Republika, Kamis, 27 Maret 2003
Bush dan Kelompok Radikal AS
Oleh : Yudi Latif 

Gelombang anti perang di seantero dunia cenderung melihat usaha 
penguasaan minyak sebagai alasan invasi Amerika Serikat (AS) terhadap 
Irak. Seorang pujangga prolifik AS, Gore Vidal, baru saja meluncurkan 
buku yang menghebohkan, Dreaming War: Blood for Oil and the Cheney-
Bush Junta.

Seraya menuding ambisi penguasaan cadangan minyak yang berlimpah di 
sekitar laut Kaspia, Vidal juga memandang invasi tersebut sebagai 
cermin totalitarian minded dari Bush dan Cheney. Presiden dan wakil 
presiden AS yang menjerumuskan negaranya ke dalam perangkap junta 
militeristik yang mengancam sendi-sendi demokrasi dan kebebasan sipil.

Barangkali pandangan demikian ada benarnya. Namun, masih ada hal yang 
belum terjawab. Bagaimana mungkin invasi ke Irak semata demi minyak, 
jika Irak secara diam-diam telah menyelundupkan minyak ke AS, dan 
jika AS menghendaki pasokan yang lebih banyak. Bukankah tinggal 
mencabut sanksi ekonomi dan militer terhadap Irak?

Sisa teka-teki tersebut mengharuskan kita mempertimbangkan aspek-
aspek non-ekonomis. Sebuah siaran ABC (10/03/2003) berjudul American 
Dreamers, membongkar agenda-agenda jaringan neo-konservatif dan garis 
keras Republican di balik invasi tersebut.

Terlebih dahulu perlu dijelaskan bahwa konservatisme, atau lazim juga 
disebut 'sayap kanan' (right-wing), dalam politik adalah sebuah paham 
politik yang berbasis pada empat nilai utama: otoritas, hierarki, 
pemilikan, dan komunitas.

Pemikiran politik konservatif bermula sebagai upaya mempertahankan 
otoritas tradisional di semua lapis masyarakat, terutama otoritas 
keagamaan tradisional dalam menghadapi serangan skeptisisme radikal 
dan sekularisme liberal.

Kalangan konservatif juga berkepentingan untuk mempertahankan 
hierarki tradisional dan garis keturunan. Mereka cenderung mendukung 
monarki serta aristokrasi, dan dalam kecenderungan terakhir bersikap 
anti-imigran. 

Kalangan konservatif punya pandangan yang sama dengan kalangan 
liberal dalam komitmennya terhadap hak-hak milik perseorangan, yang 
membuat mereka berseberangan dengan pendukung sosialisme dan 
komunisme.

Akhirnya, berbeda dengan kalangan liberal, kalangan konservatif 
berusaha mempertahankan dan membangun komunitas-komunitas 
solidaristik yang dipersatukan karena kesamaan perasaan, darah, 
etnik, bahasa, budaya/agama, dan pada gilirannya komunitas 
kebangsaan. 

Deskripsi tersebut merupakan tipe ideal. Dalam kenyataannya, kalangan 
konservatif tidaklah homogen. Ada yang menganut cara-cara reaksioner 
(menghendaki pemulihan secara penuh otoritas politik dan keagamaan 
masa lalu), seperti digagas oleh Joseph de Maistre dari Prancis. 

Ada pula yang memilih cara-cara evolusioner (menolak perubahan 
radikal, tapi tidak semua perubahan), seperti digagas oleh Edmund 
Burke dari Irlandia. Pengelompokannya berjejer mulai dari yang lunak 
(dekat ke liberal), moderat, hingga yang radikal. 

Konservatif radikal
Gelombang pasang konservatisme yang melanda Eropa, Amerika Serikat 
dan Australia saat ini, menunjukkan revivalisme kelompok-kelompok 
konservatif radikal. Dalam pemilihan presiden Perancis tahun 2002, 
Jean-Marie Le Pen, pemimpin partai konservatif radikal (French 
National Front), mengejutkan Eropa karena keberhasilannya menyodok ke 
urutan kedua, melampaui kandidat partai sosialis, Perdana Menteri 
Lionel Jospin.

Dalam pemilihan parlemen Belanda pada tahun yang sama, partai 
konservatif Kristen Demokrat (CDA) tampil sebagai pemenang pertama, 
disusul di tempat kedua oleh partai konservatif radikal (LPF), yang 
dipimpin oleh seorang tokoh far-right, Pim Fortuyn. Fortuyn terkenal 
karena pernyataannya yang menyebut agama Islam sebagai ' terbelakang' 
(backward) dan meminta Belanda untuk menutup pintunya kepada para 
imigran.

Di luar itu, sayap kanan radikal juga kian menguat di Denmark. Danish 
People's Party, pimpinan Pia Kjaersgaard, menguasai 22 kursi di 
parlemen. Di Austria, partai konservatif radikal, Freedom Party, 
tampil sebagai pemenang pada pemilu tahun 2000. Sedang di Swiss, 
partai ektrem kanan, Swiss People's Party (SVP), memproleh 22.5 
persen dari total pemilih. Di Jerman, ekstrem sayap kanan maulai 
meraih 20 persen dalam sebuah pemilu lokal di Hamburg.

Di benua lain, Australia, koalisi konservatif pimpinan John Howard 
terus menguasai parlemen, ditambah dengan penempatan Peter 
Hollingworth, mantan Uskup Anglican di Brisbane, sebagai Gubernur 
Jenderal. Dan akhirnya, AS di bawah Presiden George W Bush, merupakan 
momen emas bagi kalangan radikal Republikan yang berbasis Kristen 
fundamentalis serta kalangan neo-konservatif yang berbasis imigran 
Yahudi.

George Bush mewakili suara konservatif AS. Kemenangannya dalam 
pemilihan presiden sangat ditentukan oleh dukungan finansial dan 
jaringan politik fundamentalis Kristen (Right Wing Networks). Seperti 
ditulis oleh Ted Kahl (2001), jaringan sayap kanan ini 
dikoordinasikan oleh the Heritage Foundation dengan basis dukungan 
lobi fundamentalis Kristen.

Keluarga Bush sendiri amat dekat dengan pemuka-pemuka gereja 
konservatif, terutama Reverend Moon, yang terkenal (notorious) 
sebagai pemimpin The Unification Church. Di bawah jaringan Moon 
terdapat front-front organisasi bisnis dan keagamaan yang siap 
dimobilisasi untuk suatu dukungan politik.

Dalam jaringan ini terdapat nama-nama fundamentalis Kristen semacam 
Ralph Reed (mantan pemimpin Christian Coalition) dan juga sang 
fenomenon, Jerry Falwell. Kalangan fundamentalis Kristen ini, karena 
alasan fragmatis dan teologis --berupa nubuat turunnya kembali Jesus 
Kristus di Jerussalem-- memiliki kedekatan dengan kalangan 
fundamentalis Yahudi.

Afinitas Bush terhadap jaringan sayap kanan Kristen ditunjukkan, 
antara lain, dari pengangkatan John Ashcroft sebagai Jaksa Agung. 
Pengangkatan Ashcroft ke dalam jabatan ini mengundang kontroversi 
yang panas. Kecenderungan konservatif dan pandangan-pandangan ke-
kristenannya yang mendalam dikhawatirkan bisa berpengaruh negatif 
terhadap kenetralan lembaga kehakiman.

Kelompok lain yang lebih berpengaruh di seputar Bush, dan menyita 
perhatian publik saat ini, adalah apa yang disebut sebagai kelompok 
neo-konservatif (neo-kon). Dikatakan neo-konservatif, karena 
sesungguhnya mereka tidak dilahirkan sebagai konservatif dan tidak 
pula dibesarkan dalam tradisi konservatisme. 

Kebanyakan orang tua mereka, bahkan mereka sendiri, merupakan imigran 
Yahudi dari Eropa Timur yang pada mulanya berhaluan kiri. Begitu 
memasuki AS mereka bergabung ke dalam sayap kiri Partai Demokrat. 
Namun secara perlahan, mereka beralih ke sayap kanan Partai Republik, 
lantas menetap di sana.

Kelompok neo-kon merupakan gugus kerjasama yang ketat dan jaringan 
Washington yang efektif. Anggota-anggotanya menyusup di Kongres, 
lembaga-lembaga tanki pemikir, media massa dan program-program talk 
show di televisi. 

Pandangan politiknya sangat anti-komunis, dan sangat pro-Israel. 
Itulah titik temu diantara mereka. Bukan hal yang aneh. Hijrah ke 
Amerika di bawah bayang-bayang tragedi pembantaian, pembacaan sejarah 
mereka sering terhenti di Munich dan Holocaust, dengan Munich sebagai 
sebab dan Holocaust sebagai akibat.

Mereka memandang setiap konflik sebagai batu uji seperti halnya ujian 
yang dihadapi Chamberlain dan gagal di Munich pada 1938. Maka dari 
itu, peristiwa Holocaust kedua harus dihindari dengan apapun 
ongkosnya. Termasuk melakukan pembantaian terhadap lawan-lawan 
politik Israel dengan tingkat kekejaman seburuk peristiwa Holocaust, 
bahkan lebih dari itu.

Yang mengejutkan, tokoh terpenting dari kelompok ini adalah Paul 
Wolfowitz, mantan duta besar AS di Indonesia, yang saat ini memegang 
jabatan Deputi Menteri Pertahanan (Secretary of Defense). Tokoh kunci 
lainnya adalah Richard Perle, mantan asisten Menteri Pertahanan yang 
saat ini menjadi ketua The Defense Policy Board, sebuah gugus sivil 
terkemuka yang memberikan saran kebijakan kepada Menteri Pertahanan.

Selain kedua orang itu, ada juga nama John Bolton, seorang neo-
konservatif yang paling radikal yang bekerja sebagai asisten Menteri 
Pertahanan. Alhasil, posisi-posisi kunci pengambilan keputusan di 
Pentagon, dikuasai oleh jaringan neo-kon.

Ancaman bagi Israel
Dalam kacamata neo-kon, Saddam Hussein dengan kecenderungan 
ekspansionis dan koneksi Rusianya merupakan ancaman berbahaya bagi 
masa depan Israel. Tak heran, dalam 12 tahun terakhir, Saddam 
merupakan agenda utama mereka. 

Mereka bersemangat mendukung George Bush senior dalam Perang Teluk 
pertama, dan sangat gelisah ketika Bush menarik mundur pasukan 
sebelum Saddam berhasil dijatuhkan. Harapan Saddam digulingkan dari 
dalam tidak terbukti. Kekuatan bersenjatanya malah berhasil 
menghancurkan para pemberontak di Selatan dan Utara Irak.

Menteri Pertahanan dalam pemerintahan Bush senior, Dick Cheney, 
sependapat dengan neo-kon, bahwa keputusan menghentikan perang 
merupakan kesalahan besar. Namun di era Presiden Clinton, tidak 
banyak hal yang bisa mereka lakukan, karena tergusur dari pusat-pusat 
pengambilan keputusan.

Pada bulan Februari 1998, The Center for Security Policy, sebuah 
tanki pemikir neo-kon, mengirim surat terbuka kepada Clinton, 
menyatakan bahwa hanya dengan pengerahan kekuatan bersenjata AS 
krisis di Irak bisa dituntasi secara memuaskan. 

Surat tersebut ditandatangani oleh 30 orang gembong neo-kon termasuk 
Richard Perle dan Paul Wolfowitz, didukung garis keras Republican 
seperti Caspar Weinberger and Donald Rumsfeld. Nyatanya, Clinton 
tidak memberikan respon yang diharapkan.

Patah arang dengan Clinton, perhatian mereka mulai dipusatkan untuk 
mencari dan mendukung kandidat presiden selanjutnya. Pilihannya 
adalah Gubernur Texas, George W Bush. Baik Perle maupun Wolfowitz 
masuk ke dalam suatu tim penasehat untuk urusan keamanan dan luar 
negeri Gubernur Bush. Lewat hasil Pemilu yang paling kontroversial 
dalam seratus tahun terakhir sejarah AS, Bush yunior pun berhasil 
menjadi Presiden.

Dengan posisi-posisi strategisnya di kementerian pertahanan, mereka 
mulai merancang kembali agenda Irak yang tertunda. Pucuk dicinta ulam 
pun tiba. Serangan teroris 11 September 2001 menyediakan pintu masuk 
yang baik. Bagi Wolfowitz, Osama bin Laden memang berbahaya, tetapi 
ancaman terbesar tetap saja Saddam Hussein.

Bagi mereka, Irak di bawah Saddam Hussein dengan senjata-senjata 
canggihnya (yang pernah dipasok AS) bisa menjadi terorisme negara 
yang mengancam Israel. Target selanjutnya adalah Iran dan Syria. 
Selain dipandang memiliki program pengembangan senjata pemusnah, 
keduanya merupakan sponsor gerakan Hezbollah yang juga merongrong 
Israel. 

Maka genderang perang pun segera ditabuh. Atas nama Tuhan dan 
Holocaust, yang dilumasi oleh minyak, ribuan rakyat Irak dan orang-
orang tak berdosa di negeri-negeri lainnya siap dikorbankan sebagai 
sesajen. 

Namun jangan salah, ini bukanlah penyerbuan Judeo-Kristiani terhadap 
Islam. Bukankah Paus Paulus sendiri mengecam perang, dan berbilang-
bilang kelompok Kristen dan Yahudi di pelbagai belahan dunia 
menceburkan diri dalam gelombang anti-perang. Jangan lupa pula, umat 
Kristen dan Yahudi tidak mesti mengikuti garis politik konservatisme. 
Di Perancis, misalnya, meskipun kekuatan konservatif radikal mulai 
menguat, mayoritas penduduknya justru menentang perang.

Bahkan kalangan konservatif pun tidaklah homogen, tidak semuanya 
radikal, dan tidak semuanya mendukung perang. Di Australia, misalnya, 
the Victorian Trades Hall Council and the Victorian Council of 
Churches, dua jaringan dagang dan gereja yang selama ini sering 
disebut berhaluan konservatif, justru memelopori aksi-aksi anti-
perang. 

Alhasil, ini bukanlah penyerbuan antaragama, melainkan serangan orang-
orang fanatik dan intoleran, sebagai anak haram dari agama-agama, 
dengan orang-orang tak berdosa sebagai korbannya.

Peneliti LIPI, Direktur Pusat Studi Islam dan Demokrasi (PSID

RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke