Renungan Antiperang Jurnalis Makassar Berikan Aku Sayap, Aku Ingin Terbang ke Baghdad Darah memang harus tumpah, tapi mengapa bukan demi kemanusiaan Mengapa darah manusia dijadikan pembenaran demi kekuasaan Mengapa Tuhan biarkan Bush lebih berkuasa dari diri-Mu? Mengapa Kau biarkan manusia menuju ambang batas kehidupan Atau itukah cara-Mu memberi tanda kiamat-Mu yang Mahaagung? Cuplikan puisi yang ditulis khusus untuk mengisi acara ''Malam Renungan Antiperang'' pekan lalu itu keluar dari mulut seniman Makassar, Asdar Muis RMS. Puisi itu diberinya judul ''Menuju Ambang Batas Kehidupan'', yang dibuatnya seolah-olah sedang mengirim surat kepada Yang Maha Mulia Tuhan dari Segala Tuhan. Sebuah lonceng kecil di tangannya berdenting pelan mengiringi gumamannya. Ia tidak rela perang meletus. Huruf P dipalang warna merah pertanda ''dilarang Parkir'' pun disulapnya menjadi ''dilarang Perang''. Itulah salah satu ekspresi yang ditampilkan Asdar dalam mengisi hajatan yang dimotori para jurnalis di Makassar. Jumlah mereka memang tidak banyak, sekitar 60 orang. Sejumlah elemen, seperti LSM, seniman, mahasiswa, dan masyarakat umum, pun ikut bergabung. Mereka ditemani nyala lilin yang temaram. Malam itu kota Makassar baru saja diguyur hujan. Hajatan yang semula akan digelar di Monumen Mandala itu terpaksa dipindahkan ke Gedung Societeit de Harmony. Qasim Mahtar, salah seorang tokoh agama dari Forum Lintas Agama, tampil memimpin doa. Dengan khusuk, didukung suasana syahdu dan temaram, mereka yang hadir mengaminkan doa yang dibacakan Qasim. Doa mengharapkan timbulnya kesepakatan manusia untuk mengharamkan perang. Doa mengharapkan warisan pemikiran benci akan perang agar diterima oleh seribu generasi berikutnya. ''Siramkanlah air kebencian ke pori-pori manusia setelah kami, ya Allah, hingga bukan hanya cinta perdamaian yang tersisa, tetapi benci akan perang pun ikut terwarisi,'' ujar Qasim dalam doanya. Pada kesempatan lain, seniman Jamal Dilaga, yang tampil bersama tiga rekannya dengan tidak henti-hentinya bertutur jika ia ingin terbang ke Baghdad. ''Tuhan, berikan aku sayap, aku mau terbang ke Baghdad,''tuturnya. Malam renungan tersebut dilaksanakan untuk mencoba merefleksikan makna perang dan mendoakan agar orang-orang yang terlibat di dua kubu itu segera menyadari bahwa takkan pernah ada pemenang dalam sebuah peperangan. Yang ada hanya kesengsaraan dan korban fisik dan nonfisik, baik yang diserang maupun yang menyerang. Tidak heran jika wajah-wajah yang hadir malam itu terlihat sedih. Kesedihan karena rasa kemanusiaan telah tercoreng oleh bau asap mesiu. kesedihan karena darah-darah sipil tidak berdosa mulai tumpah di negeri pimpinan Saddam Hussein. Husain Abdullah, salah seorang wakil dari jurnalis, mengatakan peran PBB kini mulai bergeser. Menurutnya, PBB lahir sebagai reaksi terhadap Perang Dunia (PD) I dan PD II yang telah menimbulkan korban sekitar 20 juta jiwa di benua Asia, Eropa, dan Afrika. Negara-negara yang terhimpun dalam PBB adalah mereka yang antiperang dan cinta perdamaian. Namun, kenyataan sekarang justru anggotanya yang memiliki super power memberikan ultimatum perang terbuka. Sementara itu, negara yang memiliki hak veto tidak mampu melakukan apa-apa. ''Bahkan syarat sebuah negara diterima menjadi anggota PBB adalah komitmen cinta damai yang harus dimiliki. Namun, semua itu tidak terbukti lagi saat ini,'' ujar Husain. Genderang perang telah ditabuh. Pesawat AS dan sekutunya telah membombardir Irak dengan senjata-senjata canggihnya. Anak-anak, kaum hawa, orang-orang tua telah mengungsi ke perbatasan Irak. Mereka telah meninggalkan rumah, pekerjaan, dan tanah kelahiran, demi mencari keselamatan. Tinggallah harapan dan doa tentu saja agar perang tidak berlangsung lama. Agar anak, ayah, suami, paman, menantu, dan kerabat mereka yang ikut terjun ke medan perang diberi keselamatan. Malam renungan Anti perang ini tidak lupa pula menyelipkan titipan doa khusus buat sesama jurnalis yang sedang meliput jalannya perang. Husain berharap semoga jurnalis yang terjun ke Baghdad kali ini bisa mengutamakan penyelesaian konflik dengan tetap menjadi lidah-lidah kemanusiaan dan perdamaian. Ia berharap liputan para jurnalis bisa menjadi tinta yang berwarna kedamaian dan menyampaikan gambaran perang tanpa memenangkan pihak mana pun. Sederhana, tetapi sarat makna, begitulah malam hajatan ini berlangsung. Ide menggelar acara ini pun terjadi spontan saja. Sehari menjelang tenggat yang diberikan George W Bush terhadap Saddam Hussein dan keluarganya untuk meninggalkan kota Baghdad, beberapa orang wartawan yang sedang meliput di kantor Ditserse Polda Sulsel merasa kecewa pada mahasiswa. ''Mengapa tak ada aksi demonstrasi, yah,'' ujar seorang di antaranya. Pertanyaan itu ditimpali seorang rekan agar ia mengontak mahasiswa agar turun ke jalan dan menggelar demonstrasi sebelum perang betul-betul pecah. ''Itu mengompori namanya, tidak murni, mereka, dong, yang harus berinisiatif,'' timpal si jurnalis itu. Belum lagi diskusi tentang perlunya jurnalis mengompori mahasiswa untuk turun ke jalan selesai, sebuah pesan singkat masuk di handphone seorang wartawan. ''Bagaimana kalau AJI Makassar memelopori doa bersama untuk kemanusiaan dan menyatakan antiperang.'' Begitu bunyi pesan itu. Dalam sekejap, pesan itu telah menjadi pesan berantai. Mereka belum beranjak dari kantor Ditserse dan tugas liputan belum selesai, tetapi sudah ada kesepakatan bahwa malam itu ''sekitar 12 jam sebelum perang Irak meletus'' doa bersama tersebut digelar. Semuanya hanya berawal dari sebuah pesan singkat. Lagi-lagi acara sederhana, tetapi sarat makna. Semoga seruan doa-doa keprihatinan atas perang itu dikabulkan oleh Allah yang mahakuasa, agar darah tidak kebingungan mencari tubuh ketika dipaksa tumpah. andi nur aminah Berita ini dikirim melalui Republika Online http://www.republika.co.id Berita bisa dilihat di : http://www.republika.co.id/cetak_detail.asp?id=119025&kat_id=3 |
Title: Republika Online : http://www.republika.co.id

