebijakan pemerintah yang 
didalangi bank dunia dan imf untuk memiskinkan indonesia.

kita tidak sudi Indonesia Raya, di-argentina-kan dan kemudian bukan 
tidak mungkin juga akan di-irak-kan.

mari bersatu; 
tolak privatisasi dan divestasi;
usir bank dunia dan imf
bersihkan kabinet dari komprador

salam
indonesia bangkit
indonesia berdaulat

--------- Forwarded Message ---------

DATE: Fri, 21 Mar 2003 00:38:22
From: "Lin Che Wei" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "bumn" <[EMAIL PROTECTED]>

        
        
20 Maret 2003  19:32:00
Laks: Divestasi Perbankan dan Privatisasi Jalan Terus

Jakarta-RoL--Menneg BUMN Laksamana Sukardi dan Kepala Badan Penyehatan
Perbankan Nasional (BPPN) Syafruddin Temenggung mengatakan, penjualan
saham pemerintah atau divestasi perbankan dan privatisasi BUMN tetap
dilakukan tahun ini meski terjadi invasi AS ke Irak. 

"Secara prinsip privatisasi jalan terus, tetapi secara 'timing' kita
harus tahu diri. Jika ingin optimal tetapi market lagi loyo, kita tidak
paksa," kata Laksamana di Jakarta, Kamis. 

Menurut Laksamana, invasi AS ke Irak bukan saja berdampak kepada rencana
privatisasi tetapi pada perekonomian Indonesia keseluruhan. Apalagi
dalam kondisi Indonesia yang sedang dalam pemulihan. 

"Tahun-tahun ini kita mengandalkan investasi asing, tetapi dalam keadaan
perang, investasi asing akan berpikir dua kali," katanya. 

Sementara itu Syafruddin mengatakan, harus dicari terobosan atau
alternatif dalam upaya penjualan aset di BPPN. 

"Divestasi jalan cuma harus kuat terobosan-terobosan," katanya. 

Menurut dia, pihaknya akan terus melakukan Program Penjualan Aset Kredit
(PPAK) dan Program Penjualan Aset Strategis (PPAS) dengan terus menjaga
harga serta terus berupaya mencari jalan lain untuk menggalang investor
terutama dari dalam negeri. 

"Saya yakin investor regional masih oke karena dari 'roadshow' kita
masih banyak yang berminat, cuma program disposal kita harus dikemas lebih baik," 
katanya. 
_____  
Berita ini dikirim melalui Republika Online http://www.republika.co.id

Berita bisa dilihat di :
http://www.republika.co.id/cetak_detail.asp?id=118682&kat_id=23

<http://www.republika.co.id/cetak_detail.asp?id=118682&kat_id=23> 

--------- End Forwarded Message ---------

On Thu, 20 Mar 2003 17:50:47  
 mhelham wrote:
>As.w.w.
>Dunsanak, memang pada akhirnya kita serahkan pada Yang Maha Kuasa, tapi 
>bagi kita yang perlu kita lakukan adalah berdoa seperti ajakan kawan-2 
>ambo urang Qatari, marilah kita berdoa untuk keselamatan rakyat Irak, 
>semoga perang ini cepat selesai, amin.
>Dan memang begitulah "iblis khabir = iblis besar", yang telah bersumpah 
>bahwa sang iblis tidak akan berhenti berusaha sebelum targetnya dan 
>objectivenya tercapai.
>
>wassalam.
>elham di qatar  
>
>> Antahh... lah.....
>> Semua kita serahkan saja sama yang maka kuasa.
>> 
>> 
>> Perang AS-Irak Telah Dimulai
>> Reporter : Rita Uli Hutapea
>> 
>> detikcom - Jakarta, Perang AS-Irak meletus juga. Amerika Serikat 
>
>
>
>RantauNet http://www.rantaunet.com
>Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
>===============================================
>Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
>anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.
>
>Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
>http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
>===============================================
>


Need a new email address that people can remember
Check out the new EudoraMail at
http://www.eudoramail.com

RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke