�Barang siapa berhaji dan tidak mengerjakan jima� *] dan tidak
     berbuat fasiq, maka diampunilah dosanya sebagaimana ia baru
     lahir dari kandungan ibunya�, Hadist Nabi SAW.

Saya tiba kembali di tanah air hari Minggu  pagi 16 Maret, setelah
berada di Tanah Suci selama 40 hari. Setiba di rumah rasa penat, letih
dan lelah yang mulai saya rasakan ketika kami beristirahat di Asrama
Embarkasi Haji Indonesia di Jeddah sehari sebelum kepulangan ke tanah
air, semakin tak tertahankan, apalagi sebagian besar dari 40 hari
keberadaan saya  di Tanah Suci saya jalani dalam keadaan sakit.. Karena
itu kecuali waktu makan dan salat,  sepanjang hari Minggu itu kerjaan
saya hanya tidur. Tamu yang datang tidak henti-hentinya, hanya ditemui
oleh isteri saya Kur, yang selama di Tanah Suci selalu sehat, walaupun
cukup capek karena selain melakukan berbagai kegiatan yang berhubungan
dengan pelaksanaan ibadah dan sunah haji---dan sempat pula menkhatamkan
qur�an--- juga harus mengurusi dan merawat saya yang sakit. Bahkan Kur
yang menurut anak-anak perempuan kami lebih cantik sepulangnya dari
Tanah Suci, terlihat agak sedikit gemuk karena selama di sana selera
makannya selalu baik.

Ketika bangun keesokan harinya, perasaan letih yang saya bawa dari tanah
suci sudah mulai sirna.Tetapi begitu perasaan letih hilang, kerinduan
kepada tanah haram mulai terasa. Tidak saja hal-hal yang yang sangat
mengesankan, seperti saat-saat berada di Arafah, beribadah di Masjidil
Haram, dan melaksanakan arbain di Masjid Nabawi di Madinah, atau hal-hal
yang �sepele� seperti  saat-saat kami berdua berangkat dan pulang dari
Masjid Nabawi sambil berpegangan tangan---sesekali sembari diam-diaman,
nikmatnya satu pot kecil teh susu panas seharga satu real sepulang dari
salat subuh dan salat isya dan menyeruputnya sambil berjalan, tetapi
juga kegiatan-kegiatn peribadatan dan berbagai peristiwa yang ketika
dijalani dan dihadapi terasa berat, sekarang terasa indah belaka. Dan
kerinduan itu semakin lama semakin mengental. Tanpa terasa, air mata
saya jatuh berlinang membasahi pipi.

Perasaan rindu itu tidak hilang, bahkan setelah saya disibuki oleh
tugas-tugas kantor, setelah kembali masuk kerja  pada tanggal 19 Maret.
Kur bahkan sampai saat ini kalau terjaga tengah malam, sering heran
melihat saya tidur di sampingnya, atau kok tempat tidurnya lain, karena
merasa masih berada di maktab kami di Madinah.

(Setelah Kur menghubungi, beberapa teman sesama jemaah, ternyata mereka
juga mengalami hal yang sama)

Sekarang baru saya mengerti, walaupun ibadah haji secara fisik cukup
berat, bahkan kadang-kadang menderita sakit seperti yang saya alami,
memerlukan biaya yang tidak kecil serta harus meninggalkan keluarga
dalam waktu yang cukup lama, bagi kebanyakan orang, berhaji satu kali
seumur hidup, seperti yang disyariatkan agama**], dianggap tidak cukup.
Seorang rekan saya yang sudah berhaji dua kali, masing-masing dalam
tahun 1991 dan 1998,  sudah berancang-ancang untuk berhaji lagi.

Ibadah haji memang merupakan ibadah masal, malah sangat kolosal dalam
jumlah. yang dalam musim haji 1403 H ini diperkirakan mencapai 2,5 juta
orang. Tetapi seperti pada ibadah lainnya, pada ibadah haji hubungan
antara seorang hamba dengan Khaliqnya  sangat personal. Malahan dalam
ibadah Haji, hubungan itu sangat intensif.  Ganjaran terhadap niat,
ucapan  dan perbuatan baik atau buruk sering segera dapat terlihat.
Begitu pula kadang-kadang �rapor� seorang hamba, diperlihatkanNya dengan
cara-cara tak terduga. Karena itu para jemaah sering mengalami hal-hal
unik yang sering tidak dapat dijelaskan oleh akal.

Pada tulisan  berikutnya saya akan menulis beberapa pengalaman saya di
Tanah Suci---temasuk yang agak �unik-unik�---secara lebih rinci yang
saya peruntukkan bagi para sanak di palanta yang berminat. Bagi yang
tidak berminat atau tidak menyukai tulisan-tulisan semacam ini,
sebelumnya saya mohon maaf kalau postingan saya hanya memenuhi mailbox
serta membuang-buang pulsa Anda.

Salam, Darwin

*] Melakukan hubungan suami-isteri pada waktu-waktu terlarang, yaitu
pada saat berihram untuk umrah haji dan  dari sejak saat berihram haji
pada hari tarwiyah sampai bertahallul qubra. Bagi jemaah yang
melaksanakan haji tamattu, jumlahnya tidak lebih dari tujuh hari.

**] Rasulullah sendiri hanya berhaji sekali seumur hidupnya, yaitu
tidak lama sebelum beliau wafat pada Tahun Kesepuluh Hijriah. Karena itu
haji beliau itu juga disebut Haji Wada.



RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke